
...Happy reading...
****
Degup jantung Laura terasa lebih keras, ia sangat gugup sekali. Menatap pantulan wajahnya di cermin dengan gaun nikah hasil rancangan kakak iparnya membuat Laura semakin terlihat sangat cantik sekali. Sang mama masuk ke dalam melihat anaknya yang masih mematung di cermin.
"Calon pengantin kok melamun," tegur Ratna membuat Laura tersentak dan tersenyum ke arah ibunya.
"Aku gak melamun, Ma! Tapi aku gak menyangka jika akan menikah lagi, awalnya perpisahan dengan mas Zico membuat aku trauma tetapi datang lelaki baik yang memperlakukan aku dengan sangat baik bahkan sangat menyayangi Dirga sebagai anaknya sendiri," ucap Laura dengan terharu.
Ratna mengelus bahu anaknya dengan lembut. "Takdir tidak ada yang tahu, Nak! Leon yang akan menggantikan lukamu dengan kebahagiaan walau cara mendapatkanmu dengan cara yang salah tetapi Mama melihat di matanya jika ada cinta yang besar untukmu dan Dirga. Jangan membuat Leon kecewa lagi, pengorbanannya cukup besar untuk mendapatkan kamu," ucap Ratna dengan tersenyum.
"Malah mengobrol di sini. Ayo turun keluarga Leon sudah datang," ucap Hendra saat melihat istri dan anaknya masih di dalam kamar.
Akad nikah memang diadakan di rumah dihadiri orang terdekat mereka. Setelah akad mereka langsung pergi ke gedung di mana resepsi pernikahan mereka diadakan. Permintaan Laura dengan mudah Leon turuti agar Laura bahagia karena ia tahu ibu hamil sangat sensitif sekali. Gedung pernikahan mereka memang tidak jauh dari rumah orang tua Laura, karena Leon tidak ingin melihat istrinya nanti kelelahan.
Laura turun bersama dengan kedua orang tuanya. Ia menunduk malu saat Leon menatapnya tidak berkedip, apalagi Dirga sudah berada di pangkuan Leon dengan baju senada menambah ketampanan keduanya. Jika orang menatap keduanya maka seperti ayah dan anak kandung karena wajah mereka yang sangat mirip.
"Mas Leon jangan tatap aku seperti itu! Aku bertambah gugup!" jerit hati Laura. Ratna juga merasakan genggaman tangan Laura semakin erat dan terasa dingin. Dalam hati ia tersenyum karena kegugupan anaknya, ia juga memuji ketampanan menantunya.
"Cantik!" puji Leon saat Laura duduk di sampingnya membuat Laura semakin menunduk malu.
"Apa semua sudah siap?" tanya penghulu. Leon menjawab dengan anggukan mantap. Dirinya juga merasakan gugup sejak tadi, tetapi melihat kecantikan Laura pagi ini membuat Leon tak sabar ingin segera membuat Laura menjadi miliknya.
Dirga sudah bersama dengan Ratna kembali. Ia menyaksikan ayah dan ibunya duduk berdampingan, walaupun ia belum mengerti apa-apa karena usianya juga belum genap 3 tahun tetapi Dirga memahami setelah ini ia akan tinggal bersama dengan ayahnya juga tanpa terpisahkan.
Tangan Leon menjabat tangan papa Hendra dengan tegas. Hingga suara keduanya menggema di suasana yang sangat sepi.
"Saudara/ananda Leon Brawijaya bin Leo Brawijaya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Laura Syahputri dengan mas kawin 100 gram emas dan seperangkat alat sholat. Tunai..."
"Saya terima nikah dan kawinnya Laura Syahputri binti Hendra Prasetya dengan mas kawin yang tersebut tunai," ucap Leon dalam sekali tarikan nafas. Ada rasa lega saat Leon mengucapkan kata tersebut dengan lancar membuat semua orang yang berada di sana mengucap syukur.
"SAH."
"SAH," ucap tamu yang hadir di sana
"Alhamdulillah."
Laura mengecup tangan Leon dengan rasa haru, Leon merasa hatinya menghangat karena sekarang Laura dan Dirga sudah menjadi miliknya. Setelah itu bergantian Leon yang mengecup kening Laura dengan hikmat.
Tanpa mereka ketahui Zico menatap pernikahan mereka dengan nanar. Tangannya terkepal dengan sangat erat karena hatinya merasa sakit yang luar biasa. Seakan Zico ingin berteriak menggagalkan pernikahan mereka namun ia tidak bisa ada perusahaan yang menjadi taruhannya.
"Akhirnya kamu menjadi milik saya, Laura! Jangan pernah pergi lagi dari hidup saya!" bisik Leon membuat Laura tersipu malu.
******
Terlihat sepasang pengantin yang sangat bahagia di pelaminan bersama dengan anak mereka, siapa lagi jika bukan Leon dan Laura serta anak Laura yang bernama Dirga. Sejak tadi Leon tak pernah lepas dari menatap Laura takut wanita yang mrnjadi istrinya beberapa jam yang lalu kelelahan.
