
...Happy reading...
****
Saat ini Zico dan Intan sudah berada di kediaman Leon dan Laura. Mereka ingin menjemput Dirga untuk tinggal bersama mereka dalam beberapa hari, berkat adanya. Intan, Zico bisa dekat dengan anaknya walau dipenuhi rintangan karena pasti Dirga tidak akan dengan mudah mau mendekat ke arahnya walaupun Zico adalah ayah kandungnya.
"Kenapa om jayat ada di sini, Yah?" tanya Dirga saat melihat Zico bersama Intan masuk ke rumahnya.
Leon menatap anaknya dengan lembut, hal yang selalu membuat Dirga semakin menyayangi sosok ayah sambungnya ini walau Dirga tidak tahu jika Leon bukan ayah kandungnya. "Dirga, kangen gak sama kak Intan?" tanya Leon dengan lembut.
Dirga mengangguk. Ia juga sangat merindukan kakak pengasuhnya itu, sejak bayi saat bundanya kerja maka Dirga akan bersama dengan Intan sampai bundanya pulang hingga Dirga sangat dekat dengan Intan. "Kangen! Tapi Dilga ndak mau cama om jayat!" ucap Dirga dengan tegas.
Ucapan Dirga membuat hati Zico berdenyut sakit, tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan hati anaknya yang telah ia sia-siakan.
Laura menatap anaknya dengan sendu, ada rasa tidak rela saat Dirga akan bersama dengan Zico. Laura tidak akan bisa melupakan bagaimana Zico melukainya dan tidak mengharapkan kehadiran Dirga di dunia ini. Tetapi Laura tidak boleh egois karena bagaimanapun Dirga adalah anak kandung Zico.
"Hati ini Dirga akan bersama kak Intan dan om Zico. Dirga mau?" tanya Laura dengan pelan. Walau tak rela, ia tetap akan melakukannya karena Intan sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Dirga hanya diam. Ia memeluk leher Leon dengan erat saat Zico menatapnya dengan sangat dalam. "Dirga sini sama kakak," ucap Intan dengan lembut.
Dirga menatap mata Leon dan Laura secara bergantian. Keduanya mengangguk membuat Dirga mau digendong oleh Intan.
Intan tersenyum bahagia saat Dirga sudah berada di dalam gendongannya. "Dirga semakin berat aja," ucap Intan dengan terkekeh. Dirga tertawa karena semenjak ia tinggal bersama dengan Leon, ayahnya itu selalu memberikan makanan yang sehat dan bergizi tentu saja makanan yang ia sukai juga sehingga tubuhnya semakin berat.
"Kak Intan semakin kulus. Apa lemak kak Intan belpindah pada Dilga?" tanya Dirga denga lucu membuat semua yang ada di sana tertawa.
"Dirga, malam ini Dirga akan tidur bersama dengan kak Intan ya. Besok akan ayah dan bunda jemput," ucap Leon menatap anaknya.
"Ndak mau!" ucap Dirga dengan sorot mata sedih baru juga ia bermanja dengan Leon masa harus tidur bersama dengan Intan.
Semua orang menghela napas dengan berat, membujuk Dirga memang sangat susah tetapi ke-empat orang itu tidak akan kehabisan akal. "Sekarang Kak Intan adalah mamanya Dirga. Dan om ini adalah papa Dirga. Dirga punya dua bunda dan dua ayah. Dirga gak boleh membuat ayah dan bunda sedih," ucap Laura dengan lirih. Hatinya merasa berat saat ia mengucapkan Zico sebagai papa dari Dirga walau itu benar adanya.
"Papa dan mama?" tanya Dirga dengan bingung.
"Ekhem... Iya Dirga, Om Zico adalah papa Dirga sekarang. Jadi, Dirga gak perlu takut lagi sama Om Dirga karena Om adalah papa Dirga!" ucap Zico dengan lembut, ia tidak ingin Zico semakin membencinya.
"Kok bica om jayat jadi papa Dilga?" tanya Dirga dengan bingung. Otak kecilnya belum bisa mencerna apa yang dikatakan orang-orang dewasa di depannya ini.
"Nanti di saat Dirga udah besar kamu akan paham semuanya, Nak. Sekarang ini Dirga harus tahu kalau Dirga punya ayah, bunda, papa, dan mama," ucap Leon dengan tegas membuat Dirga mengangguk mengerti membuat mereka merasa lega setidaknya Dirga sedikit paham jika memiliki orang tua lebih dari dua.
"Dirga mau kan tidur sama Mama Intan. Mama Intan kangen sama jagoan ini," ucap Intan dengan lembut.
