
...Happy reading...
******
Setelah malam itu, Leon benar-benar kehilangan jejak Laura. Ia semakin frustasi karena memikirkan Laura dan Dirga yang entah kemana. Kantung mata berwarna hitam sangat jelas terlihat di bawah mata Leon karena sudah sejak dua hari ia tidak bisa tidur mencari keberadaan Laura maupun Dirga.
Penampilan Leon yang biasanya terlihat sangat rapi kini sangat berantakan, baru dua hari ditinggal Laura dan Dirga, Leon sudah seperti ini. Apa jadinya jika Laura tidak ketemu sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, mungkin Leon sudah merasa menjadi mayat hidup. Bahkan, lelaki itu sampai tidak berselera makan sama sekali, semua makanan yang masuk ke mulutnya terasa hambar.
Saera masuk ke kamar anaknya yang terlihat berantakan sekali. Tidak seperti biasanya yang terlihat rapi dan wangi, asap rokok tercium di indra penciumannya membuat Saera terbatuk karena tidak bisa menghirup bau rokok yang sangat menyengat. Dengan cepat Saera membuka jendela kamar anaknya, di sana terlihat Leon yang masih terbaring di kasur dengan keadaan berantakan. lelaki itu baru saja tidur subuh tadi karena terus mencari keberadaan Laura bahkan Leon sudah mengerahkan orang suruhannya seperti ia mengerahkan orang suruhannya untuk mencari keberadaan Mentari beberapa waktu lalu. Namun, hasilnya masih nihil Laura dan Dirga belum ditemukan sampai sekarang.
Saera menghampiri anaknya. Leon membuka matanya karena dirinya memang tidak bisa tidur dengan nyenyak. Mendengar suara sedikit saja Leon lamgsung terbangun. "Sejak kapan kamu merokok, Leon?" tanya Saera dengan menghela napasnya. Ia mengusap rambut anaknya yang terlihat lepek tidak seperti biasanya. Saat ini Leon malas sekali untuk mengurus diri yang ada di pikirannya hanya Laura, Dirga, dan calon anaknya. Apakah mereka baik-baik saja?
"Leon pusing, Bun! Sudah jam berapa?" tanya Leon dengan lirih. Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan sang bunda yang jelas ia sudah merokok sejak semalam. Bahkan, Leon menghabiskan satu bungkus rokok dalam semalam.
"Bunda tidak suka kamu seperti ini, Leon! Walaupun kamu sedang patah hati jangan sampai merusak kesehatanmu sendiri..." tegur Saera dengan lembut. Lalu ia melihat jam dinding yang berada di kamar Leon. "Sudah jam 9 pagi. Ayo sarapan sejak kemarin Bunda tidak melihat kamu makan dan ini waktu sarapanmu juga sudah telat, kan?!" ujar Saera dengan tegas.
"Leon hanya mencobanya sedikit, Bun. Leon sama sekali tidak berselera makan. Leon akan mandi dan ke rumah kak Ulan saja," ucap Leon yang beranjak dari tempat tidurnya.
Leon menghentikan langkahnya saat Saera kembali berbicara. "Jangan buat ayah kamu semakin sakit, Leon. Dia sudah tua, dan sangat butuh perhatian dari kita. Bunda harap kamu bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat," ucap Saera dengan lembut yang diangguki oleh Leon.
"Maafkan kesalahan Leon, Bun. Semua ini Leon lakukan agar Laura tidak bisa pergi dari Leon," ucap Leon dengan lirih.
"Kamu sama saja seperti ayahmu! Mandi'lah dan segera ke rumah kakakmu. Mungkin Alan bisa membantu," ucap Saera dengan prihatin.
Saera baru kali ini melihat sang anak begitu mencintai perempuan hingga sampai menghamilinya. Walaupun pilihan Leon adalah janda muda, apapun keputusan anaknya Saera akan tetap mendukung karena mengingat kisah cintanya dengan Leo juga tak semulus yang dibayangkan, sangat sulit menjadi istri kedua yang tak dianggap oleh suaminya.
"Semoga Laura dan Dirga cepat ditemukan! Aku tidak sanggup melihat anakku seperti mayat hidup," ucap Saera dengan bergumam.
****
Saat ini Leon sudah berada di rumah sang kakak. Ia menatap sang kakak ipar dengan frustasi, ia juga menarik napas dengan kasar membuat Alan sedikit bingung dengan adik iparnya tersebut.
"Ada apa, Leon?" tanya Alan dengan bingung. Sekali lagi Leon menarik napasnya yang terasa sangat berat.
"Laura dan Dirga hilang, Mas! Leon gak tahu harus mencari mereka dimana. Bahkan CCTV yang Leon pasang di rumah Laura secara diam-diam tidak berfungsi sama sekali," ucap Leon menjelaskan.
