
...Happy reading...
*****
Sejak sore sepulang Laura kerja, Dirga sering menangis bahkan badannya sedikit panas. Laura khawatir karena sejak tadi Dirga tidak mau meminum asinya, Laura sudah menelepon Anne namun wanita itu sedang berada di luar kota menghadiri seminar dari rumah sakit. Anne sudah memberikannya perintah agar panas Dirga menurun seperti yang ia lakukan waktu Dirga demam tetapi entah mengapa tidak memberikan efek apapun yang membuat Laura semakin cemas dengan keadaan anaknya. Saat Laura tinggalkan Dirga bersama Intan tadi pagi anaknya masih baik-baik saja hingga Laura berangkat kerja. Tetapi sepulang kerja dan Intan sudah pulang ke rumahnya badan Dirga panas, anaknya itu terus menangis kencang membuat Laura ikut menangis juga karena tidak ada seseorang yang bisa ia minta pertolongan.
"Nak, jangan sakit ya!" pinta Laura dengan lirih. Mau membawa Dirga ke klinik Laura tidak mempunyai kendaraan sama sekali. Mau naik angkot takut Dirga semakin menangis hingga Laura merasa sangat bingung harus melakukan apa.
Laura menangis melihat Dirga yang menangis hingga suara seseorang yang sangat keras mengagetkannya. "Astaga... Kenapa kamu tidak menelepon saya?" tanya Leon dengan raut wajah cemas. Sejak tadi memang Leon selalu memikirkan Dirga hingga sepulang dirinya dari kantor Leon langsung menuju rumah Laura dan menyuruh Ryan pulang dengan Taxi saja. "Ini Ayah, Nak. Jangan nangis lagi ya! Badan kamu panas sekali," ucap Leon dengan cemas.
Leon melihat ke arah Laura yang menangis sejak tadi. "Kenapa kamu tidak membawa Dirga ke rumah sakit hah? Anak kamu demam! Kamu ibunya seharusnya jangan diam saja seperti ini!" bentak Leon membuat Laura semakin sesugukkan. "Jangan menangis! Ayo kita bawa Dirga ke klinik!" ucap Leon dengan tegas suara masih meninggi karena kesal dengan Laura yang tidak mengabarinya sedikit pun. Wanita itu malah sibuk menangis menatap Dirga.
"LAURA! AYO!" bentak Leon melihat keterdiaman Laura. Laura tersadar dan langsung mengikuti langkah Leon yang membawa anaknya. Sesampainya di mobil Leon, pria itu langsung memberikan Dirga kepada Laura. "Gendong Dirga. Kamu jangan cengeng. Tangisanmu gak membuat panas Dirga turun," ucap Leon dengan sinis.
"Bapak gak ngerti perasaan saya! Jadi jangan membentak atau menghakimi saya seperti ini," ucap Laura dengan dingin. Laura menghapus air matanya dengan kasar dan kembali menimang Dirga yang belum berhenti menangis sejak tadi membuat Leon merasa bersalah dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Maafkan saya. Sekarang kita bawa Dirga ke klinik," ucap Leon mulai melembut. Ia ingin menghapus air mata Laura yang masih tersisa tetapi ditepis kasar oleh wanita itu. Laura membuang wajahnya ke arah jendela membuat Leon lebih memilih diam dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang karena ia khawatir dengan keadaan Dirga. Walaupun Dirga bukan anaknya entah mengapa Leon sangat menyayanginya.
Leon melirik ke arah Laura yang masih terdiam. Dirga sudah berhenti menangis sejak 5 menit yang lalu, Leon mengaku jika dirinya salah telah membentak Laura tapi dirinya tidak sengaja membentak Laura karena khawatir dengan keadaan Dirga. "Besok-besok jika Dirga seperti ini telepon saya dengan cepat," ujar Leon memecahkan keheningan di antara mereka.
"Bukan urusan anda," jawab Laura dengan sengit.
"Ini menjadi urusan saya karena Dirga anak saya!" ucap Leon tak kalah sengit.
"Dirga bukan anak anda sampai kapanpun!" seru Laura dengan dingin menatap Leon dengan tajam.
"Kita lihat saja nanti," ucap Leon dengan dingin. Ia malas berdebat dengan Laura yang sangat keras kepala kepadanya membuat Leon lebih memilih diam dalam perjalanan mereka.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit akhirnya mobil yang dikendarai Leon berhenti di sebuah klinik. "Turun! Kita sudah sampai," ucap Leon dengan tegas. Laura langsung turun dengan cepat karena ia ingin segera memeriksakan Dirga, di dalam Laura merasa bersyukur karena Leon datang tepat pada waktunya tetapi sebenarnya bukan Leon yang ia harapkan datang melainkan Anne tetapi sayang wanita itu tidak bisa menemuinya untuk sepekan ini.
Leon dengan cepat mendaftarkan Dirga pada perawat yang menjaga di depan. Setelah itu Leon dan Laura menunggu giliran dipanggil setelah mendapatkan kartu pasien karena pasien di klinik yang mereka datangi lumayan ramai. "Biar saya saja yang menggendong Dirga," ucap Leon mengambil Dirga dalam gendongan Laura karena ia merasa wanita itu sangat lelah apalagi habis menangis dan berdebat dengannya.
"Kenapa harus anda yang menolong saya," gumam Laura yang masih didengar oleh Leon.
Leon menatap ke arah Laura dengan datar dan pandangannya berubah menjadi lembut. "Sejak awal saya sudah memilihmu untuk menjadi milik saya. Jadi ikatan batin saya dengan kamu dan ikatan batin saya dengan Dirga sangat kuat, kamu tidak bisa mengelak itu. Dirga juga terlihat tenang bersama dengan saya," ucap Leon dengan tenang.
