Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~102 (Perjalanan Cinta Kita)



...Happy reading...


****


Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan sudah berganti sekarang usia pernikahan Sultan dan Ika sudah memasuki bulan ke-3. Hari demi hari mereka liputi dengan kebahagian di dalam pernikahan mereka, Ika sudah disibukkan dengan mengurus suami, anak, dan restorannya.


Pagi ini setelah sholat subuh, Ika disibukkan dengan rutinitasnya sebagai istri dan seorang ibu. Penampilan Ika benar-benar berubah ia semakin tertutup dengan gamis dan hijabnya membuat semua keluarganya merasa heran sekaligus bahagia karena Sultan mampu membimbing sang istri ke jalan yang lebih baik. Namun, ketika dirinya di rumah maka Ika memakai pakaian santai saja.


"Sayang, bangun yuk. Nanti telat masuk sekolahnya!" Ika membangunkan anak gadisnya yang masih tertidur dengan lelap.


Cut dengan malas membuka matanya dan ia langsung tersenyum melihat wajah mamanya yang berada di hadapannya. "Gendong!" pinta Cut dengan manja. Ika terkekeh dengan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan manja anak dan suaminya yang terkadang membuat Ika kewalahan sendiri. Ia seperti memiliki dua orang bayi yang merebut perhatiannya.


Ika menggendong Cut dengan perlahan. Bobot Cut semakin berat membuat Ika terkadang susah untuk menggendong anaknya tersebut. "Mandi sendiri ya. Mama harus masak dulu, nanti kalau udah selesai panggil Mama," ucap Ika dengan lembut menurunkan Cut di kamar mandi.


"Iya Mama cantik," jawab Cut membuat Ika gemas dan mengacak rambut anaknya. Ika mempersiapkan air hangat untuk anaknya sebelum pergi ke dapur untuk memasak sarapan mereka bertiga.


"Mama tinggal dulu, Sayang. Jangan lama-lama mandinya!"


"Siap Mama!"


Ika keluar dari kamar anaknya dan menutup pintu dengan pelan. "Minum teh, Bang?" tanya Ika yang melihat suaminya sudah ada di meja makan.


"Boleh. Teh kayak biasa ya, Dek!" ucap Sultan dengan lembut.


"Tunggu ya. Adek siapin dulu," ucap Ika dengan tersenyum.


Sultan memperhatikan istrinya yang setiap harinya bertambah cantik sekali apalagi ketika sudah memakai gamis dan hijab yang menutup rapat seluruh tubuhnya membuat Sultan bertambah mencintai sang istri yang sudah terlihat jelas sekali perubahannya. "Kenapa lihatin Adek kayak gitu? Nanti tambah cinta loh!" ucap Ika dengan terkekeh berjalan menghampiri suaminya dan memberikan teh yang baru saja ia buat untuk suami tercintanya.


Sultan terkekeh. "Emang Abang udah tambah cinta, gimana dong?" tanya Sultan dengan menarik hidung mancung Ika dengan gemas.


"Ya bagus. Karena Abang cuma boleh cinta sama Adek!" jawab Ika dengan manja membuat Sultan mengecup kening Ika dengan lembut. "Diminum tehnya, Bang. Adek masak dulu. Nanti anak gadis kita ngambek," bisik Ika yang kembali membuat Sultan menggelengkan kepalanya.


Sultan mulai menyesap tehnya dengan perlahan, sesekali ia memperhatikan sang istri yang berada di dapur. Tak ingin membuat konsentrasi istrinya terganggu Sultan memainkan ponselnya sebentar untuk mengecek pekerjaannya.


Uwekkk...uwekkk..


Sultan terkejut mendengar suara istrinya muntah. Dengan panik Sultan menghampiri Ika yang berada di kamar mandi dapur. "Kenapa, Dek?" tanya Sultan dengan panik. Tangannya membantu mengurut tengkuk istrinya untuk meredakan mual yang dirasakan istrinya tersebut.


