
...Happy reading...
***
Sudah sebulan ini Laura tanpa Leon dan rasanya entah mengapa sangat hambar. Awal kepergian Leon, Laura bersikap biasa saja. Namun, setelah itu ia semakin merindukan Leon yang berada di negeri orang tersebut. Memang sering sekali Leon mengirimkannya pesan singkat tetapi akhir-akhir ini Leon jarang mengirimkannya pesan. Ingin sekali ia menanyakan kabar lelaki itu duluan tetapi niat itu ia urungkan karena sadar akan posisinya yang bukan siapa-siapa Leon.
"Jangan melamun terus!" tegur Cika saat melihat Laura melamun saat memotong sayuran. Laura tersentak dan tersenyum canggung ke arah rekan kerjanya tersebut.
"Emang saya melamun ya, Mbak?" tanya Laura membuat Cika menghela nafasnya karena ia sering kali melihat Laura melamun saat mereka sedang bekerja.
"Saya sering sekali melihat kamu melamun, Laura! Kamu ada masalah apa?" tanya Cika dengan penasaran sekaligus khawatir dengan Laura yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Ahh... Tidak ada Mbak. Mungkin saya kurang tidur saja," ucap Laura dengan berbohong. Cika hanya bisa tersenyum tidak berani banyak bertanya karena itu adalah privasi Laura. Sebagai rekan kerja yang baik ia hanya bisa menegur Laura saat wanita itu melamun saat seorang diri dan bahkan saat berada di keramaian Laura juga melamun tidak seceria biasanya.
"Lanjutkan memasaknya pelanggan sudah menunggu," ucap Cika dengan tegas membuat Laura tersadar dan berusaha fokus memasak, ia tidak ingin pelanggan kecewa dengan masakannya karena ia sering tidak fokus dan mungkin saja bisa memengaruhi rasa masakannya. Laura berkutat dengan alat masak dan bahan masakan hingga sore hari, lelah tentu saja Laura rasakan karena pelanggan sangat ramai hari ini. Hari libur restoran semakin ramai dipenuhi dengan pemuda-pemudi yang membawa pasangannya masing-masing atau keluarga yang ingin makan di restoran.
"Mbak Laura!" panggil Ika saat melihat Laura sedang beristirahat seorang diri. Ika menghampiri Laura yang terkejut akan kehadirannya. Ika tersenyum dan duduk di sebelah Laura.
"M-mbak Ika," jawab Laura dengan tersenyum canggung.
"Mbak gak pulang sudah sore?" tanya Ika dengan ramah.
"Sebentar lagi Mbak. Mbak kenapa ada di sini?" tanya Laura saat melihat Ika bisa ke dapur restoran.
"Disuruh mas Leon mantau restoran nih, Mbak. Sebenarnya sih malas banget tapi kalau gak dituruti bisa marah besar sama saya dan uang jajan saya dipotong," keluh Ika dengan menampilkan wajah memelasnya kepada Laura.
Laura mengernyit bingung menatap Ika. "Mbak Ika calon istrinya pak Leon ya? Kok bisa disuruh mantau restoran sampai uang jajan dipotong?" tanya Laura dengan tercekat karena hatinya merasa berdenyut sakit saat bertanya seperti itu kepada Ika.
"What? Calon istri? Hahaha... Mbak Laura ada-ada saja. Saya adiknya mas Leon, Mbak. Saya mempunyai kembaran, adik saya bernama ica kami kembar tapi tidak identik dan Ica itu pacarnya Ryan," uap Ika dengan terkekeh membuat Laura malu dan menggaruk pipinya yang tidak gatal, ternyata selama ini ia salah sangka dengan Leon dan Ika. "Kenapa Mbak Laura bisa berpikir jika saya dan mas Leon itu calon suami istri?" tanya Ika dengan penasaran.
"Ya... Hmmm saya gak tahu, kalian terlihat sangat romantis," jawab Laura dengan malu.
"Hahaha... Mas Leon memang begitu Mbak, dia sangat menyayangi keluarganya terutama wanita-wanita yang sedarah dengannya. Tapi sayang selama ini saya belum melihat dia membawa pacar ke rumah," ucap Ika dengan tersenyum.
"Tidak apa-apa Mbak. Wajar saja jika Mbak berpikir seperti itu tapi kami saudara kandung," ucap Ika.
Ponsel Ika berdering membuat Ika menatap layar ponselnya dengan tersenyum. "Mas Leon menelepon. Saya angkat dulu ya Mbak, akhir-akhir ini dia sangat sibuk," ucap Ika yang diangguki oleh Laura.
"Halo Mas," sapa Ika dengan ceria.
"....."
"Loh suara Mas kok serak sih? Mas sakit?" tanya Ika dengan panik membuat Laura yang berada di dekatnya menjadi panik juga.
"...."
"Astaga... Mas masuk rumah sakit? Tunggu Ika dan yang lainnya akan segera ke sana Mas," ucap Ika dengan panik.
"Ada ap..."
"Mbak saya pulang ya. Saya harus menyusul Mas Leon," ucap Ika dengan panik. Laura yang hendak bertanya mengurungkan dirinya karena Ika terlihat sangat panik. Ada apa dengan Leon? Mengapa Laura sangat mencemaskan Leon? Apa lelaki itu sakit parah? Kenapa hatinya menjadi tidak tenang saat ini?
"P-pak Leon," gumam Laura dengan sendu memukul dadanya yang entah mengapa sangat sesak karena memikirkan Leon.
****
Om Leon sakit apa ya?
Ada yang panik nih om Leon sakit.
Gimana dengan part ini?
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyak ya! Serta favoritkan cerita ini, share juga ke teman-teman kalian!