Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~67 (Alam Mimpi)



...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


*****


Cut benar-benar bingung melihat dirinya yang sudah berada di tempat yang sama sekali tidak Cut ketahui. Tiba-tiba ia berada di sini dan tidak ada satu pun orang yang ia temui di tempat ini.


"Abang!" panggil Cut dengan berteriak.


"Mama!"


"Papa!"


Cut menatap sekelilingnya dengan bingung sekaligus panik. Kemana semua orang? Kenapa tidak ada bersamanya.


"Abang Ihsan, aku takut!" ucap Cut dengan mata yang berkaca-kaca.


"Abang di mana? Mashita?" teriak Cut dengan ketakutan.


Cut berlari dengan sekuat tenaganya mencari keberadaan suami dan anaknya serta mama, papa dan siapa pun yang bisa menolongnya sekarang.


"Abang tolong Cut! Cut takut sendirian hiks..." Tidak bisa membendung air matanya kini Cut menangis, ia terduduk di rumput dengan perasaan hampa karena tidak ada yang menolongnya saat ini.


"Hiks...Abang tolong Cut! Ini di mana? Cut takut hiks..." racau Cut dengan terisak.


"Sayang!" panggil sebuah suara yang membuat Cut langsung menghentikan tangisannya. Ia menghapus air matanya dengan cepat kala melihat suaminya berada di dekatnya.


"Abang, Cut takut!" ucap Cut langsung memeluk Ihsan dengan erat.


Ihsan membalas pelukan istrinya dengan erat. Namun, itu tak kunjung lama Ihsan langsung melepaskan pelukannya yang membuat Cut menatap sedih ke arah suaminya.


"Abang tidak bisa berlama-lama di sini, Sayang. Abang harus pergi!" ucap Ihsan dengan tersenyum.


"E-enggak! Abang gak boleh pergi! Jika Abang pergi bawa Cut juga!" ujar Cut dengan panik.


Ihsan tersenyum. "Abang tidak bisa membawa kamu, Sayang. Di sana masih banyak orang-orang yang menyayangimu, kembalilah Sayang!" ucap Ihsan dengan lembut.


"Abang mau kemana? Kita sudah janji untuk terus bersama tetapi kenapa sekarang Abang mau meninggalkan Cut sendirian?" tanya Cut dengan panik saat suaminya melangkah mundur menjauh.


"Cut ikut, Bang!"


"Bunda!" teriak dua anak kecil yang wajahnya terlihat sama dan sangat mirip dengan perpaduan wajah dirinya dan Ihsan.


"Kalian siapa?" tanya Cut dengan bingung.


"Kami anak Bunda! Bunda tidak boleh ikut dengan kami, Bunda harus kembali kak Shita sudah menunggu Bunda di sana!" ujar salah satu anak tersebut dengan tersenyum


"A-anakku?" tanya Cut dengan terbata. Sejak kapan dirinya mempunyai anak kembar?


"Abang harus pergi bersama dengan kedua anak kembar kita, Sayang. Berbahagialah karena kami juga bahagia di sini," ujar Ihsan dengan tersenyum. Senyum yang menyakitkan bagi Cut!


"Abang jangan tinggalkan aku!" pinta Cut dengan lirih tetapi suami dan kedua anaknya semakin menjauh.


"Bunda!" teriak Mashita yang membuat Cut mengurungkan niatnya untuk mengejar Ihsan dan kedua anaknya.


Cut menghampiri anaknya dan memeluk Mashita dengan erat. "Bunda tidak akan meninggalkan Mashita!" ucap Cut dengan lirih tetapi di dalam hatinya sangat takut sekali.


*****


"Cut kamu nangis?" ucap Dio dengan lirih saat melihat air mata Cut mengalir dari mata Cut yang masih terpejam. Ini sudah lima hari sejak kecelakaan itu tetapi sampai sekarang Cut belum sadarkan diri.


Rambut yang biasanya terbalut hijab kini sudah botak sebagian karena operasi yang ia jalani di bagian kepala membuat Dio menatap Cut dengan miris.


