Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~93 (Pernikahan Ika & Sultan)



...Happy reading...


****


Satu bulan kemudian.....


Hari yang di tunggu-tunggu sudah datang. Hari ini adalah hari bahagia Ika maupun Sultan karena mereka akan menikah pagi ini, setelah lamaran sebulan yang lalu akhirnya Sultan akan menjadi suami dari Ika. Pernikahan mereka di rayakan di Jakarta, semua keluarga Sultan yang berada di Aceh sudah datang sejak 3 hari yang lalu, pernikahan mereka terlihat mewah sekali, resepsi akan dilakukan langsung dengan memakai berbagai adat daerah khususnya Aceh.


Saat ini Sultan sudah menjabat tangan Leo dengan erat dengan menarik napasnya Sultan mengucap ijab kabul dengan satu tarikan napas hingga kata sah menggema di sebuah gedung yang nanti juga akan menjadi resepsi pernikahan mereka. Mahar yang diberikan Sultan tidak hanya satu set perhiasan dengan harga selangit tetapi rumah dan juga mobil yang saat ini sudah berada di Medan.


Bahagia? Tentu saja Ika bahagia karena bisa dicintai begitu besar oleh seseorang lelaki seperti Sultan. Dengan perasaan yang membuncah Ika mengecup tangan Sultan setelah mereka selesai melakukan ijab kabul, buku nikah yang berada di depan mereka membuat keduanya meneteskan air mata karena keduanya sekarang sudah menjadi suami istri di mata hukum dan agama.


Semua orang yang berada di sana menyaksikan pernikahan mereka menjadi terharu, bahkan banyak dari mereka yang berkaca-kaca karena melihat bagaimana Sultan menangis setelah berhasil menjadikan Ika istrinya dan ibu sambung dari anaknya yaitu Cut yang saat ini sangat bahagia di pangkuan neneknya.


Sultan mengecup kening Ika dengan masih meneteskan air mata. "Kamu bahagia, Dek?" bisik Sultan membuat Ika mengangguk dengan cepat, napasnya tercekat saat ia ingin mengungkapkan rasa bahagianya. Rasanya tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, setelah kesakitan yang ia rasakan kini Ika bisa merasakan sebuah kebahagiaan di hidupnya.


Suasana menjadi haru kembali saat kedua pengantin itu melakukan sungkeman kepada kedua orang tua mereka. Perkataan Leo membuat Sultan terharu. "Ika adalah putri kecilku, aku menjaganya dengan segenap kasih sayang yang aku dan istriku berikan kepada Ika, tanggungjawab kami telah selesai dan digantikan dengan dirimu, Sultan. Jaga Ika dan jangan sakiti anakku. Jika kamu sudah tidak mencintainya jangan campakkan dia begitu saja, kembalikan dia kepada kami secara baik-baik, kami akan menerimanya dengan tangan terbuka karena Ika akan tetap menjadi gadis kecil kami walau nanti dia sudah menjadi seorang ibu bagi anak-anak kalian kelak," ucap Leo dengan lirih.


"Baik Ayah. Aku tidak berjanji akan hak itu semua tapi akan aku buktikan jika aku bisa membuat Ika bahagia dan aku pastikan airmata yang menetes dari matanya itu adalah air mata kebahagiaan, aku tidak mengizinkan Ika bersedih. Ika adalah pelabuhan terakhirku, akan menjadi rumah untuk aku berpulang, aku tidak mungkin tega menyakitinya sebisa mungkin aku akan menciptakan senyuman di wajahnya," balas Sultan dengan tegas. Semua orang yang mendengar menjadi menangis kembali. Bagaimana Sultan sangat menghargai Ika membuat kaum hawa merasa iri dengannya dan juga ingin mendapat pasangan seperti Sultan.


Para awak media tak tinggal diam untuk mengabadikan moment mengharukan dan sangat membahagiakan ini. Sebisa mungkin mereka mengambil gambar yang sangat cantik untuk kedua mempelai serta keluarga yang sangat berpengaruh di dunia bisnis itu. Tetapi Leo dan Leon berhasil membuat para media tidak mengetahui kejadian yang membuat Ika terpuruk beberapa bulan lalu, kejadian itu ditutup sangat rapat oleh semua orang karena tidak ingin jiwa Ika merasa terguncang.


Selesai acara sungkeman kini kedua pengantin itu sudah duduk di pelaminan, berbagai pengisi acara yang membuat tamu terhibur bahkan kedua orang tua Sultan membawa penari langsung dari Aceh untuk memeriahkan pernikahan anaknya. Tampak kedua bibir pengantin baru itu sangat bahagia, apalagi Sultan tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari istrinya sampai kedua tangan mereka berkeringat. Hingga senyum Ika memudar tatkala melihat Rama berjalan ke arahnya, Sultan yang menyadari raut wajah istrinya berubah langsung bertanya.


