Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~82 (Ternyata Sultan Beneran)



...Happy reading...


*****


Sultan dibuat uring-uringan kala Cut benar-benar menginap di rumah Ika. Ia yang tidak terbiasa jauh dari Cut merasa ada yang kurang dan Sultan sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak. Takut anaknya itu menangis, bahkan ia sampai meminta nomor telepon Ika agar jika kalau Cut menangis ia langsung bisa menjemputnya tetapi Sultan sama sekali tidak mendapatkan pesan hingga pagi, berarti Cut tidak menamgis tidur dengan Ika walau untuk pertama kalinya.


Sejak Cut bayi, Sultan memang tidak pernah membiarkan anaknya tidur sendiri, Sultan memiliki alasan tertentu yaitu wajah Cut yang sangat mirip dengan mendiang istrinya, hal itu bisa mengobati rasa rindunya kepada Lisa saat ia memeluk Cut dalam tidurnya, celoteh Cut yang membuat Sultan bisa tertawa hal itu yang membuat semalaman Sultan tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Dek Lisa, Abang rindu! Kapan kita bisa berjumpa kembali?" gumam Sultan menatap foto lisa yang berada di kamarnya. Tak mau berlarut dalam kerinduan yang tidak bisa direalisasikan secara nyata, Sultan segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu ia akan menjemput Cut yang terlihat sangat betah sekali di rumah Ika.


Sedangkan Cut yang berada di rumah Ika sama sekali tidak merasa merindukan sang papa yang semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia asyik berceloteh riang duduk di kursi meja makan melihat Ika sedang masak untuk anak itu, biasanya Ika jarang makan, ia hanya makan di restoran. berhubung hari ini ada si bocil cerewet yang tidur dengannya dengan senang hati Ika memasak untuk Cut dan Sultan. Menurut Cut tadi Sultan sangat suka nasi goreng pedas dengan telur dadar di atasnya hingga Ika membuatkan nasi goreng itu untuk Cut dan Sultan.


"Cut seperti punya mama," ucap Cut dengan polos membuat Ika tersenyum miris, ia tidak bisa membayangkan jika dirinya kehilangan Saera.


"Cut punya papa yang bisa menjadi mama," ucap Ika dengan lembut.


"Rasanya beda, Kak! Cut mau punya mama. Apa Kak Ika bisa menjadi mama-nya Cut?" tanya Cut dengan penuh harap.


"Ekhem..." Ika berdehem sebelum berbicara ia seperti mati kuti di hadapan Cut. Kata Sultan, Cut memang sangat aktif dalam bertanya, di sekolah saja Cut terus bertanya kepada guru TK-nya membuat sang guru terkadang pusing tetapi sangat suka dengan Cut yang sangat pintar, kepintaran itu menurun dari kedua orang tuanya. Apalagi Sultan yang memang pintar, sejak sekolah Sultan selalu peringkat satu dan sampai kuliah Sultan selalu mendapat IP dan IPK nyaris sempurna makanya Sultan selalu dieluh-eluhkan oleh para wanita seangkatannya, kakak tingkatnya maupun adik tingkatnya tetapi hanya Lisa yang berada di hatinya sampai sekarang.


"Kamu bisa anggap Kakak sebagai mama kamu, Cut!" ucap Ika mengelus kepala Cut dengan sayang.


Cut tersenyum senang. "Berarti Kakak dan papa akan menikah? Kita bisa tidur bertiga?" tanya Cut dengan berbinar.


"Eh, bukan gitu, Sayang! Kakak dan papa Sultan tidak saling mencintai mana bisa menikah begitu saja," ucap Ika memberikan pengertian membuat wajah Cut kembali sendu.


"Sekarang Cut sarapan ya. Nanti kita kasih nasi goreng ini sama papa," ucap Ika dengan lembut.


"Tapi Cut mau Kak Ika menjadi mama Cut beneran," gumam Cut dengan lirih. Ika hanya bisa tersenyum, ia tidak bisa berkata apa-apa untuk saat ini. Mana mungkin ia menikah dengan Sultan karena dirinya saja wanita kotor sedangkan Sultan adalah lelaki baik-baik. Pasti Sultan akan mencari wanita baik-baik juga. Hatinya juga masih berkubang pada nama yang sama yaitu Rama. Entahlah Rama memang masih ada di hatinya tetapi ketika dirinya melihat Sultan nama Rama sirna begitu saja.


Tok...tok...


"Itu pasti papa. Sekarang Cut jangan sedih kita ajak papa makan bareng," ucap Ika dengan tersenyum membuat Cut tersenyum dan langsung berlari membuka pintu untuk sang papa.


"Papa!" teriak Cut dengan senang.