"Anda adalah lelaki menyebalkan yang pernah saya kenal," ucap Laura dengan datar membuat Leon terkekeh.
"Dan kamu adalah wanita satu-satunya selain bunda, kakak, dan adik saya yang bisa membuat saya jatuh cinta dalam artian cinta yang sesungguhnya," ucap Leon dengan tegas.
"Berhentilah berharap karena saya ingin kembali kepada mantan suami saya," ucap Laura dengan sengit dan tentu saja ia berbohong.
"Dan saya tidak percaya itu," ucap Leon dengan santai membuat Laura mendengkus kesal.
"Pasien bernama Dirga Prasetya silahkan masuk," ucap perawat yang menghentikan obrolan keduanya. Leon dan Laura segera masuk ke ruangan di mana dokter klinik itu berada.
"Ada keluhan apa Bapak Ibu?" tanya Dokter bernama Yeni tersebut dengan ramah.
"Badan anak saya panas Dok dari tadi menangis," ucap Leon dengan cepat membuat Laura yang berada di sampingnya melotot.
Dokter Yeni tersenyum hangat karena melihat kekhawatiran Leon kepada anaknya. "Saya periksa dulu. Tidurkan anak ibu di brankar ya," ucap Dokter Yeni.
"Tapi tidak apa-apa kan anak saya, Dok?" tanya Laura dengan lirih.
"Tidak apa-apa Bu. Tetapi anak Ibu pasti akan sangat rewel ketika demam karena badannya merasa tidak enak. Bapak harus menemani Ibu menjaga Dirga sepanjang malam."
"Baik Dokter. Terima kasih," ucap Leon dan setelahnya langsung menggendong Dirga.
"Sepertinya Dirga sangat dekat dengan ayahnya terbukti dia tidak menangis saat digendong anda Pak. Biasanya anak akan lebih dekat dengan ibunya," ucap Dokter Yeni membuat Leon menatap ke arah Laura dengan puas karena wanita itu tidak bisa berkutik sedikit pun.
"Iya Dok. Emang anak saya sangat dekat dengan saya," ucap Leon dengan mantap membuat Laura mengumpat di dalam hatinya karena Leon yang terus mengaku-ngaku kepada dokter Yeni jika Dirga adalah anaknya.
"Ini obat yang harus diminum Ibu untuk meredakam demam Dirga. Diminum 3 kali sehari ya Bu," ucap Dokter Yeni yang diangguki oleh Laura.
"Terima kasih Dok," ucap Laura dengan tersenyum.
"Sama-sama Bu."
"Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Leon dan Laura secara bersamaan yang diangguki oleh dokter Yeni.
*****
Leon masih menggendong Dirga sejak tadi saat dirinya sudah sampai di rumah Laura. Karena wanita itu sedang mandi dam sekarang sedang berada di dapur. Laura mencoba untuk berdamai dengan Leon kali ini saja karena Dirga hanya diam ketika sudah bersama dengan Leon. Dengan perlahan Leon menidurkan Dirga di kasur karena Leon ingin segera menyusul Laura di dapur.
"Ayah lihat Bunda dulu ya, Nak," ucap Leon mengecup kening Dirga yang sudah tertidur pulas. Setelah di rasa Dirga sudah nyaman Leon berjalan menuju dapur untuk menghampiri Laura.
Leon menatap Laura dengan menelan ludahnya kasar karena leher jenjang Laura terpampang jelas karena wanita itu menggulung rambutnya hingga menampilkan leher putih Laura yang membuat tubuh Leon meremang. Dengan perlahan Leon menghampiri Laura dan memeluk wanita itu dari belakang hingga Laura terkejut dan hampir menjatuhkan kopi buatannya untuk Leon.
"Jangan kurang ajar ya Pak! Saya sudah baik ke anda karena Bapak telah menolong anak saya, tapi bukan berarti Bapak bebas memeluk saya!" ucap Laura dengan sengit dan mencoba melepaskan pelukan Leon yang berada di perutnya. Bukannya lepas pelukan Leon semakin erat membuat Laura tidak bisa melepaskannya begitu saja.
"Seperti ini sebentar saja," ucap Leon dengan lirih karena dirinya merasa nyaman ketika memeluk Laura.
"Lepas Pak!"
"Tidak akan Laura!" Leon membalikkan tubuh Laura menjadi menghadap ke arahnya. Leon menatap Laura dengan sangat dalam hingga Laura gugup, ia menarik dagu Laura dengan lembut hingga bibir mereka saling bertemu satu sama lain. Laura yang tak kuasa menerima sentuhan lembut dari Leon hanya bisa pasrah, hatinya ingin memberontak tetapi tubuhnya kaku seakan menerima sentuhan Leon pada dirinya hingga lenguhan terdengar dari bibirnya. Leon berpindah mengecup leher Laura membuat Laura tanpa sadar mendongak memberi akses untuk Leon semakin memperbanyak kecupannya.
"H-hentikan..." ucap Laura dengan nafas yang tersengal. Tetapi Leon sama sekali tidak menggubris perkataannya hingga suara tangisan Dirga menghentikan kegiatannya.
Laura langsung berlari ke kamar membuat Leon terdiam di dapur dengan mengumpat dirinya sendiri karena hampir keblablasan. Leon menatap bagian bawahnya dengan datar, rasanya sungguh sangat menyiksa sekali.
Shit...
Sial!
Hampir saja Leon melakukannya.
******
Gimana dengan part ini?
Komen yang banyak ya!