"Kenapa, Dek?" tanya Sultan dengan pelan. Ekor mata Ika menatap ke arah Sultan dan Rana bergantian membuat Sultan paham apa yang terjadi dengan sang istri. Waktu sebulan mereka lakukan untuk saling mengenal satu sama lain dan Sultan sudah tahu siapa mantan kekasih istrinya yang pecundang itu walau hanya melihat dari dalam foto saja.


"Dia datang," gumam Ika dengan malas. Ika bahkan tak menyebut nama Rama lagi, terlalu sakit hatinya jika mengingat semuanya.


"Tersenyumlah. Kita tunjukkan pada dia kalau kamu bisa bahagia tanpanya!" ucap Sultan dengan tersenyum membuat Ika membalas senyuman suaminya. Ia memeluk lengan Sultan dengan erat kala Rama semakin mendekat.


"S-selamat ya Ika. Mas doakan kamu bahagia!" ucap Rama dengan sendu. Tangannya sudah berada di depan Ika namun wanita itu sengaja mengabaikannya.


"Makasih!" jawab Ika dengan singkat dan terkesan datar.


Rama menatap tangannya yang tak disambut oleh Ika. Ia tersenyum getir menyadari jika dirinya tidak bisa mendapatkan Ika lagi. Betapa terkejutnya Rama saat tangan Sultan yang membalas jabatan tangannya, bahkan Sultan mendekat ke arah Rama. "Terima kasih sudah melepaskan berlian yang sangat berharga. Ika sudah bahagia bersama dengan saya, saya harap anda tidak menjadi lelaki pecundang lagi nantinya," bisik Sultan yang sangat menohok hati Rama.


Rama hanya bisa terdiam memandang tangan Ika yang digenggam sangat posesif oleh suaminya, seakan menunjukkan kepada dirinya jika tangan itu bukan lagi milik Rama melainkan milik Sultan untuk selamanya. Tak tahan dengan apa yang ia lihat Rama segera berjalan turun dari pelaminan, sebelum ia pulang Rama kembali menatap Ika dan Sultan tidak bisa menahan lagi akhirnya air matanya jatuh di saat Ika juga melihatnya. Wanita itu hanya tersenyum getir menatapnya, seakan mengejek ketidakberdayaannya saat ini.


"Aku memang lelaki pecundang bahkan gara-gara sifatku itu aku kehilangan orang yang aku cintai. Rasanya sangat menyesakkan hingga aku tidak bisa bernapas dengan benar," batin Rama tersiksa setelah itu ia benar-benar melangkah keluar dari gedung pernikahan Ika.


Sedangkan Ika menatap Sultan dengan dalam lalu ia tersenyum saat mendapatkan kecupan di keningnya. Jika tidak karena make upnya yang tebal mungkin semua orang telah melihat kedua pipinya memerah karena perlakuan manis suaminya. Ada rasa kasihan saat menatap Rama yang menangis karenanya tetapi perasaan itu langsung Ika tepis kuat-kuat karena ia sudah memiliki lembaran hidup baru bersama Sultan dan Cut. Ika kembali bahagia saat semua keluarganya naik ke pelaminan untuk melakukan potret keluarga.


****


Ika menunggu Sultan dengan gelisah. Saat ini ia sudah berada di kamar hotel sedangkan suaminya masih masih asyik mengobrol dengan para lelaki di keluarganya. Jantungnya berdebar sangat kuat bahkan ia gemetaran karena memikirkan hal-hal aneh bersama suaminya mengingat ini adalah malam pertama mereka.


Ika menahan napasnya saat pintu kamar dibuka. Ia menelan ludahnya gugup saat Sultan masuk dengan kemeja putih yang digulung sampai ke siku dan celana kain berwarna hitam membuat suaminya semakin tampan.


"Apa yang kamu pikirkan Ika!" bisik hatinya yang semakin membuat jantungnya berdebar dengan kencang.


Sultan tersenyum dan berjongkok di hadapan istrinya. "Sudah wangi," ucap Sultan dengan lembut.


"I-iya Bang," ucap Ika dengan gugup.


Sultan yang menyadari jika istrinya sedang gugup kembali tersenyum lebar. Ah rasanya sangat malu jika Sultan mengakui jika dirinya juga sangat gugup saat ini. "Abang mandi dulu ya," ucap Sultan dengan pelan.


"Iya Bang," ucap Ika dengan lega.


"Selamat-selamat," gumam Ika.


"Apanya yang selamat, Dek?" tanya Sultan dengan bingung.


Sultan terkekeh. "Ya udah tunggu Abang mandi dulu," ucap Sultan dengan mengacak rambut Ika dengan gemas.


Setelah Sultan masuk ke kamar mandi Ika menatap kasur mereka yang sudah dihiasi kelopak mawar merah.


Glekkk...


