Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~100 (Bahagiaku Adalah Kamu)



...Happy reading...


****


Saat ini Cut sedang bermanja-manja dengan sang mama. Mereka akan pulang ke Medan setelah di kembar di akikah dan untung saja Cut sedang libur sekolah karena sebentar lagi anak perempuan itu akan masuk sekolah dasar.


Dengan rasa yang sangat gembira Cut menatap Ika dari balik cermin besar di kamar mamanya saat Ika sedang mengepang rambutnya. "Mama, kapan aku punya adek bayi?" tanya Cut dengan serius.


"Emang Cut mau punya adek berapa?" tanya Ika dengan lembut.


Cut meletakkan jarinya pada dagunya seakan sedang berpikir berapa adik yang ia inginkan. "Dua kayak Dirga ya, Ma! Boleh, kan? Adek Devino dan Devina, ganteng dan cantik aku suka. Boleh gak ya mereka aku bawa ke Medan?" ucap Cut dengan lucu membuat Ika tertawa dan memeluk anak sambungnya tersebut dengan sayang.


"Yakin cuma dua? Gak mau tiga atau empat, lima gitu? Pasti ayah Leon dan bunda Laura gak izinin anaknya dibawa Cut dong karena adek kembar masih butuh minum susu dari bunda Laura," ucap Ika dengan terkekeh.


"Tiga? Empat? Lima? Boleh, Ma? Aku mau adek banyak!" teriak Cut dengan girang.


"Gak boleh!" ucap Sultan dengan masam saat ia mendengar celoteh anaknya bersama dengan sang istri. Saat ini Sultan baru masuk ke kamar karena tadi ia sedang mengobrol bersama dengan Leo, Leon, Alan, dan Ryan sedangkan kedua orang tuanya sudah pulang ke Aceh sejak kemarin.


"Kenapa gak boleh, Pa? Mama aja gak masalah kok!" ucap Cut dengan mengerucutkan bibirnya.


"Nanti mama kesakitan. Cut tega lihat mama sakit?" ucap Sultan dengan serius.


Cut menggeleng dengan cepat. "Gak mau! Cut gak akan minta banyak adek lagi. Satu atau dua aja, boleh kan, Pa?" tanya Cut dengan penuh harap.


Ika yang tahu perasaan suaminya hanya bisa mengelus punggung Sultan dengan lembut. Tampak sekali Sultan sedang kalut karena ucapannya dengan Cut tadi. "Satu aja!" ucap Sultan dengan lirih.


"Masa satu sih, Pa?" balas Cut dengan lirih.


"Abang..." Ika melirik ke arah suaminya dan ke arah Cut membuat Sultan paham saat ini anaknya ingin mempunyai adik seperti Dirga.


"Iya Dua. Tapi Papa gak janji. Kalau Cut aja tidurnya masih minta sama mama dan Papa," ucap Sultan dengan tersenyum.


"Cut mau tidur bertiga kan karena ini pertama kalinya, Pa. Besok-besok Cut akan tidur sendiri lagi kok. Janji!" ucap Cut dengan serius membuat Sultan tersenyum. Ika merasa sakit mendengar ucapan Cut karena ia tahu anak sambungnya itu baru merasakan tidur dengan mama dan papanya setelah 5 tahun lebih kehilangan sosok seorang ibu sejak lahir dan Ika berusaha menjadi ibu sambung yang baik untuk Cut.


"Sekarang Cut keluar ya main sama Dirga, Angel dan adek kembar. Papa mau ngomong sama mama," ucap Sultan dengan lembut.


"Oke, Pa. Cut akan keluar. Mau minta mainan sama kakek. Kakek Leo udah janji sama Cut kemarin," ucap Cut dengan senang.


"Jangan lari-lari, Sayang! Kakek gak pergi kemana-mana," teriak Ika khawatir saat Cut berlari keluar kamar begitu saja.


"Iya, Ma," teriak Cut dengan tersenyum.


Kini, tinggal Sultan dan Ika yang berada di dalam kamar. Wajah Sultan sengaja ia tenggelamkan di perut Ika membuat wanita itu mengelus kepala suaminya dengan lembut. "Abang kenapa hmm?" tanya Ika dengan pelan.


