Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~31 (Jangan Ambil Anakku!)



...Happy reading...


*****


Laura memundurkan langkahnya saat wajahnya menyeramkan Zico semakin mendekat ke arahnya, keringat dingin muncul di dahi Laura, nafasnya memburu karena ketakutan di dalam hatinya yang sangat luar biasa. Zico menyeringai menatap Laura yang sudah pucat pasih.


"Kenapa kamu menjauh, Sayang? Bukannya kamu mencintaiku?" tanya Zico dengan tersenyum sinis membuat Laura menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku tidak lagi mencintaimu! Kamu camkan itu!" ucap Laura dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"Hahaha... Tapi aku ingin menikmati tubuhmu seperti dulu, lalu aku akan mengambil Dirga darimu!" ucap Zico penuh penekanan dan semakin mendekat ke arah Laura yang ketakutan.


"Jangan! Jangan ambil anakku!" ucap Laura dengan tajam.


"Dia juga anakku, Laura! Kamu lupa jika Dirga anakku hmmm?" tanya Zico dengan memegang dagu Laura saat ia berhasil mengkukung Laura dengan tubuhnya yang besar. Laura tidak bisa ke mana-mana karena tubuhnya sudah membentur tembok kamarnya.


"Sejak kamu tidak menginginkan Dirga, sejak saat itu kamu bukan ayahnya!" ucap Laura dengan sinis membuat Zico semakin menatap tajam ke arah Laura dan menggertakkan giginya.


"Aku tetap akan mengambil Dirga dari kamu!" ucap Zico dengan amarah yang sudah memuncak.


"Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!" ucap Laura dengan berteriak kencang.


Plak...


"Dirga sedang tidur dengan begitu aku akan dengan mudah mengambilnya darimu," bisik Zico di telinga Laura setelah menampar wanita yang menurutnya sangat memuakkan. Zico berlalu menjauh dari Laura, membuat wanita itu panik saat Zico berusaha mengambil Dirga darinya.


"Dirga akan aku bawa pergi jauh darimu, Laura," ucap Zico dengan menyeringai membuat Laura menggelengkan kepalanya berusaha mendekat ke arah Zico.


"Kembalikan Dirga! Hiks... Hiks..." Laura berusaha mengambil Dirga dari gendongan Zico tetapi Zico mendorongnya dengan sangat kencang hingga Laura terjatuh dan membentur meja yang berada di kamarnya.


"Dirga milikku!" ucap Zico dengan tajam.


"Nda... Hiks... Hiks, Dilga atut, olongin Dilga," teriak Dirga saat terbangun dari tidurnya dan melihat ke arah Zico.


"Kamu ikut ayah Dirga. Kita akan hidup bersama tanpa bunda kamu," ucap Zico dengan tegas.


"Ndak au. Om ukan Yah atu!"


"DIAM!"


"DIRGA!" teriak Laura saat Zico membawa Dirga pergi darinya. Kakinya lemas dan kepalanya sangat pusing. Laura tidak bisa mengejar Zico karena kakinya terasa berat ia hanya bisa menangis meraung meminta Zico mengembalikan Dirga kepadanya tetapi semua sudah terlambat Zico sudah pergi dengan membawa Dirga bersamanya.


"Dirga... Dirga... Jangan tinggalkan Bunda, Nak!"


"Laura!"


"Hey... Hey bangun!" ucap Leon dengan panik saat melihat Laura berteriak dan menangis dalam tidurnya.


"P-pak Leon! D-irga dibawa per..."


"Kamu mimpi apa hmmm? Dirga sedang bersama saya. Lihat itu!" ucap Leon dengan tegas membuat Laura yang masih menangis langsung menatap anaknya yang tertidur di bawah karpet.


Laura yang tersadar langsung menatap ke arah Leon. Laura tidak menyangka jika Leon sedang berada di hadapannya saat ini. Sudah 2 tahun Laura tidak melihat Leon dan sekarang lelaki itu berada di hadapannya dengan penampilan yang sangat gagah. Sejak Zico ingin mengambil Dirga saat itu, sejak saat itu pula Laura terus bermimpi buruk tentang Dirga yang akan diambil oleh Zico, pahadal kejadian itu sudah sangat lama dan Laura tidak pernah bertemu dengan Zico kembali berkat bodyguard yang di sewa oleh Leon tanpa sepengetahuan Laura.


"P-pak Leon kenapa berada di sini?" tanya Laura dengan terbata. Ia masih sangat syok dengan mimpinya yang seperti nyata bagi Laura.


"Saya sudah kembali," ucap Leon dengan lirih dan sudah beberapa jam ia bermain dengan Dirga sampai anak itu terlelap bersamanya. Leon terbangun dalam tidurnya saat Laura berteriak sangat kencang membuat Leon panik seketika. Leon pulang karena masalah Elang, keponakannya itu membuat masalah dengan menyukai sesama jenis hingga Alan dan Ulan berniat menjodohkan Elang dengan cucu dari asisten rumah tangga mereka dan Leon tidak akan kembali ke Singapura biarlah Alan yang mengurusnya kembali karena kesehatan Jihan juga sudah membaik tetapi sekarang Elang yang membuat masalah besar hingga kakaknya di rawat di rumah sakit. Sudah dua hari Leon berada di Indonesia. Namun, karena masalah Keluarganya Leon tidak menemui Laura terlebih dahulu.


