Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~12 (Kedekatan)



...Hadir dengan dua part hari ini. Ayo ramein dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya. Jangan lupa baca juga novel "Cinta Sempurna Sang Gadis Gendut" ya, yang update setiap hari tentunya....


... ...


...Happy reading...


****


Cut dan Ihsan mengantarkan kepulangan Sultan, Ika, dan ke empat adiknya. Mereka semua sudah berada di bandara dan kali ini rasanya Cut merasa berat untuk mengantar kepulangan keluarganya ke Medan.


"Jaga kesehatan ya, Nak. Nanti kalau adik kamu libur lagi Mama dan Papa akan ke Jakarta kembali. Atau kamu bisa pulang ke Medan jika nanti sudah libur semester bersama dengan Ihsan," ucap Ika dengan lembut.


"Bentar lagi aku libur semester, Ma. Insya Allah aku akan pulang ke Medan," ucap Ika dengan tersenyum.


"Ihsan tolong jaga anak saya ya. Karena kamu yang saya percaya untuk menjaga Cut selagi kami tidak bisa menjaganya," ucap Sultan dengan tegas.


"Pasti saya akan menjaga Cut dengan baik, Pak. Anda tidak perlu khawatir," ujar Ihsan dengan tegas dan tidak ada keraguan di sana.


Cut tersenyum tipis mendengar ucapan Ihsan barusan dan entah mengapa ia menjadi salah tingkah dengan sikap tegas Ihsan terhadapnya. Apalagi ketika Ihsan sudah tersenyum manis, hatinya seakan meleleh melihat senyuman itu dan Cut merasa salah dengan hatinya sekarang. Kebimbangan masih saja terus mendera hatinya karena dua nama lelaki yang sudah menjungkir balikkan hatinya.


Suara keberangkatan pesawat menuju ke Medan sudah berbunyi. Cut memeluk semua keluarganya sebelum mereka masuk ke dalam pesawat. "Kalau sudah sampai segera hubungi Cut ya Ma," ucap Cut dengan lembut.


"Iya, Sayang," jawab Ika tak kalah lembut.


"Kalian ber-empat gak boleh nakal dan merepotkan mama dan papa," ucap Cut menasihati adik-adiknya.


"Iya, Kak!" jawab mereka dengan serempak.


Cut melambaikan tangannya saat semua keluarga berjalan masuk ke dalam pesawat. Ingin sekali Cut pulang ke Medan. Namun, kuliah dan neneknya lebih penting sekarang karena Cut yakin mereka akan bisa berkumpul kembali nantinya.


"Mau pulang sekarang atau mau makan dulu?" tanya Ihsan dengan lembut.


"Terserah Bapak saja," jawab Cut dengan pelan.


"Kok masih Bapak sih? Panggil saja Abang di saat tidak di kampus," protes Ihsan tak terima.


"Gitu dong lebih akrab. Kalau gitu kita makan dulu ya," ucap Ihsan dengan keputusannya.


"Iya Pak, eh Abang," ucap Cut yang belum terbiasa.


Ihsan terkekeh membuat Cut dengan refleks menatapnya. "Kenapa tertawa?" tanya Cut dengan bingung.


"Hahaha...enggak Cut, kamu lucu!" jawab Ihsan dengan lembut.


Blush...


Kedua pipi Cut langsung memerah, ia menundukkan kepalanya membuat Ihsan menjadi sangat gemas dengan Cut. Ia ingin mengelus kepala Cut dengan gemas tetapi mereka sama sekali belum boleh bersentuhan, akhirnya Ihsan berjalan dengan perlahan dan diikuti oleh Cut. Mereka berjalan beriringan, keduanya tampak serasi sekali ketika semua orang melihat mereka dengan perasaan iri karena keduanya terlihat cantik dan juga tampan, seperti pasangan yang sangat harmonis, nyatanya hubungan mereka belum memiliki tujuan yang pasti karena Cut masih ingin mengejar Dio.


Sakit? Pasti Ihsan merasakan sakit di hatinya. Tetapi sebagai seorang lelaki yang tegas dan bertanggungjawab Ihsan tidak bisa mencegah perasaan Cut, jika pun nanti Cut tetap memilih Dio, ia akan ikhlas melepaskan Cut. Tetapi untuk sekarang Ihsan akan berjuang terlebih dahulu. Dan kedekatan mereka sekarang sudah membuat Ihsan sangat bahagia. Ia berharap bisa memiliki Cut seutuhnya dan tidak ada nama Dio di hati Cut. Ihsan hanya tinggal menunggu waktu itu tiba saja.


****


Saat ini Dio sedang bercanda Ratu. Sangat jarang sekali mereka seperti ini dan kebersamaan mereka membuat Dio merasa senang.


"Dio!" panggil Ratu dengan pelan.


"Hmmm. Ada apa?" tanya Dio kepada Ratu dengan satu alis terangkat.


"Kalau kita sudah sama-sama menikah. Apakah kita bisa seperti ini lagi ya?" tanya Ratu dengan menerawang.


"Kenapa tanya seperti itu?" tanya Dio dengan dingin. Suasana yang tadinya hangat kini terkesan hambar bagi Dio karena Ratu membahas pernikahan.


"Loh emang kenapa? Kita bukan anak-anak lagi kali, Dio. Kita sudah dewasa dan sudah sepantasnya kita membahas ini," ucap Ratu dengan terkekeh. "Gue pengin nikah," ujar Ratu membuat Dio melotot.


"Ya sudah ayo nikah!" ucap Dio dengan serius.


"Hahaha lo sahabat gue, Dio. Kita gak mungkin nikah, lagian Danu lebih tampan dari lo!" ucap Ratu dengan terkekeh karena ia merasa ucapan Dio kepadanya sangat melantur sekali. Mana mungkin dirinya menikah dengan Dio, karena Dio adalah sahabatnya yang bisa ia butuhkan kapan saja saat Danu, sang kekasih tidak bersamanya.


Ucapan Ratu sangat menghunus hatinya. Hatinya seperti ditikam oleh belati yang sangat tajam. Dio terdiam dengan pikiran berkecamuk dan entah mengapa di saat seperti ini ia mengingat Cut yang bersih keras memperjuangkan cinta kepadanya. Dan mungkin beginilah perasaan Cut saat dirinya menolak cinta gadis itu. Dan rasanya sangat sakit!