Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~69 (Histeris)



...Jangan lupa ramaikan part ini ya. Tinggalkan bom like, dan komentar kalian....


...Happy reading...


*****


Sultan memeluk anaknya dengan erat. Sultan ikut menangis dengan lirih. "Kamu yang tenang ya, Nak. Ihsan sudah tenang di sana," ujar Sultan dengan lirih.


"ENGGAKKKK!" teriak Cut dengan histeris, ia memberontak di pelukan papanya.


"Hiks...hiks... Bang Ihsan gak mungkin ninggalin Cut! Gak mungkin! Papa bohong! Cut mau ketemu Bang Ihsan!" ucap Cut dengan histeris.


Cut mendorong tubuh Sultan agar tidak memeluknya.


"Cut jangan seperti ini, Nak. Ihsan sudah tenang di sana, dia bakal sedih jika melihat kamu seperti ini, Sayang," ucap Sultan dengan pelan.


"ENGGAK! PAPA BOHONG! BANG IHSAN GAK AKAN MUNGKIN MENINGGALKAN CUT!" teriak Cut dengan air mata yang terus mengalir.


"Lepas! Cut mau ketemu Bang Ihsan!" ucap Cut dengan sekuat tenaga mendorong tubuh papanya hingga pelukannya terlepas.


Cut menarik infus yang berada di tangannya dengan kuat hingga darah bercucuran keluar dari sana. Tak ada rasa sakit yang Cut tunjukkan, wanita itu harus memastikan suaminya baik-baik saja! Ia takut mimpi yang Cut alami menjadi kenyataan yang sangat menyakitkan untuknya. Bagaimana dirinya hidup tanpa seoran Ihsan?


"Cut keadaan kamu masih lemas, Sayang!" ucap Sultan dengan cemas.


"Dokter-dokter tolong anak saya!" teriak Sultan dengan panik.


"Hiks...hiks... Papa jangan halangi Cut untuk ketemu bang Ihsan! Cut harus memastikan jika bang Ihsan baik-baik saja! Gak mungkin dia meninggalkan Cut! Bang Ihsan sudah janji," ujar Cut dengan suara meraung pedih yang membuat Sultan merasa tidak tega dengan keadaan anaknya sekarang.


"Nanti ya setelah kamu sehat kita akan ketemu suami kamu!" ujar Sultan yang berusaha memberikan pengertian kepada anaknya.


"CUT MAUNYA SEKARANG! JANGAN HALANGI CUT, PA!" teriak Cut histeris.


Cut marah dengan Sultan yang terus menghalangi jalannya. Ia kesal dengan papanya sekarang, padahal Cut hanya ingin bertemu dengan suaminya kenapa harus dihalangi seperti ini? Pasti Ihsan sangat membutuhkannya sekarang! Bagaimana cara suaminya mengurus dirinya ketika ia sebagai istri terbaring lemah di sini? Cut mau ketemu dengan suaminya dan merawat Ihsan dengan baik, suaminya itu pasti langsung sehat jika dirinya yang merawat. Cut dokter, ia pasti bisa menyembuhkan sang suami.


"DENGARKAN PAPA CUT! IKHLASKAN IHSAN, SAYANG! DIA SUDAH TENANG DI SANA!" ucap Sultan dengan keras.


Cut yang sudah mencoba berdiri langsung terjatuh begitu saja saat mendengar ucapan papanya.


"Hiks...hiksss..."


"Sayang!"


"Kenapa bang Ihsan pergi, Pa?"


"Cut!"


"Kenapa bang Ihsan nanggalin Cut, Pa?"


Tak tega dengan keadaan anaknya sekarang Ihsan memeluk Cut dengan erat. Sultan awalnya tak ingin membicarakan soal kepergiaan Ihsan sekarang tetapi jika terus ditutupi bukankah itu semakin menyakitkan perasaan anaknya?


"Masih ada Papa, mama, dan adik-adik kamu, Cut. Juga anak kamu, Mashita! Shita butuh kamu, kamu jangan seperti ini ya!" ucap Sultan dengan lembut.


"Gimana Cut menjalani hari kalau penguat dalam hidup Cut saja pergi, Pa? Cut gak kuat! Cut mau ikut bang Ihsan!" ujar Cut dengan lirih bahkan pandangannya juga terlihat kosong.


Dokter datang dengan wajah panik melihat keadaan Cut yang seperti ini.


"Dok tolong anak saya!" ujar Sultan dengan lirih.


Dokter mengangguk dan langsung memberikan suntikan penenang untuk Cut. Tak lupa memasang infus yang di bantu oleh suster pada tangan Cut.


