
...Happy reading...
****
Sudah tiga hari Laura dirawat di rumah sakit dan hari ini Laura diperbolehkan pulang karena sudah tidak ada hal yang harus dikhawatirkan kembali, tetapi Leon harus ekstra menjaga dan mengawasi Laura, ia tidak mau kejadian yang sama menimpa calon istri dan anaknya.
Dengan dituntun oleh Leon, Laura berjalan ke arah kamar setelah mereka baru saja sampai di rumah Laura. Sedangkan Dirga sedang bersama Intan karena tak mungkin Leon menggendong Dirga dalam keadaan kaki yang masih cedera walau sebenarnya ia bisa menggendong Dirga, tetapi ibu hamil yang berada di sebalahnya ini sama sekali tidak mengizinkan menggendong Dirga yang memang sangat berisi.
"Saya maunya kamu dan Dirga tinggal di apartemen saya sebelum kita menikah. Di sana lebih ketat penjagaan dari pada di sini," ucap Leon dengan serius menatap Laura yang sedang bersandar di kepala ranjang setelah Leon merapikan tempat tidurnya. "Dan saya lebih bisa mengawasi kamu juga Dirga!" ucap Leon dengan tegas tetapi gelengan kepala Laura membuat Leon menghela nafasnya dengan kasar.
"Saya mau di sini saja, Pak!" ucap Laura dengan tersenyum.
"Bapak lagi! Bapak lagi! Saya sama sekali tidak suka dengan panggilan itu! Saya belum tua bahkan belum pernah menikah! Panggil saya seperti sewaktu di rumah sakit, mengerti?!" ucap Leon dengan kesal membuat Laura mengangguk pasrah karena sejujurnya ia belum terbiasa dengan panggilan 'mas' untuk Leon.
"I-iya Mas," jawab Laura dengan terbata.
"Lihat Bunda, Sayang! Bunda sangat keras kepala sekali dengan Ayah, bunda gak mau nurut sama Ayah," ucap Leon mengelus perut datar Laura dengan tersenyum bahagia.
Laura hanya bisa tersenyum kecil melihat interaksi Leon dengan anaknya yang masih berada di dalam perut. Ia belum pernah diperlakukan lembut oleh Zico saat hamil dan sekarang Laura merasakannya dengan orang lain, bahkan lelaki yang berada di hadapannya ini dengan tegas melindunginya bahkan rela nyawanya menjadi taruhannya agar dirinya dan Dirga tidak terluka.
Apakah ia masih sanggup egois?
Bahkan hatinya saja mulai bisa menerima kehadiran Leon dengan baik. Leon mampu menghapus traumanya sedikit demi sedikit tetapi mengapa masih ada perasaan yang mengganjal untuk menerima Leon?
"Kaki Mas sudah baikan?" tanya Laura dengan lembut.
"Sudah. Asal kamu selalu bersama saya maka luka yang ada di tubuh saya akan cepat sembuh," ucap Leon dengan serius. "Kamu tahu kenapa saya begitu?" tanya Leon dengan menatap mata Laura dan gelengan Laura yang sangat polos membuat Leon gemas.
"Karena kamu adalah sumber kekuatan saya!" jawab Leon dengan lembut.
Blush...
Kedua pipi Laura bersemu merah karena ucapan Leon yang memang terdengar sangat tegas dan serius, tidak ada main-main di setiap kata-kata yang ia ucapkan membuat hati Laura menghangat. Leon sangat berbeda dengan Zico dan apa yang masih membuat wanita itu ragu dengan Leon?
Seharusnya tidak ada, bukan?
"Aku boleh lihat kaki Mas yang terluka?" tanya Laura dengan hati-hati bahkan ia masih merasa tidak tega melihat wajah tampan Leon jadi babak belur karena dirinya.
"Untuk apa, Sayang? Saya sudah baik-baik saja walaupun masih sedikit pincang saat berjalan," ucap Leon dengan tersenyum. Tetapi Laura masih ingin melihatnya, ia menaikan celana hitam Leon sampai ke lutut, Laura meringis saat melihat lebam seperti di wajah Leon tetapi lebam yang berada di kaki lumayan lebar bahkan ada bagian yang luka di sana walau sudah agak mengering.
"Mana obat olesnya?" tanya Laura dengan tangan meminta obat Leon. Leon tersenyum dan memberikan obat yang memang tidak lupa ia bawa.
