
...Hey-hey aku update lagi nih. Kalau rame bakal update update lagi malam. Buruan ramein dengan like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya! Jangan lupa juga baca cerita aku "Cinta Sempurna Sang Gadis Gendut!"...
...Happy reading...
****
Cut menatap dirinya di cermin. Pakaian simple dengan hijab berwarna pastel dan baju yang senada serta rok berwarna hitam membalut tubuhnya yang cantik. Cut tak menyangka jika 100 hari mengejar cinta Dio akan secepat ini dan hari ini adalah keputusan terakhir yang Cut berikan kepada Dio. Sebuah keputusan yang akan menentukan masa depan Cut nantinya, ia berharap Dio akan menerimanya cintanya walau di hati Dio hanya menyimpan cinta untuk Cut sedikit saja, bagi Cut tak masalah. Ini juga sebuah keputusan akhir yang Cut menerima lamaran Ihsan atau tidak.
Dengan tersenyum tipis Cut mengambil kunci mobilnya dan keluar dari kamarnya dengan perasaan yang tak menentu.
"Mau kemana kok sudah rapi?" tanya Saera menatap cucunya.
Cut tersenyum tipis. "Mau ketemu bang Dio, Nek. Cut pergi dulu ya, Nek! Nenek langsung istirahat saja tidak usah menunggu Cut pulang," ucap Cut dengan lembut.
Saera menghela napasnya dengan berat. Semenjak Ihsan melamar Cut, ia lebih yakin menitipkan Cut pada Ihsan yang lebih bertangungjawab. Ihsan sangat mirip dengan menantunya, membuat Saera lebih yakin jika Ihsan bisa menjadi suami yang baik untuk Cut. Tetapi semua keputusan ada di tangan Cut karena semua yang menjalani adalah Cut, ia hanya bisa menerima keputusan Cut nantinya.
"Jangan terlalu malam pulangnya ya, Cut!" ucap Saera dengan lembut.
"Iya, Nek. Assalamualaikum!" salam Cut dengan lembut.
"Wa'alaikumussalam!" Saera tersenyum lembut. "Hati-hati bawa mobilnya!"
"Iya, Nek."
*****
Cut menghentikan mobilnya setelah sampai di taman. Ia membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil dengan perlahan, taman ini sangat indah dan sangat cocok untuk sepasang kekasih menghabiskan waktu berdua di sini. Cut menatap sekelilingnya yang terlihat lumayan ramai, ia mencari duduk untuk menunggu kedatangan Dio. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk Dio datang ke taman ini. Cut tersenyum saat melihat sepasang muda mudi yang sedang bercanda berdua, ia menjadi membayangkan dirinya dan Dio sedang bercanda seperti itu. Namun, nyatanya selama bertahun-tahun ia mengenal Dio, lelaki itu tidak pernah bercanda kepadanya bahkan terkesan dingin dan datar kepadanya setiap kali mereka bertemu.
"Bang Dio kok lama banget ya?" tanya Cut pada dirinya sendiri. Hawa dingin sudah menusuk kulitnya hingga Cut mengusap lengannya untuk mendapatkan kehangatan.
"Mau hujan lagi," gumam Cut dengan lirih saat ia mendengar gemuruh.
Cut mengambil ponselnya. Ia mencoba menghubungi Dio tetapi ponsel lelaki itu sama sekali tidak bisa dihubungi. Cut mencoba berpikir positif, pasti Dio tak akan melupakan pertemuan mereka malam ini. Cut terus menunggu dengan sabar hingga waktu terus berjalan.
"Aku yakin abang akan datang!" gumam Cut dengan sedih.
****
Sedangkan Dio, pria itu berada di rumah Ratu karena gadis itu sedang sakit. Ia sangat khawatir dengan keadaan Ratu sampai ia melupakan ponselnya yang mati dan Dio sama sekali tidak membawanya, ia melupakan perkataan Cut yang ingin bertemu dengannya jam 8 malam ini.
"Danu mana?" tanya Dio dengan dingin.
"Dia lagi ada tugas di luar kota," jawab Ratu dengan lirih.
"Sebenarnya Danu itu pacar lo apa bukan sih?" tanya Dio dengan sinis.
"Tapi di saat seperti ini Danu gak ada di samping lo. Apa itu yang dinamakan pacar hmm?" tanya Dio dengan sengit.
