
...Happy reading...
***
Pagi ini dengan tingkat penasaran yang sangat membumbung tinggi Laura sudah membeli beberapa testpack untuk mengecek apakah dirinya hamil atau tidak. Jantungnya sudah berdetak sangat kencang sekali, matanya terpejam kala ia meletakkan alat itu pada wadah kecil yang sudah berisi urinnya. Bibirnya memucat penuh ketakutan, bahkan keringat dingin muncul di dahinya begitu saja, tangannya gemetar mengambil alat kecil itu yang sudah beberapa menit ia celupkan di wadah kecil itu.
Dua garis merah?
Itu tandanya ia sedang mengandung? Begitu, kan? Laura tidak percaya dengan tangan gemetar ia kembali memasukkan testpack lain ke wadah tersebut. Dan hasilnya tetap sama benda kecil itu tetap memperlihatkan garis dua berwarna merah.
Tubuh Laura luruh di lantai kamar mandi dengan isak tangis kecil yang terdengar dari bibirnya. Ini tidak mungkin! Bagaimana ia bisa hamil di saat ia selalu mengkonsumsi pil pencegah kehamilan?
"Ini gak mungkin!" gumam Laura dengan menggelengkan kepalanya menatap testpack yang berada di tangannya dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Aku gak mungkin hamil!" ucap Laura dengan memukul perutnya yang terdapat calon anaknya dengan Leon. Laura tidak mungkin menikah dengan Leon! Tetapi dirinya tidak mungkin sanggup melewati semuanya seorang diri! Laura harus bagaimana? Mengapa semuanya terjadi begitu menyesakkan dadanya? Kenapa dirinya bisa sangat terbuai oleh Leon? Laura adalah wanita bodoh! Sangat bodoh! Ia merutuki dirinya sendiri ketika mengingat dirinyalah yang meminta Leon mengeluarkannya di dalam. Lalu ketika benih itu sudah berkembang Laura baru menyesal?
Menggugurkan kandungan?
Tidak!
Laura tidak sejahat itu kepada anaknya. Dulu ketika Dirga tidak diinginkan oleh Zico ia tetap merawat anaknya dengan kasih sayang dan sekarang saat seseorang menginginkan hidup bersamanya dan mempunyai anak dirinyalah yang tak menginginkan hal itu terjadi. Laura menjambak rambutnya dengan kuat, menangis sejadi-jadinya karena menyesali perbuatannya.
"Argghhh..." Laura berteriak dengan memukul perutnya. Dirinya masih belum menerima ini semua.
Hamil di luar nikah adalah momok yang sangat menakutkan baginya apalagi statusnya yang masih janda. Dirinya telah melakukan dosa yang teramat besar.
"Kenapa kamu hadir, hah? Saya sudah tidak sanggup hidup seperti ini! Kenapa kamu harus hadir? Saya sudah mencegahnya! Hiks...hiks..." teriak Laura pada perut ratanya dengan tajam.
Sekarang Laura harus bagaimana? Mengatakan yang sejujurnya jika ia hamil kepada Leon? Tetapi ia tidak bisa melakukannya! Menjalin rumah tangga bersama dengan Leon membuat Laura takut akan gagalnya kembali rumah tangga dirinya. Laura takut kembali gagal dan terpuruk, ia tidak sanggup melakukan itu semua.
Ketukan di kamar mandi menyadarkan Laura dari lamunannya. Ia segera menyeka air matanya, dan berusaha bersikap biasa saja. Beberapa testpack yang berada di tangannya langsung ia buang ke tong sampah.
"K-kamu..."
"Kenapa anda di sini?" tanya Laura dengan tajam saat Leon belum sempat menyeselesikan ucapannya.
Leon menaikkan satu alisnya bingung menatap Laura yang sangat dingin menatapnya. "Kamu kenapa? Bukannya hari ini kita akan berlibur bersama? Sesuai janji kita dengan Dirga!" ucap Leon dengan tenang karena ada Dirga yang berada dalam gendongannya. Sewaktu dirinya datang, ia hanya melihat Dirga berada di kamar seorang diri dan ia bertanya kepada Dirga di mana sang bunda berada, Dirga menjawab Laura berada di kamar mandi maka dengan cepat Leon menyusul wanita yang ia cintai ke kamar mandi.
"Mandil'lah! Saya akan menunggu di sini!" ucap Leon dengan tenang.
"Dirga sama Bunda!" ucap Laura dengan dingin dan langsung menggendong anaknya begitu saja tak peduli Dirga menangis karenanya.
