
...Happy reading...
***
Setelah kejadian seminggu yang lalu di mana Leon hampir saja melakukannya dengan Laura sekarang Leon disibukkan dengan pekerjaannya. Bukannya Leon tidak merindukan Laura dan Dirga hanya saja kesibukkannya saat ini menyita waktu dirinya untuk menemui dua orang yang Leon sayangi.
Sekarang Leon sedang memimpin jalannya rapat. Tatapan sengit ia dapatkan dari CEO farezki Grup karena Leon berhasil memenangkan tender besar, membuat CEO yang menjadi saingannya sejak dulu menatapnya dengan sangat kesal. Leon berekspresi mengejek membuat tuan Farezki mengepalkan tangannya di bawah meja rapat. Tepuk tangan meriah Leon dapatkan dari kalangan orang-orang yang suka dengan idenya.
"Saya sangat suka dengan dengan kerja Pak Leon. Dan saya ingin terus bekerja sama dengan perusahaan anda," ucap salah satu kolega Leon dengan kagum membuat Leon hanya bisa tersenyum bangga. Leon melirik ke arah Zico dengan sinisnya membuat Zico menatap tajam ke arah Leon.
"Bagaimana Tuan Zico anda menyetujuinya bukan?" tanya kolega satunya dengan menatap ke arah Zico.
"Ah.. Tentu saja Tuan Bram, tuan Leon tidak pernah diragukan tentang bisnisnya," ucap Zico dengan sinis.
Ryan yang berada di sebelah Leon hanya bisa menahan senyum gelinya. Tentu saja ia sangat suka melihat ekspresi kesal dari lawan bosnya tersebut.
Setelah semua para kolega keluar dari ruang rapat kini tinggallah Leon, Ryan dan Zico yang masih berada di ruang rapat mereka saling terdiam hingga suara Zico memecahkan suasana dingin yang mereka ciptakan. "Bersenang-senanglah untuk hari ini. Untuk tender berikutnya gue pastikan gue yang akan menang," ucap Zico dengan dingin.
"Kita buktikan saja nanti," ucap Leon dengan santai membuat Zico kembali kesal. Dalam otaknya menyusun strategi agar dirinya bisa mengalahkan Leon dalam segala hal.
"Jangan sombong dulu Tuan Zico. Nanti jika bos saya yang menang kembali anda jangan nangis ya," ucap Ryan dengan geli.
"Lo..."
"Jangan membuat keributan di kantor gue!" ucap Leon dengan suara yang sangat dingin.
"Lihat saja nanti!" ucap Zico dengan tajam dan berlalu pergi meninggalkan ruangan rapat begitu saja.
"Gue heran sama Zico sejak SMA benci banget sama lo," ucap Ryan dengan menggelengkan kepalanya.
"Karena gue lebih populer dari Zico," ucap Leon dengan santai.
"Lebih populer tapi buat cewek satu jatuh kepelukkan lo aja susah," ucap Ryan dengan sinis.
"Sekali lagi lo mengejek gue. Gue pastikan lo putus dari Ica," ucap Leon dengan sengit.
"Ancamannya seram banget Bos. Mana bisa Ica jauh-jauh dari gue. Gue gak kasih kabar 5 menit aja dia nangis," ucap Ryan dengan santai karena memang itulah yang terjadi. Ica sangat manja dengan dirinya tidak seperti Ika kembarannya yang terlalu bar-bar sehingga Ryan jatuh cinta pada Ica.
Leon mendengkus kesal karena apa yang diucapkan Ryan adalah benar sering kali Leon memergoki Ryan dengan adiknya yang sedang bermanja bahkan berciuman tetapi Leon percaya dengan Ryan bisa menjaga Ica dan bisa menjaga batasan. Jika Ryan merusak adiknya Leon pastikan tangannya akan mendarat di wajah pria itu.
Di luar Zico tidak sengaja menabrak seorang gadis yang berjalan tergesa-gesa. Zico yang temperamental langsung memerahi gadis itu. "Kalau jalan itu pakai mata!" ucap Zico dengan sengit menatap lawan bicaranya yang terjatuh dengan tajam.
"Eh Mas di mana-mana jalan itu pakai kaki!" ucap Ika dengan sengit. Ia bangun dan merapikan bajunya serta membersihkan celananya.
"Mata lo gak di gunain buat lihat jalan dengan benar," semprot Zico dengan sinis.
"Eh Mas. Lo aja yang jalannya nunduk main ponsel mulu. Minta maaf lo sama gue!" seru Ika melawan.
"Lo yang salah jadi lo yang harus minta maaf!"
"Gue gak sudi!"
"Awas aja lo. Kalau gue gak buru-buru udah gue patahin tulang kering lo," ucap Ika berjalan dan langsung menabrak dada Zico begitu saja.
"Is.. Sakit juga ternyata," gumam Ika mengusap lengannya.
"Awas aja lo. Kalau ketemu gue lagi habis lo sama gue," desis Zico dengan tajam.
"Gue gak takut!" ucap Ika menjulurkan lidahnya ke arah Zico setelahnya Ika langsung berlari ke ruangan Leon karena dirinya ingin meminta uang jajan kepada mas-nya tersebut. zico yang kesal menaikan tangannya ke udara, giginya bergemelutuk kesal menatap ke arah kepergian Ika.
*****
"Dasar cowok sableng! Amit-amit gue ketemu dia lagi," ucap Ika dengan kesal menutup pintu ruangan Leon dengan kencang. Leon baru saja kembali ke ruangannya melihat adiknya menutup pintu ruangan kerjanya dengan keras melotot ke arah Ika.
Ika yang ditatap seperti itu hanya bisa cengengesan menatap Leon. "Pintunya gak rusak Mas tenang saja. Tadi Ika ketemu cowok sableng dia yang nabrak Ika, dia yang marah sama ika," Ucap Ika dengan santai.
"Siapa?" tanya Leon.
"Gak tahu! Cowok gila kali," ucap Ika dengan santai. "Mas minta uang jajan dong!" ucap Ika dengan tersenyum manis menyodorkan tangannya ke arah Leon.
"Uang kamu kemana Ika? Jangan boros-boros gak baik," ucap Leon dengan serius.
"Ada Mas tapi Ika tabung. Uang jajan kan beda Mas," ucap Ika mengerucutkan bibirnya.
Leon menghela nafasnya dan mengambil ponselnya. Lalu segera mengirim uang ke Ika. "Sudah," ucap Leon membuat Ika tersenyum senang dan langsung mengecek ponselnya.
"100 juta? Banyak banget Mas," ucap Ika dengan kaget.
"Jangan dihabiskan sekaligus. Sebagian simpan untuk masa depan kamu. Mas juga memberikannya pada Ica," ucap Leon mengusap kepala adiknya dengam sayang.
Cup...
"Terima kasih Mas. Ika doakan Mas segera menikah. Aamiin! Ika pulang dulu mau jajan," ucap Ika dengan cepat.
"Ya. Hati-hati," ucap Leon dengan tegas yang diangguki oleh Ika dengan senyum yang merekah. Leon segera menyelesaikan pekerjaannya karena dirinya sudah sangat merindukan Laura dan Dirga.
****
Update lagi berharap bab 11 muncul bareng ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Dari semalam update dan udah lulus review tapi gak ada bab baru dilihat.
Jangan lupa like, vote, komentar sebanyak-banyaknya ya. Hadiah buat om Leon biar semangat mengejar cintanya.