Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~76 (Luka Hati)



...Happy reading...


****


Pria berdarah Aceh itu hanya bisa menghela napas lirih saat menunggu anaknya yang sedang mandi bersama dengan Ika di rumah gadis itu. Ia memang tahu jika mempunyai tetangga baru tetapi ia tidak tahu jika tetangganya adalah seorang gadis bukan sepasang suami istri yang ia pikirkan.


Gelak tawa Cut Meisya Rahardian, anak berusia 5 tahun itu menarik bibir Sultan hingga membentuk senyuman karena selama ini anak yang sering disapa Cut itu susah dekat dengan orang lain selain dirinya dan tentu saja sang nenek. Dari lahir Cut tidak merasakan kasih sayang seorang ibu sebab sang istri tercinta meninggal saat melahirkan Cut. Cut Melisa, adalah sang istri yang ia nikahi sejak 6 tahun lalu tetapi sayang cinta mereka tak berumur panjang karena Lisa, sapaan sang istri, meninggalkannya dan Cut untuk selama-lamanya. Sultan memang tinggal di Medan saat mereka menikah karena ia bekerja di Medan, sampai sekarang Sultan tak ingin pulang ke Aceh, hanya sesekali lelaki itu pulang ke rumahnya untuk menemui kedua orang tuanya. Sultan hanya ingin menghindari kedua orang tuanya yang ingin Sultan menikah lagi. Selama 5 tahun ia menutup hatinya untuk wanita manapun karena nama Lisa masih terpatri di hatinya. Banyak gadis Aceh yang cantik-cantik ingin menikah dengannya atau para gadis Medan yang cantik juga tetapi tak ada satupun yang membuat Sultan tertarik karena menurutnya ketika mencari istri bukan hanya mencintai dirinya tetapi jika mencintai anak semata wayangnya.


Pria berusia 37 tahun itu berdiri dari duduknya saat Ika dan anaknya keluar. Sejak tadi Sultan menunggu keduanya di teras rumah Ika, Sultan masih tahu batasan dalam agama ia tidak mungkin masuk ke rumah seorang gadis sedang dia adalah seorang pria tak beristri, Sultan tak ingin menimbulkan fitnah, apalagi mereka baru mengenal.


"Sudah? Ayo sekarang Cut ngaji, Papa antar. Terima kasih dulu sama kak Ika!" ucap Sultan dengan tegas kepada anaknya.


Cut Meisya menatap Ika dengan mata bulatnya, membuat Ika gemas, ia jadi rindu dengan calon anaknya. Ah... Kenapa jadi melow lagi sih?


"Terima kasih Kak Ika cantik, Kakak mirip ibu aku suka," ucap anak kecil itu yang memakai baju gamis dan jilbab anak itu menambah kesan gemas bagi Ika.


"Eh... Iya sama-sama cantik," ucap Ika dengan canggung karena sekarang ia melihat Sultan mematung dengan ucapan anaknya sendiri.


Jika dilihat Ika memang sedikit mirip dengan sang istri, bedanya sang istri memiliki tahi lalat di hidung mancungnya, serta pakaian Ika dan Lisa yang berbeda. Jika Ika memakai dress dan celana jins, sang istri selalu berpakaian menutup aurat. Aduh, kenapa Sultan jadi membandingkan keduanya?


"Emmm, saya boleh tanya Bang?" tanya Ika dengan ragu-ragu.


"Tanya apa?" Sultan tersenyum tipis bukan ingin menebar senyuman tetapi emang wataknya yang seperti itu. Sultan bukan pria dingin, arogan seperti di novel-novel, pria itu terkesan sangat ramah dan baik.


"E-emang Ibu Meisya kemana?"


"Dia sudah berada di surga," jawab Sultan dengan tenang.


"Ah... Maafkan saya, saya tidak tahu," ucap Ika merasa bersalah karena memgingatkan Sultan kepada sang yang sudah meninggal.


"Tidak apa-apa. Abang harus pergi, terima kasih Dek mau memandikan Cut yang malas mandi," ucap Sultan dengan tulus.


"Sama-sama. Dadah Meisya, yang rajin ya ngajinya," ucap Ika melambaikan tanganya pada Cut yang sudah dibawa pergi oleh Sultan untuk mengaji menggunakan sepeda motor milik pria itu.


"Dadah Kakak cantik. Assalamulaikum," ucap Cut dengan tersenyum. Membuat Sultan juga tersenyum ke arah Ika.


"Wa'alaikumussalam."


"Andai saja dia masih berada di sini," gumam Ika dengan mengelus perutnya. Ika menghela napasnya dengan lirih. Ia kembali mengukir senyuman saat tawa Cut masih terasa menggema di rumahnya.


Ah.. Anak itu sangat menggemaskan. Hidung mancung, kulit putih, rambut kecoklatan seperti bule membuat Ika ingin selalu mencium Cut dengan gemas. Anaknya saja secantik itu apalagi dengan ibunya karena yang Ika tahu wanita Aceh terkenal dengan kecantikannya.


Sedangkan di wilayah lainnya Rama menatap nanar foto Ika yang berada di ponselnya. Rama sudah berada di kampung dan entah mengapa semua yang terjadi membuat hatinya tertekan. Dulu, ia hanya menganggap Kirana adiknya saja, tetapi karena Kirana yang menyukainya dan desakan dari kedua orang Kirana membuat Rama terpaksa menjalin hubungan dengan Kirana hinga dirinya merasa nyaman dengan Kirana dan mulai mencintai gadis itu tetapi sejak datang ke kota dan mengenal Ika hatinya mulai bercabang dan nama Ika semakin mendominasi hatinya.


Ia melihat kontak nama Ika dengan ragu-ragu. Bahkan foto profil Ika tidak ada lagi. Apa Ika benar-benar ingin melupakannya? Rama tak mampu untuk menulis pesan kepada Ika jika ia akan menikah dengan Kirana dalam waktu dekat.


'Hai, Ika. Mas berharap kamu membaca pesan Mas ini. Seperti yang kamu harapkan seminggu lagi Mas akan menikah dengan Kirana. Mas hanya bisa berharap kita bisa berjodoh, walaupun tidak sekarang Mas harap entah kapan kita akan berjodoh nantinya. Jaga baik-baik dirimu, maafkan Mas yang sudah menjadi lelaki pengecut di muka bumi ini. Memperjuangkanmu saja Mas tidak berani. Pernikahan ini terjadi karena Mas ingin membalas budi kebaikan kedua orang tua Kirana bukan semata-mata Mas mencintai Kirana. Nama kamu terus tepatri di hati Mas. Maafkan Mas yang terus mengulik luka di hatimu.'


******


Gimana dengan part ini?


Ternyata Rama dan Zico celat menikah dibanding Ika 😲😲


Takdir author gak ada yang tahu ya kan?🤭🤭


Ramein part ini lagi.


Ramein dengan like, vote, dan coment yang banyak.