
...Hai-hai aku kembali lagi dengan cerita Dio dan Cut. Sambil menunggu cerita ini update kalian bisa membaca cerita "Cinta Sempurna Sang Gadis Gendut" yang update setiap hari....
...Sebelum membaca cerita ini. Siapkan emot terbaik kalian dan komentar yang banyak ya biar aku semangat....
...Jangan lupa like, vote, dan komentarnya di bab ini. Kalau ramai, siang bakal update lagi....
...Happy reading...
***
"Meisya gak apa-apa! Dia cuma nyeri saat datang bulan saja," ucap Lina, dokter spesialis gastroenterologi. Dio sampai memanggil dokter Lina untuk memeriksa keadaan Cut, ia takut Cut mengalami sakit perut yang parah hingga dokter spesialis ia turunkan untuk menangani keadaan Cut yang pingsan dengan mengeluh sakit pada perutnya.
Entah mengapa Dio sangat panik melihat Cut pingsan bahkan dengan refleks Dio menggendong Cut dan membawanya ke ruang pemeriksaan. Dan betapa leganya ketika dokter Lina mengatakan jika Cut baik-baik saja. Kenapa dirinya menjadi sepanik ini? Bahkan merasa sangat khawatir dengan keadaan Cut?
"Terima kasih, Dok. Ada obat pereda nyeri gak?" tanya Dio dengan tegas.
"Ada Dokter Dio. Anda tidak perlu sepanik ini, Cut sepertinya sudah terbiasa setiap datang bulan akan merasakan nyeri pada perutnya," jelas Dokter Lina dengan tegas membuat Dio mengangguk mengerti.
"Ini resep obatnya. Anda bisa langsung ambil saja dibagian farmasi. Kalau begitu saya tinggal dulu," ucap Dokter Lina dengan ramah.
"Terima kasih, Dok," ucap Dio dengan tersenyum tipis.
"Sama-sama," jawab Dokter Lina berlalu pergi keluar dari ruangan meninggalkan Dio dan Cut berdua di dalam.
Tak berapa lama Cut mengerjapkan matanya. Ia bingung saat mendapati dirinya terbaring di brankar dengan Dio yang berada di sampingnya. Dirinya kenapa? Ah...iya, Cut baru ingat jika ia pingsan di pintu kamar mandi dengan Dio yang menolongnya, mengingat itu Cut tersenyum dalam hati, ternyata Dio masih memiliki sisi perhatian untuknya.
"Sudah sadar?" tanya Dio dengan ketus.
Cut mengangguk dengan lemah. Ia berusaha bangun dari tidurnya. "Terima kasih ya, Bang," ucap Cut dengan lirih.
"Hmmm.. Kamu tahu? Gara-gara kamu pingsan saya sampai repot dan meninggalkan beberapa pasien saya!" ucap Dio dengan dingin.
"Maaf. Seharusnya Abang gak usah tunggu aku sampai sadar. Abang bisa ninggalin aku sendiri," ucap Cut merasa bersalah.
Benar juga! Seharusnya Dio tidak usah menunggu Cut sampai sangat merasa cemas dengan keadaan Cut seperti ini.
"Saya masih punya hati untuk tidak meninggalkan orang yang pingsan sendirian," ucap Dio dengan ketus mencari alasan.
Cut menghela napasnya dengan berat. Ternyata ego Dio semakin tinggi, pria itu tidak mau mengakui kekhawatirannya padahal sangat terlihat jelas dari raut wajah pria tampan di depannya. "Sekali lagi aku minta maaf, Bang. Gara-gara aku pekerjaan Abang jadi kacau," ucap Cut dengan lirih.
"Gak usah, Bang. Aku ada obatnya sendiri," tolak Cut dengan halus.
"Ck, keras kepala!" ucap Dio dengan dingin. Ia berlalu begitu saja meninggalkan Cut seorang diri membuat gadis itu memandang kepergiaan Dio dengan sendu. Dio tetaplah Dio yang acuh dan dingin kepadanya. Jika perhatian kepada Cut itu tandanya rasa kemanusiaan lelaki itu memang tinggi. 90 hari ke depan apa Cut bisa mengambil hati Dio? Rasanya sangat mustahil akan hal itu! Tetapi Cut tidak akan menyerah dengan perjuangannya sendiri.
"Ini! Minum yang teratur!" ucap Dio dengan dingin setelah kembali ke ruangan Cut.
"Hah?" Cut hanya bisa menatap kedatangan Dio dengan wajah polosnya membuat Dio kembali berdecak kesal dan menyodorkan plastik berisi obat untuk Cut.
Setelahnya Cut tersenyum manis. Ternyata Dio tidak benar-benar meninggalkannya seorang diri. Pria itu memiliki sisi perhatian yang terkadang tidak terduga untuknya.
"Terima kasih," gumam Cut dengan tersenyum tulus. Beberapa detik Dio terpesona tetapi langsung menormalkan kembali ekspresi wajahnya dengan berdehem.
"Ekhem... Sebaiknya kamu pulang saja! Dari pada merepotkan saya di sini!" ucap Dio dengan dingin.
"Merepotkan ya?" gumam Cut dengan lirih.
Dio menatap Cut dengan datar dalam hatinya ia merasa bersalah dengan ucapannya tetapi ia tidak bisa mengatakannya secara langsung.
Cut turun dari brankar. Tanpa kata ia keluar dari ruangan tersebut karena tak mau merepotkan Dio kembali, sudah cukup ia merepotkan Dio kali ini. Kata-kata lelaki itu sangat tajam sekali!
Dio yang melihat kepergian Cut hanya diam saja. Tetapi matanya terus memantau sampai Cut hilang dari pandangannya. Dio mendesah dengan berat mengingat Cut membawa mobil sendiri, itu bisa bahaya sekali saat Cut sedang sakit seperti ini. Dengan berlari ia menyusul Cut tetapi langkahnya terhenti saat melihat Cut sedang mengobrol dengan seorang lelaki.
"Kamu kenapa? Wajah kamu pucat?" tanya Ihsan yang berpapasan dengan Cut.
"S-saya gak apa-apa, Pak!" ucap Cut dengan gugup. Ia ingin segera pulang sekarang.
Ihsan menghela napasnya dengan berat. Rasa khawatirnya membuat ia lupa kedatangannya ke rumah sakit untuk bertemu dengan Bryan. "Saya antar pulang!" ucap Ihsan dengan tegas.
"Tapi..."
"Enggak ada tapi-tapian, Cut. Sekarang kamu, saya antar pulang! Biar mobil kamu saya yang urus," ucap Ihsan dengan cemas.
Akhirnya Cut mengangguk dengan pasrah karena Ihsan terus memaksanya untuk pulang bersama dengan lelaki yang berprofesi sebagai dosennya tersebut. Tanpa keduanya sadari Dio melihat keakraban keduanya, ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, dadanya naik turun menahan emosi yang hendak meledak karena melihat keduanya pulang bersama.
Sial!
Ada apa sebenarnya dengan hati dan perasaannya?