"Cut mau nyusul bang Ihsan, Pa! Kasihan bang Ihsan sendirian! Bang Ihsan butuh Cut di sana!" ucap Cut ngelantur.


"Pa!" panggil Cut dengan lirih.


"Iya, Sayang!" Sultan menggendong anaknya san ditidurkan kembali di ranjang pasien setelah dokter berhasil menyuntik Cut.


"Cut mau nyusul bang Ihsan!" ujar Cut dengan lirih sebelum kembali menutup matanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Pak? Keadaan tadi bisa membuat kesehatan Meisya kembali drop," ucap Dokter yang membuat Sultan merasa sedih.


"Anak saya sudah tahu kalau suaminya sudah meninggal dan tiba-tiba histeris seperti tadi," ujar Sultan dengan pelan.


Dokter menghela napas perlahan. "Ini memang menyakitkan untuk Meisya. Tetapi yang saya takutkan jiwanya akan terguncamg setelah mendengar kabar menyakitkan untuknya," ujar dokter yang membuat Sultan menatap tajam ke arah dokter tersebut.


"Apa maksud dokter, hah?" tanya Sultan dengan tajam.


"Melihat respon Meisya yang seperti tadi saya takut jiwa Meisya akan terguncang. Bukan gila tapi depresi karena sebuah tekanan batin yang ia rasakan saat ini. kehilangan seseorang yang Meisya cintainya benar-benar tidak mudah untuknya. Hati dan jiwanya menolak kepergian suaminya," jelas dokter dengan perlahan


Sultan mengusap wajahnya dengan kasar. Cobaan apa lagi ini Tuhan?


"Cut depresi?" tanya Ika dengan mata yang berkaca-kaca saat tidak sengaja mendengar penjelasan dokter. Pantas saja Ika merasa tidak tenang pada hatinya ternyata ini yang terjadi?


"Ma, kenapa ke sini? Mama harus istirahat di ruangan Mama! Mama masih demam!" ujar Sultan dengan lembut.


Ika sama sekali tidak merespon. Ia menatap dokter dengan mata berkaca-kaca. "Dokter anak saya bisa sembuh, kan?" tanya Ika dengan lirih.


"Bisa, Bu. Tetapi kita harus sabar untuk membuat Meisya mengiklaskan kepergian suaminya. Jika nanti Meisya terbangun dan histeris kembali, saya sarankan dokter Dio yang menangani Meisya karena kita tidak tahu seberapa depresinya Meisya sekarang. Hanya dokter Dio yang mengerti karena dia psikiater, saya yakin Meisya segera sembuh," ujar dokter yang membuat tubuh Ika lemas.


Ika ambruk begitu saja dengan mata yang terpejam selain demamnya belum turun Ika sangat syok mendengar penjelasan dokter mengatakan jika Cut depresi.


"Mama!" ucap Sultan dengan panik.


"Bawa ke ruangan bu Ika, Pak. Biar sekalian saya periksa! Untuk Meisya anda tidak perlu khawatir, ia masih terpengaruh dengan obat tidur yang saya berikan," ujar dokter dengan tenang melihat gurat khawatir dari Sultan.


****


"Pa, Rifki gak suka Papa bentak Mama! Kalau Papa nyakitin Mama berhadapan dulu dengan Rifki!" ucap Rifki dengan datar.


"Benar! Kami tidak mau mama terluka karena Papa!" ucap Riski saudara kembar Rifki.


"Maafkan Papa, Nak!" ujar Sultan menyesal.


"Kalau Papa ulangi lagi kami akan bawa Mama pergi biar Papa gak bisa ketemu Mama!" ujar Rifki dengan tajam. Sungguh Rifki sangat kesal dengan papanya, boleh khawatir dengan keadaan kakaknya tetapi jangan membentak mamanya yang sama sekali tidak bersalah, Rifki sama sekali tidak rela jika mamanya terluka. Bahkan Rifki tidak pernah membantah perkataan mamanya sekali pun.


"Maafkan, Papa!" ujar Sultan dengan pelan karena jujur Sultan sedang kalut saat itu.


Sedangkan Resya hanya diam mendengar amarah saudara kembarnya, ia memijat kaki mamanya yang masih terasa panas bersama dengan Meira. Sungguh Reisya pun merasa kesal dengan papanya tetapi Reisya tak berani bersuara begitu pun dengan Meira.


"Eughhh..."


"Mama sudah sadar? Mama mau minum?" tanya Meira dengan lega.


Ika menggeleng. "Mama mau ke ruangan kakakmu. Antar Mama ke sana!" ujar Ika dengan pelan.


"Gak! Mama tetap di sini saja! Di sana sudah ada mas Leon dan Ica," ujar Sultan dengan tegas.