"Antuk, bobok agi," ucap Dirga dengan polosnya dan duduk di pangkuan Leon dengan kepala yang bersandar di dada Leon. Leon menepuk ****** Dirga dengan perlahan dan membuat anak itu kembali terlelap dalam tidurnya tanpa mencari Laura yang terlihat mematung dengan kedekatan Leon maupun Dirga.


"A-ayah? Se...jak...ka...pan?" tanya Laura dengan terbata. Leon menyeringai ke arah Laura yang terlihat syok dengan kedekatan dirinya dengan Dirga.


"Dirga mengakui saya sebagai ayahnya. Kamu tidak perlu syok akan itu," ucap Leon dengan tegas. Laura masih tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya saat ini. Leon masih seperti bayangan di matanya, karena ia masih merasa tidak mungkin jika Leon telah kembali.


"Kamu masih tidak percaya jika saya nyata?" tanya Leon dengan sinis dan dengan polosnya Laura menggelengkan kepalanya membuat Leon gemas. "Baiklah tunggu sebentar," ucap Leon dengan datar. Leon menidurkan Dirga dengan perlahan dan setelah itu ia menarik Laura kepangkuannya hingga wanita itu memekik karena terkejut.


Cup...


"Masih tidak nyata?" tanya Leon dengan dingin. Laura seperti orang linglung sekarang membuat Leon gemas dan kembali mengecup bibir Laura hingga wanita itu membuka matanya dengan lebar, tak lama setelah itu Laura memejamkan matanya dan terhanyut dalam ciuman Leon yang sangat memabukkan. Leon tidak memberikan kesempatan untuk Laura menghirup udara dengan benar. Lelaki itu terus mencium dan mengekspos bagian dalam mulut Laura hingga Laura benar-benar kehabisan nafas baru Leon melepaskan ciumannya.


"Sudah nyata?" tanya Leon dengan menggoda membuat pipi Laura bersemu merah dengan rasa panas yang menjalar ke tubuhnya. Laura terdiam masih dengan pikirannya sendiri. Kenapa ia sangat bahagia saat Leon pulang?


"Saya masih ngantuk," ucap Laura dengan kikuk saat Leon menatapnya dengan instens.


"Tapi saya masih ingin bersama dengan kamu, Laura. Apa kamu tidak merindukam saya?" tanya Leon dengan serak. "Katakan jika kamu merindukan saya!" tutur Leon dengan tegas.


"S-saya..." Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya malam menatap ke arah jakun Leon yang bergerak naik turun, dengan perlahan ia menyentuh jakun itu membuat Leon memejamkan matanya dan lemas seketika, jakun adalah bagian sensitifnya yang tidak diketahui orang lain.


"Katakan!" ucap Leon dengan penuh penekanan.


"I-iya saya rindu," ucap Laura tanpa sadar membuat Leon tersenyum bahagia.


"Dan saya sudah lama berpuasa untuk tidak menyentuh kamu. Saya ingin kamu lagi dan lagi Laura!" ucap Leon dengan serak membuat Laura tersentak saat Leon menggendongnya ke luar kamar.


"Di sofa," ucap Laura yang diangguki oleh Leon. Laura benar-benar gila, ia sangat merindukan sentuhan Leon dan saat Leon menyentuhnya ia kembali pasrah dan terhanyut dalam kukungan Leon. Laura meremas rambut Leon saat pria itu memainkan bagian bawahnya.


"P-pak..."


"Mas, Laura!"


"Ahh.. Mas. Aku...." Laura terengah saat Leon memainkan miliknya dengan sensual. Kenapa saat ini Laura begitu pasrah saat Leon menyentuhnya?


"Mau pegang?" tanya Leon saat memperlihatkan miliknya di depan Laura. Laura menelan ludahnya dengan kasar saat milik Leon yang besar terpampang jelas di matanya. Leon menuntun tangan Laura untuk memegang miliknya, wanita itu tercekat begitu menyentuh milik Leon.


"Saya masuk ya?" ucap Leon meminta izin. Laura mengangguk dengan pasrah membuat Leon seperti mendapat angin segar. Keduanya kembali menyatu dengan suara erangan yang saling tertahan.


"Di dalam saja," ucap Laura saat merasakan milik Leon yamg semakin besar di dalam miliknya.


"Kamu yakin?" tanya Leon. Laura mengangguk tersenyum membuat Leon bahagia dan tidak lama ia mengeluarkan cairan miliknya di rahim Laura. Leon ambruk menindih tubuh Laura. Seakan ia habis minum air yang sangat menyegarkan tubuhnya.


Mungkin ini adalah akhir penantian cintanya. Laura begitu sangat pasrah saat ia menyentuhnya bahkan wanita itu sendiri yang menyuruhnya untuk mengeluarkan cairannya di rahim wanita itu. Bahagia, tentu saja Leon sangat bahagia.


****


Minggu yang hareudang 🙈🙈🙈


Gimana dengan part ini?


Ada yang bahagia Leon kembali?


Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyak ya!