Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~46 (Panik)



...Happy reading...


****


Leon begitu sangat bahagia malam ini karena dirinya akan melamar Laura di depan kedua orang tuanya. Walau Leo dan Saera terlihat marah kepadanya karena telah menghamili Laura di saat mereka belum menikah, tetapi kedua orang tua mereka sama-sama menerima Laura dengan tangan terbuka terlebih Dirga yang sangat menggemaskan di mata mereka. Dirga akan menjadi cucu dari keluarga Brawijaya walau tidak ada aliran darah Brawijaya mengalir di tubuh Dirga. Namun, kemiripan Dirga dengan Leon membuat semua keluarga merasa gemas akan tingkahnya.


Dengan sangat gagah Leon keluar dari mobilnya setelah sampai di gang di rumah Laura. Leon harus berjalan sebentar untuk sampai ke rumah sederhana itu. Lampu rumah terlihat sangat terang sekali, dengan senyuman mengembang Leon membuka pintu rumah itu. Namun, alisnya mengkerut saat pintu rumah tersebut tidak terkunci.


"Sayang?"


"Dirga?"


Leon memanggil kedua orang yang sangat ia sayangi dengan sesikit keras. Namun, tidak ada jawaban yang membuat Leon cemas. Dengan cepat Leon memasuki kamar Laura tetapi kosong, mereka tidak ada di sana. Dengan jantung yang berdetak sangat kencang Leon berlari ke arah dapur. Di sana juga sama Laura dan Dirga tidak ada sama sekali di rumahnya.


Leon sudah lemas. Takut terjadi sesuatu dengan Laura dan Dirga, keduanya sangat berarti bagi Leon. Dan dengan cepat Leon pergi ke rumah Intan, ia mengetuk pintu itu dengan tak sabaran membuat Intan yang berada di dalam rumah sedikit berteriak agar yang mengetuk rumahnya segera berhenti.


"Laura dan Dirga ada di sini, Intan?" tanya Leon dengan cemas.


Intan memandang Leon dengan bingung. Bukannya Laura dan Dirga bersama dengan Leon? "Loh, Om. Bukannya kak Laura dan Dirga akan makan malam bersama dengan Om Leon? Intan tadi melihat kak Laura sudah berdandan sangat cantik, setelah itu Intan pulang," ucap Intan menjelaskan membuat Leon semakin panik.


"Saya memang ingin mengajak Laura dan Dirga makan malam bersama. Tetapi waktu saya datang Laura dan Dirga sudah tidak ada di rumahnya..." ucap Leon dengan panik. Leon mengusap wajahnya dengan kasar. "Astaga... Kemana mereka? Apa mereka diculik?" tanya Leon dengan panik.


Leon segera merogoh ponselnya yang berada di saku celananya. Ia mencoba menghubungi Laura, namun ponsel wanita itu sama sekali tidak aktif. Dengan tangan gemetar Leon memeriksa CCTV di rumah Laura yang sudah tersambung di ponselnya. Dan apa ini? Kenapa CCTV-nya tidak bisa terhubung? CCTV rusak begitu saja termasuk CCTV yang berada di kalung Laura.


Intan menatap Leon dengan panik. "Bagaimana, Om?" tanya Intan dengan cemas.


"Laura tidak bisa dihubungi. Semua CCTV yang berada di rumahnya tidak berfungsi. Kemana Laura?" ucap Leon dengan cemas.


"Saya harus mencarinya!" ucap Leon dengan cepat berlari ke arah mobilnya.


"Om, Intan ikut!" ucap Intan yang memang sangat mengkhawatirkan Laura dan juga Dirga yang sekarang entah berada di mana.


"Kamu di rumah saja! Ini sudah malam," ucap Leon dengan tegas membuat Intan mengangguk lesu.


Leon berlari ke arah mobilnya dengan cepat. Begitu sampai ia langsung masuk dan menjalankan mobilnya. Dengan perasaan yang begitu panik ia menelepon Ryan yang sudah berada di rumahnya bersama dengan kedua orang tuanya.


