Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~83 (Terungkap)



...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...


...Happy reading...


***


Dengan tangan gemetar Cut tak sengaja menjatuhkan bingkai foto Ihsan yang ia lihat. Kepalanya menjadi sangat pusing hingga Cut menemukan foto pernikahan seorang lelaki dengan perempuan yang sangat mirip dengannya.


"D-dia siapa?"


Tubuh Cut terhuyung ke belakang saat rasa sakit mendera kepalanya. ia mencoba membuka matanya saat ia merasa ada yang menopang tubuhnya. Dio menatap istrinya dengan sangat cemas karena Dio baru saja pulang dan mendengar suara benda terjatuh dari dalam gudang, niat Dio ingin menyusul Cut di dapur setelah ia bermain dengan Mashita sebentar dan ternyata ia mendapati Cut berada di gudang dengan memegang foto pernikahan Cut dengan Ihsan.


Dio menelan ludahnya dengan kasar takut jika sang istri sudah mengetahui semuanya dan membencinya. Apalagi sampai terjadi sesuatu dengan kandungan Cut maka Dio tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


"S-sayang kamu ngapain di sini? Abang kan sudah bilang gudang ini sangat kotor banyak debunya," ucap Dio mencoba biasa saja.


Cut terdiam. "Jelasin ini siapa? Kenapa aku ada di foto ini bersama dengan lelaki lain? Bahkan aku sama sekali gak kenal lelaki ini! Pasti ada yang Abang sembunyikan dariku, kan? Aku merasa familiar dengan wajahnya tapi aku gak bisa mengingat siapa dia," ujar Cut dengan tajam.


"K-kita keluar dulu dari sini ya. Debu gak baik untuk kesehatan anak kita," ucap Dio berusaha sabar saat tatapan sang istri sudah tidak bersahabat.


Cut terdiam. Ia mencoba mengingat siapa lelaki yang ada di foto bersama dengam dirinya. Ia dan lelaki itu menikah, apa ia adalah istri dari lelaki yang ada di foto itu? Tapi Dio? Dio adalah suaminya tak mungki dirinya mempunyai dua suami.


"Arrghhh..." Cut mengerang kesakitan saat sekilas ingatannya menguasai otaknya yang membuat Cut merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya hingga wajahnya terlihat pucat.


Dio panik, ia langsung menggendong Cut ke kamarnya. Cut memegangi perutnya yang terasa kram.


"S-sayang jangan berpikir sesuatu yang membuatmu seperti ini ya," ucap Dio dengan pelan.


"A-abang tidak mau terjadi sesuatu terhadap kamu dan kedua anak kita," ujar Dio dengan sangat cemas.


Demi Tuhan! Dio sangat takut terjadi sesuatu dengan Cut karena kecerobohannya sekarang.


"Jelasin dia siapa? Kenapa kami foto pakai baju pengantin? Dia suamiku, kan? Kami sudah menikah? Tapi kenapa aku sama sekali gak mengingatnya!" teriak Cut dengan histeris. Ia frustrasi karena tidak bisa mengingat semuanya tentang lelaki yang berada di foto itu.


Cut memukul kepalanya supaya mengingat lelaki yang bersamanya di dalam foto memakai baju pengantin dengan tersenyum bahagia. "Hiks...hikss... Sebenarnya dia siapa? Kenapa otakku sama sekali tidak bisa mengingatnya? Apa yang terjadi kepadaku?" teriak Cut dengan histeris.


Dio memeluk istrinya dengan erat. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi istrinya sekarang. "Jangan sakiti dirimu sendiri, Sayang! Please kamu baru saja sembuh," ujar Dio dengan pelan tak tega melihat Cut yang berusaha mengingat Ihsan tetapi sama sekali tidak bisa mengingat lelaki itu.