"Tapi Pa..."


"Kalau Mama sudah sehat baru kita ke sana!" ujar Sultan dengan mutlak yang membuat Ika hanya bisa pasrah.


"Mama mau makan? Reisya suapi ya?!" ujar Reisya dengan lembut.


"Mama gak lapar!" ujar Ika dengan lemas.


"Mama makan ya! Dari tadi Mama belum Makan!" ujar Rifki dengan lembut.


Ika menggeleng. "Nanti saja!" ujar Ika pelan.


"Ya sudah Mama istirahat saja. nanti kalau Mama sudah sembuh kita jenguk kak Cut," ujar Riski dengan tersenyum.


Cup...


Sultan mengecup kening sang istri. "Maafkan Papa yang sudah membentak Mama hingga Mama sakit seperti ini. Cepat sembuh, Sayang!" ujar Sultan dengan lembut yang membuat ke-empat anaknya tersenyum tipis. Inilah Sultan yang sesungguhnya!


"Iya, Pa!"


****


"Bunda!" panggil Mashita dengan suara yang amat pelan. Ia takut menganggu sang bunda yang sedang istirahat tetapi rasa rindu Mashita tidak bisa terbendung lagi. Bersama dengan Dio Mashita sudah berada di ruangan Cut sekarang.


"Bunda, Mashita kangen!" ujar Mashita dengan mata berkaca-kaca tetapi Cut sama sekali tak merespon ucapannya. Wanita itu hanya diam dengan tatapan kosongnya, setelah kembali bangun Cut hanya diam seperti tidak memiliki semangat hidup kembali.


"Om, Bunda marah ya sama Mashita? Kenapa Bunda gak mau bicara dengan Shita?" tanya Mashita dengan lirih.


"Enggak kok! Bunda cuma merasa lelah kan bunda habis tidur panjang," ucap Dio dengan lembut berusaha untuk tidak bersedih di depan Mashita.


"Bunda, Shita kangen! Kangen ayah juga!" ucap Mashita dengan menangis.


"Bang Ihsan!" ucap Cut dengan bibir gemetar.


"BANG IHSAN! BANG IHSAN MAU JEMPUT CUT? TUNGGU DI SITU CUT MAU IKUT!" ucap Cut dengan keras ia takut suaminya pergi lagi seperti di alam mimpinya.


"Jangan pergi, Bang!"


"Om, Bunda kenapa hiks?"


"Shita sama kakek Leon dulu ya!" ujar Leon dengan lembut ketika mendengar suara histeris dari Cut.


"Tapi Kek, Shita mau sama Bunda!" ujar Mashita dengan menangis.


"Biar Om Dio periksa bunda dulu ya!" ujar Dio memberi pengertian.


Mau tak mau Mashita ikut dengan Leon. Ia menatap bundanya dengan penuh kerinduan. "Kek, Bunda kenapa? Bunda mau ikut ayah ke surga ya, Kek? Kalau bunda mau ikut ayah, Shita juga mau ikut, Kek!" ujar Mashita kepada Leon.


"Bunda gak akan kemana-mana, Sayang!" ujar Leon memeluk Mashita dengan erat. Lelaki dingin seperti Leon juga menahan tangisnya karena Mashita sekarang.


"Shita!" panggil Sultan dengan pelan.


"Kakek Sultan!" ucap Mashita meminta di gendong dengan kakeknya.


"Shita kangen bunda!" ujar Mashita dengan lirih. Sultan menatap kakak iparnya meminta penjelasan.


"Cut histeris lagi!" ujar Leon pelan yang membuat Sultan merasa sesak pada hatinya.


"Astaghfirullah, anakku!"


Sedangkan Dio mencoba mendekati Cut. "Cut!" panggil Dio dengan perlahan.


"Bang Ihsan jangan tinggalkan Cut sendiri! Bang Ihsan sudah janji kita akan bersama-sama terus!" ujar Cut memeluk Dio dengan erat.


Dio memejamkan matanya. Tingkat depresi Cut memang belum terbilang parah tetapi saat ini Cut sudah berhalusinasi menganggap dirinya adalah Ihsan. Dengan ragu Dio membalas pelukan Cut yang sangat erat, seakan mengatakan jika Cut memang tidak ingin kehilangan Ihsan. Sebegitu cintanya kah Cut kepada Ihsan?


"Abang di sini gak akan pergi kemana-mana!" ujar Dio dengan lirih.


"Ya Tuhan.... Apapun akan aku lakukan agar Cut kembali sehat. Biarlah untuk saat ini Cut menganggapku sebagai Ihsan, aku tidak tega melihat Cut histeris seperti tadi," gumam Dio di dalam hati.