Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~53 (Flashback 2)



...Happy reading...


****


Ditatap dengan tajam oleh kedua orang tuanya sendiri membuat Laura memilih menundukkan wajahnya, keringat dingin muncul di dahinya terlebih di hadapannya juga ada mantan mertua dan mantan suaminya.


"Kemarin Zico sudah menjelaskan semuanya dan Papa mau mendengar penjelasan dari kamu sekarang, Laura!" ucap Hendra dengan tegas membuat Laura mengangguk dengan patuh. Tidak ada lagi yang harus ditutupi oleh dirinya karena ia yakin Zico sudah mengatakan jika mereka sudah bercerai, tetapi Laura tidak yakin Zico mengatakan alasannya dengan jujur karena ia tahu watak dari Zico yang seperti apa terlebih ia pernah mengambil Dirga darinya.


Sebelum berbicara Laura menghembuskan napasnya dengan kasar, tangannya memilin-milin baju yang ia kenakan dan dengan memberanikan diri ia menatap semua orang yang berada di sana. Sedangkan Dirga masih tertidur setelah memanggil nama ayah yang ditujukan untuk Leon bukan Zico.


"Laura memutuskan menggugat cerai dari mas Zico karena selama ini Laura tertekan, Laura tersiksa batin maupun fisik. Mas Zico selalu menyiksa Laura, dia selalu membentak Laura. Awalnya Laura ingin bertahan berharap mas Zico akan berubah, tetapi mas Zico semakin menjadi-jadi bahkan saat Laura hamil ia mengatakan dengan lantang ingin menggugurkan Dirga, di saat itu Laura menentang...."


"Bohong!" teriak Zico dengan penuh emosi.


"Diam kamu Zico! Biarkan Laura berbicara!" ucap Farezki dengan tajam membuat Zico menatap sang ayah tidak suka.


"Saat itu Laura menentang dengan keras hingga mas Zico sering membawa wanitanya ke rumah tanpa mempedulikan perasaan Laura. Ketika Laura ingin marah, mas Zico akan marah duluan dan memukul Laura bahkan mencambuk Laura dengan ikat pinggangnya. Laura takut! Laura sudah tidak tahan lagi dengan pernikahan seperti neraka. Rasa cinta yang dulu sangat besar tergantikan dengan rasa benci yang luar biasa. Kami sepakat untuk merahasiakan perceraian kami dari keluarga termasuk mama dan papa. Maafkan Laura, Laura sudah membuat malu keluarga tetapi untuk rujuk dengan mas Zico, Laura tidak bisa dan tidak akan pernah mau!" ucap Laura dengan datar, setiap katanya penuh dengan kesakitan sehingga air matanya kembali mengalir tanpa ia minta.


"Laura mengarang cerita, Pa, Ma! Zico tidak seperti itu! Dan Zico mau rujuk dengan Laura!" ucap Zico dengan penuh amarah.


"Cukup Zico! Saya tidak menyangka dengan apa yang kamu lakukan terhadap Laura, anak saya! Saya sudah mempercayai kamu untuk menjaganya tapi apa yang kamu lakukan, kamu telah membuat kesalahan fatal yang tidak bisa saya maafkan!" bentak Hendra dengan tegas.


"Tapi Pa..."


"Jangan memanggil saya dengan sebutan papa lagi, saya tidak sudi mendengarnya!" ucap Hendra dengan dingin.


"Farezki sepertinya persahabatan kita sampai di sini untuk semua kerjasama dan modal yang saya berikan untuk membantu perusahaan kamu saya tarik!" ucap Hendra dengan menatap taham Farezki.


"Hendra, saya mohon jangan tarik semuanya. Saya memerlukan bantuan kamu karena saat ini kami mengalami kerugian yang cukup besar. Kita akan tetap menjadi sahabat walaupun anak kita sudah berpisah," ucap Farezki memohon. Tak mungkin ia menghancurkan perusahaan yang sudah dibangun oleh orang tuanya.