"Gak tahu, Bang! Bau banget bawang yang aku masak, terus perut Adek kayak di putar-putar tapi yang keluar cairan gini doang," ucap Ika dengan berkaca-kaca.


"Kita ke rumah sakit ya. Sekalian antar Cut ke sekolahnya," ucap Sultan dengan cemas. Ika menggelengkan kepalanya, ia kembali memuntahkan isi perutnya tetapi yang keluar hanya cairan yang terasa sangat pahit di lidahnya.


"Hari ini gak usah masak. Beli di luar aja! Sekarang Adek istirahat!" ucap Sultan dengan tegas. Ia melihat wajah Ika yang terlihat pucat dan lemas dengan cepat ia menggendong Ika ke kamar mereka, sedangkan Cut yang sudah rapi dengan pakaian sekolahnya langsung mengikuti kedua orang tuanya.


"Mama kenapa?" tanya Cut dengan sedih.


"Mama cuma masuk angin, Sayang. Hari ini Cut diantar papa ke sekolah ya!" ucap Ika dengan lirih. Biasanya Sultan dan Ika mengantarkan Cut ke sekolah setelah itu Sultan akan mengantarkan Ika ke restoran sedangkan Sultan mengecek semua tokonya dan setelah selesai langsung pulang ke rumah.


"Mama sakit," ucap Cut dengan mata berkaca-kaca.


"Enggak, Sayang! Mama masuk angin aja kok," jawab Ika dengan tersenyum agar tidak semakin membuat anak manjanya ini khawatir.


"Pa, antar Cut dulu ke sekolah ya. Tapi sebelum itu aja makan di restoran dulu minta chef menyiapkan makanan kesukaan Cut," ucap Ika dengan pelan.


"Mama gak apa-apa kalau Papa tinggal sendiri?" tanya Sultan dengan cemas, ia merasa enggan meninggalkan istrinya seorang diri di rumah.


"Gak apa-apa, Pa! Sana kalian berangkat ya! Nanti Cut telat sekolah lagi," ucap Ika meyakinkan.


"Kalau ada apa-apa langsung telepon ya, Ma!" perintah Sultan dengan tegas. Keduanya memanggil 'papa dan mama' saat sedang bersama dengan Cut tetapi ketika berdua tetap pada panggilan kesayangan mereka.


Akhirnya dengan terpaksa Sultan meninggalkan Ika seorang diri di rumah. Sebelum pergi ia mencium kening Ika dengan lembut bergantian dengan Cut. "Cepat sembuh Mama!" ucap Cut dengan lembut membuat Ika merasa terenyuh, begitu Cut sangat menyayanginya.


"Iya, Sayang!" jawab Ika dengan pelan karena menahan rasa mual agar tidak membuat Sultan dan Cut khawatir.


"Assalamualaikum!"


Setelah dirasa suami dan anaknya sudah pergi. Ika berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Mual yang ia rasakan membuat Ika semakin lemas bahkan wajahnya sudah sangat pucat, tubuhnya gemetar. Lalu Ika teringat saat ia hamil waktu itu, ia juga seperti ini, tetapi mual yang ini lebih parah bahkan ia tidak suka dengan bau menyengat seperti nasi, bawang dan yang lainnya yang menggangung penciumannya.


"Apa aku hamil?" tanya Ika pada dirinya sendiri. Ika ingat jika ia sudah telat haid dua minggu, senyum terbit di bibirnya dan mengelus perut ratanya. "Semoga kamu beneran hadir ya, Nak!" gumam Ika dengan lirih.


Ika keluar kamar mandi dengan perlahan karena tubuhnya sangat lemas. Ia mengambil testpack yang memang sudah ia beli sejak sebulan lalu, dalam hati ia berdoa agar ia benar-benar hamil karena Ika sudah sangat menantikan moment ini walau Sultan sendiri masih merasa takut dan tak terburu-buru untuk mempunyai anak.


