Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~71 (Pertemuan Rama & Ika)



...Happy reading...


*****


Ika mengerjapkan matanya setelah ia kembali tidur setelah meminum obat. Sudah dua hari ia dirawat membuat Ika merasa bosan dengan ruangan bernuansa putih itu, Ayah dan kakaknya selalu mengawasinya walau ia sudah terlihat membaik, raganya memang sudah sedikit membaik tetapi untuk hati ia masih merasakan sakit. kehilangan buah hati yang masih sangat kecil sekali bahkan Ika belum merasakan pergerakan anaknya di dalam perutnya, anaknya masih berbentuk segumpal darah tetapi harus pergi meninggalkannya.


Berulang kali Ika menghela napasnya dengan berat. Sebisa mengkin ia melupakan kejadian dimana Kirana mendorongnya tetapi Ika tidak bisa, bukan membenci Kirana hanya saja hatinya merasa sakit dengan semua yang terjadi. Seandainya dulu Rama dengan tegas mengatakannya mungkin hatinya tak sesakit ini, tetapi semua sudah terlanjur terjadi tak ada yang perlu disesali walau semua itu sangat menyakitkan. Bukankah dirinya adalah wanita yang kuat? Lebih tepatnya saat ini dirinya adalah wanita yang berpura-pura kuat.


Ika mendengar suara kegaduhan di luar. Ia mengenal suara itu. Ya, suara itu adalah suara Rama yang memohon kepada ayah dan kakaknya untuk bertemu dengannya, lelehan panas mengalir begitu saja di kedua sudut matanya. Tetapi dengan cepat Ika menghapusnya sebelum ketahuan oleh sang bunda dan kembarannya dan juga Jihan yang menemaninya sejak pertama kali gadis itu pulang. Sedangkan Ulan dan Laura pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak.


Suara pintu terbuka membuat Ika dengan cepat menolehkan wajahnya ke arah samping enggan menatap siapa yang masuk ke ruangannya.


"Ngapain lo ke sini? Belum cukup membuat kembaran gue sakit?" tanya Ica dengan sinis. Wanita itu begitu waspada saat Rama masuk ke ruang kembarannya. Ya walaupun Ica sangat manja tetapi jika menyangkut kebaikan kembarannya Ica menjadi gadis pemberani seperti Ika.


"Ica sudah, Nak! Biarkan Rama berbicara kepada Ika. Mereka perlu bicara," ucap Saera dengan bijak.


"Tapi, Bun..."


"Benar kata nenek, Tante. Kita harus keluar memberikan ruang untuk Rama berbicara kepada tante Ika," ucap Jihan dengan tegas membuat Ica menghela napasnya.


"Gue izinin lo buat bicara sama kembaran gue. Tapi awas kalau lo buat kembaran gue nangis," ucap Ica dengan sengit.


Ika menatap kembarannya dengan tersenyum tipis. Situasi seperti saat ini ia merasa jika kembarannya lebih dewasa saat menikah membuat Ika kadang iri dengan Ica yang seperti tak punya beban, walaupun manja Ica sangat dicintai oleh Ryan. "Aku mau bicara sama Rama. Bisa kalian keluar dulu, aku akan baik-baik saja," ucap Ika dengan lembut agar tidak membuat ketiga orang yang ia sayang khawatir dengan keadaannya.


"Baiklah," jawab ketiganya dengan lirih.


Sebelum pergi, Saera menepuk pundak Rama dengan pelan. "Selesaikan baik-baik!" ucap Saera tersenyum. Walaupun ia kecewa terhadap Rama maupun Ika tetapi Saera berpikir semua harus diselesaikam secara baik-baik, ia tidak ingin kejadian puluhan tahun lalu terulang lagi kepada anaknya. Cukup ia yang merasakan semuanya.


"T-terima kasih, bu!" ucap Rama dengan tulus. Saera mengangguk setelah itu ia mengajak anak dan cucunya keluar.


Setelah kepergian Saera, Ica dan Jihan. Rama mendekat ke arah Ika yang melihatnya dengan tatapan kosong membuat Rama semakin bersalah. Ia duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Ika.


"M-maaf," gumam Rama dengan lirih. Bibirnya keluh untuk berucap banyak kepada Ika. Ika menatap Rama dengan senyuman terpaksa, ia melihat wajah Rama yang banyak lebam, Ika yakin itu pasti perbuatan Leo dan Leon.


"Aku udah maafin Mas Rama. Semua yang terjadi adalah takdir yang harus aku jalani," ucap Ika dengan lirih.


