
...Maaf ya akhir-akhir ini aku update tidak sesuai jadwal karena sibuk di real life dan juga sakit. Mohon di maklumi ya🙏😔...
...Happy reading...
*****
Jam sudah menunjukkan 2 dini hari tetapi Vera sama sekali tidak bisa tidur kembali karena merasakan perutnya yang sudah mulai sakit sejak sejam yang lalu.
Vera tidak berani membangunkan Dirga yang tertidur pulas karena suaminya itu baru saja tertidur jam 12 malam karena mengerjakan tugas kuliah. Berulang kali Vera menghembuskan napasnya dengan perlahan karena kontraksi yang Vera rasakan, ia bersandar di kepala ranjang dengan mengelus perutnya.
Dirga yang merasakan gerakan sang istri langsung membuka matanya walau terasa sangat berat. Dilihatnya Vera tak lagi tidur membuat Dirga langsung ikut bersandar menatap sang istri yang sudah menahan rasa sakit pada perutnya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Dirga dengan lembut. Ia mencium perut Vera dengan sayang dan ikut mengelus perut bulat sang istri.
"Sepertinya aku mau melahirkan Mas," jawab Vera dengan lirih.
Diam...
Dirga seakan menjadi linglung sekarang mencerna kata-kata sang istri. "Coba kamu ulangi sekali lagi ucapan kamu barusan, Sayang!" pinta Dirga dengan menatap Vera dengan bingung.
"Aku mau melahirkan, Mas!" ucap Vera dengan penuh penekanan.
"M-melahirkan?" ulang Dirga dengan terbata.
"K-kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Dirga dengan panik.
Saat ini keduanya tinggal bersama dengan Leon dan Laura agar memudahkan keduanya untuk menghadapi persalinan Vera ketika didampingi kedua orang tua mereka.
Entah mengapa Dirga menjadi bodoh sekarang, ia terlalu panik melihat sang istri yang kesakitan sedangkan Vera terlihat santai ketika melihat Dirga yang uring-uringan tidak jelas.
"Sayang, dimana tas perlengkapan bayi?" tanya Dirga yang bingung mencari tas perlengkapan bayi yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Padahal tas itu Dirga lah yang meletakkan di dalam lemari. Panik membuat Dirga lupa semuanya.
"Ada di lemari bagian atas Mas!" jawab Vera dengan tenang.
"Astaga kenapa aku bisa lupa sih?" kesal Dirga mengambil Tas tersebut.
"Kunci mobil mana?" tanya Dirga dengan panik. Keringat dingin muncul di dahi Dirga sekarang membuat Vera yang melihatnya menjadi menggelengkan kepalanya.
"Sudah kamu pegang, Mas!" sahut Vera sedikit kesal.
Dirga mendesah dengan kasar kala ia merasa tidak memegang kunci mobil namun ternyata kunci tersebut sudah berada di tangannya.
"Ayo kita berangkat!" ucap Dirga dengan panik.
"Tenang, Mas! Jangan sepanik itu, aku tidak apa-apa. Kata dokter semua baik-baik saja dan aku bisa melahirkan normal, sakitnya juga belum intens banget, tunggu pagi saja kita berangkat. Aku takut kamu bawa mobil dengan keadaan panik seperti ini. Sekarang bantu aku jalan saja Mas. Jangan bangunkan bunda dan ayah dulu kasihan mereka Mas," ucap Vera dengan tenang walau wajahnya sudah terlihat pucat.
"Kita ke rumah sakit sekarang saja, Sayang. Kamu kesakitan dan aku tidak tega melihatnya. Apa twins begitu tidak sabaran?" ujar Dirga dengan panik.
"Mas tenangkan diri kamu dulu. Kalau kamu panik, aku dan twins juga ikut panik, sebentar lagi juga pagi, tunggu terang dulu baru kita pergi ke rumah sakit!" ucap Vera dengan tegas.
Akhirnya Dirga menurut walau dirinya masih diserang rasa panik. Ia membantu Vera berjalan di kamar, setelah lelah Dirga memijit pinggang istrinya yang terasa sangat pegal hingga tidak terasa pagi menjelang dan sakit yang Vera rasakan mulai intens. Dirga dengan panik memanggilkan ayah dan bundanya hingga Laura dan Leon panik bahkan kedua anak kembar mereka ikut berlari ke arah kamar Dirga dan Vera.