Dengan sangat hati-hati Laura mengoleskan krim untuk meredakan nyeri. "Jika kamu perhatian seperti ini, bagaimana mungkin saya bisa melepaskan kamu?" ucap Leon membuat Laura menatap Leon dengan dalam. Keduanya saling memandang satu sama lain dengan tatapan yamg sulit diartikan.
"Jangan terluka lagi hanya karena aku!" ucap Laura dengan lirih.
"Bahkan saya rela terluka demi melindungi kamu dan anak-anak kita. Saya hanya minta satu hal dari kamu, jangan pernah mengucapkan jika saya bukan ayah Dirga lagi! Itu sangat menyakiti hati saya!" ucap Leon dengan lirih.
"Tuh kan. Kamu menangis lagi! Saya tidak suka, Laura!" ucap Leon dengan menghapus air mata Laura dengan lembut. Laura semakin menenggelamkan wajahnya di dada Leon hingga lelaki itu tidak bisa berkutik tetapi Leon membiarkan Laura memeluknya dengan erat, ia tahu Laura masih sangat sulit menerimanya.
*****
Zico melempar apa saja yang berada di kamarnya hingga kamar yang tadinya rapi terlihat berantakan.
Sial!
Ini semua gara-gara Leon yang terlalu ikut campur dengan urusannya. Sejak dulu Leon selalu merusak kesenangannya, lelaki itu selalu saja merebut apa yang menjadi miliknya. Jabatan di sekolah, prestasi, bersaing di dunia bisnis, bahkan sampai istri dan anaknya direbut oleh Leon.
"Argghhh... Gue gak bisa terima gitu aja!" ucap Zico dengan amarah yang luar biasa. Lelaki itu sama-sama pincang seperti Leon. Bahkan, Zico lebih parah, ia harus memakai tongkat untuk beberapa minggu ke depan.
Zico mendengar suara langkah kaki berjalan ke arah kamarnya. Setelah itu ia mendengar pintu terbuka. Zico menoleh dan mendapati kedua orang tuanya yang berada di kamarnya. Kedua orang tua yang jarang sekali ia jumpai karena jika sudah bertemu dengan mereka pasti Zico akan berantem dengan sang ayah.
"Papa mendengar kabar dari Anne jika kamu menculik Dirga dari Laura. Apa itu benar?" tanya Farezki dengan dingin.
Zico tertawa datar menatap kedua orang tuanya yang terlihat tidak mengkhawatirkannya sama sekali. Ya mereka sudah kebal dengan perbuatan Zico sejak sekolah dulu dan sekarang keduanya terlihat tidak peduli. "Bukan menculik, hanya saja aku mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku!" ucap Zico dengan datar.
"Apa kamu tidak sadar jika perbuatanmu adalah tindakan kriminal? Jika Hendra dan Ratna tahu semuanya mereka tidak akan pernah membantu kita!" ucap Farezki dengan dingin.
"Memang itu rencanaku agar mereka tahu semuanya! Dan aku bisa kembali dengan Laura!" ucap Zico dengan tajam.
Plak...
Farezki menampar Zico dengan keras membuat Zico hanya menatap sang ayah dengan datar.
"Sudah, Pa. Kita bisa selesaikan ini secara baik-baik," ucap Anggun mencoba melerai.
"Bagaimana bisa diselesaikan secara baik-baik, Ma? Kalau anak kita selalu saja membuat keonaran dan gara-gara perbuatan dia, perusahaan kita mengalami penurunan yang sangat pesat. Lihat ini! Dalam tiga hari banyak kolega yang memutuskan kontrak kerjasama dengan perusahaan kita! Kita bisa bangkrut!" teriak Farezki dengan kemarahan yang luar biasa saat ia melemparkan map ke arah Zico.
Zico mematung mendengar perkataan sang ayah, ia mengepalkan tangannya dengan erat. "Leon, semua ini pasti gara-gara lo! Gue akan balas semua perbuatan lo! Gue sudah muak dengan lo yang selalu merebut apa yang seharusnya menjadi milik gue!"
****
Tes ombak!
Author masih memantau apakah part ini akan rame?
Kalau gak rame gak bakalan lagi double up!ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Rela-relain double up demi kalian nih.
Jangan lupa ramein pakai like, vote dan komentar sebanyak-banyak ya!