
...Happy reading...
***
Langit yang terlihat sangat cerah dengan awan putih yang menghiasi langit. Saat ini Ika sedang berada di dalam pesawat dengan Sultan yang berada di sampingnya, Sedangkan Cut berada di bangku belakang mereka bersama dengan kakek dan neneknya.
Dengan memberanikan diri Sultan menggenggam tangan Ika yang terasa sangat dingin. Ika tersentak dan langsung menatap Sultan yang tersenyum kepadanya.
"Gugup?" tanya Sultan dengan lembut. Ika mengangguk dengan tersenyum jantungnya selalu berlomba-lomba keluar dari tubuhnya saat Sultan menatapnya dengan sangat dalam bahkan dengan senyuman yang selalu melelehkan hatinya.
Bohong jika Sultan tidak merasa gugup dengan semuanya. Bahkan saat ia ingin menggenggam tangan Ika, kaki dan tangannya gemetaran dengan sangat hebat tetapi ia tidak mau Ika melihatnya gugup walau ini yang kedua kali untuknya tetapi tetap saja Sultan merasa jantungnya berdegup sangat kencang.
Seminggu yang lalu Sultan memberitahukan kepada kedua orang tuanya yang berada di Aceh jika ia ingin menikah dengan gadis yang berasal dari Jarkata. Awalnya kedua orang tuanya bimbang namun melihat kesungguhannya membuat kedua orang tuanya akhirnya luluh juga.
Flashback on
Sultan berada di kediaman kedua orang tuanya yang berada di Aceh. Sultan tidak membawa Cut karena anak itu sedang sekolah dan Ika yang bertugas menjaga dan mengawasi anaknya. Dengan bahasa Aceh yang sangat kental kedua orang tua Sultan menyambut kepulangan anaknya. (Pakai bahasa Indo aja ya. Bahasa Aceh sangat susah dua tahun tinggal di lingkungan orang Aceh gak buat author bisa juga😪)
"Ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Lamsyah kepada anaknya yang terlihat ingin berbicara sesuatu kepadanya setelah makan siang mereka. 1 jam lebih 5 menit ia sampai ke Banda Aceh menggunakan pesawat membuat Sultan sedikit lelah tetapi semua yang ia rasakan hilang seketika saat mengingat jika Ika akan menjadi istrinya.
"Sultan ingin melamar gadis dari Jakarta, Pak. Gadis itu berhasil membuat Cut bahagia!" ucap Sultan dengan tegas.
"Jakarta? Jauh sekali, Sultan! Mengapa kamu tidak mencari istri dari Aceh saja lagi," ucap Ibu Sultan dengan aksen Aceh yang sangat kental.
Sultan menghela napasnya dengan berat. "Sultan tahu jika Ibu dan Bapak merasa bimbang seperti apa pilihan Sultan. Tetapi Sultan yakin dengan semuanya, perlahan-lahan Sultan akan membimbingnya untuk menutup aurat. Kita tidak bisa melihat seseorang dari sampulnya saja, bukan?" ucap Sultan dengan tegas.
"Bapak dan ibu tidak mempermasalahkan itu, Nak. Awalnya bapak dan ibu hanya bimbang saja dengan pilihan kamu. Tetapi jika kamu sudah berbicara seperti itu Bapak dan ibu akan menerima pilihan kamu. Kami akan ikut kamu ke Medan untuk bertemu dengan calon pilihan kamu," ucap Lamsyah dengan tegas.
"Ibu setuju. Baiklah kami akan ikut ke Medan. Mahar sudah kamu siapkan semuanya? Hantaran sudah?" tanya Elisa dengan berbinar.
"Sangat repot jika kita membawa hantaran khas Aceh ke Jakarta, Bu. Sebaiknya tidak usah. Ibu bisa melakukannya saat di Medan saja nanti," ucap Sultan dengan pelan.
"Baiklah. Ibu akan terima semua keputusan kamu yang terpenting dia gadis yang baik-baik. Ya kan, Pak?" ucap Elisa dengan tersenyum.
"Iya, Bu!"
Sultan tersenyum samar ia tidak mengatakan aib calon istrinya kepada kedua orang tuanya. Ia tidak mau kedua orang tuanya melarang dirinya untuk menikah dengan Ika. Biarlah aib ini ia jaga bersama dengan Ika dan keluarganya.
Flashback off.
"Abang melamun?" tanya Ika dengan menautkan kedua alisnya.
"Enggak, Sayang. Abang cuma ingat percakapan dengan ibu dan bapak waktu itu," ucap Sultan dengan lembut.
"A-abang panggil aku Sayang?" tanya Ika dengan tergagap. Kedua pipinya merona merah membuat Sultan terkekeh.
"Kenapa? Adek calon istri, Abang. Nanti Adek juga sering dengar Abang panggil Adek sayang," ucap Sultan dengan tersenyum membuat Ika kembali merona.
