
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Sultan menghampiri sang istri yang terdiam di kursi tunggu. Di rumah sakit ini hanya tinggal dirinya, Ika dan juga Mashita yang sekarang sedang bermain dengan Dio sedangkan Saera dan yang lainnya sudah pulang untuk mengistirahatkan tubuh mereka sejenak.
Sultan berjongkok di depan Ika, ia memperhatikan istrinya yang sedang memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di tembok, gurat kelelahan terlihat sekali di wajah Ika yang membuat Sultan makin bertambah bersalah. Selama 5 hari ini bahkan Ika selalu menemani Cut dan tidak ingin beranjak sedikit pun yang membuat Sultan semakin merasa ngilu pada hatinya karena telah melukai perasaan istrinya sendiri.
"Ma!" panggil Sultan dengan lembut.
Ika langsung membuka matanya perlahan, setelah tahu sang suami yang memanggilnya Ika hanya diam saja tanpa ada niatan merespon sama sekali. Selain masih sakit hati dengan suaminya, Ika juga merasa kepalanya berdenyut sakit.
Sultan menyentuh tangan istrinya dengan lembut dan betapa terkejutnya Sultan saat merasakan tubuh Ika panas. "Kamu sakit Ma?" tanya Sultan dengan panik.
"Enggak!" jawab Ika dengan pelan. "Papa masuk saja menunggu Cut. Mama mau di sini saja," gumam Ika dengan lirih.
Sultan menggeleng dengan tegas. "Mama harus diperiksa!" ucap Sultan dengan cemas.
"Mama enggak apa-apa! Lebih baik Papa temani Cut!" usir Ika dengan halus.
"Ma, Maaf!" gumam Sultan dengan lirih.
Ika terdiam. "Mama sudah maafkan Papa! Mama tahu sekarang arti Mama di hidup Papa, Mama tidak lebih penting dari mendiang istri Papa," gumam Ika dengan tersenyum miris.
"Bukan begitu, Ma! Papa tadi merasa khawatir dengan Cut! Mama sangat berarti untuk Papa," ucap Sultan dengan lirih.
Ika memegang kepalanya yang semakin berdenyut sakit namun ia tahan sebisa mungkin. Mungkin ini efek dari kelelahan selama 5 hari ini dirinya karena kurang tidur.
"Kita periksa ke dokter sekarang, Ma! Papa gak mau Mama sakit!" ucap Sultan dengan tegas dan langsung menggendong Ika. Sedangkan Ika hanya pasrah saat sang suami menggendongnya
****
Dio bermain dengan Mashita di taman rumah sakit, keduanya bermain balon sabun tidak ketinggalan boneka kelinci pemberian Dio yang selalu Mashita bawa kemana pun gadis itu pergi.
"Om kenapa ayah sama bunda belum bangun juga?" tanya Mashita dengan sedih.
Dio meletakkan balon sabun yang ia pegang dan membawa Mashita ke dalam pangkuannya. "Bunda lagi mimpi indah sekarang jadi lama bangunnya deh, Shita harus sabar dan berdoa terus untuk bunda. Kalau ayah sedang berada di surga sekarang," ujar Dio menjelaskan dengan perlahan.
"Surga? Surga itu tempat apa, Om?" tanya Mashita dengan menatap wajah Dio dari samping.
"Kapan Ayah pulang, Om? Ayah gak pernah lama-lama ninggalin Shita dan bunda tapi sekarang lama. Shita mau ke surga biar bisa ketemu Ayah," ujar Mashita dengan polosnya yang membuat hati Dio metasa tersentil.
"Shita belum boleh ke surga," jawab Dio yang semakin membuat Mashita banyak tanya.
"Kenapa? Katanya surga tempat yang indah kenala Shita tidak boleh ke sana? Shita cuma mau susulin ayah mau bilang kalau bunda gak bangun-bangun sampai sekarang. Shita kesepian," ujar Shita dengan sendu.
"Emmm... Nanti kalau Shita dewasa Shita bakal tahu maksud, Om!" ucap Dio akhirnya karena hatinya terus berdenyut sakit kala Mashita terus banyak bertanya kepadanya yang jawabannya saja Dio susah untuk memberikannya kepada Mashita, gadis cilik yang sangat menggemaskan.
"Emangnya Shita gak suka ya main sama, Om?" tanya Dio berpura-pura sedih.
"Suka kok. Om baik banget sama Shita," ujar Mashita dengan tulus. Dio langsung tersenyum mendengar penuturan Mashita yang sangat polos.
"Om sayang banget sama Mashita!" ucap Dio memeluk Mashita dengan erat dan menciumi pipi gadis cilik itu dengan gemas.
"Shita juga sayang Om Dio!"
****
Cut membuka matanya dengan perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar berwarna putih. Dimana ini? Kenapa kamarnya sangat berbeda sekali.
"Cut kamu sudah sadar, Nak?" ucap Sultan dengan terharu.
Cut menatap sang papa dengan pandangan sayunya.
"Cut di mana, Pa?" tanya Cut dengan suara yang amat pelan.
"Di rumah sakit, Sayang!"
Mendengar jawaban Sultan membuat ingatan Cut kembali berputar yang membuat Cut seketika hiateris.
"Bang Ihsan. Di mana bang Ihsan, Pa? Cut mau ketemu bang Ihsan!" ucap Cut dengan histeris.
"Bang Ihsan!"
Sultan memeluk anaknya dengan erat. Sultan ikut menangis dengan lirih. "Kamu yang tenang ya, Nak. Ihsan sudah tenang di sana," ujar Sultan dengan lirih.
"ENGGAKKKK!"