
...Happy reading...
****
Saat ini Dirga sudah pindah ke apartemen miliknya ia memboyong sang istri untuk tinggal berdua saja dengannya. Walaupun Vera mempunyai rumah sendiri Dirga tak mau tinggal di rumah milik istrinya, sebagai lelaki Dirga lah yang harus memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk istrinya apalagi saat ini Vera tengah hamil muda.
Dirga mengambil cuti kuliah seminggu agar ia bisa berduaan dengan Vera apalagi mereka masih pengantin baru yang seharusnya masih berbulan madu tetapi karena Dirga masih kuliah dan Vera hamil muda maka untuk bulan madu ditiadakan bagi mereka sampai keduanya mempunyai waktu yang tepat.
"Sayang kamu ngapain?" tanya Dirga saat ia baru saja pulang dari joging di taman.
"Buat sarapan untuk kita, Mas!" jawab Vera dengan tersenyum melihat ke arah Dirga.
Vera menelan ludahnya saat melihat Dirga yang sangat seksi sekali ketika sedang berkeringat seperti ini.
"Jangan masak! Biar Mas saja!" ucap Dirga dengan posesif.
Dirga mendekat ke arah Vera. Ia mengambil ahli pisau yang berada di tangan sang istri dan memotong wortel. Semenjak hamil Vera sangat menyukai wortel dan brokoli membuat Dirga terbiasa dengan makanan itu yang lebih sering di masak.
Vera memeluk Dirga dari belakang yang membuat Dirga menghentikan kegiatannya. "Sayang, aku masih keringatan ini," ucap Dirga dengan mengelus tangan Vera dengan lembut.
"Mau keringatan pun kamu tetap wangi, Mas!" ucap Vera dengan mesra.
"Jangan mancing-mancing aku, Sayang. Ini masih pagi," ucap Dirga dengan serak saat tangan Vera masuk ke dalam kaos oblongnya dan mengelus perutnya dengan perlahan.
Vera hanya diam ia menikmati apa yang sedang ia lakukan sekarang. Tangannya terus aktif ke bawah dan masuk ke celana Dirga.
"Sayang, aku suka waktu dia jenguk baby," ucap Vera dengan sensual.
Shitt....
Dirga membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Vera. "Jangan salahkan aku jika kembali membuat kamu lemas," ucap Dirga dengan serak.
Dirga menaikkan Vera di meja pantry, ia mulai mencumbu istrinya dengan mesra. Suara desah*n dari Vera semakin membuat Dirga terbakar gairah.
"Shitt... Kamu tidak memakai Br* dan celana d*l*m, Sayang!" ucap Dirga yang merasakan kedua tempat favoritnya tidak ada pembungkus.
Vera menggigit bibir bawahnya saat kedua tangan Dirga aktif menyentuh bukit kembarnya dan goa lembabnya. "Ahhh... R-ribet Mas. Di apartemen ini cuma kita berdua jadi aku tidak perlu susah-susah memakainya," ucap Vera dengan wajah yang merah padam.
Mendengar jawaban Vera Dirga semakin aktif menggerakkan tangannya maju mundur di goa lemban Vera. Juniornya ikut memegang kala suara desah*n dan rintihan nikmat Vera semakin terdengar keras. "Mas, aku mau pipis," ucap Vera dengan lirih.
"Jangan ditahan, Sayang!" ucap Dirga dengan serak.
Tak berselang lama tubuh Vera bergetar dengan dada membusung sempurna membuat Dirga leluasa melahap tempat favoritnya yang puncaknya sudah menegang sempurna.
"Ahhh...." keduanya mendesah enak saat Dirga kembali memasuki Vera dengam sekali hentakkan.
"Apa Baby brokoli suka dijenguk di sini? Dia lebih menyukai dapur?" tanya Dirga dengan terkekeh.
Vera tersenyum. "Yeah... Lebih tertantang bercinta di dapur, Mas. Sepertinya Baby brokoli sangat menyukainya. Apa nanti dia akan menjadi chef?" jawab Vera dengan geli.