"A-aku mau tidur," ucap Ika dengan menghindari godaan dari Sultan. Semakin ke sini Ika paham jika Sultan adalah pria yang sangat manja kepada pasangannya.
"Tidur yang nyenyak nanti kalau udah sampai Abang bangunin," ucap Sultan dengan lembut. Kedua tangan mereka masih saling menggenggam dengan erat sampai kedua mata mereka terpejam.
****
"Mas, Kak Ika kok bisa ya dapat onta Aceh," gumam Ica terkikik geli saat mereka sudah berada di rumah setelah menjemput kembarannya berserta calon suami dan keluarganya di bandara.
"Emang Aceh ada ontanya?" tanya Ryan dengan bodohnya.
Pletak..
"Ish. Siapa tahu aja kan ada onta di Aceh karena serambi mekah," ucap Ica mengerucutkan bibirnya.
"Gak gitu juga konsepnya Ndut!" ucap Ryan dengan gemas.
"Mas Ryan panggil Ica Ndut mulu! Kak Ika panggil Ica gajah duduk. Hiks Ica mau diet," ucap Ica merasa sedih.
Leon melotot ke arah Ryan. Ryan gelagapan menghadapi mood ibu hamil yang suka berubah-ubah membuat semua orang menatap mereka termasuk Sultan dan kedua orang tuanya.
"Mereka lucu ya!" gumam kedua orang tua Sultan membuat Ika tersenyum.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu!" ucap Leo dengan tegas.
Ketiganya saling memandang tak enak ke arah tuan rumah tetapi Ika meyakinkan jika semua keluarganya tidak mempermasalahkan semuanya karena pembahasan lamaran Ika dan Sultan akan dibicarakan malam harinya.
"Abang, ibu dan bapak istirahat saja di kamar tamu yang udah bunda siapkan. Kalian istirahat dulu ya," ucap Ika dengan lembut.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Lamsyah dengan menatap ke arah kedua calon besannya.
"Tidak apa-apa, Pak. Tidak perlu sungkan," ucap Saera dengan ramah.
"Mari saya antar ke kamar," ucap Saera dengan lembut.
Akhirnya calon keluarga baru itu mengikuti langkah kaki Saera dan juga Ika meninggalkan Leo dengan anak-anaknya. Sejak Kepulangan Leon dari Jepang Laura selalu menempel dengan suaminya dan wanita itu menjadi sedikit pendiam karena merindukan Leon.
Malam harinya...
Suasana makan malam yang tadinya hening kini terlihat ramai karena Sultan sudah menyampaikan niatnya untuk menjadikan Ika istrinya.
"Seperti yang saya katakan waktu di telepon dua minggu kemarin, Pak. Saya ingin meminang Ika menjadi istrinya saya. Saya tidak ingin berlama-lama dalam menyampaikan hal baik ini karena tidak baik jika kami masih dalam lingkup yang sama tetapi status kami tidak langsung diperjelas. Saya sudah menduda 5 tahun dan anak saya bernama Cut Meisya Rahardian sangat dekat dengan Ika bahkan memanggil Ika dengan sebutan mama. Saya pun mencintai anak Bapak hingga saya ingin menjadikan Ika istri saya. Apa Bapak, Ibu, serta semuanya yang berada di sini merestui niat baik kami datang ke rumah ini?" ucap Sultan dengan tegas.
Saera yang mendengar ucapan tegas dari calon menamtunya jadi berkaca-kaca, ia sangat terharu dengan keberanian Sultan.
"Saya tidak berhak memutuskan. Sebagai orang tua semua saya limpahkan kepada Ika karena anak saya yang akan menjalani hidup bersama dengan kamu, Sultan!" ucap Leo dengan tegas. "Bagaimana Ika?" tanya Leo kepada anaknya.
"Aku menerima pinangan Bang Sultan, Yah," ucap Ika menunduk malu.
"Alhamdulillah!" ucap kedua orang tua Sultan bahagia.
"Sekarang tinggal menentukan tanggal pernikahan," ucap Elisa dengan tersenyum. Semuanya tersenyum menatap kedua pasangan itu yang terlihat malu-malu.
"Lebih cepat lebih baik," ucap Sultan dengan tegas.
"Baiklah saya rasa waktu sebulan cukup untuk mempersiapkan semuanya," ucap Leo dengan tegas.
"Saya setuju!" ucap Sultan dengan tegas.
Semua orang merasa bahagia malam ini karena sebulan lagi Ika akan menikah tetapi tidak dengan seseorang yang berdiri di depan pintu gerbang rumah Leo sejak tadi. Rama terlihat menatap kosong rumah megah Leo, ia tersenyum miris saat mengetahui dari satpam rumah Leo jika saat ini sedang berlangsung pertunangan Ika dengan lelaki tegas memperjuangkan Ika dan tidak seperti dirinya.
"Semoga kamu bahagia Ika!"
****
Kasihan Rama😪😆
Ramein lagi ya.
Like, vote, dan coment yang banyak ya!