Sultan tak menjawab, lelaki itu masih ingin bermanja-manja dengan sang istri untuk menghilangkan kegundahan di dalam hatinya mengenai soal anak. Entah mengapa semua itu mengganggu pikirannya saat ini, Sultan sangat takut kehilangan wanita yang ia sayang untuk yang kedua kalinya.


"Duduk dulu yuk!" ajak Ika dengan lembut. Akhirnya keduanya duduk di kasur dengan Sultan yang merebahkan kepalanya di paha Ika dan menenggelamkan wajahnya di perut Ika kembali.


"Adek yakin mau punya anak dua? Satu aja ya Sayang?! Abang takut hal yang terjadi pada mamanya Cut terjadi juga sama kamu, Dek!" gumam Sultan lirih.


"Abang, semua yang terjadi pada kita karena campur tangan Tuhan. Abang gak perlu takut akan semua itu, karena jodoh, rezeki maupun maut sudah ada yang mengatur. Yakin jika nanti Ika diberi kepercayaan untuk hamil anak Abang, Ika akan baik-baik saja dan hidup bersama Abang, Cut, dan anak-anak kita yang lain dengan bahagia. Gak usah risau lagi ya Bang. Ika juga belum hamil kok kan kita baru beberapa hari menikah, Abang gak mau pacaran dulu sama Ika?" ucap Ika dengan lembut membuat Sultan tersenyum bahagia.


Cup...


Ika memberanikan diri untuk mengecup bibir suaminya. Sultan menahan tengkuk sang istri untuk memperdalam ciuman mereka. Napas keduanya sama-sama terengah, Ika menghirup udara sebanyak-banyaknya saat pasokan udara seperti habis karena ulah suaminya.


"Ahhhh... Abang ini masih siang," gumam Ika dengan lirih. Sejujurnya ia sangat menginginkan sentuhan Sultan karena dua malam ini mereka tidak melakukannya karena Cut tidur bersama dengan mereka. Bisa saja keduanya mencuri-curi sentuhan saat Cut tertidur tetapi suara ******* Ika yang terkadang tak terkontrol membuat keduanya menahan hasrat masing-masing.


"Emang kenapa kalau siang? Sekalian mandi untuk sholat dzuhur," ucap Sultan dengan serak.


Entah sadar atau tidak keduanya sudah tidak memakai busana apapun hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Ika menelan ludahnya dengan kasar saat melihat milik suaminya yang tegang sempurna. Dengan ragu-ragu ia memegang milik suaminya yang membuat Sultan memejamkan matanya menikmati sentuhan Ika.


"Ahhhh.. Nakal kamu, Dek!" ucap Sultan dengan wajah yang memerah saat Ika mengerut miliknya dengan pelan. Ika hanya bisa terkekeh dan menikmati wajah suaminya yang sudah diserang gairah. Akhirnya keduanya menyatu dengan diiringi suara-suara yang menambah gairah mereka. Keduanya sudah dibanjiri keringat dan Sultan ambruk setelah mendapatkan pelepasannya, sedangkan Ika sudah lemas karena sudah mendapat pelepasan untuk kedua kalinya.


"Buat adonannya mau tapi punya anak takut. Gimana sih, Bang?" ucap Ika dengan jahil membuat Sultan mendengkus tangannya berada di dua gundukan milik istrinya dan memainkannya dengan gemas.


"Wajar karena Abang sudah lama puasa. Setelah buka pengin lagi dan lagi lah. Untuk masalah anak kita pasrahkan saja sama yang di Atas tapi tetap Abang gak mau punya anak banyak, Abang gak tega lihat kamu kesakitan nantinya. Mas Leon aja bisa takut lihat istrinya melahirkan seperti itu padahal orangnya kaku dan dingin," ucap Sultan membela dirinya.


Ika tersenyum dan mengelus pipi suaminya. Sultan seperti bayi besar untuknya, setelah mereka menikah keduanya baru mengetahui jika mereka memang benar-benar saling membutuhkan. Terlebih Sultan yang berubah bak seperti bayi besar. Ika selalu menggelengkan kepalanya ketika melihat Sultan menyusu kepadanya seperti sekarang. Ika melihat jam di dinding kamarnya, masih ada 30 menit lagi untuk mereka beristirahat sebelum masuk waktu sholat dan Ika membiarkan suaminya menjadi bayi saat ini.


