Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~32 (Mulai Menyadari Perasaan)



...Sesuai janji aku hari ini crazy up ya gengs. Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya buat part ini....


...Happy reading...


****


Saat ini Dio sedang berada di ruang kerjanya setelah memeriksa pasien Dio memutuskan kembali ke ruangannya, Dio tersenyum tipis saat bayangan Cut mendekat ke arahnya dan memberikan kotak bekal sarapan seperti biasa.


"Aku bawa ini untuk Abang, dimakan ya!".


Dio seperti mendengar suara Cut yang selalu berucap lembut kepadanya. "Terima kas..." Dio mengusap wajahnya dengan kasar saat bayangan Cut menghilang ketika tangan Dio ingin mengambil kotal bekal tersebut.


"Cut," panggil Dio dengan lirih. "Abang baru sadar kalau Abang cinta sama kamu," gumam Dio dengan serak. Dio mengambil ponselnya dan mencari akun media sosial milik Cut. Dio tersenyum saat melihat foto Cut yang sangat cantik tetapi senyumannya langsung memudar kala melihat foto pernikahan Cut dengan Ihsan.


"Secepat itu rasa cinta kamu hilang untuk Abang, Cut?" tanya Dio menatap foto Cut. Ia mengusap foto itu dengan ibu jarinya, tanpa sadar air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Kenapa Dio harus menyadari perasaannya di saat Cut sudah menjadi milik pria lain? Jika begini Dio tidak bisa memperjuangkan perasaannya. Bahkan saat ini Dio tak lagi memikirkan Ratu, ia sudah tidak peduli dengan apa yang dilakukan Ratu. Gadis itu sebentar lagi mau menikah pun Dio sudah tidak peduli.


Dio banyak mengenang perjuangan Cut selama 100 hari untuk mendapatkan cintanya. Lagi dan lagi Dio seperti orang gila mengingat semuanya.


"Apakah ini karma yang aku dapatkan karena terus melukai wanita sebaik kamu, Cut?" gumam Dio dengan lirih.


****


Berbeda dengan Dio yang sedang meratapi perasaannya kepada Cut. Kini sepasang pengantin baru tersebut sudah berada di dalam mobil untuk berangkat ke kampus bersama, Ihsan menggenggam tangan Cut dengan erat dan menciumnya dengan mesra.


"Nanti tunggu Abang di kelas ya," ucap Ihsan dengan tersenyum.


"Iya dosenku," ujar Cut dengan terkekeh. Ihsan juga terkekeh mendengar ucapan istrinya.


"Jangan kasih tugas banyak-banyak ya Pak!" canda Cut mengerling nakal ke arah Ihsan.


"Aish....tugas kamu aman sama Abang kalau malam kamu melayani Abang dengan baik seperti semalam. Gimana?" ucap Ihsan membuat penawaran.


"Maksudnya gimana nih?" tanya Cut dengan geli.


"Itu sih enak di Abang," ucap Cut dengan mengerucutkan bibirnya.


"Sama-sama enak dong, Sayang. Abang penasaran hasil adonan kita berdua itu akan mirip siapa. Abang atau kamu?" ucap Ihsan dengan tersenyum.


Tangan Ihsan beralih kepada perut datar Cut. "Cepat tumbuh di dalam sana ya, Nak. Ayah dan Bunda menunggu kehadiran kamu," ucap Ihsan dengan mengelus perut Cut.


Cut memegang tangan suaminya yang ada di perutnya. "Aamiin. Semoga segera tumbuh buah cinta kita ya, Bang. Dari awal aku memang tidak mau menundanya. Aku mau menikmati menjadi ibu di usia muda," ucap Cut dengan tulus.


"Tapi Abang takut Dek," ucap Ihsam dengan jujur.


"Takut kenapa Sayang?" tanya Cut dengan lembut.


"Kuliah kedokteran itu tidak mudah, Sayang. Kamu harus menghadapi berbagai macam tugas, praktek. Setelah itu juga kamu harus koas, kulian dan koas memakan waktu 6 tahun untuk kamu menjadi dokter dan Abang takut kamu kelelahan mengurus tugas kuliah, Abang dan juga anak kita nanti. Apa kita tunda saja ya? Tapi selama ini kita melakukannya tanpa pengaman apapun, bisa saja anak kita sudah dalam proses," ucap Ihsan dengan lirih. Ihsan sebenarnya merasa bahagia jika Cut hamil dengan segera tetapi Ihsan juga memikirkan kesehatan fisik istrinya kerena kuliah kedokteran akan lebih menguras otak dan tenaga dari perkuliahan lainnya.


"Suamiku, aku sudah setengah jalan kuliah. Dan setelah itu aku memutuskan menikah denganmu. Itu artinya aku siap dengan konsekuansi ke depannya seperti apa. Aku tahu kuliah kedokteran sekaligus menjadi istri di usia muda itu tidak mudah tetapi jika kamu selalu ada di sampingku untuk menguatkan aku maka aku akan sanggup walau lelah itu aku rasakan nantinya. Jangan takut lagi ya! Takutnya kalau menunda kehamilan kamu semakin tua, Sayang!" ucap Cut diakhiri dengan candaan.


"Iya aku semakin tua tetapi aku semakin menyayangimu, Sayang," ucap Ihsan dengan lembut.


Cup....


"Belajar yang rajin my wife. Abang ke kantor dulu Sayang, kamu langsung ke kelas ya jangan lirik-lirik lelaki di sini. Kamu hanya milik Abang, Sayang. Awas saja kalau Abang tahu kami lirik lelaki lain maka lelaki itu akan mendapatkan nilai D di mata kuliah Abang," ancam Ihsan saat mereka sudah sampai di parkiran kampus.


"Posesif sekali," ucap Cut dengan terkekeh.


"Aku tahu itu Sayang!" jawab Ihsan dengan tenang.


"I love you mahasiswiku!" bisik Ihsan dengan mesra.


"I love you too dosenku!" jawab Cut tak kalah mesra.


Sebelum keluar dari mobil. Cut mencium tangan Ihsan dengan Ihsan yang mengecup seluruh permukaan wajahnya untung saja kaca mobil mereka hitam yang tidak bisa dilihat orang lain jika tidak mungkin Cut sangat merasa malu sekarang.