
...Happy reading...
***
Ika menutup hidungnya karena merasa sangat bau pada bajunya. Setelah menanyakan beberapa kali pada Zico yang mabuk akhirnya Ika mendapatkan jawaban jika pria itu mempunyai apartemen yang sering Ika datangi juga.
"Dasar menyusahkan!" gumam Ika dengan kesal. Setelah sampai di apartemen milik Zico dengan susah payah Ika membantu Zico berjalan.
"Berat woy! Jalan yang bener!" ucap Ika dengan keras. Jika Ika gadis yang sangat tega mungkin ia akan menyeret Zico sampai masuk ke apartemennya sendiri.
"Laura, gue cinta sama lo," gumam Zico yang masih bisa didengar oleh Ika.
"Laura? Laura siapa, hah? Gak mungkin kan Laura calon istri mas Leon?" tanya Ika pada dirinya sendiri karena percuma ia bertanya pada orang mabuk yang pasti dirinya tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan.
Ika menjatuhkan Zico begitu saja di sofa tetapi tangan Zico dengan keras menariknya sampai ia jatuh di atas dada bidang Zico.
"Lepasin!" ucap Ika dengan keras.
"Aku gak akan lepasin kamu lagi, Laura. Sudah cukup aku menjadi orang bodoh selama ini," gumam Zico dengan tidak jelas.
"Emang lo bodoh. Banget malahan!" ejek Ika dengan sengit.
"Kamu harus jadi istriku!" ucap Zico dengan mencoba mencium Ika tetapi Ika yang dasarnya pintar bela diri seperti Jihan langsung menendang kaki Zico sampai lelaki itu tidak berkutik lagi.
"Ogah gue jadi istri lo! Udahlah gue balik ya, selamat menikmati tendangan gue sampai lo pingsan. Tidur yang nyenyak lo," ucap Ika dengan sinis. Dan ia melihat ke arah bajunya lagi di sana masih ada bekas muntahan Zico yang baunya sangat menyengat.
"Mau muntah gue," ucap Ika yang memang merasa mual.
Ika meninggalkan Zico di partemennya begitu saja. Ia melangkahkan kakinya dengan santai menuju litf, ia ingin ke apartemen seseorang yang memang sangat ia rindukan akhir-akhir ini. Apartemen yang hanya beda lantai dengan apartemen Zico. Tanpa menekan bel Ika langsung menekan password apartemen itu dengan mudah.
"Mas!" panggil Ika dengan keras membuat seseorang yang sedang sedang minum air putih langsung tersedak.
"Astaga Ika. Selalu saja mengagetkan saya," ucap Rama dengan mengelus dadanya. Ika hanya terkekeh melihat wajah kesal dari rama kepadanya.
"Baju kamu itu kenapa? Bau lagi!" tanya Rama dengan galak.
"Ada kucing muntah di baju aku. Aku pinjam kemeja Mas ya sekalian mandi," ucap Ika yang langsung berlari ke arah kamar Rama. Rama mengikuti langkah adik dari bosnya tersebut. Sifat Ika sudah sangat ia kenal baik, sehingga Rama terlihat biasa saja saat Ika langsung berlari ke arah kamarnya.
"Mas, aku pinjam baju kemeja putih ini ya," ucap Ika dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Rama.
Rama hanya menghela nafasnya melihat ke arah kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Ia menunggu Ika di kamarnya dengan bersandar di kepala ranjang dengan memainkan ponselnya yang ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Ika. Setelah ini ia akan bertanya kepada Ika karena memang sejak tadi ia sibuk memeriksa laporan yang diberikan Leon kepadanya.
Setelah 20 menit akhirnya Ika keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kemeja Rama yang sangat kebesaran di tubuhnya. Rama menelan ludahnya dengan kasar kala kemeja itu menampilkan lekuk tubuh Ika yang sangat indah, baju kemeja berwarna putih itu terlihat transparan di tubuh Ika. Ika mendekat ke arah Rama, ia menaiki ranjang dan langsung duduk di pangkuan Rama begitu saja tanpa mempedulikan Rama yang menatapnya tajam.
"Keringkan rambut aku, Mas!" pinta Ika dengan manja dan dengan senang hati Rama menuruti kemauan Ika.
"Tadi kamu menelepon saya?" tanya Rama saat mengeringkan rambut Ika dengan lembut.
"Mas, sudah berapa kali aku bilang jangan kaku dengan Ika. Ika bukan orang lain tapi pacar, Mas. Mas banyak bergaul dengan mas Leon jadi gini," ucap Ika dengan kesal.
"Maaf. Kamu ada menelepon Mas tadi. Ada apa?" tanya Rama dengan lembut.
"Mobil aku mogok di jalan," jawab Ika dengan cemberut.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Rama dengan alis terangkat satu ke arah Ika.
"Ya Ika tinggallah. Mas kenapa tidak ada cemas-cemasnya kepada Ika sih? Selalu santai," gemas Ika dengan mencubit perut Rama dengan keras hingga lelaki itu meringis tetapi ia tidak protes sama sekali, ia membiarkan Ika mengeluarkan kekesalan kepada dirinya.
"Karena Mas tahu kamu bisa menjaga diri kamu," ucap Rama dengan santai dan melempar handuk kecil untuk mengeringkan rambut Ika begitu saja membuat Ika mendengkus karena sikap Rama yang terlalu santai selama ini.
