
...Hei aku kembali. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya agar aku semangat untuk update....
... ...
...Happy reading...
****
Bruk....
"Sorry saya tidak senga....Cut," ucap Dio dengan terkejut saat ia melihat ternyata orang yang ia tabrak adalah Cut.
"K-kamu gak apa-apa, kan?" tanya Dio dengan khawatir saat melihat Cut meringis.
Cut menggelengkan kepalanya. "Gak!" jawab Cut dengan singkat. Ia melihat ke arah samping mencari keberadaan suaminya yang belum muncul sejak tadi. Cut menjadi gelisah karena Dio menatapnya dengan sangat dalam.
"Sayang!" panggil Ihsan yang membuat Cut sedikit lega.
Ihsan menatap Dio dengan tajam, ia memeluk Cut dengan posesif. "Maaf lama, Sayang. Antrean sedikit panjang. Mau pulang sekarang? Atau kamu mau sesuatu? Mungkin anak kita mau makan?" tanya Ihsan yang sengaja menekankan kata 'anak kita'.
Keduanya baru saja selesai mengecek kandungan Cut dan tadi Ihsan mengambil vitamin yang dokter berikan untuk Cut agar kandungan istrinya sehat dan kuat.
"Aku mau makan sate juga cendol, Bang. Ayo kita beli," sahut Cut dengan merengek kepada suaminya. Ia melupakan keberadaan Dio di depan mereka.
Ihsan tersenyum mengusap perut istrinya dan semua itu tak luput dari penglihatan Dio, tangan lelaki itu terkepal ada perasaan yang Dio sendiri tidak bisa menjabarkannya yaitu ketika hatinya berdenyut sakit karena melihat Ihsan mengelus perut Cut. Itu artinya sebentar lagi mereka akan memiliki anak dan dirinya masih dalam penyesalan yang sangat dalam karena menyia-nyiakan Cut, wanita yang tulus mencintainya dulu. Namun, Dio sadar rasa cinta itu sudah tidak ada di hati Cut sekarang.
"Permisi Dokter Dio. Kami akan segera pulang. Kebetulan pemeriksaan kandungan istri saya sudah selesai," ucap Ihsan dengan tegas diakhiri dengan senyuman kemenangan di bibir Ihsan.
"Ooo i-iya silahkan!" sahut Dio dengan tersenyum pedih. Pandangan Dio tak lepas dari Cut yang berjalan bersama dengan Ihsan sampai keduanya hilang dari pandangan Dio saat ini.
Dio menghembuskan napasnya dengan perlahan. Matanya terpejam menahan rasa sakit pada hatinya. "Selamanya kamu Cut sampai Abang menutup mata!" gumam Dio dengan lirih.
****
"Kayaknya Dio suka sama kamu. Dari tatapannya dia seperti sangat mencintai kamu," ucap Ihsan dengan datar karena ia melihat tatapan Dio sangat berbeda kepada istrinya dan Ihsan benar-benar cemburu saat ini.
"Hahaha... Mana mungkin Bang. Kamu tahu sendirikan dulu bagaimana dia menolak aku?" sahut Cut dengan terkekeh..
"Dan perlu Abang tahu juga kalau aku sudah tidak mencintainya lagi. Jangan bahas dia lagi Bang! Nyebelin banget!" ucap Cut dengan ketus.
"Iya-iya, Sayang. Abang hanya merasa tidak nyaman dengan tatapan dia kepada kamu selaku istri Abang," ucap Ihsan pada akhirnya.
"Gak perlu takut Ayah. Bunda hanya cinta sama Ayah!" ucap Cut menirukan suara anak kecil yang membuat Ihsan terkekeh.
"Ayo kita beli sate dan cendol pesanan kamu, Sayang!" ucap Ihsan mengelus perut istrinya.
Cup...
"Ayah sayang banget sama kamu dan Bunda. Selalu bersama ayah ya, Sayang!"
"Iya suamiku!"
****
Leon sedang bersantai dengan Laura dengan wanita itu yang bersandar di dada bidang suaminya.
"Ayah!" teriak Dirga dari arah atas. Dirga menuruni anak tangga di rumahnya dan memghampiri kedua orang tuanya yang sedang bersantai.
"Hmmm..." Leon hanya berdehem menanggapi panggilan anaknya.
"Jangan teriak-teriak Dirga!" tegur Laura yang membuat Dirga hanya tersenyum tipis.
"Maaf, Bun!" ucap Dirga dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Leon melipat koran yang sejak tadi ia baca. Dan menatap anaknya dengan tegas. "Kenapa?" tanya Leon dengan dingin.
"A-aku..."
"Aku apa?" tanya Leon dengan tegas.
"Mau menikah," ucap Dirga dengan cepat.
"APA?"