
...Jangan lupa mampir di novel terbaru author "GAIRAH SANG DOKTER DUDA" yang pastinya membuat panas dingin....
...Happy reading...
****
Cut memegang obat yang selama ini suaminya konsumsi untuk meredakan sakit kepalanya. Dan Cut tidak bodoh saat mengetahui itu bukan obat pereda sakit kepala biasa, Cut adalah calon seorang dokter dan bagaimana pun suaminya menyembunyikan semuanya darinya Cut pasti mengetahuinya.
Mata Cut berkaca-kaca menatap obat dan dengan tangan gemetar Cut menggenggamnya. Vertigo bukanlah sakit kepala biasa, seseorang yang mempunyai penyakit Vertigo bisa kehilangan pendengarannya bahkan yang paling parah bisa bertumbuhnya tumor.
"Sayang, Abang kerja dulu ya," ucap Ihsan dengan lembut.
Ihsan mengeryitkan alisnya dengan heran karena Cut sama sekali tidak mereposnya. "Sayang!" panggil Ihsan dengan mendekat ke arah Cut.
Cut membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ihsan dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa Abang bohongi aku?" tanya Cut dengan lirih.
Ihsan panik melihat sang istri meneteskan air mata di depannya. "Bohongi apa, Sayang? Abang tidak berbohong sama kamu," sahut Ihsan dengan bingung.
"Obat ini, kenapa Abang berbohong!" ujar Cut dengan suara seraknya.
Ihsan menangkup wajah sang istri dengan lembut. "Abang tidak apa-apa, Sayang. Penyakit Abang ini tidak parah, jadi jangan menangis lagi ya," ucap Ihsan dengan lembut menghapus air mata Cut dengan kedua ibu jarinya.
Percuma ia menutupi penyakitnya dari Cut. Toh istrinya adalah calon dokter yang sangat pintar, bagaimana pun caranya Ihsan menyembunyikan penyakitnya dengan membuang bungkus asli obat yang ia konsumsi tetap saja Cut mengetahuinya.
"Ini bahaya juga Abang. Vertigo bisa menyerang kapan saja, dan aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Abang. Sekarang Abang setiap bekerja harus di antar sopir!" ucap Cut dengan tegas bahkan air matanya mengalir deras.
"Sopir harus mengantar kamu ke rumah sakit, Sayang. Abang tidak apa-apa, istriku! Abang janji setiap merasakan sakit kepala Abang langsung memberhentikan mobil," ucap Ihsan meyakinkan sang istri yang terlihat cemas sekali.
"Kali ini dengarkan ucapanku, Bang! Please aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Abang," ucap Cut dengan lirih.
"Abang lebih khawatir jika kamu menyetir sendiri, Sayang. Abang mohon percayalah sama Abang jika Abang akan baik-baik saja," ujar Ihsan dengan lembut. "Sekarang kamu doakan Abang agar cepat sembuh ya. Abang tidak apa-apa, Sayang. Abang sehat! Lihat wajah Abang, sehat kan?" ucap Ihsan dengan lembut yang diangguki oleh Cut.
"Telepon aku jika Abang merasakan sakit lagi," ucap Cut dengan sendu.
"Iya, Sayang. Jangan nangis lagi oke! Mashita pasti sedih melihat bundanya menangis seperti ini. Senyum, Sayang!" pinta Ihsan dengan lembut.
Cut memaksakan senyumannya di hadapan sang suami. Rasa khawatirnya belum hilang tetapi Ihsan tetap pada pendirian yang membuat Cut tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa berdoa untuk kesehatan sang suami.
"Abang berangkat dulu ya. Ingat jangan bersedih lagi! Kalau sudah sampai rumah sakit kabari abang!" ucap Ihsan dengan lembut.
Hari ini mereka tidak berangkat bersama karena Ihsan ada meeting dengan dosen yang lainnya.
Cut hanya menatap kepergiaan sang suami dengan sendu. Entah mengapa ia sangat takut terjadi sesuatu dengan suaminya.
****
Kesibukakan sebagai orang tua baru juga Dirga dan Vera rasakan. Kedua anak kembar dengan berjenis kelamin laki-laki itu selalu saja membuat heboh seisi rumah dengan tangisan mereka.
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit Vera dan kedua bayinya sudah diperbolehkan pulang. Bahagia dan lelah bercampur menjadi satu saat ia mengurus kedua bayi kembarnya.
Dirga juga ikut kerepotan mengurus kedua anaknya yang hanya diam saat ia dan Vera memggendong mereka tetapi jika kakek dan nenek atau para keluarga lain yang menggendong mereka, keduanya akan sangat rewel yang membuat Vera dan Dirga kelimpungan sendiri.
Saat ini Dirga tengah tertidur dengan memeluk kedua anaknya, sedangkan Vera sudah terbangun dari tadi menyiapkan keperluan suami dan kedua anaknya.
"Mas bangun. Ini sudah pagi," ucap Vera dengan lembut mengelus rambut sang suami.
"Hmmmm..."
"Mas bangun, Sayang!" ucap Vera dengan mengecup pipi Dirga.
Perlahan Dirga membuka matanya, ia langsung tersenyum saat Vera tersenyum ke arahnya. Dirga menarik tengkuk Vera dengan perlahan, dan ia sudah mendapatkan vitamin paginya saat ini walau ia merasa loyo karena harus berpuasa.
"Pagi, Sayang!" ucap Dirga dengan suara seraknya.
"Pagi juga, Mas! Cepat mandi, Mas! Setelah itu aku mau memandikan Galih dan Ghani dulu," ucap Vera dengan lembut.
"Cuma Galih dan Ghani yang dimandikan? Ini tidak adil, Sayang!" ucap Dirga dengan masam. Setelah kelahiran kedua anak tampannya Dirga merasa tersisihkan.
Vera terkekeh. "Cemburu dengan anak sendiri hmm?" ujar Vera dengan jahil.
Dirga menyeringai sinis. "Sebelum mereka lahir aku yang paling tampan di sini dan setelah mereka lahir ada tiga lelaki tampan di rumah ini, jadi kamu harus adil!" ucap Dirga tak mau mengalah dengan kedua anaknya.
"Ayolah, Mas! Mandi sekarang! Nanti malam aku kasih service terbaik!" ucap Vera dengan mengedipkan matanya.
"Benar? Kamu sedang tidak mengerjaiku?" tanya Dirga dengan memicingkan matanya curiga.
"Tidak Mas. Tangan dan mulutku yang akan memberikan service terbaik untukmu nanti malam. Jadi, jangan iri kepada anak kita," ucap Vera dengan tegas.
"Aku pegang janjimu, Sayang!" ucap Dirga dengan senang.
"Papa mandi dulu jagoan! Muach...muach.."
Vera menggelengkan kepalanya melihat antusias suaminya. "Dasar mes*m!"