Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~14 (Leon Patah Hati)



...Happy reading...


****


Leon pulang ke rumahnya dengan hati yang merasa hancur. Awalnya ia tidak percaya jika lelaki yang bersama dengan Laura adalah mantan suami wanita itu, tetapi melihat keseriusan dari keduanya membuat Leon sadar jika dirinya bukan siapa-siapa di dalam kehidupan Laura dan Dirga. Leon hanya orang asing yang tiba-tiba saja datang di kehidupan Laura. Leon ketawa sumbang, dirinya terlalu percaya diri jika Laura akan menerimanya, padahal jelas-jelas wanita itu sudah menolaknya. Lalu sekarang apa yang harus Leon lakukan? Kenapa hatinya sangat merasa sakit seperti ini? Laura adalah wanita pertama yang mampu mencuri hatinya dengan begitu mudahnya dan sekarang wanita itu pulalah yang sangat mudah menghancurkan hatinya.


Leo dan Saera yang melihat wajah Leon berbeda saling menatap satu sama lain dengan bertanya-tanya. "Leon kamu baru pulang, Nak? Dari mana saja kamu?" tanya Saera dengan lembut.


"Ada meeting mendadak, Bun. Leon ke kamar dulu," ucap Leon dengan datar.


"Tapi Ryan sudah pulang sejak tadi. Kamu membohongi Bunda?" tanya Saera dengan curiga.


"Leon lelah, Bun. Jika ingin bertanya besok saja," ucap Leon berlalu pergi begitu saja ke kamarnya tanpa mempedulikan kedua orang tuanya yang bingung akan sikapnya.


"Anak kamu kenapa Mas?" tanya Saera dengan bingung.


"Anak kita, Sayang!" ucap Leo dengan gemas. "Mas juga gak tahu Leon kenapa, besok ajak dia berbicara, mungkin Leon sedang ada masalah," lanjut Leo yang diangguki Saera.


"Iya besok akan aku tanya Mas. Ulan juga besok datang mungkin bersama Ulan, Leon akan terbuka," seru Saera yang bersandar di dada bidang suaminya. Walau sudah tua Leo masih kelihatan sangat gagah.


"Iya. Ya sudah ayo kita istirahat," ucap Leo. Saera mengangguk dan beriringan berjalan ke arah kamar mereka dengan perasaan bingung atas perubahan raut wajah Leon yang terkesan sangat datar dan dingin itu.


Sedangkan Leon, pria itu sudah berada di bawah shower. dirinya memgguyur tubuhnya dengan air dingin, mencoba menghilangkan bayang-wajah wajah Laura dan Dirga yang selalu berputar di pikirannya. Mencintai tanpa dicintai memang menyakitkan tetapi Leon tidak bisa membenci wanita yang telah mencuri sekaligus menghancurkan hatinya dengan bersamaan. Ahh... Kenapa cinta sangat rumit sekali?


"Saya tidak bisa membenci kamu Laura! Kamu dan Dirga adalah semangat saya. Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang? Karena merelakan gak segampang yang saya pikirkan," monolog Leon dengan terus mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Cinta membuat seorang Leon yang kaku dan dingin menjadi tidak berdaya. Apakah ini yang dinamakan patah hati?


*****


Pagi harinya. Ryan melihat bosnya dengan tampang yang sangat bingung. Leon sangat pendiam ketika dirinya menjemput lelaki itu.


"Wajah lo kusut. Kayak kain pel yang belum dicuci," ucap Ryan mencoba mencairkan suasana di antara mereka yang terlihat seperti kuburan. Senyap! Tidak ada suara sedikit pun hanya deru mesin mobil yang terdengar.


"Fokus menyetir!" ucap Leon dengan datar.


Leon menghela nafasnya dengan berat. "Laura rujuk dengan mantan suaminya," ucap Leon dengan berat.


Citt....


"Apa-apaan sih lo? Ngerem mendadak gini," bentak Leon.


Ryan mengelus dadanya dengan perlahan. Ia menatap Leon dengan serius. "Jadi lo sekarang patah hati? Seorang Leon yang terkenal mematahkan hati seorang wanita sebelum berperang sekarang patah hati pada seorang wanita?" tanya Ryan dengan terkekeh. Bukannya prihatin dengan sahabat sekaligus bosnya tersebut, Ryan malah tertawa yang membuat Leon menatap lelaki itu dengan sangat dingin.


"Lo bisa diam gak? Gak usah tertawa kalau lo gak paham rasanya!" ucap Leon dengan sarkas membuat Ryan langsung terdiam karena merasa Leon dalam mode patah hati yang sangat dalam pada seorang Laura.


"Lo gak mau memperjuangkan dia gitu? Sebelum mereka rujuk lo masih punya kesempatan," ucap Ryan menyemangati. "Lagian gak akan menjadi mantan suami istri kalau mereka masih mencintai," lanjut Ryan membuat Leon menghela nafas berat.


"Cinta itu bisa tumbuh kembali saat merasa kehilangan," ujar Leon dengan dingin.


"Sejak kapan lo jadi puitis begini?" tanya Ryan dengan terkekeh.


"Lo bisa diam gak sih!" sentak Leon dengan tajam. "Gue gak fokus kerja hari ini, semua pekerjaan lo dan sekretaris gue yang handle. Antarkan gue ke restoran sekarang!" ucap Leon dengan datar.


"Gak bisa gitu dong bo...s..."


"Bisalah! Gue bosnya! Terserah gue mau apa," ucap Leon dengan sengit. Membuat Ryan tertunduk lesu karena dirinya telah membangunkan singa yang sedang patah hati.


*****


Om Leon patah hati nih.


Kasih semangat dong buat om Leon!


Jangan lupa like, vote, kementar dan favoritkan cerita ini. Share juga cerita ini supaya teman-teman kalian dapat membacanya!