Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~71 (Semakin Buruk)



...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


Ika terus membujuk sang anak untuk makan tetapi Cut sama sekali tidak bergeming bahkan menutup mulutnya rapat-rapat, pandangannya sangat kosong bahkan lingkaran hitam jelas terlihat di bawah matanya. Mata yang indah ketika sedang menatap itu kini entah hilang kemana di gantikan dengan rasa sakit yang tak kunjung selesai.


"Makan satu suap saja ya, Sayang!" bujuk Ika dengan mengarahkan sendok yang sudah berisi bubur untuk Cut.


Sudah tak terhitung berapa kali Ika membujuk anaknya, wanita paruh baya itu tidak terlihat lelah. Namun, kali ini mata Ika berkaca-kaca melihat keadaan Cut yang semakin buruk. Bahkan anaknya itu terlihat sangat kurus sekali. Ya Tuhan kenapa engkau memberikan cobaan yang begitu berat untuk Cut? Batin Ika menjerit.


"Buka mulutnya, Nak! Satu kali saja!" mohon Ika dengan suara lirih menahan tangis.


"Aaaa..." Ika kembali menyodorkan sendok ke mulut Cut.


Prank....


Ika sangat terkejut ketika Cut mendorong kasar tangannya hingga mangkuk yang berisi bubur jatuh dan pecah di lantai hingga bubur tersebut berhamburan.


Sultan yang baru saja keluar dari ruangan Dio langsung berlari bergegas mendengar suara keributan dari dalam ruangan anaknya.


"Mama, Cut!" panggil Sultan dengam napas tidak beraturan.


Ika menangis tanpa suara, ia memunguti pecahan kaca tersebut. Sultan yang tidak tega membangunkan sang istri. "Sudah biar Papa saja!" ucap Sultan dengan pelan.


Ika mengangguk dengan air mata yang terus mengalir yang membuat Sultan semakin tak tega dengan sang istri apalagi melihat Cut hanya diam tidak bersuara dengan pandangan kosongnya.


"Apa Cut yang melakukannya?" tanya Sultan pelan kepada istrinya.


Ika mengangguk. "Mungkin Mama saja yang kurang kuat memegang mangkuknya saat Cut menepis tangan Mama hingga mangkuk itu jatuh. Cut belum ada makan, Pa. Coba Papa yang bujuk Cut, siapa tahu dia mau makan!" ujar Ika dengan lirih.


"Sabar, Ma. Cut perlu waktu," ucap Sultan dengan serak menahan tangisnya.


Sultan membereskan beling yang berserakan di lantai agar tidak melukai siapa pun. Setelah selesai Sultan mendekati anaknya. "Cut gak lapar, Sayang? Papa suapi ya?! Kasihan Mama jadi nangis begitu karena Cut gak mau makan! Cut sayang Papa sama Mama, kan?" tanya Sultan dengan perlahan. Namun, Cut sama sekali tidak bergeming. Mungkin raganya ada di sini tetapi jiwanya sudah entah ada di mana, karena Cut sama sekali tidak mendengarkan ucapan kedua orang tuanya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri yang sudah entah berkelana di mana.


****


Kasus depresi memang banyak di Indonesia bahkan di luar negeri. Tak sedikit juga yang bunuh diri karena tak kuat menahan beban hati yang kian menambah rasa sakit dan depresi.


Seperti yang terjadi pada Cut saat ini. Wanita itu sudah dalam tahap depresi berat yang membuat Dio khawatir jika wanita itu akan membahayakan dirinya sendiri.


Depresi psikotik ditandai dengan gejala depresi berat yang disertai adanya halusinasi atau gangguan psikotik. Penderita depresi jenis ini akan mengalami gejala depresi dan halusinasi, yaitu melihat atau mendengar sesuatu yang sebetulnya tidak nyata.