"Aku tahu, aku adalah lelaki yang egois dan tidak tegas dengan hubungan kita. Andai saja aku tahu kamu hamil anakku, aku pasti akan langsung bertanggung jawab. Pantas saja sebulan ini aku selalu menginginkan hal-hal aneh di tengah malam. Ternyata dia tumbuh di sini, saat kamu mengatakan anak kita. Jujur aku bahagia tetapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat dokter mengatakan kamu..."


"Cukup, Mas! Jangan diteruskan lagi!" ucap Ika dengan sesak yang ia rasakan di hatinya. "Aku sudah mengiklaskan kepergiannya," lanjut Ika dengan lirih walau sebagian hatinya belum menerima semuanya.


"M-maaf... Jangan menangis lagi!" ucap Rama dengan lirih, ia menghapus air mata Ika dengan lembut baru kali ini ia melihat Ika begitu rapuh dan itu semua karena dirinya.


Ika melepaskan tangannya yang digenggam oleh Rama. Ia tersenyum tipis menatap Rama. "Maaf, Mas. Semua yang terjadi mengajarkanku bagaimana harus bersikap, ada Kirana di tengah-tengah kita dan aku tidak ingin melukainya. Dia adalah gadis yang dari awal menemani Mas Rama, bahkan kalian mau menikah. Walaupun hatiku sakit, aku tak mungkin tega membuat dirinya bersedih karena aku...."


"I-ika..."


"Mas, saat ini aku tidak ingin berhubungan dengan siapapun. Jika kita berjodoh pasti Allah akan mempertemukan kita, tetapi jangan terlalu berharap kepadaku, karena aku tidak bisa memberikan harapan apapun tentang hubungan kita. Intinya saat ini hubungan kita sudah selesai," ucap Ika dengan pelan.


Tak terasa Rama meneteskan Air matanya. Sakit hatinya saat Ika menolaknya dengan halus, perbuatannya memang tidak bisa dimaafkan tetapi apakah tidak bisa ia mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya?


"A-apa kamu akan menerima Zico?" tanya Rama dengan terbata karena tidak sanggup mendengar jawaban Ika. Rama mendengar semuanya saat Zico datang ke ruangan Ika waktu itu dan Zico mengatakan jika ia tetap ingin berjuang mendapatkan Ika walau semua keluarga Ika tidak merestuinya. Rama sangat takut jika Ika menerima Zico karena 4 bulan ini Zico gencar mendekati kekasihnya.


"Mas, aku tidak mencintai Zico. Mana mungkin aku menerimanya dengan sangat mudah, sampai kapanpun aku tidak bisa bersama Zico selain aku tidak memiliki rasa untuknya, aku tidak ingin membuat kak Laura dan Mas Leon merasa tak nyaman karena kak Laura adalah mantan istri Zico," jelas Ika dengan tegas karena memang ia tidak memiliki rasa untuk Zico, ia hanya menganggap Zico sebagai sahabatnya tidak lebih dari itu.


Rama lega mendengar penjelasan Ika. Setidaknya ia masih punya kesempatan untuk mendekati Ika sebelum perkataan Ika membuatnya terkejut.


"Kembalilah kepada Kirana. Bebaskan dia dari penjara karena tidak sepenuhnya Kirana salah walau aku sangat terluka dengan semuanya. Aku akan pergi ke Medan untuk mengurus cabang restoran mas Leon yang ada di sana. Aku harap Mas Rama bisa melupakanku, begitu pun denganku yang harus bisa melupakan Mas Rama!"


Pertahan Rama runtuh, ia memeluk Ika dengan sangat erat. "Jangan pergi aku mohon!"


Ika membalas pelukan Rama. Pelukan yang selama 3 tahun ini memberikan kenyamanan sebentar lagi tidak akan ia rasakan karena Ika sudah bertekad untuk memulai hidup baru tanpa Rama maupun Zico. Ika tidak bisa dekat dengan keduanya, jika nanti ia ditakdirkan kembali pada Rama maka Ika akan menerimanya tetapi tidak dengan Zico karena sampai kapanpun Ika tidak bisa menerima Zico.


"Kita mulai hidup baru tanpa Rama maupun Ika, ya!"


*****


huh lelah!


Mewek?


Greget?


Udah ada titik terang belum Ika bakalan sama siapa?🤣🤣🤣


Gak rame ih!


Ramein lagi kalau gak author bakal ngambek.


sedekahnya juga jangan lupa karena author udah double up. Sedekah yang banyak ya karena bisa menentramkan kita semuanya🤭🤭🤭