Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~110 (Bangkit Dari Keterpurukan)



...Happy reading...


****


Sudah 7 hari keluarga Brawijaya ditinggalkan Leo untuk selama-lamanya. Mereka semua mulai bangkit dari rasa sedih dan keterpurukan, mereka sadar semua manusia yang hidup pasti akan kembali ke Sang Pencipta, dan giliran mereka juga pasti akan menghampiri entah itu kapan.


Cut sudah bertekad bulat untuk tinggal bersama dengan Saera walau sebenarnya Ica sebagai anak bungsu akan menemani bundanya dan pasti akan bergantian dengan saudaranya yang lain. Entah mengapa pikiran Cut terdengar sangat dewasa, walaupun Saera bukan nenek kandungnya tetapi Cut sangat menyayangi Saera dan tak tega meninggalkan Saera begitu saja. Sebenarnya Ika juga sama tetapi ia harus pulang bersama dengan suaminya ke Medan beberapa hari lagi. Keduanya akan mengurus surat kepindahan Cut ke Jakarta. Sebenarnya Ika maupun Sultan merasa sedikit berat untuk melepaskan Cut tinggal di Jakarta dengan usia yang masih sangat kecil. Namun, tekad anak kelas 1 SD itu sangat bulan dan akhirnya keduanya menyetujui.


Dengan tangan kecilnya sekarang Cut sedang menyuapi Saera yang beberapa hari ini kurang ***** makan. Mata Saera berkaca-kaca kala melihat Cut yang sangat perhatian kepadanya. "Cut beneran mau tinggal sama nenek? Gak bakal nangis jauh dari papa dan mama? Nenek di sini gak sendirian ada tante Ica dan om Ryan yang akan tinggal di sini. Nanti juga nenek bisa menginap di rumah tante Ulan, om Leon atau kak Elang," ucap Saera dengan lembut.


Cut menggeleng dengan tegas. "Tante Ica kan tidurnya sama om Ryan. Nenek sendirian tidurnya jadi harus Cut temani. Kalau Cut kangen papa dan mama, Cut suruh papa dan mama ke sini," ucap Cut dengan tegas.


Saera tertawa kecil mencium pipi cabi cucunya. Wajahnya yang sangat cantik dan manis membuat Saera merasa terhibur dengan kehadiran Cut di sini. Keduanya tidak tahu jika Ika dan Sultan melihat dan mendengar Cut sedang mengobrol dengan Saera begitupun semuanya mendengar apa yang anak kecil itu katakan.


Ika menjadi terharu bahkan ia sampai meneteskan air matanya. Tak tahan dengan suasana haru yang tercipta Ika langsung memeluk suaminya. "A-aku gak tahu kalau anak kita akan se-dewasa ini, Bang!" gumam Ika dengan lirih.


"Sifat Lisa menurun padanya, Dek. Abang gak keberatan kalau Cut tinggal di sini. Sebentar lagi Ica juga melahirkan pasti akan repot dengan anaknya, biarlah Cut sebagai penghibur bunda," ucap Sultan dengan pelan.


Semuanya mengangguk setuju dengan ucapan Sultan tetapi sebagai orang tua terkadang mereka sedikit tidak rela berjauhan dengan anak mereka sendiri.


"Kalian sudah yakin dengan keputusan Cut?" tanya Leo dengan serius.


"Yakin Mas. Keputusan Cut sudah sangat baik. Nanti jika kami merindukannya kami akan ke Jakarta. Aku gak mungkin meninggalkan pekerjaanku di sana terlalu lama, ada tanggungjawab yang besar di sana. Pembangun rumah di sana juga baru berjalan beberapa hari, aku harus mengawasinya supaya tidak terjadi kesalahan," ucap Sultan tak kalah serius.


"Ya sudah jika itu keputusan kalian kami akan menerimanya. Toh kehadiran Cut di rumah ini juga membuat senyum dan tawa bunda kembali terbit. Kami akan bergantian berjaga bunda di sini kalian tidak perlu khawatir," ucap Ulan dengan tegas.