"Cut!" panggil Cut dengan panik saat alat pendeteksi jantung Cut berbunyi dengan napas Cut yang teelihat sesak.


Dengan sigap Dio memencet tombol darurat yang berada di dekat Cut. Tak lama dokter dan suster berdatangan.


"Dok, tiba-tiba napas Cut sesak dan jantungnya lemah," ucap Dio dengan panik.


"Sebaiknya dokter Dio keluar dulu. Kami akan menangani Meisya!" ucap dokter tersebut dengan tegas.


Dio mengangguk, ia berjalan keluar dari ruangan Cut agar para dokter memeriksa Cut dengan intensif walau Dio merasa enggan meninggalkan Cut sekarang.


"Ada apa Dio? Apa yang terjadi dengan Cut?" tanya Sultan dengan panik.


"T-tiba-tiba napas Cut sesak, Om dan detak jantungnya melemah. Dio tadi melihat Cut mengeluarkan air matanya," ujar Dio dengan lirih.


"Ya Allah, Cut. Jangan tinggalkan Papa, Nak!" ucap Sultan dengan perlahan.


"Pa." Ika memeluk Sultan dengan erat. Ia tahu bagaimana khawatirnya Sultan kepada Cut sekarang bahkan suaminya itu sampai lupa makan karena menunggu kesadaran Cut.


"Sabar ya, Pa. Papa yang tenang ya! Mama yakin Cut baik-baik saja," ucap Ika dengan lirih.


"Tenang bagaimana, Ma? Cut anak aku! Kamu tidak tahu bagaimana aku berusaha membesarkan Cut seorang diri! Dan sekarang dia dalam keadaan seperti itu? Aku harus tenang bagaimana? Dia juga mau meninggalkan aku seperti mamanya Cut meninggalkan aku? Kamu tidak mengerti perasaanku!" ucap Sultan dengan tajam.


Deg....


Ika menatap Sultan dengan tudak percaya. Baru kali ini Ihsan membentak dengan kata-kata yang sangat menyakitinya, Ika tahu kekhawatiran suaminya tetapi tidak bisakah tidak membentaknya?


"Cut juga anakku, Pa! Aku menerimanya dengan tulus! Kenapa Papa berkata jika aku tidak tahu perasaan Papa! Jika Papa lupa aku juga pernah kehilangan, kehilangan anak yang bahkan belum sempat aku lihat wajahnya seperti apa!" ucap Ika dengan terluka.


"Ika, Sultan sudah! Kenapa kalian jadi berantem seperti ini?" ucap Saera melerai anak dan menantunya.


"Aku kecewa sama kamu, Pa! Aku pikir kamu tahu bagaimana aku!" ucap Ika dengan sendu.


Sultan mengusap wajahnya, ia sadar akan kesalahannya. "Ma...."


Ika menepis tangan Sultan yang hendak memeluknya. Ika menjauh dari Sultan dan duduk di samping ke empat anaknya. Reisya, gadis berusia 17 tahun itu memeluk mamanya dengan erat, ia juga tidak menyangka sang papa akan membentak mamanya seperti ini begitu pun dengan yang lainnya. Apa yang di lakukan mama mereka benar tetapi kenapa papa mereka bereaksi berlebihan?


Saera menatap kedua anaknya dengan sendu. Ada saja sesuatu yang membuat anak-anaknya merasa sedih. Kenapa kesakitan terus menghampiri keluarganya?


Tak lama dokter keluar dari ruangan Cut. Sultan yang hendak meminta maaf kepada istrinya memgurungkan niatnya. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Sultan dengan cemas.


"Alhamdulillah keadaan Meisya sudah stabil kita tinggal menunggu kesadaran Meisya saja," ucap Dokter menjelaskan dengan tersenyum yang membuat semuanya merasa lega.


"Alhamdulillah Ya Allah!" ucap semuanya dengan lega.


Dio akhirnya bisa tersenyum lega. "Sebentar lagi Shita akan ketemu Bunda!" gumam Dio di dalam hatinya.