
...Dua part di hari jumat. Bertemu lagi di hari selasa sesuai jadwal yang sudah ditentukan ya guys. Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya di part akhir di hari ini....
...Happy reading...
****
Pagi ini Dio merasa sangat gelisah memikirkan Cut. Lelaki itu merasa bersalah padahal dirinya sendiri yang tak ingin menemui Cut di taman karena ia tidak ingin menerima cinta Cut. Dio masih bersih keras jika dirinya tidak mencintai gadis itu tetapi ternyata dialah yang tak menyadari perasaannya sendiri.
Hujan tadi malam membuat jalanan sedikit licin dan banyak genangan air di lubang-lubang kecil. Dengan perasaan hampa Dio menjalankan mobilnya menuju rumah sakit untuk bekerja seperti biasa. Bayangan wajah Cut menari-nari di kepalanya membuat Dio semakin gelisah, untung saja ia masih bisa fokus menyetir hingga sampai ke rumah sakit di mana ia bekerja.
Sebelum keluar dari mobil Dio memejamkan matanya sejenak lalu menghembuskan napasnya dengan kasar. "Gue kenapa sih?" tanya Dio pada dirinya sendiri. Dio keluar dari mobil dengan membanting pintu mobilnya sendiri membuat para pasien dan perawat, serta dokter yang melihat tingkahnya menatap Dio dengan aneh. Tak biasanya dokter tampan dan dingin seperti Dio bertingkah sangat aneh sekali.
Dio berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangannya sendiri. Banyak yang menyapanya dengan ramah tetapi Dio sama sekali tidak membalas sapaan tersebut. Hari ini banyak pasien yang sudah menunggunya dan hari ini juga jadwal Cut membantunya seperti biasa. Lalu bagaimana Dio harus bersikap ketika ia bersama dengan Cut? Walau keduanya bekerja secara profesional tetapi Dio merasa suasana tidak akan seperti biasa.
"Dokter!" panggil seseorang suster yang membuat Dio menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Sus?" tanya Dio dengan tegas.
"Pasien bernama Deva terus berteriak histeris, Dok. Pasien tersebut semakin ketakutan," ucap Suster dengan panik.
"Ayo kita ke sana! Meisya belum datang, Suster?" tanya Dio dengan tegas.
Suster bernama Bianca tersebut menggelengkan kepalanya. "Meisya belum datang Dokter! Apa saya harus meneleponnya? Karena hanya Meisya yang bisa menenangkan pasien seperti biasa," ucap Suster Bianca dengan sopan.
"Tidak usah! Saya bisa menangani pasien! Bantu saya kali ini!" ucap Dio dengan tegas. Ia menggulung kemejanya sampai ke siku membuat ketampannya dua kali lipat terpancar.
"Baik, Dokter!" jawab Bianca dengan cepat.
Saat Dio membuka pintu ruangan pasiennya ia disambut dengan teriakan lelaki bernama Deva tersebut yang baru menjadi pasiennya sejak seminggu yang lalu. Akibat kecanduan obat-obatan membuat Deva berteriak histeris karena menginginkan obat terlarang itu kembali bahkan Deva sampai menyayat tangannya agar bisa menghisap darahnya sendiri.
"Dokter tolong anak saya!" ucap Ibu Deva dengan menangis.
Dio mengangguk dengan tegas. Ia memegang kedua tangan Deva dengan kuat. "Suster tolong suntikan obat penenang!" ucap Dio dengan tegas karena ia tidak ingin Deva terus memberontak bahkan menyakiti dirinya sendiri.
Bianca mengangguk dengan cepat. Ia mengambil suntik dan cairan yang sudah dipersiapkan sejak awal. Lalu dengan cekatan suster tersebut menyuntikan obat penenang untuk Deva. Tak lama cairan tersebut sudah bekerja dan membuat Deva berangsur tenang bahkan ia tidak memberontak lagi.
"Tolong berikan obat itu. Saya tersiksa, Dokter!" ucap Deva dengan lirih.
"Kamu harus sembuh. Obat itu hanya akan merusak kamu. Ingat masih ada mama kamu yang harus kamu jaga! Tahanlah jangan biarkan pikiran kamu terpenuhi oleh obat itu!" ucap Dio dengan tegas.
Dio tak bergeming ia mengambil obat terapi untuk Deva. Dio memberikannya kepada Deva. "Minum!" ucap Dio dengan tegas.
Dengan tangan gemetar Deva mengambil obat tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya, serta meminum air putih yang diberikan suster Bianca kepadanya. Tekadnya untuk sembuh karena tak ingin mengecewakan sang mama membuat Deva menurut dengan Dio walau sebenarnya ia sangat tersiksa karena tak bisa mengkonsumsi narkoba lagi.
Ibu Deva mendekat dan memeluk anaknya dengan erat. Menjadi orang tua tunggal membuatnya jarang memperhatikan Deva hingga sang anak terjerumus dengan obat-obatan terlarang seperti itu hingga Deva menjadi pencandu.
Dio tampak tenang menangani pasiennya. Ia sering menjumpai pasien seperti Deva bahkan sampai ada yang meninggal karena menyayat pergelangan tangannya sendiri.
****
Sampai siang juga Cut belum terlihat di rumah sakit membuat Dio memijat pelipisnya karena merasa pusing. Biasanya Cut akan membantunya hingga bebannya sedikit berkurang tetapi hari ini tidak ada kejelasan dari Cut bahkan pesan yang biasanya ia terima dari Cut sama sekali tidak ia terima hari ini.
Sebenarnya kemana gadis itu? Dio benar-benar mencari Cut sekarang karena gadis itu yang bisa membantunya dalam pekerjaan.
Dio meneguk minuman dingin yang baru saja ia beli untuk mendinginkan otaknya. Ia melihat Bryan yang mendekat ke arahnya dan mengambil minuman yang Dio punya.
"Beli sendiri!" ucap Dio dengan tajam.
"Haus! Hari ini gue lelah habis operasi pasien!" ucap Bryan dengan lelah.
Dio tak menjawab. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. "Meisya katanya demam," ucap Bryan memulai obrolan.
"Uhuk...uhuk..." Dio terbatuk karena mendengar ucapan Bryan bahkan air mineral yang ia minum sampai menyembur keluar membuat Bryan melotot ke arah Dio.
"Baju gue basah!" ucap Bryan dengan tajam. "Kaget sampai segitunya lo!" ujar Bryan dengan sarkas.
Demam? Apa Cut demam karena kehujanan menunggu dirinya? Ah...perasaan Dio semakin tak karuan.
"Lo dengar dari mana Meisya sakit?" tanya Dio dengan penasaran.
"Dari Dokter Kinan. Dokter Kinan kan teman akrab Meisya di rumah sakit ini. Kata dokter Kinan semalam Cut kehujanan. Kabar yang gue dengar juga Meisya tidak akan bekerja lagi di sini," ucap Bryan dengan lirih. "Menurut lo kabar itu beneran atau gak? Kan lo sepupuan walau jauh sih," ucap Bryan dengan penasaran.
Deg...
Dio terdiam memikirkan ucapan Bryan. Entah mengapa Ia menjadi takut sekarang. Perasaan apa yang ia rasakan sekarang? Kenapa Dio semakin gelisah karena Cut. "Gue gak tahu!" ucap Dio dengam dingin padahal ia sedang menyembunyikan perasaan gelisahnya di depan Bryan.