
...Happy reading...
****
Sultan menatap Ika yang masih terbaring di kamar tamu di rumahnya. Tangannya juga di infus karena keadaan Ika yang sangat lemas bahkan dokter mengatakan belum ada nasi sebutir pun yang masuk ke perut Ika sejak kemarin membuat Sultan merasa khawatir dan merasa bersalah dengan gadis yang ia cintai ini. Rasa perih yang mengaduk-ngaduk perut Ika karena gadis itu tidak makan sama sekali.
Cut juga tidak mau beranjak dari sisi Ika, ia memeluk perut Ika dengan sangat erat takut kehilangan wanita yang membuatnya merasa mempunyai ibu. Wajah pucat dan mata terpejam Ika membuat Cut takut jika Ika akan meninggalkannya.
Helaan napas Sultan terdengar sangat keras hinga suara lenguhan dari bibir Ika membuat Sultan mendekat, ia sedikit merasa lega ketika melihat Ika membuka mata. "Kamu sudah sadar, Dek?" tanya Sultan dengan lirih.
Ika menatap sekelilingnya. Ia mengeryit bingung mengapa ia berada di rumah Sultan dengan tangan yang ter-infus begini. Tadinya Sultan ingin membawa Ika ke rumah sakit tetapi Cut yang takut akan rumah sakit membuat Sultan mengurungkan niatnya dan akhirnya Ika dirawat di rumahnya.
Ika tersenyum kecil saat ada tangan kecil yang memeluknya. Mata gadis kecil itu terpejam membuat tangan Ika ingin mengelus kepalanya tetapi ia merasakan ngilu saat tangan yang diinfus bergerak.
"Jangan bangun dulu!" cegah Sultan dengan cemas.
Ika menatap Sultan dengan datar. "Aku gak apa-apa, Bang! Aku gak bakal mati hanya karena bergerak sedikit saja!" ucap Ika dengan lirih.
Sultan menghela napas mendengar Ika yang sangat keras kepala. "Kenapa sejak kemarin Adek gak makan?" tanya Sultan dengan lembut.
Ada perasaan bahagia saat Sultan sangat perhatian kepadanya tetapi melihat respon Sultan kemarin membuat Ika tak mau berharap banyak. "Aku lupa," jawab Ika sekenanya. Padahal yang terjadi ia memang sengaja melakukannya karena nasi yang masuk ke mulutnya terasa keras seperti batu. Seakan ada yang menahan di tenggorokannya.
"Sekarang makan dulu ya, Dek. Abang gak mau lihat kamu sakit seperti ini lagi," ucap Sultan dengan tegas.
"Aku gak mau, Bang! Udah kenyang!" ucap Ika menolaknya dengan halus.
"Bagaimana bisa perut kamu sudah kenyang jika sejak kemarin kamu tidak makan? Abang gak mau tahu kamu harus makan! Abang suapi!" ucap Sultan dengan tegas. Ia mengambil bubur buatannya yang berada di atas meja.
"A-aku bisa sendiri!" ucap Ika dengan terbata.
Ia berusaha bangun dan bersandar di kepala ranjang. Melihat Cut masih tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu dengan pergerakkannya membuat Ika tersenyum.
"Sejak tadi Cut gak mau pergi dari sisi kamu, Dek! Cut memeluk kamu sampai dia tertidur," ucap Sultan dengan jujur.
"Lucunya!" gumam Ika dengan terkekeh.
"Sekarang kamu makan sebelum Cut bangun!" ucap Sultan dengan tegas menyuapi Ika dengan bubur buatannya. Awalnya Ika merasa ragu namun melihat sorot mata Sultan membuat Ika akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Sultan.
"A-abang gak marah sama aku? Gak jijik sama aku? Aku wanita kotor! Aku hina! Aku murahan!" ucap Ika dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke arah Sultan yang sejak tadi masih menyuapinya dengan sabar.
Sultan menghela napasnya. "Kenapa Abang harus merasa jijik dan marah sama kamu, Dek? Abang tidak ingin menghakimi masa lalu kamu yang terpenting kamu yang sekarang tidak melakukan perbuatan hina itu lagi. Sekarang Abang tanya. Kamu seperti ini karena mengira Abang membencimu?" ujar Sultan dengan tegas.
Ika mengangguk pelan membuat Sultan tersenyum. "Kamu takut Abang menjauh?" tanya Sultan.
Lagi dan lagi pertanyaan Sultan hanya dibalas anggukkan oleh Ika. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya seakan tercekat di tenggorokannya saat Sultan menatapnya dengan dalam.
"Kamu mencintai Abang?" pancing Sultan.
Ika menganggung lagi. "Eh!" pipi Ika memerah saat menyadari perbuatannya membuat Sultan tersenyum.
"Kenapa kamu bisa mencintai Abang?" tanya Sultan dengan serius.