"Ryan, makan malam kali ini gagal. Laura dan Dirga menghilang, sekarang lo bantu gue untuk mencari keberadaan mereka!" ucap Leon ketika sambungan teleponnya sudah diangkat oleh Ryan.


Di seberang sana Ryan mengumpat dengan kesal sekaligus panik mendengar kabar dari sang sahabat. Ryan juga bingung harus mengatakan apa kepada kedua orang tuanya, calon mertuanya dan juga Ica. "****... Gue akan ke sana! Tunggu gue!" ucap Ryan dengan panik.


"Bilang ke ayah dan bunda gue dan keluarga lo juga Ica, jika ada hal yang harus kita selesaikan. Tetapi jangan sampai membuat mereka kecewa," ucap Leon dengan lirih.


"Lo tenang aja, itu urusan gue yang terpenting sekarang lo jangan panik Laura dan Dirga pasti ketemu," ucap Ryan dengan tegas.


Setelah itu sambungan telepon mereka terputus. Leon tampak ftustasi mencoba menghubungi Laura yang tak kunjung akfif. "Kemana kamu, Laura? Mengapa kamu selalu membuat jantung saya mau copot pada tempatnya? Sepertinya kami ingin membuat saya mati!" monolog Leon dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


Leon menunggu Ryan hingga lelaki itu datang di pinggir jalan. Leon sama sekali tidak fokus membawa mobilnya hampir beberapa kali ia menabrak motor atau mobil lain yang lewat, hingga Leon menghentikan mobilnya di pinggir jalan menunggu sang sahabat datang setelah ia mengirimkan lokasinya saat ini.


Setelah lumayan lama Leon menunggu akhirnya Ryan datang dan mengetuk mobilnya begitu saja. Ryan masuk di kursi pengemudi dengan perasaan kesal. "Lo mengacaukan semuanya. Ica sempat menangis karena malam ini kami gagal bertunangan!" hardik Ryan dengan keras tetapi Leon hanya diam dengan raut wajah cemas membuat Ryan menjadi tidak tega dan menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Bukan lo aja yang gagal bertunangan. Gue juga, Ryan. Calon istri dan anak gue gak tahu kemana! Laura lagi mengandung anak gue, Ryan! Sekarang dia berada di mana? Baik-baik saja atau tidak? Itu semua mengganggu pikiran gue!" ucap Leon dengan dingin membuat Ryan terdiam.


"Oke, maafin gue! Gue cuma kesal karena malam ini gue gagal lagi, gue udah menunggu waktu ini bertahun-tahun," ucap Ryan dengan menyesal. Leon hanya mengangguk saja dengan memijit pelipisnya. "Kalau tidak ada petunjuk Laura dan Dirga berada di mana. Terus sekarang kita harus kemana?" tanya Ryan dengan tenang.


"Rumah Zico!" ucap Leon dengan tajam.


"Lo yakin?" tanya Ryan dengan serius.


"Cepat sedikit, Ryan! Gue takut Zico melakukan hal yang tidak-tidak kepada Laura dan Dirga. Gue gak mau terjadi sesuatu dengan mereka terlebih sampai Laura keguguran. kandungan Laura sangat lemah," ucap Leon dengan panik.


Ryan tidak menjawab pria itu tetap fokus pada kemudinya. Ia sesekali melirik Leon yang tampak sekali panik memikirkan Laura maupun Dirga. Ryan juga merasa heran kenapa Leon bisa kecolongan begitu?


Jika memang Zico yang menculik Laura, maka Leon dan Ryan tidak akan memberi ampun pada Zico. Belum cukupkah penderitaan Zico ketika Leon membuat semua kolega Zico menghentikan kerja samanya? Sepertinya lelaki itu harus diberi pelajaran yang lain.


***


Ica menangis dipelukan kembarannya. Pertunangannya dengan Ryan yang seharusnya terjadi kini harus gagal kembali.


"Sudahlah jangan menangis. Kalian tetap akan menikah," ucap Ika dengan lembut.


