
...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...
...Happy reading...
*****
"Kamu sudah bahagia, Sayang?"
"Kamu siapa?" tanya Cut dengan bingung.
Kenapa dirinya bisa di sini? Ini tempat apa sebenarnya? Dan siapa pria ini?
Ihsan tersenyum menatap Cut. "Abang bahagia kalau kamu bahagia, Sayang. Dio adalah pria yang tepat untuk kamu, Abang sudah tenang di sini akhirnya kamu sembuh," ucap Ihsan dengan tersenyum bahagia.
"Abang pergi ya!" ujar Ihsan.
"Kamu siapa? Apa maksud kamu? Aku gak kenal siapa kamu," ucap Cut.
"Hei, jangan pergi dulu! Ini di mana?" teriak Cut dengan takut pasalnya ia sendiri di sini tanpa suaminya dan pria dengan wajah tak jelas karena terhalang cahaya putih itu perlahan pergi meninggalkan dirinya.
Keringat dingin muncul di dahi Cut, kepalanya terus bergerak gelisah hingga Dio yang tidur di sebelahnya terbangun menatap cemas ke arah Cut yang sudah dibanjiri keringat.
"Sayang, bangun!" ucap Dio dengan menepuk pipi Cut dengan perlahan.
"Sayang!"
Cut membuka matanya dengan napas yang sangat memburu. Ia langsung memeluk Dio dengan erat, ketakutan yang ia rasajan membuat dada Cut sesak.
"Tenang, Sayang! Abang di sini," gumam Dio dengan cemas.
Cut menelan ludahnya dengan kasar, ia menatap Dio dengan napas yang masih sangat memburu.
Dio menyeka keringat Cut perlahan dan lembut dengan tangannya. "Ada apa? Kamu mimpi apa sampai ketakutan seperti ini, Sayang?" tanya Dio dengan lembut.
"A-aku... Ada pria dalam mimpi aku dia bilang sudah bahagia karena aku bahagia. T-tapi wajahnya gak jelas, Bang! Aku gak bisa lihat wajahnya? Aku sama sekali gak bisa mengenalinya," ujar Cut dengan mata yang berkaca-kaca entah mengapa ia merasa bersalah kepada pria dalam mimpinya.
"Ssst.... Itu hanya bunga tidur, Sayang! Jangan terlalu dipikirkan," ujar Dio dengan pelan walau sebenarnya ia juga memikirkan jika Cut sedang bermimpi soal Ihsan. Mungkinkah Ihsan ikhlas jika saat ini dirinya lah yang menjadi suami Cut?
"Tidur lagi ya! Sini Abang peluk!" ujar Dio dengan lembut.
Cut menurut, ia kembali tertidur dengan memeluk Dio dengan erat. Padahal sehabis bercinta biasanya ia akan tidur dengan nyenyak tetapi kali ini kenapa ia bisa mimpi seperti itu?
Dio mengelus punggung polos istrinya dengan lembut, ia mengecup kening Cut dengan perlahan hingga Cut merasa tenang dan bisa tertidur dengan nyenyak kembali sedangkan Dio tidak bisa tidur lagi, ia terjaga sampai subuh tiba.
***
Dirga terus memacu tubuhnya dengan Vera yang di bawah kuasanya, sungguh Dirga tak pernah merasa puas dengan sang istri yang membuat Dirga selalu ingin menyentuh Vera lagi dan lagi.
Suara desah*n Vera yang tak terkontrol membuat gairah Dirga semakin meningkat hingga Dirga kembali meledak di dalam diri Vera untuk yang kedua kalinya setelah berjam-jam mereka bercinta. Dirga ambruk di tubuh Vera yang terlihat berisi setelah menikah dan mempunyai anak kembar.
Napas keduanya tersengal-sengal dan saling tersenyum satu sama lain. Dirga mengecup kening dan bibir Vera sekilas kebiasaan mereka setelah selesai bercinta sebagai ungkapan terima kasih dari Dirga untuk sang istri yang melayaninya dengan begitu baik.
"Ahhh..."
Vera kembali mendes*h saat Dirga mencabut miliknya dengan perlahan, Dirga mengambil selimut dan menutupi tubuh polos mereka.
"Udah bisa tidur nyenyak?" goda Dirga saat Vera meneluknya dengan erat pasalnya tadi Vera lah yang meminta haknya duluan, biasanya wanita itu akan malu-malu dan menunggu dirinya yang meminta duluan.
Vera tersenyum malu. "Udah, Mas!" jawab Vera dengan malu-malu.
Dirga terkekeh dan mencium wajah istrinya dengan gemas. "Kamu udah bisa lepas KB, Sayang?" tanya Dirga dengan pelan.
"Udah, Mas! Besok temani aku ke dokter ya!" ujar Vera berusaha untuk tidak memejamkan matanya.
Vera tahu Dirga sangat menginginkan anak perempuan. Akhirnya setelah dua tahun memakai KB Vera memberanikan diri melepasnya demi Dirga agar sang suami bahagia, toh juga semakin tahun usianya semakin tua ia tak mau Dirga pindah ke lain hati walau itu tidak mungkin terjadi karena Dirga sangat mencintai Vera. Tetapi guna menjaga hubungannya agar tetap hangat dengan Dirga, Vera selalu minum jamu untuk membuat Dirga puas.
"Pasti, Sayang! Sekarang tidur kamu udah kelelahan banget," ujar Dirga dengan lembut.
Vera mengangguk tak sampai 10 menit wanita itu sudah memejamkan matanya dan tidur dengan nyenyak dipelukan Dirga.
"Astaga, menggemaskan sekali istriku semakin tidak sabar mempunyai anak perempuan yang sangat mirip dengan Vera," gumam Dirga dengan terkekeh.
Tak lama Dirga juga menyusul istrinya untuk tidur sebelum besok pagi sudah ada duo kembar yang mengganggu mereka.