
...Part uwu-uwu lagi nih🤭 Jangan lupa ramein part ini ya dengan like, vote, dan komentar yang banyak....
...Happy reading...
****
Malam harinya, Cut disibukkan dengan tugas kuliahnya yang sangat menumpuk, berkali-kali Cut merenggangkan tangannya untuk mengurangi rasa pegal pada tangan dan badannya termasuk Ihsan yang juga sedang bekerja memeriksa semua tugas mahasiswanya dengan sangat teliti, Ihsan adalah dosen yang sangat teliti pada tugas, ia selalu memeriksa tugas mahasiswanya tanpa satu pun yang terlewat.
Ihsan tersenyum tipis saat melihat istrinya tampak kebingungan, walaupun suaminya seorang dosen, Cut tidak pernah meminta bantuan Ihsan untuk mengerjakan tugasnya, ia akan berusaha sendiri untuk mengerjakannya, ketika kesulitan pun Cut hanya bertanya dan meminta penjelasan kepada suaminya, barulah ketika Cut mengerti wanita itu akan langsung mengerjakannya. Para teman-teman sekalas Cut banyak yang merasa iri kepada Cut karena bisa menikah dengan dosen mereka sendiri, mereka selalu berpikir jika kuliah Cut akan lebih mudah karena dibantu suaminya. nyatanya tidak, Cut selalu berusaha sendiri, ia ingin nilai terbaik tanpa bantuan suaminya.
Ihsan merasa bangga kepada sang istri yang tidak memanfaatkannya sebagai suami. Padahal tanpa keberatan Ihsan akan membantu istrinya tersebut tetapi Cut selalu menolaknya. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Ihsan mematikan laptopnya dan melepas kaca matanya. Ia mendekat ke arah Cut dan mengelus rambut istrinya yang terlihat indah sekali.
Cut yang mendapatkan perlakuan lembut seperti itu dari suaminya hanya bisa tersenyum tipis karena pikirannya sedang terbagi antara tugas dan suaminya.
"Belum selesai?" tanya Ihsan sambil memijat pundak istrinya dengan perlahan.
Cut menggelengkan kepalanya. "Belum Bang," jawab Cut dengan pelan.
"Mau Abang bantu?" tanya Ihsan mencoba menawarkan diri.
"Gak usah, biar aku sendiri saja Bang," jawab Cut menolak bantuan suaminya dengan halus.
Ihsan hanya diam, ia duduk di belakang Cut dengan kepala yang bersandar di bahu Cut untuk melihat tugas istrinya. Ihsan memeluk perut Cut dari belakang, bukan bermaksud menganggu Cut mengerjakan tugas istrinya hanya saja Ihsan ingin membantu istrinya tanpa penolakan sedikit pun nantinya.
Cut menahan napasnya saat tangan Ihsan merayap masuk ke piyama tidurnya dan bermain di gundukan kenyalnya. "Abang, aku masih banyak tugas. Sebentar lagi ya," ucap Cut berusaha sabar tetapi Ihsan masih gencar menggoda istrinya.
"Abang!" panggil Cut sedikit kesal pasalnya bibir Ihsan sekarang mengecup lehernya yang membuat Cut tidak bisa berkonsentrasi dengan baik.
"Iya, Sayang!" jawab Ihsan dengan serak.
Sial! Ihsan benar-benar bergairah sekarang, padahal niat hati ia ingin membuat istrinya yang bergairah agar berhenti mengerjakan tugas.
"Abang akan bantu, Dek," ucap Ihsan dengan mata berkabut gairah.
"Aku kan sudah bilang kalau aku ak..."
Cup...
Ihsan mencium bibir istrinya agar tidak menolak keinginannya, bukannya Ihsan egois hanya saja ia ingin meringankan beban istrinya walau harus membuat istrinya kelelahan karena ulahnya.
Cut yang awalnya kesal akhirnya membalas ciuman suaminya. Ia mengalungkan tangannya di leher Ihsan, keduanya hanyut dalam suasana romantis yang mereka ciptakan. Hawa yang tadinya dingin menjadi panas karena ulah suami istri tersebut.
"Ahhhh..." Cut mendesah saat Ihsan mengecup lehernya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Piyama yang Cut kenakan sudah berantakan karena ulah tangan nakal Ihsan.
Bibir Ihsan turun kebagian dua gundukan kenyal milik Cut, dengan tak sabaran dan seperti bayi yang kehausan Ihsan menyesap daging berwarna kecoklatan itu dengan rakus, Cut terus dibuat mendesah oleh suaminya, ia sudah tidak peduli dengan tugas-tugas miliknya.
Ihsan mendudukkan istrinya di meja. Cut dibuat merem melek karena lidah suaminya yang cukup lihai bermain di tubuhnya, keduanya sudah sama-sama polos hingga Ihsan mengarahkan miliknya ke milik Cut dan mendorongnya dengan perlahan.
"A-bang jangan di meja, tugas Cut nanti rusak. Ahhh..." ucap Cut dengan lirih. Ia tidak bisa menahan desah*nnya saat hentakan Ihsan semakin kuat dan dalam.
Ihsan menurut. Ia menggendong Cut tanpa melepas penyatuan mereka, mereka kembali melakukannya di tempat tidur. Ihsan terus meminta Cut berganti gaya. Cut dan Ihsan benar-benar lupa, mereka seakan terbang ke angkasa, sudah beberapa kali Cut mendapatkan pelepasannya tetapi milik Ihsan belum ada tanda-tanda untuk selesai, Ihsan terus bergerak di atas istrinya hingga tubuhnya menegang bersamaan dengan lengkungan tubuh istrinya, keduanya mendapatkan pelepasan bersama.
Cut sudah merasakan tubuh dan matanya sangat lelah hingga ia langsung memejamkan matanya, Ihsan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya. Dengan perlahan Ihsan mencabut miliknya, ia memejamkan mata saat rasa nikmat itu kembali ia rasakan.
Cup...
"Selamat tidur Sayang! Jika tidak seperti ini kamu tidak mau dibantu Abang sedikit pun untuk mengerjakan tugas kamu," gumam Ihsan dengan mengelus pipi istrinya.
Ihsan memakaikan selimut pada istrinya setelah itu ia memakai piyamanya yang tadi sudah tergeletak tak berdaya di lantai, setelah selesai Ihsan mulai fokus mengerjakan tugas istrinya yang terlihat mudah bagi Ihsan.
"Cut milikku bukan milikmu Dio!" gumam Ihsan dengan tersenyum bangga saat mengingat tatapan penyesalan Dio untuk istrinya.