"Anak Papa. Papa kangen!" ucap Sultan memeluk Cut dengan erat.


"Baru ditinggal Cut beberapa jam sudah kangen aja," ucap Ika dengan menggelengkan kepalanya.


"Maklum Dek. Kami cuma berdua tinggal di rumah. Saya tidak pernah lepas dari Cut kecuali sekolah dan mengaji," ucap Sultan membuat Ika paham.


"Aku paham Bang. Abang belum sarapan, kan? Aku sudah membuat nasi goreng untuk Abang. Masuk saja, kalau takut menimbulkan fitnah buka saja pintu dengan lebar," ujar Ika memberikan saran.


"Tidak apa-apa saya masuk?" tanya Sultan tak enak hati.


"Tidak apa-apa Bang. Ada Cut juga, kan? Kita tidak sedang berdua," ucap Ika dengan tersenyum.


Akhirnya Sultan masuk ke rumah Ika untuk pertama kalinya. Awalnya ia sangat merasa canggung tetapi Cut dan Ika bisa membuatnya tertawa apalagi nasi goreng buatan Ika yang sangat enak sekali membuat nasi goreng itu cepat habis di piringnya.


"Nasi gorengnya enak sekali," puji Sultan membuat Ika tersenyum.


"Mau tambah?" tanya Ika membuat Sultan mengangguk. Sultan mengamati Ika yang mengambilkan nasi goreng untuknya.


"Apa aku terlalu cepat jika aku menyukai Ika? Alasan yang membuat aku semakin jatuh hati kepadanya ketika ia seperti ibu bagi Cut sekarang. Dia terlihat sangat tulus kepada anakku, apa aku salah jika mencintai Ika begitu cepat?" gumam Sultan di dalam hatinya sambil masih memandangi wajah cantik Ika yang sedikit dekat dengannya.


"Mama, aku juga tambah," ucap Cut membuat Sultan tersedak.


"Uhuk...uhuk...."


"Pelan-pelan, Bang!" ucap Ika perhatian dan memberikan minum kepada Sultan yang langsung diterima oleh Sultan.


"Papa jangan kaget. Kata kak Ika tadi Cut boleh anggap kak Ika mama. Jadi, Cut mau manggil kak Ika mama mulai sekarang," ucap Cut dengan polos.


Sultan menatap Ika meminta penjelasan dan Ika tersenyum mengangguk. "Sepertinya Cut sangat tahu isi hatiku," gumam Sultan dengan tersenyum.


"Ya udah habiskan nasi gorengnya. Papa mau ajak Cut pergi beli kasur dan keperluan kamar lainnya, sepertinya mulai sekarang Cut harus tidur sendiri," ucap Sultan dengan tersenyum.


"Mama ikut ya?!" ucap Cut dengan memohon.


"Kak Ika kerja, Sayang," ucap Sultan dengan tegas.


"Ma..." Cut menatap Ika dengan merengek membuat mau tak mau Ika mengangguk.


"Iya Kakak ikut," ucap Ika dengan tersenyum.


"Tapi Dek, kamu kan harus kerja," ucap Sultan yang tidak tahu jika Ika bekerja di restoran milik kakaknya yang akan menjadi miliknya.


"Gak apa-apa, Bang. Sesekali buat Cut bahagia," ucap Ika dengan tersenyum membuat Sultan tersenyum keduanya saling menganggumi senyuman masing-masing membuat keduanya salah tingkah


*****


Sekarang Cut dan Ika sudah berada di dalam mobil Sultan dengan Ika yang berada di samping Sultan sedangkan Cut memilih duduk di belakang sepertinya Cut sengaja membuat kedua orang dewasa itu saling mengenal lebih dalam. Misi untuk menjadikan Ika sebagai mama-nya harus tetap berjalan bukan?


"Mampir ke swalayan dulu ya," ucap Sultan yang diangguki oleh Ika.


Mobil Sultan sudah berhenti di parkiran swalayan yang lumayan besar. "Mau turun?" tanya Sultan pada Ika.


"Iya sekalian ada yang mau aku beli, Bang," ucap Ika dengan tersenyum.


"Market Sultan. Kok namanya kayak Abang Sultan sih?" tanya Ika dengan terkekeh.


"Hanya swalayan kecil," ucap Sultan dengan tersenyum.


"Kecil apanya, orang besar gini. Lengkap lagi isinya gak kalah dengan market yang ada di Jakarta," gumam Ika.


Tunggu!


Apa perumahan yang ia tinggali juga milik Sultan? Jika iya Sultan beneran Sultan dong?


"Barang yang di pesan kemarin semua sudah masuk?" tanya Sultan pada karyawannya.


"Sudah Abang Bos. Sudah kami rapikan di rak-rak," ucap kasir tersebut.