"I-itu hmmm a-anu...." Ika benar-benar gugup sekarang karena Sultan menyudutkannya dengan pertanyaan yang membuat perasaannya tak menentu.
"Itu? Anu apa?" desak Sultan yang ingin mendengar jawaban Ika. Sungguh hatinya sangat bahagia sekarang.
"Karena perhatian Abang yang gak pernah Ika dapatkan dari dia!" gumam Ika dengan jujur. Kepalanya menunduk dengan malu.
"Sekarang kamu tanggungjawab Abang! Tunggulah sebentar lagi Abang akan ke Jakarta untuk melamarmu!" ucap Sultan dengan tenang.
"M-melamarku?" tanya Ika dengan terbata.
"Iya Dek! Niat baik Abang untuk melamarmu tidak baik ditunda-tunda! Buka mulutnya satu suapan lagi buburnya habis!" ucap Sultan dengan tersenyum.
"T-tapi, t-tapi kenapa bisa secepat itu?" tanya Ika dengan terbata.
"Kenapa? Kamu tidak mau menikah dengan Abang?" tanya Sultan berpura-pura sedih.
"A-aku mau!"
"Abang pinjam ponselmu!" ucap Sultan dengan lembut.
"U-untuk apa?" tanya Ika dengan terbata. Ia masih syok dengan lamaran Sultan.
"Sebentar saja," ucap Sultan. Ika mengambil ponselnya yang berada di tas miliknya.
"I-ini!" ucap Ika dengan lirih.
"Terima kasih. Siapa nama kontak ayahmu, Dek?" tanya Sultan dengan tenang lagi dan lagi membuat Ika kesulitan bernapas.
"Ayah tersayang," gumam Ika membuat Sultan mengangguk. Sultan langsung mencari nama kontak ayah Ika dengan cepat lalu ia menekan ikon berwarna hijau.
"Assalamualaikum, Pak!" salam Sultan saat panggilan sudah terhubung.
"Wa'alaikumussalam. Maaf ini siapa? Kenapa ponsel anak saya berada di tangan seorang pria?" tanya Leo dengan dingin.
"Saya Teuku Sultan Rahardian, Pak. Maaf jika telah membuat anda syok atau khawatir dengan keadaan Ika. Saya meminjam ponselnya karena ingin berbicara kepada anda," ucap Sultan dengan tegas.
"Bicara apa? Apa kau melakukan sesuatu kepada anakku? Kau melukainya?" tanya Leo dengan tajam, tangannya terkepal sangat erat takut terjadi sesuatu dengan anaknya.
"Saya mana mungkin melukai gadis yang saya cintai, Pak. Saya ingin melamarnya secara langsung kepada anda makanya saya menghubungi anda dengan segera," jawab Sultan dengan tenang.
"A-apa? Anda jangan mempermainkan perasaan anak saya!" teriak Leo.
"Saya tidak main- main, Pak. Dua minggu lagi saya akan ke Jakarta bersama dengan Ika. Saya juga sudah menghubungi pak Leon. Berhubung beliau masih di Jepang dan dua minggu lagi akan kembali maka saya akan ke Jakarta tepat saat kepulangannya. Apa anda merestui hubungan kami?" ujar Sultan dengan tegas. Tak ada gurat keraguan di matanya saat meminta Ika kepada orang tuanya untuk menjadi istrinya.
Terdengar suara helaan napas di dalam telepon miliknya. "Saya tunggu kedatangan anda, Sultan!" jawab Leo dengan tegas.
"Terima kasih. Jika begitu saya tutup teleponnya ayah. assalamualaikum," ucap Sultan dengan tersenyum. Setelah mendengar jawaban salam dari calon mertuanya Sultan langsung mematikan teleponnya. Bahkan ia berani memanggil Leo dengan sebutan ayah.
Sultan memberikan ponsel Ika kembali. Gadis itu masih terlihat diam memandanginya. "Cepatlah sehat kita akan ke Jakarta dua minggu lagi. Minum obatnya, Dek! Infusmu sebentar lagi habis," ucap Sultan dengan lembut.
"A-apa aku sedang bermimpi?" tanya Ika dengan terbata. Karena sikap Sultan yang sangat berani membuat Ika semakin mencintai Sultan. Bahkan ketika dengan Rama dulu ia yang selalu membujuk Rama untuk menemui orang tuanya tetapi hasilnya tetap Rama tidak mau bertemu dengan kedua orang tuanya sebagai kekasihnya.
"Tidak! Jangan banyak melamun. Minum obatnya dan segera istirahat kembali!"
***
Semakin meleleh dengan sikap tegas Bangsul eh bang Sultan maksudnya๐๐๐
ramein lagi part ini.
Duh senengnya author mau dilamar๐๐๐๐
like, vote, dan coment yang banyak ya!