"Jangan kasar-kasar sama Dirga!" ucap Leon dengan tajam.
"Dilga au cama Ayah!" ucap Dirga dengan menangis.
"Sini sama Ayah, Nak!" ucap Leon dengan lembut tetapi Laura langsung menepis tangan Leon.
"Dirga, dia bukan ayah kamu!" ucap Laura dengan tegas.
"Kamu apa-apaan sih, Laura?' ucap Leon dengan emosi.
"Dari awal kamu tidak mempersalahkan hal ini. Dan sekarang baru mempersalahkan semuanya? Walaupun Dirga bukan anak kandung saya, saya tetap akan menganggap Dirga adalah anak saya!" ucap Leon dengan tajam. Ia menjadi terpancing emosi karena Laura yang pagi ini sangat aneh sekali, mereka baik-baik saja dari awal tetapi sekarang kenapa Laura seperti ini? Tiba-tiba marah tidak jelas.
"Anda bukan ayah, Dirga! Dan sampai kapanpun anda bukan ayahnya!" ucap Laura dengan berteriak.
"Laura!" bentak Leon dengan emosi dan hampir menampar Laura yang sudah memejamkan mata karena takut Leon akan menamparnya.
Leon menurunkan tangannya, ia memejamkan matanya untuk menetralkan emosinya karena Laura. Ia tahu Laura sangat takut dengan kekerasan dan hampir saja ia terbawa emosi.
"K-luar dari rumah saya! Karena sampai kapanpun kita tidak akan bersama! Jadi lupakan semua hal yang sudah kita lewati bersama!" ucap Laura dengan menggebu. Mendorong tubuh Leon dengan sekuat tenaganya.
"Laura, kita bisa bicarakan ini semua dengan baik-baik. Kenapa akhir-akhir ini kamu aneh sekali?" tanya Leon dengan tenang. Ia melangkah mundur saat Laura mendorongnya, hanya karena tidak ingin melihat Laura semakin emosi kepadanya.
"Tidak ada yang harus dibicarakan! Seharusnya dari awal kita tidak seperti ini! Saya membencimu, Pak!" ucap Laura dengan dingin.
"Yah.. Angan pelgi!" ucap Dirga berusaha meminta gendong Leon. Dirga terus menangis melihat Leon terus dimarahi oleh Laura. Sungguh dirinya tidak mengerti apa yang terjadi yang ia tahu dirinya tidak mau Leon pergi.
"Jangan meminta gendong om Leon, Dirga! Dia bukan ayah kamu!" ucap Laura dengan datar. Dirga tergugu menatap Leon yang menatapnya dengan sendu.
"KELUAR DARI RUMAH SAYA!" ucap Laura membentak Leon dan mendorong tubuh Leon hingga keluar dari rumahnya.
Brak...
Laura menutup pintu rumahnya dengan keras dan langsung menguncinya. Leon ingin melawan tetapi ia takut melukai Laura dan Dirga. Yang hanya bisa ia lakukan adalah pasrah ketika Laura marah kepadanya, ia yakin pasti nanti wanita itu akan kembali baik kepada dirinya.
"Saya akan kembali jika kamu sudah membaik!" ucap Leon dengan tenang. Berusaha mengetuk pintu itu dengan pelan.
Tubuh Laura luruh di lantai bersandar di pintu dengan Dirga yang masih menangis memanggil Leon dengan berteriak. Laura juga ikut menangis memeluk Dirga yang berusaha ingin keluar.
"Nda jayat!" teriak Dirga memukul dada Laura. Laura hanya diam menangis tanpa suara.
"Maafkan Bunda, Nak!" ucap Laura dengan lirih.
Setelah di rasa tidak ada lagi Leon di rumahnya. Laura masuk ke kamarnya karena ia merasa perutnya nyeri tetapi belum sampai ia masuk kamar ada yang mengetuk pintunya dengan berulang kali yang membuat Laura kesal karena itu pasti adalah Leon.
Dengan menahan emosi kembali, Laura berjalan membuka pintunya. "SUDAH SAYA KATAKAN JANGAN KEMBALI LAGI KE RUMAH SAYA!" teriak Laura dengan keras. Tetapi tubuhnya mematung saat melihat seseorang yang berada di hadapannya dengan menyeringai ke arahnya.
"Akhirnya aku menemukanmu!" ucapnya dengan menyeringai membuat Laura memucat takut dengan melangkah mundur memeluk Dirga dengan erat.
"Z-zico!"
****
Gimana dengan part ini?
deg-degan?
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!