"Apapun pekerjaannya asal dia menjadi orang baik dan bisa menjaga ibunya aku tidak masalah, Sayang!" ucap Dirga dengan tersenyum.
"Ouhhh....Lebih dalam aku mohon Mas!" pinta Vera dengan manja.
"Mas tidak ingin menyakiti baby brokoli, Sayang," ucap Dirga dengan pelan yang membuat Vera terenyuh, dia hampir lupa jika sedang mengandung karena nikmat yang ia rasakan.
"Maafkan Mama, Sayang. Mama lupa sudah ada kamu di dalam perut Mama," ucap Vera dengan mengelus perutnya.
"Kita lanjutkan di kamar, Sayang. Agar baby brokoli merasa nyaman," ucap Dirga menggendong Vera tanpa melepas penyatuan mereka dan melupakan rasa lapar yang tadi sudah mereka rasakan.
*****
Cut mengompres dahi sang suami yang terasa sangat panas. Akhir-akhir ini Ihsan terus mengeluh sakit kepala yang membuat Cut khawatir melihat sang suami kesakitan.
"Abang kita ke dokter ya," ucap Cut dengan cemas.
Ihsan yang tadinya memejamkan mata kini perlahan mulai terbuka dan menatap istrinya dengan tersenyum tipis. "Obat yang kemarin Abang beli masih ada, Sayang. Tidak usah khawatir Abang hanya sakit kepala biasa," ucap Ihsan mencoba menenangkan sang istri.
Ihsan mempunyai penyakit Vertigo sewaktu kuliah dan sudah dinyatakan sembuh sejak lama tetapi sepertinya penyakit itu kembali muncul sekarang yang membuat Ihsan tidak bisa menahan rasa pusing pada kepalanya. Ihsan yang tidak ingin Cut khawatir kepadanya sengaja menyembunyikan penyakitnya dari Cut, ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Cut dan kandungannya karena kandungan sang istri yang lemah.
"Sstttt..." Ihsan mengerang perlahan saat ia mencoba menggerakkan kepalanya walau hanya perlahan tetapi terasa sangat sakit.
"Abang mau apa? Jangan banyak bergerak dulu biar Cut saja yang mengambilkannya," ucap Cut dengan khawatir.
"Abang cuma mau tidur dipangkuanmu, Sayang!" jawab Ihsan dengan jujur.
Perlahan dengan menahan rasa sakit pada kepalanya Ihsan mulai membaringkan kepalanya di paha sang istri dengan wajah menghadap ke arah perut Cut yang sudah membesar. Ihsan mengelus perut Cut dengan lembut dan menciumnya. "Anak ayah sehat-sehat di dalam sana ya. Ayah sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu, kalau sudah besar nanti tolong jaga bunda kamu dengan baik ya," ucap Ihsan dengam tersenyum.
"Pasti, Ayah. Kita akan hidup bahagia bersama," ucap Cut menirukan suara anak kecil yang membuat Ihsan sedikit merasa terhibur dan melupakan rasa sakit yang ia rasakan.
"Sepertinya Ayah langsung sembuh setelah mengobrol dengan kamu, Nak," ucap Ihsan dengan tersenyum walaupun ia harus berbohong agar Cut tidak semakin cemas dengan keadaannya yang sakit dan tidak bisa melakukan aktivitas apapun untuk sekarang.
Cut memijat kepala sang suami dengan perlahan. Ihsan yang merasa pijatan sang istri sangat enak meminta Cut untuk memijatnya sampai dirinya tidur.
"Pijat terus ya Sayang sampai Abang tidur baru kamu boleh menghentikannya," pinta Ihsan dengan manja.
"Iya, Bang. Cepat sembuh Sayang," ucap Cut dengan lirih.
Entahlah perasaan Cut menjadi sangat gundah ketika melihat Ihsan sakit. Ia tidak tega melihat suaminya merasakan pusing yang hebat bahkan tadi Ihsan hampir jatuh di dalam kamar mandi jika tidak dengan sigap Cut menolongnya walau dengan keadaan hamil yang membuat geraknya terbatas.