"Kamu tidak pulang?" tanya Rama dengan santai.
"Mas ngusir aku?" tanya Ika dengan mendelik.
"Tapi Mas masuk rumah dan memperkenalkan diri sebagai pacar Ika bukan orang kepercayaan mas Leon. Berani?" tantang Ika.
Rama menghela nafasnya. "Ini sudah kita bicarakan sejak lama Ika. Tunggu Mas siap baru Mas akan mengatakannya langsung," ucap Rama dengan datar membuat raut wajah semangat Ika menjadi lesu. Rama selalu saja begitu, pria itu masih sangat merasa minder karena status mereka yang berbeda, tetapi Ika sama sekali tidak mempersalahkan itu karena dirinya mencintai Rama tanpa melihat Rama berasal dari mana dan bagaimana kehidupan keluarganya. Di mata Ika, Rama adalah pria yang berkerja keras yang mampu mengubah hidupnya sendiri jauh lebih baik setelah menjadi orang jalanan bahkan preman.
"Selalu saja seperti itu," gumam Ika dengan lirih.
"Mas mohon bersabarlah," ucap Rama mengelus pipi Ika dengan lembut. Ika mengangguk dan tersenyum kembali, ia menatap Rama dengan dalam, keduanya terhanyut dalam tatapan yang saling meneduhkan satu sama lain hingga bibir keduanya menyatu.
Rama mengerang saat Ika menyentuh miliknya dengan lembut memainkan miliknya dengan tangan Ika. "Jangan goda Mas, Ika!" peringat Rama dengan kabut gairah yang sudah menumpuk di matanya. Ika tidak peduli ia terus menyentuh Rama dengan sensual.
"Ika!" teriak Rama saat Ika terus menggoda miliknya. "Sepertinya kamu ingin bermain-main dengan Mas, Ika!" ucap Rama menyeringai. Bukannya takut Ika menggoda Rama dan tersenyum sensual kepada Rama.
Rama menindih tubuh Ika dengan cepat. "Masukin," ucap Ika dengan lirih membuat Rama menyeringai.
"Tidak semudah itu, Sayang!" ucap Rama yang sengaja menyiksa Ika.
"Mas!" rengek Ika membuat Rama terkekeh. Dengan mata sayunya Ika melepaskan celana da**m miliknya dengan kaki dan langsung memasukkan milik Rama ke miliknya. Keduanya sama-sama mengerang dengan nikmat saat mereka sudah menyatu. Ika dan Rama memang sudah sering melakukannya, awalnya Ika memang takut saat Rama melakukannya tetapi entah mengapa ia menyerahkan tubuhnya begitu saja kepada Rama. Rama adalah lelaki satu-satunya yang berhasil menguasai hati dan tubuhnya. Ika berharap Rama segera menikahinya tanpa mereka harus berpura-pura seperti ini.
****
Leon memeluk Dirga dengan sangat erat. Balita itu tampak tertidur dengan tenang setelah panasnya turun. Dengan panik tadi Laura meneleponnya jika Dirga terus menangis dan memanggil Leon dengan sebutan ayah, ketika Leon datang Dirga langsung terdiam di gendongan Leon.
"Dirga udah tidur?" tanya Laura dengan cemas.
"Sudah," jawab Leon dengan singkat.
"Saya sudah katakan sejak lama. Menikahlah dengan saya, ketika Dirga sakit seperti ini saya tidak lagi harus ke rumah kamu karena kita sudah satu rumah, Laura," ucap Leon dengan tegas.
"Bisakah kita tidak membahas itu dulu?" tanya Laura dengan lirih.
"Apa yang kamu pikirkan, Laura? Kamu menunggu apa lagi? Jika kamu berpikir saya seperti Zico, maka kamu salah! Jika saya hanya menginginkan tubuh kamu, saya sudah meninggalkan kamu sejak lama setelah saya mendapatkan tubuh kamu dan saya tidak perlu repot-repot dekat dengan Dirga," ucap Leon dengan dingin.
"Please, Pak. Jangan membahas itu dulu," ucap Laura dengan lirih.
"Terserah kamu!" ucap Leon dengan tajam. Ia bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar Laura begitu saja.
"Bapak mau kemana?" tanya Laura dengan panik.
"Terserah saya mau kemana. Jaga Dirga dengan baik," ucap Leon dengan dingin.
Laura menarik lengan Leon dengan mata berkaca-kaca. "Jangan pergi!" ucap Laura dengan lirih. Entah kenapa akhir-akhir ini dirinya menjadi sangat cengeng hanya karena hal sepele.
"Pak jangan pergi!" rengek Laura seperti anak kecil membuat Leon menahan senyum gelinya dan memeluk Laura.
"Mengapa menangis? Seperti Dirga saja," ucap Leon dengan terkekeh.
"Enggak tahu!" jawab Laura dengan ketus. Leon menggendong Laura di depan seperti anak kecil karena wanita itu terus memeluknya dengan erat.
"Laura!" panggil Leon dengan pelan.
"Laura!" panggil Leon sekali lagi. Leon mencoba melihat ke arah wajah Laura yang berada di dadanya.
"Astaga sudah tidur," ucap Leon dengan menggelengkan kepalanya karena merasa tidak percaya Laura tidur secepat itu di dalam gendonganya.
****
Hayo ada yang gak nyangka dengan Ika yang seperti itu?
Kira-kira Laura kenapa ya?
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!