"Kan masih ada lo sebagai sahabat gue!" ucap Ratu dengan enteng. "Lo akan datang di saat gue butuh, kan?" tanya Ratu dengan menautkan kedua alisnya.
Dio mengusap wajahnya dengan kasar. "Iya gue datang karena lo sahabat gue! Tapi kalau seperti ini terus menerus gue seperti dimanfaatkan sama lo!" ucap Dio dengan sarkas.
"Lo mulai perhitungan sama gue?" tanya Ratu dengan sengit.
"Sudahlah! Gue gak mau berdebat sama lo! Sekarang lo istirahat aja!" ucap Dio melunak.
Ratu tersenyum. Sampai kapan pun ia tetap akan menang dari Dio karena ia tahu Dio memiliki rasa untuknya dan Ratu akan memanfaatkan itu untuk mengusir kesepiannya karena Danu disibukkan dengan pekerjaannya bahkan ia bisa memeras uang Dio dengan sangat mudah untuk memenuhi kehidupan mewahnya.
Dirinya sangat jahat bukan? Tetapi itulah kenyataannya karena menurutnya di dunia ini tidak ada persahabatan yang tulus.
Cuaca yang tadinya mendung kini mulai turun hujan disertai petir membuat Dio menjadi gelisah, ia berjalan ke arah jendela dan menatap ke arah luar. Hujan turun dengan sangat lebat tak mungkin Cut datang ke taman, kan? Entah mengapa ia menjadi gelisah memikirkan Cut tetapi tak mungkin Dio meninggalkan Ratu sseorang diri walaupun di rumah ini ada pembantu dan kedua orang tua Ratu tetapi entah mengapa ia sangat berat meninggalkan Ratu seorang diri. Dio tak sadar jika keputusannya itu membuat dirinya tidak akan bisa bertemu dengan Cut dan akan kehilangan seseorang yang benar-benar tulus mencintainya, egonya mengalahkan hati nuraninya yang mungkin demi sedikit sudah mencintai Cut hanya saja Dio belum sadar akan perasaannya sendiri.
****
Tubuh Cut sudah menggigil kedinginan, pakaiannya sudah basah kuyup karena kehujanan. Sudah satu jam ia menunggu Dio tapi lelaki itu tak kunjung datang. Lagi dan lagi harapannya dipatahkan dengan sangat mudah oleh Dio. Dalam hujan baru kali ini Cut menangis meratapi nasibnya, sungguh ia sangat bodoh mengejar cinta seseorang yang tak mencintainya.
Cut menatap ke atas saat tidak merasakan hujan yang membasahi tubuhnya kembali. "B-bang Ihsan," gumam Cut dengan lirih saat melihat Ihsan memayunginya bahkan lelaki itu rela basah kuyup demi memayunginya.
"Maaf Abang terlambat datang. Kamu jadi kehujanan gini, sekarang kita pulang ya!" ucap Ihsan sedikit berteriak agar Cut mendengar ucapannya.
"T-tapi..."
"Lelaki itu tidak akan datang, Cut. Sekarang kita pulang ya! Jangan menjadi lemah hanya karena Dio! Masih ada Abang di sini!" ucap Ihsan dengan tegas.
Dengan menggigil Cut berusaha bangun dari duduknya. Ia terus menatap Ihsan dengan dalam, hatinya menghangat saat melihat Ihsan yang selalu berada di sisinya. Lelaki ini selalu bisa diandalkan.
"Bang!" panggil Cut dengan lirih.
"Masuk ke mobil dulu!" ucap Ihsan dengan tegas.
Cut menggeleng. Ia menghalangi jalan Ihsan membuat lelaki itu menatap Cut dengan bingung. "Cut di sini hujan deras, kamu pasti kedinginan ayo kita masuk ke dalam mobil. Abang gak mau kamu jatuh sakit!" ucap Ihsan dengan cemas.
"Aku menerima lamaran Abang. Bantu aku buat mencintai Abang seutuhnya dan melupakan bang Dio! Aku tidak ingin menjadi wanita yang bodoh lagi hanya karena mengejar cinta seseorang yang sama sekali tidak mencintaiku," ucap Cut dengan tegas.
Ihsan mematung mendengar ucapan Cut kepadanya. Ada ribuan kupu-kupu yang menari di perutnya sekarang.
"Kamu serius?"