Dirga tampak berpikir setelah itu ia mengangguk hati kecilnya mengatakan ia juga sangat merindukan Intan. Walau masih ada rasa takut di hatinya kepada Zico.
"Sekarang Dirga mau kan ke rumah mama Intan dan papa Zico?" tanya Zico dengan semangat.
"Tapi bunda cama ayah jemput Dilga becok, kan?" tanya Dirga was-was.
"Iya, besok ayah dan bunda jemput Dirga," ucap Laura dengan senyum dipaksakan.
"Ini tas Dirga. Di dalamnya ada baju-baju Dirga. Jangan nakal sama mama dan papa ya," lanjut Laura dengan sendu.
"Kami pulang dulu, Kak, Om. Terima kasih sudah mengizinkan Dirga untuk tinggal bersama dengan kami," ucap Intan dengan tulus.
"Iya Intan. Jaga anakku dengan baik ya," ucap Laura dengan sendu.
"Kamu tenang saja. Kami akan menjaga Dirga karena kami juga orang tuanya," ucap Zico dengan tegas.
"Awas saja jika membuat Dirga terluka!" ucap Leon dengan tajam.
"Tidak akan!" balas Zico dengan mantap. Laura dan Leon mengangguk lega, keduanya menatap kepergian Intan, Zico dan Dirga dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan karena setelah ini rumah mereka akan sepi tanpa teriakan Dirga walau mereka hanya berpisah sehari saja.
"Belum apa-apa aku sudah merindukan Dirga, Mas," gumam Laura berkaca-kaca.
"Mas juga Sayang. Tetapi kita tidak boleh egois, Dirga berhak tahu jika Zico adalah ayah kandungnya. Sekarang kita masuk ya. Hari ini Mas akan memanjakan kamu," ucap Leon membuat Laura tersenyum.
"Aku mencintaimu Mas," gumam Laura mengecup bibir Leon dengan singkat. Leon terkekeh melihat kedua pipi istrinya memerah.
"Apa ini sebuah undangan untuk menjenguk twins, Sayang?" bisik Leon dengan serak.
"Mesum!" teriak Laura dengan pipi yang semakin memerah karena tangan nakal Leon sudah bertengger nyaman di dadanya karena gemas.
****
Zico menatap anaknya yang terlelap setelah berjam-jam bermain dengannya. Hari ini Zico sangat bahagia karena bisa mendekap Dirga dengan erat. Berkat bantuan Intan ia bisa dekat dengan anaknya seperti ini, Zico mengecup pipi Dirga dengan gemas.
"Kamu anak kandung Papa tetapi mengapa wajah kamu sangat mirip dengan Leon?" tanya Zico dengan sendu.
Elusan di lengannya membuat Zico melihat ke arah Intan. "Kamu senang, Mas?" tanya Intan dengan lembut.
Zico mengangguk mantap. "Sangat-sangat senang, Sayang. Terima kasih untuk semuanya," ucap Zico dengan serius.
"Sama-sama, Mas. Di dunia ini aku cuma punya Mas Zico. Apapun yang membuat Mas Zico bahagia akan aku lakukan tetapi tidak dengan menyakiti orang lain. Aku sayang mas Zico dan juga Dirga. Kalian semangat hidup aku," ucap Intan dengan tulus.
Deg...
Jantung Zico seperti di tikam belati yang sangat tajam. Ia sudah menyakiti Intan terlalu dalam dengan berpura-pura mencintai Intan dan memanfaatkan Intan agar bisa dekat dengan Dirga, ada perasaan bersalah yang semakin menguasai dirinya. Namun, ia tidak mungkin memperlihatkan itu di depan Intan, ia tidak ingin wanita itu bersedih. "Berbaringlah di sini, kita akan tidur bertiga malam ini. Aku sangat lelah setelah bermain dengan Dirga berjam-jam tapi aku sangat bahagia. Ini semua karenamu, Sayang. A-aku semakin mencintaimu," ucap Zico dengan berbohong diakhir kalimat atau semua itu tulus dari dalam hatinya? Entahlah Zico seperti pria bodoh yang tidak bisa mengartikan perasaannya saat ini, hatinya masih diliputi rasa bersalah yang teramat dalam atas meninggalnya kedua orang tua Intan.
Malam ini mereka tidur saling memeluk Dirga. Senyum terpancar di bibir Intan namun mungkin setelah ini bibir itu tak pernah memperlihatkan senyumannya lagi.
****
Aduh mas Zico nyesel baru tahu rasa!
Gimana dengan part ini?
nyesek?
Ramein lagi yuk!
Like, vote, dan coment jangan lupa!