Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~45 (Siapa Mereka?)



...Happy reading...


****


Ryan memandang sang sahabat dengan memijit pelipisnya, ia merasa dicurangi oleh Leon yang mencuri startnya secara diam-diam.


"Bagaimana mungkin lo menghamili anak orang sedang lo sendiri aja melarang gue buat melakukan itu. Padahal gue mau menikah dengan Ica secepatnya dengan cara Ica hamil anak gue, lo akan merestui pernikahan kami secepatnya. Lo curang tahu gak?!" ucap Ryan dengan kesal.


Leon menghela napasnya dengan berat. "Gue sengaja melakukan itu, karena Laura berbeda dengan cewek lainnya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan gue, hingga iblis yang di dalam diri gue mengatakan jika gue harus membuat Laura hamil anak gue. Lo tahu sendiri kan kalau gue bukan cowok brengsek yang bermain dengan banyak wanita, gue cuma mau Laura dan hanya wanita itu saja," ucap Leon dengan tegas membuat Ryan merasakan geram yang luar biasa.


"Tapi lo itu curang! Ahh.. Seandainya gue bisa buat hamil Ica sekarang," ucap Ryan membayangkan membuat Leon memukul Ryan dengan map yang berada di mejanya.


"Cukup gue aja yang buat kedua orang tua gue syok bukan main hingga ayah gue jatuh sakit. Jangan sampai Ica juga hamil, bisa-bisa ayah gue marah besar," ucap Leon dengan datar.


"Gue gak paham dengan cara berpikir lo. Ternyata lo lebih mesum dari gue. Gue berpacaran dengan Ica bertahun-tahun saja belum pernah burung gue masuk ke sangkar Ica," ucap Ryan dengan lirih.


"Kalau lo mau serius sama adik gue, malam ini datang ke rumah gue. Sepertinya burung lo sudah gak kuat," ejek Leon membuat Ryan berbinar.


"Serius lo? Malam ini gue datang bersama dengan kedua orang tua gue buat lamar Ica siapa tahu pernikahan gue dan lo barengan," ucap Ryan dengan berbinar.


Ahhh Ica gadisnya yang polos akan menjadi istrinya secepatnya. Tanpa harus takut ketika ia ingin mencuri-curi kesempatan ketika sedang berdua dengan Ica.


Leon mengangguk dengan lesu karena sejak kemarin sang ayah memarahi dirinya habis-habisan hingga Leo jatuh sakit karena dirinya, ada perasaan bersalah di dalam dirinya karena telah membuat kedua orang tuanya kecewa terhadapnya.


****


Leon dan Laura semakin hari semakin dekat saja. Hubungan mereka sudah semakin baik karena memang Laura ingin selalu berada di dekat Leon, sedikit pun ia tidak mau Leon jauh darinya. Anaknya benar-benar membuat Laura tidak bisa jauh dari Leon. Sungguh Dirga maupun calon anaknya yang lain sangat pintar mengaduk perasaannya.


Pernikahan mereka sudah direncanakan oleh Leon dengan sangat mewah karena pernikahannya dengan Laura adalah pernikahan untuk pertama kalinya. Tetapi, Leon sangat sulit untuk membuat Laura berbicara tentang keberadaan kedua orang tuanya. Laura masih sangat takut dengan kekecewaan kedua orangnya membuat Leon harus ekstra sabar menghadapi Laura yang moodnya gampang sekali berubah.


"Mas!" panggil Laura dengan lirih saat Leon baru saja datang ke rumahnya.


"Kenapa hmm?' tanya Leon dengan posisi yang sudah berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan perut datar Laura, ia mengecupnya dengan berulang kali membuat Laura tersenyum hangat.


"Apa benar Mas mau mengajak Laura bertemu dengan kedua orang tua, Mas?" tanya Laura dengan perasaan takut yang menghantui hatinya, takut kedua orang tua Leon tidak menerima dirinya dan juga Dirga karena statusnya yang janda dan hamil di luar nikah bersama dengan Leon.


"Tidak perlu takut, Sayang! Keluarga saya bukan orang yang jahat! Percayalah mereka pasti akan menerimamu dengan tangan terbuka," ucap Leon yang sudah memeluk Laura dengan erat.


"Tapi..."


"Jangan pikirkan sesuatu hal yang buruk yang belum tentu terjadi. Ingat anak kita butuh ketenangan jangan stres hanya karena sesuatu yang kamu pikirkan secara berlebihan," ucap Leon dengan lembut berusaha menenangkan Laura yang terlihat gamang.


