
Ini sudah akhir dari cerita mereka ya. Kisah semua yang ada di novel ini aku tutup sampai di sini, menurut aku ceritanya udah panjang banget sih dari Leon dan laura, Ika dan sultan sampai ke anak-anak mereka. Aku mau cerita yang segar tanpa ada sangkut pautnya sama tokoh di sini.
Kalian yang belum mampir di novel aku "Gairah Sang Dokter Duda" Segera mampir ya karena ceritanya pasti seru banget.
...Happy reading...
****
Memiliki anak kembar di usia yang masih muda tak membuat Dirga seperti lelaki yang sudah mempunyai anak. Terlebih saat ini Vera baru melahirkan kembali dan anaknya kembar lagi, kali ini kedua anak bungsunya berjenis kelamin perempuan dengan wajah yang sangat mengemaskan.
Dirga lelaki 28 tahun itu sangat bahagia ketika mempunyai anak kembali terlebih sekarang kedua anaknya perempuan seperti kedua anak kembar Dio dan Cut.
Galih dan Ghani terlihat menatap kedua adiknya dengan pandangan yang tidak berkedip sama sekali.
"Papa!" panggil Ghani menghampiri Dirga yang sedang menyuapi mamanya.
Dirga menatap anaknya. "Kenapa, Kak?" tanya Dirga dengan lembut.
"Ghani gak mau punya adek lagi setelah ini. Dua adek perempuan sudah cukup, pasti kalau mereka sudah besar sangat merepotkan," ujar Ghani yang membuat Dirga dan Vera tertawa.
Dirga dan Vera tahu jika kedua anak kembarnya ini sangat dingin, mereka enggan di ganggu jika sedang dengan dunia belajarnya. Dan Dirga yakin kedua anak perempuannya nanti akan membuat kedua kakaknya pusing.
Galih juga menghampiri kedua orang tuanya. "Mashita saja sudah sangat merepotkan, kedua adiknya juga Arianna dan Brianna. Sekarang ditambah Latisha dan Lathika. Apakah Papa dan Mama tidak kasihan pada kami?" tanya Galih dengan datar tetapi wajahnya sangat memelas.
Dirga mengusap kepala anaknya secara bergantian. "Kalian adalah lelaki. Dan lelaki pantang untuk mengeluh seperti ini, Apakah Papa pernah mengajari kalian menjadi lelaki lemah? Papa mengajarkan kalian untuk melindungi perempuan terutama Mama dan para saudarimu. Jika kalian sudah dewasa Papa mau kalian menjadi lelaki yang bertanggungjawab!" ujar Dirga dengan tegas.
"Benar kata Papa. Jangan menjadi lelaki yang tidak mempunyai tanggungjawab kepada perempuan, mengerti?!" ucap Vera kepada kedua anaknya.
"Mengerti!" jawab keduanya dengan pelan.
Sebenarnya Galih maupun Ghani sangat suka dengan kehadiran kedua adiknya tetapi keduanya tidak mau mempunyai adik lagi. Cukup Latisha dan Lathika lah yang menjadi adik bungsu mereka.
"Ya sudah kalian boleh main atau belajar sesuka kalian," ujar Dirga kepada kedua anaknya.
"Oke!" sahut keduanya langsung keluar dari dalam kamar papa dan mamanya.
"Mereka itu dingin banget Mas kayak kamu. Tapi aku yakin mereka sangat menyayangi adik-adiknya kelak," ujar Vera dengan tersenyum.
Sungguh Vera sangat bahagia bisa menikah dengan Dirga. Walau usia Dirga lebih muda darinya tapi lelaki itu sangat mampu membuatnya bahagia sampai sekarang bahkan Dirga selalu bisa membuatnya merasa nyaman bahkan merasa dirinya adalah wanita yang sangat bahagia karena kehadiran anak-anak mereka, bahkan Vera tak pernah menyangka jika di dalam rahimnya ada anak kembar. Dua kali hamil, dua kaki mendapatkan anak kembar. Kini kebahagiaan Vera terasa lengkap.
Suami yang sangat mencintai dan perhatian kepadanya, mertua yang sangat menyayanginya, ke-empat anaknya uang sangat lucu dan menggemaskan membuat Vera tak ingin apa-apa lagi selain suami, anak dan keluarganya.
Cup...
Dirga mengecup kening Vera dengan penuh sayang. "Ghani dan Galih seperti, Mas. Dingin di luar namun hangat dalam keluarga. Jangan khawatir Mas yakin ketika keduanya besar nanti Ghani dan Galih akan menjadi lelaki yang bertanggungjawab," sahut Dirga dengan lembut.