Ika menunggu harap-harap cemas saat sudah mencelupkan tespack itu ke urin yang sudah ia tampung di wadah kecil. Dengan menghembuskan napas perlahan Ika mencoba melihat garis yang berada di testpack tersebut.


"Alhamdulillah Ya Allah," gumam Ika meneteskan air mata saat melihat garis dua terlihat di benda pipih itu. Ika sangat bahagia akhirnya ia dipercaya untuk hamil kembali, perasaannya sangat membucah sekarang tetapi kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa mual. Ika kembali lagi memuntahkan isi perutnya sehingga tenaganya benar-benar habis dengan perlahan ia mencoba keluar daei kamar mandi dan berbaring di kasur, ia tidak ingin membahayakan kandungannya.


Ika memejamkan matanya dengan perlahan. Di dalam benaknya sekarang sedang membayangkan jus Alpukat yang sangat enak. Tetapi Ika tidak ingin konsentrasi Sultan pecah, ia harus menunggu lebih lama untuk Sultan kembali ke rumah.


30 menit kemudian...


Sultan memasuki kamarnya dengan membawa sepiring nasi yang sudah ia pesan di restoran milik istrinya. Ika belum sarapan dan Sultan sangat khawatir dengan keadaan sang istri. "Dek bangun," ucap Sultan dengan pelan.


Ika mengerjapkan matanya dan tersenyum manis ke arah Sultan. "Abang udah pulang? Mau peluk!" ucap Ika dengan manja membuat Sultan terkekeh dan membawa sang istri ke pelukannya.


"Sarapan dulu ya. Abang udah pesankan sarapan untuk Adek di restoran tadi dan menyuruh Ranti untuk menghandle pekerjaan Adek di restoran," ucap Sultan dengan lembut. Ika yang mencium bau nasi kembali merasa mual membuat Sultan kembali panik.


"Jauhin nasinya, Bang! Bau!" ucap Ika tak tahan.


Dengan bingung Sultan menjauhkan sepiring nasi dari sang istri. "Adek kenapa? Gak bisanya kayak gini," ucap Sultan dengan sendu.


"Adek gak apa-apa, Bang. Bawa'an bayi seperti ini," ucap Ika dengan lirih.


"A-apa bayi?" tanya Sultan dengan terkejut. Ika mengangguk dan meletakkan tangan Sultan di perutnya.


"Kita mau punya anak," ucap Ika dengan tersenyum.


Sultan hanya diam menatap benda pipih yang memperlihatkan garis dua saat Ika memberikan kepadanya. Bibirnya terasa keluh bayangan Melisa terbujur kaku membuat keringat dingin muncul di pelipisnya.


Senyuman Ika memudar menatap wajah Sultan yang terlihat datar. "Abang gak suka aku hamil?" tanya Ika dengan lirih.


"B-bukan gitu. Abang senang sekali," ucap Sultan membawa Ika ke dalam pelukannya. "Berjanjilah untuk terus baik-baik saja, Sayang!" gumam Sultan dengan lirih.


"Adek akan baik-baik saja kalau Abang selalu bersama Adek," ucap Ika dengan lirih. Sultan menciumi puncak kepala istrinya dengan sayang lalu mencium bibir istrinya dengan mesra untuk menghilangkan ketakutannya.


"Bang!"


"Iya Sayang."


"Buatin jus alpukat ya. Aku pengin itu," ucap Ika dengan berbinar.


"Gak mau makan dulu?"


"Gak mau! Maunya jus alpukat buatan Abang!" ucap Ika dengan manja.


Sultan terkekeh. "Baiklah Abang buatin. Tapi nanti kita ke dokter ya periksa kandungan kamu," ucap Sultan dengan tegas.


"Besok aja ya. Adek mau manja-manja sama Abang!" balas Ika dengan memelas.


"Baiklah ratuku! Tunggu sebentar jus alpukat akan segera meluncur!"


******


Yeee Ika hamil🤗🤗🤗


Abang Sultan antara takut dan bahagia nih.


Jangan lupa like, vote, dan coment yang banyak ya!