Laura mengangguk dengan pelan. Ada rasa yang tidak bisa dijabarkan oleh dirinya sendiri, dan rasa takut lebih mendominasi hatinya ketika memgingat jika malam nanti Leon akan membawa dirinya bertemu dengan orang tua dari Leon. Walaupun sudah beberapa kali bertemu dengan mereka, Laura masih sangat merasakan takut.


"Dirga di mana. Saya merindukannya!" ucap Leon dengan lembut.


"Dirga sedang tidur siang. Mas tidak merindukanku?" tanya Laura dengan lirih. Ia menundukkan kepalanya karena dengan beraninya ia bertanya seperti itu pada Leon yang sejak tadi ia rindukan.


Mata Laura berkaca-kaca menatap Leon dengan intens, bahkan ia mengalungkan tangannya di leher Leon. "A-aku tidak tahu mengapa aku sangat merindukanmu hari ini. Hiks...hiks," ucap Laura dengan menangis membuat Leon langsung membawa Laura ke dalam gendongannya dan ia duduk di sofa dengan Laura yang masih di dalam pangkuannya. Ia membiarkan Laura memeluknya dengan sangat erat walau bajunya harus basah karena tangisan Laura.


"Kenapa harus menangis hanya karena merindukan saya hmm?"


"Hiks...hiks.. A-anak ini terus menyiksaku dengan merindukanmu, Mas! Aku bingung! Aku tidak tahu harus apa! Rasanya sangat menyebalkan sekali!" ucap Laura dengan sesugukan membuat Leon terkekeh geli.


"Berarti anak kita sangat pintar. Dulu bundanya sangat ingin berjauhan dengan sang ayah sekarang tidak bisa berjauhan," ucap Leon dengan senang.


Dengan berani Laura mengecup bibir Leon. Leon dengan senang hati membalas ciuman calon istrinya hingga suara decapan bibir mereka terdengar. Tetapi tidak ada ciuman ***** di sana karena Leon tidak ingin melukai anak mereka.


"Tidurlah. Setelah ini saya harus kembali ke kantor sebentar dan malam nanti bersiap-siaplah dengan gaun yang saya berikan. Dandan yang cantik setelah itu aku akan menjemputmu dan juga Dirga jam 8 malam," ucap Leon dengan tegas yang diangguki oleh Laura. Perlahan wanita itu memejamkan mata di pangkuan Leon karena elusan Leon di punggungnya yang membuat Laura sangat nyaman.


Sebelum Leon kembali ke kantor, ia menggendong Laura dan membawanya ke kamar. Mengecup satu persatu wajah kedua orang yang sangat ia sayangi tersebut.


"Sebentar lagi kita akan bersama! Saya pasti akan menemukan kedua orang tuamu tanpa harus menunggu kamu berbicara!"


Setelah berkata seperti itu. Leon beranjak pergi dari kamar Laura, tentu saja ia tak lupa menyelimuti keduanya dengan selimut tipis.


*****


Dengan perasaan yang begitu sangat deg-degan Laura menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun yang diberikan Leon sangat tertutup tetapi sangat elegan dan pas di tubuh mungilnya. Semua yang melakat pada dirinya dan juga Dirga adalah pemberian Leon yang terlihat sempurna.


"Yah ana, Nda?" tanya Dirga yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Leon.


Laura melihat jam di dinding kamarnya, setengah jam lagi leon akan menjemputnya. "Sebentar lagi ayah akan datang, Nak. Jadi, Dirga harus sabar. Duduk yang tenang biar baju kerennya tidak kusut," ucap Laura yang diangguki oleh Dirga yang terlihat menurut kali ini.


Tidak beberapa lama ketukan pintu terdengar membuat Laura berpikir jika itu Leon yang datang. "Itu ayah sudah datang, Nak. Ayo kita ketemu ayah," ucap Laura dengan antusias.


Tetapi Laura merasa aneh karena biasanya Leon langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Sebentar Mas. Tumben sekali Mas mengetuk pin...tu..."


Tubuh Laura mematung saat membuka pintu bukanlah Leon yang berada di sana. Mata Laura berkaca-kaca melihat dua orang yang memang sangat ia rindukan selama ini. Tubuhnya masih mematung saat dirinya dipeluk dengan sangat erat.


***


Tes ombak lagi.


Masih kayak kolam renang yang tenang atau laut lepas nih yang ombaknya besar wkwk.


Ramein lagi gak mau tahu😭😭😭


ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya kalau mau lihat author double up lagi😭😭😭