
...Ramaikan part ini ya. Maaf telat update gengs. ...
...Happy reading...
***
Dio membuka matanya dengan perlahan, rasanya pagi ini lebih indah dari hari-hari Dio sebelumnya. Tubuhnya sangat segar karena mendapatkan vitamin dari Cut berjam-jam lamanya.
Dio menyentuh bibir Cut dengan perlahan, ia menjadi gemas dengan istri cantiknya. Cut menggeliat dalam tidurnya saat ia merasa ada sesuatu di dadanya dan benar saja Dio sudah menyusu di sana dengan bermain lidah.
"Abang, Cut capek!" rengek Cut yang memang merasa badannya sangat remuk. Suaminya itu seperti baru pertama kali melakukan hubungan intim dengannya sampai Cut tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa.
Dio terkekeh. Ia memeluk Cut dengan erat sampai tubuh mereka saling merapat tanpa jarak dengan keadaan yang masih sama-sama polos.
Dio mengelus rambut Cut yang perlahan mulai tumbuh kembali akibat kecelakaam dan operasi yang istrinya jalani. "Bekas jahitannya gak sakit lagi, kan?" tanya Dio perhatian.
Cut menggelengkan kepalanya. "Gak nyeri kayak pertama kali, Bang. Nyerinya udah mulai hilang, " jawab Cut dengan lembut.
Dio menatap Cut dengan dalam, dari tatapan tersebut ada tersirat rasa bersalah namun juga rasa bahagia.
"Terima kasih semalam, Sayang! Kamu enak banget Abang ketagihan," ucap Dio dengan serak, gairahnya kembali datang yang bisa di rasakan oleh Cut saat milik suaminya kembali menegang menusuk pahanya di bawah sana.
"Abang yang di bawah bangun, " ucap Cut dengan menelan ludahnya kasar.
"Boleh? Janji gak akan lama sebentar lagi juga sudah mau subuh," ucap Dio dengan suara berat menahan gairahnya.
Cut menggigit bibir bawahnya tak kuasa menolak permintaan suaminya yang sudah berpuasa sangat lama. Cut mangangguk dengan mendes*h lirih saat Dio memasuki miliknya dengan perlahan dari depan. Sungguh Dio sangat memuja Cut. Akhirnya pagi ini keduanya mengulangi kegiatan yang akan menguras tenaga tetapi membuat keduanya terbang ke langit ke tujuh.
****
Sultan dan Ika menatap Cut dan Dio secara bergantian. Sepertinya sudah terjadi sesuatu dengan keduanya hingga membuat senyum mereka sangat merekah pagi ini.
"Tumben sekali baru turun dari kamar?" ucap Ika yang membuat pipi Cut bersemu merah sedangkan Dio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mama jangan tanya seperti itu!" rengek Cut kepada Ika.
Ika terkekeh. "Kenapa hmm? Apa kalian sedang membuatkan cucu untuk Mama dan papa?" tanya Ika dengan jahil.
"Uhuk... Uhuk... "
"Dio mau kasih cucu lagi untuk mama dan papa. Kalian tidak keberatan bukan?" tanya Dio kepalang basah.
Sultan dan Ika terkekeh ketika merasa tebakan mereka benar. Sebenarnya Sultan masih berat hati menerima Dio tetapi melihat anaknya bahagia dengan Dio maka Sultan tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima Dio sebagai menantunya sekarang.
"Tentu saja tidak, Dio!" jawab Sultan yang membuat Cut merasa malu.
Dio dengan cepat menggendong Mashita dan memangku anaknya, menciumi pipi Mashita dengan gemas karena sudah merasa malu dengan mertuanya ia lebih menyibukkan diri bersama dengan Mashita.
Ika yang melihat kasih sayang Dio untuk cucunya menjadi terharu.
"Gimana tidurnya hari ini princess? Nyenyak gak?" tanya Dio dengan lembut.
"Nyenyak dong, Yah! Makasih boneka kelincinya Shita suka! Shita mau yang besar lagi Ayah!" cerita Mashita dengan bahagia.
"Yang besar? Ayah belikan gak ya? Cium dulu ayahnya kalau mau dibelikan lagi!" ucap Dio menunjuk ke pipinya agar Mashita menciumnya.
Cup....
"Udah! Nanti belikan yang besar ya Ayah warna pink!" ujar Mashita memeluk leher Dio dengan manja dan itu mengundang kecemburuan untuk Cut saat anaknya lebih manja kepada suaminya.
Dio terkekeh dan menyentuh hidung Mashita dengan gemas. "Siap laksanakan Tuan Putri!" ujar Dio dengan tersenyum.
"Kenapa wajah kamu di tekuk gitu, Cut? Kamu cemburu lihat Shita manja dengan Dio? Gantian dulu lah, Sayang! Semalam kan kamu yang di manja Dio," ucap Ika yang membuat Dio langsung menoleh ke arah istrinya.
"Shita, bunda kalau lagi cemburu lucu ya!" ujar Dio dengan terkekeh.
"Iya, Bibir bunda kayak angsa!" jawab Mashita dengan tertawa.
"Shita, ayah, kalian nakal!" rengek Cut yang membuat keduanya bahagia.
"Sudah-sudah ayo sarapan dulu!" ujar Sultan dengan tegas.
Bagi Dio pagi ini adalah hal yang sangat indah baginya. Ia, Cut, dan Mashita seperti terlihat keluarga yang sangat bahagia. Cut adalah pusat kebahagiaannya, begitu pun dengan Mashita keduanya sangat berharga bagi Dio.
"Ihsan terima kasih telah memberikan kesempatan untuk aku memiliki Cut dan juga Mashita. Yang tenang di sana karena di sini aku yang akan menggantikanmu menjaga keduanya!"