"Andai bunda mau aku ajak ke Medan," gumam Ika dengan pelan.


"Kamu tahu kan, Ika? Kalau rumah ini banyak menyimpan kenangan bunda bersama dengan ayah. Bunda gak mau meninggalkan rumah ini makanya Ica dan Ryan mengalah tidak menempati rumah baru mereka dan menyewakannya pada orang lain," ucap Leon dengan pelan.


"Iya aku tahu Mas. Aku gak maksa bunda untuk tinggal bersama aku di Medan. Jadi, kami juga membiarkan Cut tinggal di sini," ucap Ika dengan lirih.


"Aduh...." Ica mengadu kesakitan pada perutnya membuat semua orang menatap Ica dengan khawatir.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ryan dengan khawatir.


"S-sakit, Mas! Akhh..." teriak Ica dengan bercucuran keringat.


"Ini belum waktunya kamu melahirkan, sayang. kandungan kamu baru 7 bulan," ucap Ryan dengan cemas.


"Ryan, Ica berdarah!" teriak Ika histeris.


Ryan semakin cemas melihat darah yang keluar dari sela-sela paha istrinya. Ryan sadar selama ini Ica terlihat sangat-sangat kehilangan Leo karena dari ke-4 anak ayahnya Ica lah yang paling manja dengan Leo. Sultan yang melihat kesakitan dari raut wajah Ica menjadi teringat istri pertamanya yang sudah meninggal bahkan ia sampai mematung dan tak menyadari semua orang sudah berlarian ke luar rumah.


"Abang ayo ke rumah sakit!" ucap Ika yang kembali menemui suaminya yang terlihat mematung.


Sultan mengangguk dengan bibir pucatnya. Ia belum bisa berbicara karena lintasan kesakitan Lisa menghantui pikirannya dan sekarang ia menjadi takut kehilangan Ika.


"Jangan berpikir macam-macam, Bang. Aku dan anak kita akan baik-baik saja!" ucap Ika dengan tegas saat melihat tatapan ketakutan di mata suaminya saat melihat ke arahnya.


"Janji?!" ucap Sultan dengan cemas.


"Janji, Bang!" ucap Ika dengan tegas, ia mengelus punggung suaminya yang terlihat gemetar.


*****


Ryan bisa bernapas dengan lega setelah Ica dinyatakan kritis karena pendarahan tadi, kini sang istri sudah bisa melewati masa kritisnya setelah 5 jam tidak sadarkan diri dan anak mereka baik-baik saja walau sekarang berada di NICU karena lahir prematur. Ica harus operasi untuk mengeluarkan anak mereka dan karena kondisi Ica yang juga tidak stabil membuat dokter dengan cepat menangani keduanya.


Ryan menangis di pelukan ibunya saat ia sangat merasakan takut kehilangan Ica tetapi ketakutan itu berangsur menghilang saat dokter megatakan Ica sudah baik-baik saja.


"Ica sudah baik-baik saja, Ryan!" ucap Aisyah menepuk punggung anaknya dengan pelan.


"Aku takut, Ma. Sangat takut!" ucap Ryan dengan lirih.


Apa yang dirasakan Ryan juga di rasakan Saera dan yang lainnya. Entah apa jadinya Saera jika Ica juga pergi meninggalkannya dan ketakutan itu akhirnya membuat Saera sedikit lega kala anaknya baik-baik saja dan cucu perempuannya juga dalam keadaan baik walau harus lahir prematur.


"Sayang, terima kasih masih mau bertahan bersamaku. Aku semakin mencintaimu! Jangan pergi dari sisiku, Ica!"


****


Beberapa part lagi bakal end nih.


Ramein yuk.


Sebelum kita berpisah pada novel ini!


Jangan lupa like, vote, dan coment yang banyak ya!