Bukan tanpa alasan Dio mengatakan dua pilihan sulit kepada Sultan. Dio tidak ingin kejiwaan Cut semakin terganggu dan membahayakan nyawa wanita itu. Dio memijat pelipisnya karena kepalanya terasa pening baru kali ini Dio takut menangani pasien, ia takut gagal untuk membuat Cut sembuh.


"Sus!" panggil Dio dengan pelan.


"Obat terbaik yang saya pesan dari luar negeri untuk Meisya sudah datang?" tanya Dio serius.


"InsyaAllah besok sampai, Dok!" jawab Suster tersebut tersenyum.


Dio mengangguk. "Kamu pastikan tidak ada yang kurang. Kita harus bisa membuat Cut sembuh dengan cara ini bukan dengan cara menghilangkan ingatannya," ujar Dio dengan bimbang.


"Baik, Dok!" Suster Emma sendiri pesimis dengan apa yang dikatakan Dio kepadanya sebab dari banyaknya kasus depresi di rumah sakit ini Cut lah yang mengalami depresi yang sangat parah. Sangat di sayangkan sekali bagi suster Emma karena Cut adalah dokter baru terbaik di rumah sakit ini tetapi bisa depresi karena kehilangan yang sangat mendalam. Tetapi suster Emma masih bisa lega karena Cut tidak melukai dirinya sendiri seperti yang ditakutkan Dio, mungkin jika suster Emma yang mengalami ia sudah bunuh diri saat itu juga karena baginya tidak ada yang harus di pertahankan di dunia ini termasuk nyawanya.


****


Malam harinya, di saat semuanya sudah tertidur karena lelah. Cut masih terjaga setelah ia terbangun tiba-tiba, tidak ada yang menyadari jika Cut telah bangun karena Cut tidak bersuara sedikit pun.


"Sayang kemari!" ujar sebuah suara yang didengar Cut.


"Bang Ihsan!" gumam Cut dengan tersenyum. Dengan perlahan Cut turun dari ranjang pasiennya.


"Sini, Sayang!"


Cut melangkah mengikuti bayangan Ihsan yang tersenyum kepadanya. Ia membuka pintu dengan perlahan, wajahnya semakin cemas kala Ihsan terus menjauh kepadanya.


"Abang di situ aja!" ucap Cut dengan panik.


"Abang di sini, Sayang! Ayo ikut!" ujar sebuah suara yang hanya halusinasi Cut saat ini.


"Jangan pergi, Bang!" ucap Cut dengan panik.


Cut berlari mengejar Ihsan dengan sekuat tenaganya. Kali ini ia tidak ingin kehilangan Ihsan lagi. Hingga Cut sampai di atap rumah sakit. "Kenapa Abang menjauh?" tanya Cut dengan mata berkaca-kaca.


"Abang di sini, Sayang! Abang kangen!"


"Cut juga kangen Abang. Abang gak boleh tinggalin Cut lagi ya!" pinta Cut dengan bibir gemetar.


Cut mendekat ke arah bayangan Ihsan, ia ingin memeluk tubuh Ihsan tetapi ketika Cut sudah memeluknya Ihsan kembali menghilang.


"Abang! Abang Dimana?" teriak Cut ketakutan.


"Abang di sini, Sayang!" ucap bayangan Ihsan yang dilihat oleh Cut.


Bayangan tersebut ada di tiang pembatas. Cut dengan cepat berlari ke sana. Cut menatap Ihsan dengan penuh kerinduan, ia tidak memikirkan bahaya yang akan datang menghampirinya, sedikit saja Cut bergerak maka Cut akan jatuh ke bawah dan dapat di pastikan tulang Cut akan patah atau kepalanya akan pecah dan dirinya bisa kehilangan nyawanya.


"Cut mau ikut Abang!" ucap Cut mendekat ke arah bayangan Ihsan.


Cut ingin memeluknya tetapi tubuh Cut terhuyung ke depan saat bayangan itu kembali menghilang. Cut memejamkan matanya saat merasakan tubuhnya seperti terhempas. Apakah ini akhir hidupnya?


"CUT!"