Vera bersandar di dada bidang Dirga. Keduanya menatap anak kembar mereka yang masih terlelap dengan penuh cinta. "Jangan pernah meninggalkan aku dan anak-anak ya Mas. Aku gak tahu harus apa jika kamu pergi," gumam Vera dengan tulus karena selama menikah dengan Dirga, Vera sangat di manja hingga sampai sekarang ia sangat bergantung dengan suaminya. Sikap mandirinya dulu hilang saat Dirga menikahinya bahkan sekarang Vera amat sangat manja kepada Dirga bahkan tak bisa melakukan sesuatu hal yang sedikit berat jika Dirga tidak ada. Sebegitu Dirga sangat memanjakan Vera hingga wanita itu sangat bergantung dengan suaminya.
"Mas tidak akan meninggalkan kamu dan anak-anak, Sayang. Hanya maut yang bisa memisahkan kita," sahut Dirga dengan tulus.
Bagi Dirga cinta adalah keabadian. Jika ia sudah mencintai seseorang maka Dirga akan terus mencintai wanita itu sampai akhir hayatnya. Tak peduli dengan masa lalu pasangannya asal masa depan wanita itu bersamanya.
****
Saat ini Dio sedang membawa ketiga anaknya jalan-jalan ke taman bermain bersama dengan Cut yang dinyatakan hamil kembali. Untung saja Cut tidak mengalami gejala morning sickness yang berlebihan, tentu saja Dio sangat bahagia ketika mengetahui Cut hamil kembali anaknya. Terlalu cepat? Tidak bagi Dio yang memang ingin mengurus anaknya sekalian agar semuanya bisa tumbuh besar bersama.
Cut dan Mashita duduk di ayunan bermain dengan memakan es krim sedangkan Dio mengikuti kedua anak kembarnya yang sedang aktif-aktifnya berjalan walau masih terlihat sempoyongan.
"Pelan-pelan Arin, Anna!" ujar Dio dengan lembut.
Dio selalu sigap agar kedua anaknya tidak terjatuh.
"Yah, lai (Ayah, lari)" ucap Arianna dengan senang yang membuat Dio menggelengkan kepalanya tersenyum. Dio mengejar kedua anaknya yang terus berlari hingga Dio menangkap Brianna yang hampir terjatuh.
"Ayah kan sudah bilang pelan-pelan, gemoy! " ucap Dio dengan gemas dan menggelitiki perut anaknya dengan wajahnya yang membuat Brianna tertawa riang.
Dio menggendong Arianna juga. "Kita ke tempat kakak dan bunda," ujar Dio dengan tegas karena ia sudah mulai lelah mengikuti kedua anaknya ke sana kemari.
"Au es klim (mau es krim)" rengek Arianna dan Brianna yang melihat bunda dan kakaknya makan es krim.
"Mau? Cium dulu ayahnya baru ayah beliin!" ucap Dio kepada kedua anaknya.
Arianna dan Brianna langaung mencium pipi kanan dan kiri Dio secara bersamaan. "Udah, Yah. Es klim-nya mana!" ucap Arianna dengan manja.
Cut mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong kedua anaknya. "Mimik susu dulu baru makan es krim," ujar Cut kepads anaknya.
"Es klim aja, Nda! Ndak au susu!" rengek keduanya yang hampir menangis. Meminta dengan bundanya memakan butuh waktu yang lama sedangkan bersama dengan ayahnya mereka langsung diberikan.
"Oke-oke es krim!" sahut Cut dengan mengalah yang membuat wajah mereka kembali ceria.
****
Dio dan Cut menatap ketiga anaknya yang sedang menikmati es krim dan jajanan yang lainnya.
"Lucu ya mereka," gumam Dio dengan pelan dengan mengusap perut Cut.
"He'em, Bang. Gak kerasa mereka udah mulai beranjak besar," gumam Cut dengan tersenyum.
"Tapi bagi Abang mereka tetap terlihat anak kecil yang sangat mengemaskan nantinya. Sayang, Abang bahagia banget sekarang," ujar Dio menatap manik mata Cut dengan dalam.
"Kenapa?" tanya Cut dengan senyuman tipisnya.
"Karena kamu dan anak-anak yang sudah membuat hidup Abang bahagia," sahut Dio dengan tulus.
Cut terkekeh. "Gombal banget!"
"Beneran, Sayang!"
Dio memeluk istrinya dengan erat. Bagi Dio cinta adalah perjuangan. Bagaimana perjuangan Dio mendapatkan Cut kembali barulah Dio paham jika cinta sejati membutuhkan perjuangan yang sangat besar. Dan Cut adalah pelabuhan terakhirnya setelah badai menerpa cinta mereka.
Mereka sudah bahagia dan akan terus bahagia dengan versi kebahagiaan di dalam hidup mereka. Kisah mereka memang usai tetapi cinta mereka tetap abadi di hati penggemar.