
...Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading...
****
Cut benar-benar mendiami semua orang yang terlibat membohonginya. Setahun lebih Cut di bohongi Dio, kedua orang tuanya, neneknya, dan keluarga yang lain juga menutupi semua tentang Ihsan kepadanya. Cut ingin marah dengan dirinya sendiri yang tak bisa mengingat siapa Ihsan lelaki yang pernah menjadi suaminya benerapa tahun itu, lelaki yang ternyata mwmbuat dirinya bahagia setelah cintanya ditolak oleh Dio.
Cut juga ingin marah kepada Dio tapi dia hanya mampu diam dan tak mempedulikan sang suami karena nyatanya rasa cinta itu lebih besar untuk Dio. Cut merasa bersalah kepada suami pertamanya karena sudah melupakan lelaki itu dan mencintai lelaki lain bahkan menikah dan sampai mempunyai anak. Andai saja ia tidaj depresi mungkin menerima Dio akan sangat berat. Namun, semua sudah terlanjur Cut tak bisa menyesali apa yang terjadi karena ia juga bahagia bersama dengan Dio dan pernikahan mereka di dasari oleh sebuah kebohongan tetapi mendengar penjelasan kedua orang tuanya waktu itu tentang perjuangan Dio yang membuatnya sembuh Cut sedikit melunat walau sudah dua hari ini ia mendiami suaminya.
Dio melihat sang istri yang tengah menyiapkan sarapan untuknya dan Mashita. Walaupun Cut sedang marah wanita itu tetap menyiapkan keperluannya dengan baik.
"Ayah!" panggil Mashita berlari ke arah Dio.
Dio memutar tubuhnya dengan perlahan dan semua itu tak luput dari pandangan Cut walau ia terkesan sangat cuek dengan suaminya.
"Iya, Sayang! Kenapa?" tanya Dio dengan lembut.
Mashita memperlihatkan boneka yang dipegangnya. "Makasih Ayah bonekanya bagus banget!" ucap Mashita dengan bahagia.
"Sama-sam..."
"Jangan terlalu memanjakan Mashita. Dia bukan anak kandung kamu!" ucap Cut dengan dingin yang membuat Dio memejamkan matanya menahan emosi yang hampir tersulut karena ucapan Cut.
"Shita emang bukan anak kandung Abang, Cut! Tapi apa salahnya Abang memanjakan dia seperti anak kandung Abang sendiri? Kamu gak bisa melihat ketulusan Abang selama ini? Abang tahu Abang salah karena telah berbohong sama kamu itu pun Abang melakukannya demi kamu. Tapi kalau mau marah jangan di depan Mashita! Kamu seorang dokter, psikiater, seharusnya kamu paham mental Mashita akan seperti apa nantinya," ucap Dio dengan tegas.
Mata Mashita berkaca-kaca. "Shita emang gak punya ayah lagi. Tapi apa gak boleh Shita sayang sama ayah Dio, Bun?" tanya Mashita dengan meneteskan air mata.
Cut hanya bisa diam kaku menyesali ucapannya, bibirnya keluh saat melihat wajah kedua orang yang amat ia sayangi.
"Hari ini Abang makan di rumah sakit aja. Besok-besok kalau emang kamu capek melayani Abang lebih baik gak usah. Hati-hati di rumah mungkin Abang pulang malam," ucap Dio dengan datar. Bagaimana pun Dio tidak ingin kemarahannya akan berlanjut dengan sangat lama.
"Shita ikut ayah boleh?" tanya Mashita dengan pelan. Mashita sangat takut akan kemarahan Cut, semenjak saat itu Shita lebih dekat dengan Dio.
"Ayah harus kerja, Sayang. Ayah janji nanti akan jemput Mashita. Shita sama Galih dan Ghani dulu ya," ujar Dio dengan lembut.
Air mata Cut mengalir begitu saja saat melihat kepergian suami dan anaknya. Apakah ia keterlaluan hingga membuat Dio semarah itu kepadanya? Perkataannya apakah menyakiti keduanya hingga anak kandungnya saja lebih memilih bersama dengan Dio dari pada bersama dengan dirinya.
Cut terduduk di meja makan dengan menatap makanan yang masih utuh. Selera makannya pun tiba-tiba menghilang hingga kemunculan kedua orang tuanya yang membuat Cut langsung menghapus air matanya.
"Cut!" panggil Ika dengan lembut.
"I-iya, Ma!" jawab Cut dengan pelan.
"Mama dan papa tidak membela siapa pun atau mencari pembalaan tentang kebohongan yang telah kami perbuat selama ini. Tapi apa yang dilakukan Dio itu semua demi kamu, Sayang. Awalnya kami sempat ragu tapi mrlihat kondisi kamu yang semakin tak terkendali karena depresi membuat kami yakin apa yang Dio lakukan adalah demi kebaikanmu. Apa kamu tidak merasakan ketulusan Dio selama ini? Bahkan dia memperlakukan Mashita seperti anak kandungnyya sendiri," ucap Ika dengan lembut.
"Papa tahu kamu kecewa dengan Dio. Di sela kemarahannya pun Dio menelepon kami untuk segera datang ke sini menjaga kamu karena dia harus bekerja dan mungkin akan pulang larut malam. Cut, pikirkan lagi semuanya, sekarang kamu sedang mengandung tidak baik mendiami suami bahkan berbicara ketus berhari-hari seperti ini," ujar Sultan yang membuat dada Cut kembali sesak.
"Cut butuh waktu Pa, Ma!" ujar Cut dengan lirih.
"Papa dan mama tidak memaksa, Sayang. Sekarang kamu makan dulu ya, kedua anak kamu butuh nutrisi dari kamu," ucap Ika dengan lembut.
"Cut gak lapar!" ucap Cut dengan berjalan ke arah kamarnya meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa menghela napas mereka dengan perlahan mencoba memahami anaknya kini yang sedang kecewa.
****
Malam harinya tepat pada pukul 11 malam Cut sama sekali belum bisa tertidur sama sekali padahal kedua orang tuanya sudah tertidur sejak tadi. Hatinya gelisah menunggu kepulangan sang suami hingga suara mobil Dio membuat hati Cut lega tetapi ia hanya bisa mengintip Dio dari balik jendela kamarnya.
Ego yang masih sangat tinggi membuat Cut enggan menyambut kepulangan suaminya. Cut pikir Dio akan ke kamar seperti biasa memohon agar bisa tidur bersama dengan dirinya walau berakhir tidur di sofa luar juga karena Cut tak mengizinkan Dio tidur bersama dirinya.
Nyatanya sampai setengah jam Cut menunggu Dio tak kunjung masuk kamar. Lelaki itu lebih memilih tidur bersama dengan Mashita karena Dio tak ingin menyulutkan kemarahan Cut kepadanya. Dio memberikan waktu seperti yang Cut mau dengan tetap mengawasi istrinya melalui kedua orang tua Cut.
Air mata Cut mengalir begitu saja ternyata tidur tidak di peluk oleh Dio tidak senyaman ketika tidur sendiri.
"Hiks... Hiks... "
Cut hanya bisa menangis hingga tertidur dengan memeluk guling karena kelelahan. Ternyata Dio selalu memastikan kenyamanannya namun kini Cut tidak mendapatkannya karena kecewa yang masih ia rasakan kepada suaminya.