"Bagaimana mungkin kamu sangat tenang melihat anak saya disiksa oleh anakmu, hah? Sebagai seorang Papa, saya tidak terima dengan perbuatan anak anda! Saya bisa mencebloskan Zico ke penjara!" ucap Hendra dengan tajam.


"Maafkan atas kesalahan anak kami, Hendra, Ratna! Saya mohon jangan masukkan Zico ke penjara!" ucap Anggun dengan memohon.


"Baik, saya tidak akan masukkan Zico ke penjara jika kalian tidak menganggu Laura lagi! Saya akan mempertimbangkan semuanya jika Zico tidak akan mengganggu ketenangan kami terlebih Laura dan Dirga!" ucap Hendra dengan dingin.


"Pa, saya akan tetap ingin rujuk dengan Laura!" ucap Zico keras kepala. Ia tidak terima dengan semua keputusan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Laura.


"Cukup, Zico! Kamu telah membuat keluarga kita malu di depan keluarga Laura! Kamu tidak akan pernah rujuk dengan Laura! Sekarang kita pulang!" ucap Farezki dengan tegas.


"Tapi, Pa...."


"Silahkan keluar dari rumah saya!" ucap Ratna dengan dingin.


"Jika kamu masih menganggu Laura maupun Dirga, saya tidak akan segan-segan menghancurkan perusahaan kalian!" ucap Hendra dengan tenang tetapi mampu membuat Farezki dan Anggun ketakutan. Zico yang melihat kedua orang tuanya diam saja, langsung berlalu pergi karena ia sudah merasa kesal dengan kekalahannya.


"Kami permisi dan tolong maafkan kesalahan anak kami," ucap Farezki tetapi Hendra dan Ratna membuang muka mereka kesembarangan arah membuat Farezki dan Anggun kembali merasa bersalah.


Setelah kepergian mantan mertua dan mantan suaminya Laura menatap kedua orang tuanya dengan berlinang air mata, sejak tadi ia hanya diam karena tidak sanggup mengingat luka lama yang sudah ia coba kubur dalam-dalam.


"Maafkan Laura, Pa, Ma," ucap Laura dengan lirih.


Hendra menghela napasnya karena masih merasa kecewa dengan sikap anaknya yang merahasiakan ini semua dari dirinya dan juga Ratna. "Sekarang bisa jelaskan tentang CCTV itu," ucap Hendra sedikit melunak.


"Laura berani bersumpah jika Laura tidak tahu tentang masalah CCTV itu, Pa! Tapi..." Laura menelan ludahnya dengan susah payah ketika ia mencurigai satu orang yang selalu bersamanya akhir-akhir ini.


"Tapi apa, Nak?" tanya Ratna dengan lembut.


"Tapi... Sepertinya mas Leon yang melakukannya. Dia selalu berusaha melindungi Laura dan Dirga, saat Zico mengambil Dirga dari Laura, mas Leon yang membantu Laura membawa Dirga kembali. Dia... Dia mencintai Laura," ucap Laura dengan takut-takut.


"Leon? Apa itu Leon Brawijaya?" tanya Hendra dengan tajam.


Hendra menghembuskan napasnya dengan kasar. "Pak Leon rekan kerja Papa. Papa tidak menyangka jika kamu dan pak Leon dekat. Apa kamu mencintainya?" tanya Hendra penuh selidik.


Laura tampak gugup, ia menatap kedua orang tuanya berulang kali. "Laura tidak tahu. T-tapi Laura mau mengakui sesuatu jika sekarang Laura sedang hamil anak mas Leon," ucap Laura dengan gugup menunggu reaksi kedua orang tuanya yang tampak diam.


"Kamu bilang tidak tahu mencintai Leon atau tidak tetapi mengapa bisa mengandung anaknya? Apa dia memaksamu?" tanya Hendra dengan tajam. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah yang baik untuk anaknya.