"Aku gak akan seperti ini kalau Abang jujur dia itu siapa? Ini benar-benar sangat menyiksaku hiks.... Dari awal aku merasa ada yang disembunyikan Abang ke aku dan ternyata benar gudang itu penuh foto-foto lelaki itu yang sama sekali gak aku kenal tapi kami terlihat sangat bahagia bahkan lelaki itu dengan tersenyum berfoto bersamaku dan Mashita! DIA SIAPA? KATAKAN DENGAN JUJUR BANG!" teriak Cut dengan keras.


Dio memeluk istrinya dengan erat. Keduanya sama-sama menangis dengan saling memeluk satu sama lain. Sebenarnya Dio tak mau mengatakan yang sebenarnya karena takut kesehatan Cut dan bayinya akan menurun tetapi melihat Cut yang seperti ini Dio menjadi bimbang.


"Katakan!" ujar Cut tak sabaran.


Cup..


Dio mengecup kening Cut dengan perlahan. "Setelah Abang mengatakan semuanya tolong jangan benci Abang! Semua ini Abang lakukan demi kesembuhan kamu," ucap Dio dengam sendu.


Cut hanya mengangguk saja raut wajahnya masih terlihat datar dan menahan sakit pada kepalanya serta kram pada perutnya.


Dio menghela napasnya dengan perlahan. Sebelum akhirnya ia jujur tentang semuanya yang ia sembunyikan rapat-rapat dari Cut dan alasan mengapa ia melakukan itu ia jelaskan dengan sangat jelas oleh Cut yang sangat terlihat syok mengetahui kebenarannya.


"A-aku gak menyangka jika Abang setega ini kepadaku!" ujar Cut dengan kecewa.


"A-abang melakukan ini demi kebaikan kamu, Sayang. Abang sangat mencintai kamu dan tak tega melihat keadaan kamu yang semakin parah. Maaf keegoisan Abang, Sayang! " ujar Dio mencoba memegang tangan Cut tetapi wanita itu langsung menepis tangannya.


Cut membuang mukanya dengan air mata yang mengalir tanpa suara. Ini sungguh sangat menyakitkan untuknya. Bagaimana bisa ia melupakan suaminya sendiri? Bahkan melupakan kenangan indahnya bersama dengan Ihsan? Cut adalah istri yang tak tau diri.


"Sekarang Abang keluar dari kamar Cut! Cut gak mau melihat wajah pembohong ada di kamar Cut!" ujar Cut dengan tajam.


"M-maafkan Abang, Cut!"


"Aku butuh waktu! Abang keluar dari kamarmu sekarang! Mulai sekarang kita pisah ranjang sampai aku bisa menerima suami pembohong seperti Abang. Semua orang telah membohongiku, aku kecewa dengan kalian!" ucap Cut dengan dingin.


"S-sayang... "


"KELUAR!" teriak Cut dengan menangis.


Dio mengalah, ia perlahan mundur keluar dari dalam kamar. Dentuman pintu yang sangat keras terdengar saat Cut menutup pintu dengan kuat.


Tubuh Dio mematung saat Mashita berada di dekatnya dengan wajah yang amat sendu.


"Ayah sama bunda berantem? Apa Shita akan kehilangan Ayah lagi?" tanya Mashita dengan sendu.


Dio berjongkok di hadapan Mashita. Memeluk anak itu dengan erat. "Shita gak akan kehilangan ayah lagi! Bunda hanya marah sebentar sama Ayah karena Ayah sudah bohong ke bunda soal ayah Ihsan. Ayah janji besok bunda udah gak marah lagi," ucap Dio dengan suara bergetar menahan tangis.


Sedangkan Cut menangis tanpa suara di dalam kamar, ia sama sekali tak bisa mengingat siapa Ihsan tetapi mendengar kejujuran Dio membuat hatinya sakit karena telah melupakan lelaki yang telah memberikan kebahagiaan untuknya itu.


"Maafkan Cut, Bang! Cut janji akan berusaha memgingat Abang dan kenangan indah kita. Maafkan Cut juga bang Dio, Cut cinta sama abang tapi saat ini Cut sangat kecewa dengan abang. Cut butuh waktu sendiri untuk menerima semuanya!"