Alan yang mendengarnya merasa iba, ia menepuk pundak sang adik dengan pelan. "Sebenarnya kamu cinta tidak sama Laura? Mengapa seakan dia tidak bisa menerima kamu? Apa kamu membuat kesalahan padanya?" tanya Alan dengan serius menatap Leon yang tampak sekali frustasi.
"Leon sama sekali tidak membuat kesalahan kepadanya, Mas. Hanya saja dia masih trauma dengan pernikahan sebelumnya. Leon terlalu memaksa Laura menerima Leon hingga Laura hamil anak Leon. Apa Leon salah sangat mencintai Laura?" ujar Leon yang membuat Alan yang mendengarnya syok. Baru kali ini ia melihat Leon sangat frustasi sekali.
"Tidak ada yang salah. Hanya saja tindakanmu yang terlalu berani," ucap Alan dengan tegas dan Leon tahu itu.
Tak jauh dari mereka Elang dan Mentari baru saja turun. Ia melihat Leon dengan tatapan bingung karena om-nya tersebut terlihat sangat frustasi.
"Biasa. Ditinggal kabur sama cewek saat lagi sayang-sayangnya," ucap Alan dengan mengejek.
"Mas! Kali ini bantu Leon untuk mencari keberadaan, Laura. Please... Leon ingin menikah dengan dia," ucap Leon dengan frustasi karena sudah dua hari ini Laura pergi tanpa kabar padahal mereka masih baik-baik saja dan wanita itu mulai bisa menerimanya bahkan sudah sangat manja dengan Leon.
"Kamu itu jadi lelaki yang tegas. Kalau cinta ya bilang cinta jangan membuat Laura takut dan memilih pergi dari kamu," ucap Ulan yang baru saja datang dari dapur dengan membawa minum untuk suami dan adiknya.
"Kak Ulan sama saja seperti ayah dan bunda. Laura berbeda, dia wanita satu-satunya yang sama sekali tidak tertarik dengan Leon. Lalu Leon harus bagaimana lagi membuat Laura mau menerima Leon?" ucap Leon frustasi.
Elang menatap iba pada Leon. Baru kali ini ia melihat Leon sangat mencintai perempuan dengan sangat dalam. Tetapi sekarang dirinya hendak pergi menemui Dimas membuat Elang tidak bisa membantu om-nya tersebut.
"Om semangat. Kalau kak Laura jodohnya Om Leon pasti kembali kepada Om Leon. Saran Mentari Om jangan kaku sama perempuan, makanya tuh kak Laura pergi," ucap Mentari dengan spontan membuat Alan, Ulan serta Elang ingin ketawa karena benar apa yang dikatakan Mentari. Tetapi mereka tidak tahu jika Leon berubah sangat buas ketika sedang bersama dengan Laura bahkan lelaki itu lebih banyak bicara.
Leon hanya diam membuat Mentari merasa bersalah. Leon tahu sifat Mentari yang sangat cerewet bahkan ketika dirinya pernah mengantar Mentari ke kantor Elang, gadis itu selalu saja membuatnya kesal.
"Mas akan membantumu. Semua orang suruhan Mas akan Mas hubungi untuk mencari keberadaaan Laura," ucap Alan yang membuat Leon mengangguk.
"Dan mintalah bantuan Akbar juga. Mungkin dia bisa membantumu mencari Laura. Mas lama-lama prihatin jika kamu seperti ini terus menerus akan menjadi gila beneran," ujar Alan yang mendapat cubitan dari sang istri tercinta setelah Elang dan Mentari pergi untuk menemui Dimas yang sedang berada di penjara.
Kemana kamu Laura?
Leon benar-benar frustasi sekarang! Mungkin sebentar lagi akan menjadi gila seperti yang dikatakan oleh Alan tadi.
****
Seorang wanita duduk termenung di sudut kamarnya dengan meneteskan air mata. Suasana gelap membuatnya menjadi tenang ketika ia merindukan seseorang. Wanita tersebut menyeka air matanya dengan kasar, ia ingin pulang tetapi ia takut. Wanita itu mengelus perut ratanya dengan lembut, seakan meminta kekuatan kepada sang anak yang masih berada di dalam perutnya. Ternyata rindu itu sangat menyiksa.
"Aku ingin pulang. Hiks...hiks." gumaman itu terus ia ucapkan ketika semua orang yang berada di dalam rumah itu sudah tertidur dengan nyenyak.
***
Udah lama gak main tebak-tebakanπππ
Hayo Laura ada dimana nih?
Ramein gak nih?
Udah bela-belain double up untuk kalian. Jangan sampai kecewain author kalau gak rame part iniπππ
Ramein lagi dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!