"Astaga Dirga apa yang terjadi?" tanya Laura dengan panik.
"Bun, Vera mau melahirkan tapi mas Dirga buat panik Vera," adu Vera dengan menahan rasa sakit pada perutnya yang semakin menjadi.
"Iya, Sayang. Sekarang kita ke rumah sakit ya," ucap Laura berusaha tenang agar menantunya tidak panik seperti Dirga.
"Ayah yang bawa mobil ya. Bunda takut kalau Dirga yang membawa mobil dalam keadaan panik seperti ini, lihatlah tingkahnya membuat kita sakit kepala saja!" ucap Laura kepada sang suami.
Sedangkan Dirga yang menjadi sasaran empuk keluarganya tidak peduli apapun. Ia sedang sibuk mengelus perut istrinya dan berbisik kepada kedua anaknya agar bersabar jika ingin keluar.
"Ayo kita ke rumah sakit! Aku takut twins keluar di sini," ucap Dirga dengan panik.
"Astaga Dirga!" geram Laura dan Vera hanya bisa meringis melihat tingkah suaminya yang sangat konyol bahkan Vina dan Vino antara ingin ketawa dan kasihan terhadap Vera.
*****
"Ayo Bu tarik napas dan hembuskan dengan perlahan!" titah dokter kepada Vera yang sedang berjuang melahirkan kedua anaknya ke dunia.
Sedangkan Dirga tidak henti-hentinya memberikan semangat kepada sang istri. Ia sadar kepanikannya membuat Vera menjadi takut, ia menekan rasa paniknya dengan memberikan kecupan kasih sayang kepada Vera dan berbisik lirih kepada ratu yang bertahta di hatinya.
"Ayo, Sayang! Kamu bisa, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Inilah waktu yang sudah sangat kita tunggu," bisik Dirga dengan lirih.
Vera mengangguk dengan lirih, ia mencekeram tangan Dirga Dengan kuat dan mengejan kembali. Rasa sakitnya tidak sebanding dengan kebahagiaannya nanti, Vera mensugesti dirinya agar rasa sakit yang ia rasakan tidak membuat dirinya menyerah hingga suara tangis bayi di dalam ruangan tersebut membuat Vera tersenyum bahagia begitu pun dengan Dirga, matanya berkaca-kaca melihat sang anak yang masih berlumuran darah.
"Dia sudah lahir," bisik Dirga di telinga Vera.
"Hiks...Iya Mas," ucap Vera dengan menangis lirih.
"Satu lagi, Bu. Kepalanya sudah kelihatan," ucap Dokter dengan lembut.
Vera kembali dilanda rasa sakit yang luar biasa saat kontraksi kembali datang. Ia kembali mengejan sesuai perintah dokter hingga tak lama anak kedua mereka lahir.
"Dok, anak kedua saya kok tidak menangis?" tanya Dirga dengan panik.
"Kenapa anak saya, Dok?" tanya Vera dengan cemas.
"Mas,"ucap Vera dengan takut saat dokter tidak menjawab pertanyaan mereka. Para dokter dan suster sibuk menangani sang bayi yang sama sekali tidak menangis hingga terjadi ketegangan di ruang persalinan tersebut bahkan Vera sudah menangis melihat kondisi anaknya. Vera tidak ingin kehilangan anaknya, ia tidak akan sanggup. Hingga suara tangis anak keduanya membuat semua orang yang berada di dalam merasa lega.
"Alhamdulillah. Semua baik-baik saja," ucap dokter dengan lega.
"Hiks...alhamdulillah!" ucap Vera dan Dirga bersamaan. Keduanya sudah sangat takut sekali jika harus kehilangan salah satu anak kembar mereka.
"Ada luka robekan pada milik Ibu dan saya harus menjahitnya. Tahan sebentar ya Bu," ucap dokter setelah memberikan anak Dirga dan Vera kepada perawat.
Vera kembali mencekeram tangan sang suami ketika miliknya dijahit. Dirga yang melihatnya merasa ngilu sendiri tempat favoritnya robek karena melahirkan kedua anak kembar mereka.
Rasa sakit yang semua Vera rasakan saat ini tidak sebanding dengan rasa bahagia di dalam hatinya melihat wajah kedua anak kembarnya yang sudah sangat ia nantikan sejak dulu. Wajah bahagia Dirga membuat Vera lupa akan rasa sakit yang ia rasakan sendiri.