Ika menelan ludahnya susah payah saat keringat dingin muncul di dahinya. "Kenapa aku harus gugup seperti ini?" tanya Ika dengan lirih.


Setelah beberapa saat akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Ika menatap tak berkedip sosok pria tampan yang hanya memakai handuk menutupi bagian bawahnya tetapi bagian atas terekspos begitu saja.


"Ini bajunya Bang," ucap Ika dengan tersenyum.


"Terima kasih, Dek," ucap Sultan dengan tersenyum. Sultan mengambil bajunya dari tangan sang istri tetapi Sultan tak langsung memakainya karena sang istri masih terpesona menatap ke arahnya. Ika terhenyak saat Sultan memeluknya. "A-abang ganti baju dulu ih!" ucap Ika dengan terbata.


"Gimana mau pakai baju hmm. Kalau istri Abang aja masih terpesona gini," bisik Sultan membuat Ika meremang.


"Ika!" panggil Sultan dengan serak. Bagaimanapun Sultan adalah seorang duda dan menginginkan sentuhan dari seorang wanita apalagi sekarang dirinya sudah menikah. Sultan menatap dalam manik mata sang istri dan entah siapa yang memulai bibir mereka sudah saling menempel. Ika memejamkan matanya saat Sultan menciumnya dengan sangat mesra, lenguhan Ika terdengar saat tangan besar Sultan masuk ke dalam bajunya merem*s benda kenyal yang saat ini menjadi favoritnya.


"MAMA, PAPA, CUT MAU TIDUR SAMA MAMA DAN PAPA!"


Ika langsung tersentak dan menjauh dari suaminya. Terlihat wajah keduanya yang memerah. "Kamu buka pintunya, Dek! Abang pakai baju dulu," ucap Sultan dengan serak. Ika mengangguk dan merasa kasihan dengan suaminya yang menahan gejolak gairah tetapi dirinya juga merasa kasihan dengan Cut yang menangis dan berteriak memanggil mereka.


Akhirnya Ika membuka pintu kamarnya dan Cut langsung meminta gendong kepada Ika. "Maaf ya, Nak. Cut menangis minta tidur bersama kalian padahal sudah ibu dan bapak bujuk dengan berbagai rayuan," ucap Elisa merasa bersalah.


"Gak apa-apa, Bu. Biarkan Cut tidur bersama kami," ucap Ika dengan sopan.


"Tapi Ibu merasa tidak enak karena malam ini adalah malam pertama kalian dan juga pasti kalian sangat lelah."


Kedua pipi Ika memerah karena mengingat ciumannya bersama Sultan tadi. "Gak apa-apa, Bu. Sebaiknya Ibu istirahat saja ini sudah sangat malam," balas Ika dengan sopan.


"Baiklah, Ibu kembali ke kamar ya," ucap Elisa berpamitan.


"Iya Bu."


Setelah kepergian ibu mertuanya Ika masuk bersama dengan Cut dan tak lama Sultan juga keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian. "Anak Papa kenapa nangis?" tanya Sultan dengan lembut.


"Mau tidur sama Papa dan mama," ucap Cut dengan lirih.


Sultan menghela napasnya dan menatap Ika dengan sendu. Dalam hati Ika menertawakan suaminya yang tersiksa. "Ya udah kita tidur yuk!" ucap Ika dengan semangat.


"Yuk, Ma. Wah kasurnya banyak bunganya," teriak Cut dengan heboh.


"Mama bersihin dulu biar anak Mama nyaman tidurnya," ucap Ika.


Lagi dan lagi Sultan mengela napasnya saat bunga mawarnya sudah tergeletak di tong sampah. Akhinya ketiganya merebahkan tubuh mereka dengan Cut yang berada di tengah-tengah mereka. Sultan dan Ika saling menatap satu sama lain mereka saling terdiam sampai Cut tertidur dengan pulas.


"Dek, Cut pindahkan saja di samping. Kamu yang di tengah," ucap Sultan memohon. Ika merasa geli dengan permintaan suaminya tetapi ia melakukan apa yang diperintahkan suaminya. Sultan memeluk Ika dengan sangat erat kala Ika sudah berada di sampingnya. "Maaf ya belum bisa memberikan hak untukmu, Dek. Sekarang kita tidur saja ya, Adek pasti sudah sangat lelah. Abang janji akan memberikan kejutan yang seperti ini lagi," ucap Sultan dengan lembut.


"Aku ngerti, Bang. Pelukan Abang sudah buat aku nyaman sekali," ucap Ika dengan lembut. Sultan semakin mengeratkan pelukannya, sebelum benar-benar terlelap Sultan meninggalkan kecupan yang sangat manis di bibir istrinya.


****


Wkwk gagal wik-wik gara-gara anak sendiri๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


Ditunda dulu ya Bang. Ika gak akan lari kok.


Gimana dengan part ini?


Ramein dengan like, vote, dan coment yang banyak!