"Nati kalau kita punya anak. Abang bakal cemburu gak ya kalau milik Abang ini udah dikuasai anak kita?" tanya Ika dengan terkekeh.


"Cemburulah, Dek! Makanya Abang maunya kita pacaran dulu," ucap Sultan dengan lirih. Ika tertawa kecil seharusnya ia yang bermanja-manja pada suaminya ternyata suaminya lah yang suka bermanja-manja seperti ini. Ika sama sekali tidak merasa risih ia malah merasa sangat dibutuhkan oleh suaminya dan Ika sangat bahagia baginya inilah defenisi 'bahagiaku adalah kamu'


****


Malam harinya....


Leo menatap anak-anaknya yang sedang berkumpul, ia tersenyum haru ketika semua anaknya bahagia dan saat ini ia merindukan istri pertamanya yang sudah lama meninggalkannya.


"Adinda, aku kangen kamu!" ucap Leo dengan lirih menatap foto sang istri sewaktu muda. Akhir-akhir ini Leo sangat merindukan istri pertamanya. Saera sama sekali tidak cemburu baginya Adinda membawa kebahagiaan untuknya walau awal pernikahannya dengan Leo, ia sangat tersiksa karena sikap Leo yang kasar kepadanya.


"Ayah, istirahat yuk! Ini sudah malam," ucap Saera mengelus pundak suaminya yang sudah terlihat sangat tua tetapi bagi Saera, Leo lah yang tertampan di matanya.


"Bun, ayah kangen Adinda. Beberapa hari ini Ayah terus memimpikan Adinda yang sedang tersenyum kepada Ayah," ucap Leo dengan lirih.


"Besok kita pergi ke makam mbak Adinda, Yah. Ayah jangan sedih gini," ucap Saera membantu sang suami merebahkan tubuhnya di kasur. Walau Leo tak lagi bisa memuaskannya tetapi Saera tetapi mencintai suaminya.


"Ayah gak sedih, Bun. Ayah bahagia akhirnya anak-anak Ayah bertemu dengan pasangannya. Apa Ayah masih bisa melihat anak dari Ika dan Ica ya?" ucap Leo dengan pandangan menerawang.


"Kok ayah ngomong gitu sih? Bunda dan Ayah pasti bisa melihat kedua anak kita melahirkan nantinya dan kita yang akan menggendong cucu kita untuk pertama kalinya," ucap Saera dengan sendu. Perkataan Leo benar-benar membuat Saera takut.


"Iya pasti, Bun! Ayah jadi gak sabar melihat anaknya Ica dan mendengar Ika juga hamil. Cucu kita sudah banyak ya, Bun. Bahkan kita sudah punya cicit dari Elang," ucap Leo dengan terkekeh.


"Kita sudah tua Ayah. Sudah sepantasnya punya banyak cucu walau Dirga dan Cut bukan cucu kandung kita tetapi mereka adalah tetap cucu kita. Keduanya sangat tampan dan juga cantik. Cut seperti bule dengan rambut pirangnya dan Dirga seperti Leon waktu kecil, sangat tampan," ucap Saera dengan bahagia.


Leo membawa Saera ke dalam pelukannya. "Bunda harus jadi wanita yang tegar jika nanti Ayah sudah tidak bisa menemani Bunda lagi. Maafkan kesalahan Ayah di masa lalu ya, Bun!"


"Bunda sudah melupakan semuanya, Yah. Sekarang kita sudah hidup bahagia. Kita tidur yuk!"


Akhirnya keduanya tertidur dengan perasaan yang sangat bahagia. Tak peduli dengan takdir yang akan menyapa mereka nantinya, keduanya saling mencintai hingga raga mereka berpisah.


*****


Duh bahagianya babang Sultan dimanja banget sama Ika.


Ramein lagi part ini ya!


Like, vote, coment, and favoritkan cerita ini!