"Kami sama-sama sadar melakukannya, Pa!" ucap Laura yang tidak mau papanya melakukan sesuatu yang buruk untuk Leon.


"Kamu tahu perbuatan kamu membuat mama dan papa malu, Laura?" tanya Ratna dengan lirih.


"Maafkan Laura, Ma, Pa! Mohon maafkan semua kesalahan Laura.. Hiks...hiks," ucap Laura dengan lirih.


Perutnya kembali merasa kram. Laura meringis memegang perutnya. Hendra dan Ratna yang tidak tega melihatnya hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar. "Mama dan Papa akan memaafkan kamu tetapi dengan satu syarat kamu tidak boleh bertemu dengan Leon sampai waktu yang Papa tentukan. Papa tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Papa ingin mengetahui apa kamu mencintai Leon atau tidak begitu pun sebaliknya," ucap Hendra dengan tegas.


"Tapi Pa, kemarin malam mas Leon mengajak Laura dan Dirga ke rumah kedua orang tuanya," ucap Laura dengan memelas.


"Lupakan semuanya! Jangan membantah perkataan Papa! Kamu tidak mencintainya, kan? Lalu kenapa sangat mengkhawatirkan Leon?" tanya Hendra dengan memicingkan matanya membuat Laura kalah telak dan tidak bisa berkata apa-apa.


"Sekarang tidur temani Dirga. Besok kita akan memeriksakan kandungan kamu, bagaimanapun janin itu adalah cucu Papa," ucap Hendra dengan datar.


Laura mengangguk, dibantu oleh sang mama, Laura masuk ke kamarnya.


Setelah kejadian itu, selama 4 bulan lamanya ia menahan Rindu untuk Leon. Hingga ia mengakui kepada kedua orang tuanya jika dirinya mencintai Leon dan ingin bertemu dengan Leon. Maka Hendra dengan Ratna sengaja mengundang Leon dan Ryan untuk makan malam bersama dengan mereka, keduanya ingin mengetahui reaksi Leon ketika bertemu dengan Laura. Tetapi siapa yang menyangka pertemuan tersebut membawa Leon ke rumah sakit karena tiba-tiba ia pingsan saat memeluk Laura.


****


Leon mencibikkan bibirnya dengan kesal saat Laura menceritakan semuanya. Di ruangannya juga penuh dengan keluarganya dan keluarga Laura yang sudah datang sejak pagi tadi.


"Jangan marah!" rengek Laura saat Leon menatapnya dengan datar.


"Ini semua rencana Papa, Mas! Jangan marah sama aku!" rengek Laura menggoyangkan lengan Leon yang masih tidak bergeming.


"Kalian sukses membuat saya hampir mati!" ucap Leon dengan datar.


"Mas!" rengek Laura dengan mata berkaca-kaca.


"Huh.. Ini semua gara-gara Papa," ucap Laura yang sudah menangis saat Leon malah tidur memunggunginya.


"Baiklah-baiklah Papa mengaku bersalah. Dua minggu lagi kalian akan menikah," ucap Hendra dengan pasrah melihat Laura menangis karena didiami oleh Leon, ia menjadi tidak tega.


"Saya tidak mau!" ucap Leon dengan tajam yang membuat Laura semakin menangis seperti anak kecil.


"Papa harus tanggungjawab bujuk Mas leon hiks...hiks.."


Astaga anaknya. Kenapa Laura yang menjadi ngebet mau menikah dengan Leon?


"Saya mau pernikahan saya dengan Laura dipercepat. Satu minggu lagi!" ucap Leon dengan dingin menghentikan tangisan ibu hamil yang masih berada di sampingnya.


****


Gimana dengan flashbacknya?


Flashback udah kelar ya. Tinggal menunggu mereka nikah aja🙈🙈🙈


Ramein gak nih?


Ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!