Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~84 (Pendekatan & Perhatian)



...Happy reading...


****


Setelah seharian kemarin sibuk berbelanja keperluan kamar Cut sekarang Ika sedang sibuk menata dan merias kamar Cut yang bernuansa pink tersebut, semua barang berwarna pink dengan gambar hello kitty tersebut. Baru pertama kalinya Ika masuk ke rumah Sultan, ia terbuat ternganga dengan desain rumah Sultan yang sangat memanjakan matanya. Apa rumah ini juga di desain oleh Sultan sendiri? Rumah ber-cat biru itu sangat membuat Ika nyaman, apalagi banyak bunga hias di dalamnya.


"Waw.... Kamar Cut sudah jadi," ucap Cut dengan heboh. Anak kecil itu naik ke kasurnya dan melompar kesenangan. Sultan melihat dari luar kamar, betapa bahagianya sang anak. Lalu ia menatap Ika yang suka sangat senang. Ah kedua perempuan itu terlihat seperti ibu dan anak yang terlihat sangat kompak.


Sultan tak berani masuk ke kamar anaknya sendiri karena ada Ika di dalamnya, ia tidak mau menimbulkan fitnah, walaupun ada Cut di sana. Sultan menyerahkan semua dekor kepada Ika karena sang anak yang sejak kemarin ingin mendekor kamarnya bersama dengan Ika.


Sultan tersenyum saat melihat keduanya merebahkan tubuh mereka di kasur. "Lihat Dek. Anak kita bahagia dengan kehadiran gadis itu. Apa kamu tidak marah jika abang telah menyukainya?" gumam Sultan di dalam hati.


Sultan menutup pintu kamar anaknya saat melihat keduanya tertidur karena kelelahan. Sebaiknya ia memasak untuk makan siang mereka. Sultan adalah lelaki dalam paket lengkap yang di idam-idamkan para wanita, masakannya juga sangat enak sekali. Saat ini Sultan sudah sibuk dengan bahan masakan yang akan ia masak, ia tidak mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.


"Abang bisa masak?"


"Astaghfirullah... Dek, kamu mengejutkan Abang," ucap Sultan dengan kesal membuat Ika tersenyum setelah itu terkekeh karena merasa lucu dengan ekspresi Sultan.


"Maaf, Bang! Aku pikir Abang mendengar langkah kakiku," ucap Ika merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Mungkin Abang yang terlalu serius memasak," ucap Sultan dengan tersenyum.


"Abang belum menjawab pertanyaanku. Abang bisa masak?" tanya Ika dengan serius.


"Hmm bisa. Kenapa emangnya?" tanya Sultan dengan menautkan kedua alisnya.


"Hmmm gak ada, hanya heran aja. Biasanya lelaki jarang ada yang bisa memasak," jawab Ika dengan jujur membuat Sultan tersenyum.


"Abang dulu ngekos waktu kuliah mau tak mau harus bisa memasak. Ya akhirnya memang sangat berguna di saat istri Abang tidak ada," jawab Sultan dengan pelan.


"Kenapa gak cari pembantu saja?" tanya Ika dengan penasaran.


"Ada, cuma paruh waktu saja mereka bekerja. Pagi hingga jam 5 sore, setelah itu mereka pulang. Tapi hari ini mereka memang tidak masuk karena aku mengizinkan mereka untuk istirahat dulu. Mana mungkin Abang melakukan semua pekerjaan rumah tangga seorang diri. Ada Cut dan pekerjaan yang lainnya selalu menunggu," jelas Sultan dengan jujur.


Ika mengangguk mengerti. "Ada yang bisa aku bantu, Bang?" tanya Ika dengan lembut membuat darah Sultan berdesir hebat.


"Aku tidak bisa terus berada di dalam satu ruangan dengan Ika. Tidak baik untuk kesehatan jantungku saat ini," gumam Sultan di dalam hatinya.


"Istirahatlah saja dan temani Cut. Dia suka dipeluk saat tidur, apalagi denganmu, Dek. Dia bilang seperti dipeluk mamanya," ucap Sultan dengan santai.


Deg..


"A-apa Abang tidak keberatan Cut memanggil aku dengan sebutan mama?" tanya Ika dengan terbata membuat Sultan tiba-tiba terdiam. Ika menebak jika Sultan tidak suka Cut memanggilnya dengan sebutan mana. Kenapa hatinya merasa sakit?


"Kalau Abang keberatan dengan panggilan itu. Aku akan mencegah Cut untuk...."


"Apa Bang Sultan marah ya?" gumam Ika dengan sendu yang masih bisa didengar oleh Sultan.


"Abang tidak marah. Abang suka Cut mau terbuka dengan kamu hingga sedekat ini dan memanggil kamu dengan sebutan mama. Hingga waktunya sudah tepat Abang ingin mengatakan sesuatu kepada kamu. Boleh Abang mengenalmu lebih dekat?" ucap Sultan dengan tegas.


"Hah?" otak Ika mendadak kosong karena ucapan Sultan, jantungnya berhenti berdetak apalagi melihat senyuman Sultan yang sangat mampu mematikan kerja sistem sarafnya.


"Hahaha.. Temani dulu Cut. Nanti kamu boleh mengatakannya setelah kamu mengerti ucapan Abang," ucap Sultan dengan tertawa. Ternyata Ika sangat lucu sekali jika wanita itu sudah syok.


Ika langsung berlari ke kamar Cut menahan debaran dan panas di wajahnya. Ika yakin wajahnya sudah memerah karena malu.


****


Kirana memberanikan diri untuk mendekat ke arah Rama yang terlihat melamun. Ia menelan ludahnya dengan kasar, sudah cukup ia menyiksa dirinya karena Rama sama sekali tidak menganggapnya ada. Kirana menyodorkan kertas berwarna putih itu kepada Rama, Kirana menahan napasnya saat Rama menatapnya tajam.


"Apa ini?" tanya Rama dengan datar.


"M-mari kita bercerai saja Akang!" ucap Kirana dengan sesak bagaimanapun ia masih sangat mencintai Rama tetapi Kirana bukan wanita yang tegar di saat sang suami tak pernah menganggapnya ada. Pernikahan mereka baru beberapa hari belum sampai hitungan bulan tetapi dia sudah menyerah dengan sangat gampang.


Rama tersenyum sinis. Inilah yang ia mau dari Kirana dan akhirnya semua keinginan sangat mudah terwujud karena Kirana sudah menyerah sekarang. "Apa yang membuatmu menyerah?" tanya Rama dengan sinis.


Kirana memejamkan matanya dengan perlahan. "K-karena aku ingin Akang bahagia. Dan... Dan..."


"Dan apa?" sentak Rama dengan tajam.


"Juragan Baron ingin Kirana menjadi istrinya," ucap Kirana dengan takut saat Rama menatapnya dengan tajam.


"Baguslah. Sekarang juga kita sudah bercerai," ucap Rama dengan santai membubuhi tanda tangannya di kertas putih yang diberikan oleh Kirana.


"Kemasi barangmu. Saya akan mengantar kamu ke rumah kedua orang tuamu!"


Sakit?


Itulah yang Kirana rasakan saat ini karena dengan sangat mudah Rama melepaskannya.


****


Gimana dengan part ini?


Manis kayak gula?


Tegang kayak ituπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Ramein dengan like, vote, dan coment ya.