"Bagus. Nanti keuangan bulan ini lapor sama saya ya. Lewat email saja karena hari ini saya akan mengantar Cut," ucap Sultan dengan tegas.


"Siap Bos!"


"Jangan sampai ada yang salah! Kalau sudah waktunya makan siang dan sholat silahkan berhenti bekerja," ucap Sultan yang diangguki oleh semua karyawan yang memakai baju kerja berwarna hijau itu. Baju khusus untuk para pekerjanya.


"Adek mau beli apa?" tanya Sultan membuat Ika yang sedang menggendong Cut tersentak. Karena sejak tadi ia asyik melamun tentang Sultan.


"Hmmm anu.. Itu," tunjuk Ika pada pembalut merek terkenal yang berada di rak dengan muka memerah malu.


"Wika ambilkan pembalut itu ya," ucap Sultan kepada karyawannya.


"Duh malunya!" gumam Ika dengan muka yang memanas.


"Calon ya Bos?" tanya Wika dengan menggoda.


"Doakan saja," ucap Sultan dengan santai.


"Apa-apaan coba Bang Sultan," gumam Ika menggerutu di dalam hatinya.


"Berapa semuanya?" tanya Ika dengan menormalkan detak jantungnya.


"Udah ambil saja," ucap Sultan dengan tersenyum.


"Tapi kan..."


"Ayo pergi," ucap Sultan yang diangguki oleh Ika.


"Bang ini berapa semuanya? Masa gratis?"


"Saya yang bayar! Simpan saja itu kamu mau kasih tau abang terus kalau kamu pakai merek dan ukuran itu?" tanya Sultan dengan jahil.


"B-bukan gitu... Tapi kan hasil keuntungannya buat bayar karyawan Abang. Masa harus Abang yang bayar lagi," ucap Ika tak enak.


"Gak apa. Sudah jangan cerewet! Lama-lama kamu seperti Cut," ucap Sultan yang membuat Cut tersenyum.


"Ish... Abang, aku mau tanya lagi boleh?" tanya Ika dengan penasaran.


"Tanya apa?" ucap Sultan yang fokus pada mengemudinya.


"Perumahan di kompleks tempat tinggal kita punya Abang juga ya?" tanya Ika.


"Hmm bisa dibilang begitu," ucap Sultan tanpa melihat ke arah Ika.


"Jawab yang bener Bang!" gemes Ika.


"Iya cerewet. Kompleks perumahan itu punya Abang. Perumahan di sana bisa di sewa perbulan, pertahun, atau ada yang mau membelinya," ucap Sultan menjelaskan. "Rumah yang kamu tempati pernah disewa oleh sepasang suami istri, setelah setahun mereka tidak menyewa lagi. Abang berpikir jika yang membeli rumah disebelah rumah Abang adalah sepasang suami istri, ternyata bukan. Karena waktu itu yang menelepon Abang adalah seorang lelaki," ucap Sultan dengan tersenyum.


"Ternyata gak nama aja yang Sultan tapi orangnya juga Sultan," ucap Ika dengan terkejut.


"Semua hanya titipan dan bisa diambil kapan saja. Semua usaha yang Abang rintis juga penuh dengan perjuangan dan air mata. Adek juga pasti terlahir dari orang berada karena rumah itu yang paling mahal harganya walau minimalis," ucap Sultan dengan tersenyum.


"Itu punya kakak lelaki saya, Bang," ucap Ika dengan jujur.


"Tapi nama rumah itu nama kamu," ucap Sultan.


"Iya, mas Leon selalu berlebihan kepada adik-adiknya," ucap Ika dengan tersenyum.


"Pantas saja," ucap Sultan. "Ayo turun kita sudah sampai. Kamu dan Cut bisa pilih kasur yang bagus ya. Abang gak tau selera perempuan," ucap Sultan.


"Sultan Furniture..." gumam Ika menatap Sultan meminta penjelasan.


"Iya punya Abang," ucap Sultan menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Astaga. Se-kaya apa Sultan ini," gumam Ika di dalam hatinya. Ika belum tahu saja jika swalayan dan toko furniture sudah tersebar di Medan juga Aceh. Bahkan, Sultan sudah berencana menambah cabangnya di suluruh wilayah Sumatra. Sultan juga memiliki kontrakan, kos-kosan di Medan, Aceh, dan wilayah Sumatra lainnya bahkan Sultan memiliki perkebunan sawit di Riau berhektar-hektar.


****


Panjang banget part Sultan sampai part Rama terpending🤣🤣🤣


Gimana part ini?


ngehalunya lancar ya bun wkwk.


Ramein part ini ya guys dengan like, vote, dan coment yang banyak.