"Kamu capek, Sayang?" tanya Leon dengan perhatian.
Laura menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak kelelahan walau rasa pegal sudah ia rasakan. "Enggak, Mas. Aku bahagia pernikahan kita banyak yang menghadiri," ucap Laura dengan tersenyum.
"Mereka semua mau menyaksikan kebahagian kita," ucap Leon dengan lembut.
"Dirga gak mau sama nenek?" tanya Laura dengan lembut kepada anaknya yang sejak tadi menempel pada Leon.
"Dasar anak ayah," gumam Laura yang membuat Leon terkekeh.
"Jangan cemburu nanti malam saya milik kamu," bisik Leon membuat pipi Laura tersipu malu.
Leon melihat dua keponakannya datang menghampiri mereka terlihat Mentari bergelayut manja di lengan suaminya di saat mereka sudah sampai ke acara pernikahan Leon dan Laura yang digelar sangat meriah dan mewah. Banyak tamu undangan yang datang, tubuh Laura yang mungil tidak banyak yang tahu jika wanita itu sedang hamil.
"Kita ke sana," ucap Elang kepada istrinya. Semua keluarga menggunakan pakaian yang senada. Walau pernikahan Leon dilakukan dengan sangat cepat tetapi semua berjalan dengan baik seperti apa yang mereka inginkan.
Mentari mengangguk keduanya menghampiri kedua mempelai dengan tersenyum. "Selamat Om akhirnya Om menyusul juga," ucap Elang dengan tersenyum membuat Leon tersenyum samar.
"Terima kasih," balas Leon dengan tegas, tangannya menggenggam tangan Laura dengan erat. Digendongannya ada anak sambungnya yang terlihat sangat manja dengannya bahkan jika dilihat anak Laura sangat mirip dengan Leon daripada ayah kandungnya sendiri. Itu yang membuat Elang dan Mentari merasa heran.
"Hey Boy mau bermain bersama kak Elang?" tanya Elang dengan gemas.
"Ndak mau! Dilga mau cama ayah dan bunda aja," ucap Dirga dengan datar sama persis dengan apa yang Laura lakukan membuat Elang dan Mentari melongo.
Elang mendengus. "Anak sambung tapi kelakuan kayak om Leon," gumam Elang membuat Mentari terkekeh dan Leon menatap tajam keponakannya
"Selamat ya Om dan Tante. Nanti anak kita gak beda jauh umurnya pasti sering main bareng," ucap Mentari dengan terkekeh membuat Laura tersenyum hangat.
"Terima kasih ya," balas Laura singkat dengan senyuman di wajahnya.
"Dirga beneran gak mau ikut sama Kak Mentari banyak makanan loh di sana," rayu Mentari karena gemas dengan Dirga.
"Ndak mau. Cama ayah aja," ucap Dirga singkat membuat Mentari menghela nafasnya karena sangat susah mengajak Dirga jika sudah bersama dengan Leon.
Leon mengelus kepala anak sambungnya dengan lembut. "Kalian makan saja. Biar Dirga sama saya," ucap Leon membuat Elang dan Mentari akhirnya mengangguk setuju.
"Kami ke sana dulu Om," ucap Elang dan langsung membawa istrinya turun dari pelaminan.
"Pasti nih kelakuan Dirga nanti gak jauh dari Om Leon. Kaku, datar, galak. Semoga saja besarnya gak nurun ayah sambungnya nyicil anak sebelum menikah," dengus Elang dengan.
"Sabar Mas. Anak kita dengar ini, gak baik tahu," ucap Mentari mengelus lengan suaminya.
"Maaf Sayang. Habisnya kesal sih sama Om Leon yang kaku banget tapi kalau sama istrinya bucin," ucap Elang membuat Mentari terkekeh.
Kembali lagi dengan Leon. Pria itu sudah mengajak istrinya duduk di pelaminan saat Elang dan Mentari sudah pergi dari hadapan mereka. "Duduk ya, Sayang. Kasihan twins," ucap Leon dengan lembut.
Laura mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di bahu Leon. Menatap anaknya yang terlihat tenang di pangkuan Leon. Laura berpikir apa bisa nanti dirinya dan Leon berduaan karena sejak tadi Dirga tidak mau lepas dari Leon?
"Jangan berpikir macam-macam. Saya bisa mengatasi Dirga nanti," ucap Leon dengan tegas membuat Laura tersentak menatap ke arah suaminya dengan kedua pipi yang memerah.
"Mas kok tahu apa yang aku pikirkan saat ini?" tanya Laura dengan malu.
"Kita hanya beda raga, Sayang. Tapi hati kita sama! Sama-sama dapat merasakan cinta yang besar. Hati kita sudah sejalan, jadi jangan heran jika saya mengetahui isi hati kamu."
****
Part ini udah sejak malam aku up sekitar jam 7 malam tapi masih review aja. Gagal double up. Mudah-mudahan pagi ini cepat.
Ya Allah keselll๐๐๐
Ayo mampir ke pernikahan Leon dan Laura. Kadonya bawa like, vote, komentar dan favoritkan cerita ini ya.