"Kakak tidak tahu rasanya memiliki pacar bertahun-tahun. Dan ketika ingin bertunangan langsung gagal," ucap Ica dengan polosnya membuat Ika mendengkus. Tidak tahu saja Ica jika dirinya memiliki pacar bahkan tubuhnya sudah ia serahkan, sesuatu yang paling berharga di dalam hidupnya sudah ia berikan kepada Rama. Tetapi Rama tak kunjung menikahinya. Jika ditanya siapa yang lebih sakit maka jawabannya adalah Ika tetapi wanita tomboy itu sangat pandai menyimpan perasaan sakitnya seorang diri.


"Cuma gagal bertunangan karena kak Ryan membantu mas Leon. Sudah jangan menangis, ingusmu sudah menempel di bajuku," ucap Ika dengan jijik membuat Ica melempar bantal ke arah kembarannya yang tak tahu perasaannya sekarang sangat terluka. Padahal Ica sudah ingin menikah dengan Ryan secepatnya, otak polos Ica sudah diracuni oleh hal-hal berbau dewasa oleh Ryan.


"Ica!" teriak Ika saat Ica membuang ingusnya di baju dirinya. Ika melihat cairan kental yang menempel di bajunya dengan sangat jijik.


"Apa? Aku tidak bisa bernapas makanya aku buang dengan cepat," ucap Ica dengan polos dan tampang tidak berdosanya menatap Ika yang sudah sangat kesal kepadanya.


"Aku kesal kepadamu! Awas saja jika kau meminta bantuanku!" ucap Ika dengan sinis. Dan pergi ke kamarnya untuk berganti baju.


"Kak Ika jangan marah. Itu hanya ingusku," teriak Ica tetapi Ika sudah tidak peduli ia ingin segera mengganti bajunya.


***


Leon dan Ryan sudah sampai di rumah Zico tetapi tumah itu tampak sepi sekali. Mereka bertanya pada satpam yang berjaga di sana. "Pak, Zico apa ada di rumahnya?" tanya Ryan dengan sopan walau sebenarnya ia ingin masuk begitu saja menghajar Zico hingga lelaki itu tidak bisa kembali berjalan.


"Maaf, Tuan. Tuan Zico sejak tadi tidak ada di rumahnya. Setelah kunjungan kedua orang tuanya, tuan Zico pergi entah kemana," ucap satpam bernama Beni itu yang menjaga rumah Zico.


"Anda tidak berbohong, Pak?" tanya Leon dengan tajam.


"T-tidak, Tuan! Kalau tidak percaya Tuan boleh masuk dan bertanya kepada asisten rumah tangga di dalam," ucap Pak Beni dengan tergagap karena tatapan kedua orang di depannya ini sangat tajam hingga seperti menusuk jantungnya.


Leon masuk ke rumah Zico begitu saja, ia masih merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan satpam di depan. Tetapi jawaban dari asisten rumah tangga Zico sama persis seperti satpam tersebut membuat Leon menghembuskan napasnya dengan kasar. Kekhawatirannya terhadap Laura dan Dirga samakin besar.


"Bagaimana?" tanta Ryan saat Leon kembali memghampirinya. Gelengan kepala Leon sudah menjawab semuanya.


Dan yang membuat bingung. Sekarang mereka harus mencari Laura dan Dirga kemana? Karena tidak ada petunjuk sama sekali tentang keberadaan mereka. Ryan menepuk pundak Leon yang tampak sangat cemas.


"Kita tetap harus mencari mereka!" ucap Leon dengan dingin.


***


Puass kalian author update lagi?


Gak mau tahu. ramein lagi 😭😭


Kalau gak rame! Akoh sewa santet online buat santet om Leon biar suka sama authornya aja eh salah maksudnya santet pembacanya😭😭😭😭


Ramein lagi dengan like, vote dan komentar sebanyak-banyak. Komentar lanjut gak termasuk ya. Walaupun kalian gak minta tapi aku tetap lanjut, cuma kurang semangat aja. Semua komentar kalian aku baca, tapi maaf gak bales karena siapin energi jempol kalau kalian minta double up lagi😤😤😤


Ramein atau santet online nih?🤔😎