
...Happy reading...
***
Singapura 9:15 pm.
Leon menatap keluarganya yang sangat panik dengan keadaannya, padahal ia hanya mengabari Ika jika dirinya kurang sehat tetapi semua keluarganya datang ke apartemennya. Leon hanya beberapa jam dirawat di rumah sakit, pria itu terkena tipes saja. Dan lihatlah bagaimana paniknya sang bunda sekarang.
"Kamu itu kalau bekerja selalu tidak ingat waktu sama seperti ayahmu," ucap Saera memarahi sang anak yang terlihat sangat lemas sekali.
"Bunda jangan marah-marah Leon lemas sekali," ucap Leon dengan lemah membuat Saera menghela nafasnya dan menatap anaknya dengan sendu.
"Bunda dan yang lainnya sangat panik. Kami langsung pesan tiket pesawat yang berangkat malam ini juga dan untungnya ada," ucap Saera mendesah lega ia memeriksa kening anaknya yang masih sangat panas.
"Seharusnya Bunda tidak usah datang kasihan ayah," tutur Leon dengan memindahkan kepalanya di paha sang bunda.
"Dasar anak nakal," ucap Leo dengan dingin menjewer telinga anaknya. Kenapa juga Leon harus menuruni sifat gila kerjanya selama ini?
Leon meringis, ia tidak bisa mengelak saat sang ayah menjewer telinganya. "Leon cuma kelelahan Ayah," ucap Leon dengan lirih. "Dan yang paling utama Leon sakit karena merindukan Laura dan Dirga," gumam Leon di dalam hatinya dan tentu saja tidak bisa didengar oleh anggota keluarganya.
"Istirahat, Nak. Kamu sudah minum obatmu, kan?" tanya Saera dengan lembut.
"Sudah, Bun. Leon mau tidur ditemani oleh Bunda dan ayah," ucap Leon dengan manja. Jujur saja ia juga merindukan kedua orangtuanya saat ini.
"Dasar manja," gumam Leo membuat kedua anak kembarnya terkikik geli.
"Ica dan Ika juga mau istirahat," ucap Ica dan Ika bersamaan.
"Kalian tidurlah di kamar sebelah," ucap Leon dengan lirih memerintahkan kedua adik kembarnya untuk tidur di kamar tamu. Ika dan Ica langsung mengangguk setuju, mereka langsung berjalan keluar kamar Leon yang dapat mereka pastikan akan bermanja dengan sang bunda.
"Jika kamu dalam beberapa hari tidak membaik. Bunda bawa kamu pulang dulu ke Indonesia," ucap Saera mengelus kepala anaknya dengan lembut. Leo hanya memperhatikan interaksi anak dan istrinya dari sofa, ia tersenyum karena melihat Saera begitu sangat menyayangi anak-anaknya seperti almarhumah Dinda, istri pertamanya. Beruntung sekali Leo memiliki keduanya, walau dengan Dinda hanya sebentar saja.
"Pulang? Tapi pekerjaan Leon masih sangat banyak, Bun," ucap Leon dengan menikmati elusan tangan Saera di kepalanya.
"Kamu bisa menyuruh orang kepercayaan kamu untuk menyelesaikan pekerjaan kamu," tutur Saera.
"Enggak mungkin, Bun. Perusahaan mas Alan sedang ada masalah besar. Leon baik-baik saja, Bun. Jika semua sudah membaik Leon akan pulang secepatnya," ucap Leon dengan lirih walau sebenarnya ia sangat ingin pulang dan bertemu dengan Laura. Andai saja Laura ada di sini, pasti ia akan segera sembuh karena wanita itulah yang merawatnya.
Leon tersenyum saat melihat kedua orang tuanya sudah tertidur lelap sejak 15 menit yang lalu. Dengan gerakan perlahan Leon mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan untuk Laura karena beberapa hari ini dirinya tidak mengirimkan pesan untuk wanitanya dengan alasan sibuk.
"laura, saya sangat merindukanmu hingga Saya sakit seperti ini. Andai saja kamu berada di sini pasti saya langsung sehat kembali."
Leon menyeringai saat pesan itu sudah terkirim dan langsung dibaca oleh Laura. Apa wanita itu merindukannya hingga membaca pesanya saja tak sampai satu menit?
"Jagalah kesehatan anda, Pak!" pesan balasan Laura dengan emoji senyum membuat Leon tersenyum bagaikan orang gila. Rasanya energinya sudah kumpul kembali karena Laura. Mengapa efek Laura baginya hingga sejauh ini? Dan sakit karena merindukan Laura lebih menyiksa dirinya? Bisakah waktu dipercepat dan dirinya bisa pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan Laura dan tentu saja untuk bersama dengan wanita itu selamanya hingga denyut nadinya tak ada lagi.
"Bisakah kamu memanggil saya dengan sebutan 'Mas' seperti saat kita bercinta sebulan yang lalu?"
"Istirahatlah Pak!"
Jawaban Laura membuat Leon mendesah lelah. "sepertinya kamu tidak merindukan saya dan hanya saya yang merindukan kamu. Baiklah saya akan istirahat, jaga dirimu di sana!"
Setelah membalas pesan Laura, Leon langsung mematikan ponselnya karena matanya mulai merasa panas. Leon tidur di samping Saera sedangkan Leo tidur di kasur yang berada di sampingnya, kasur yang Leon sengaja persiapkan di kamarnya.
Cup...
"Sebentar lagi Bunda akan memiliki menantu," gumam Leon dengan mengecup kening Saera dengan penuh sayang.
****
Laura membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Ia sama sekali tidak bisa menutup matanya karena memikirkan Leon yang sedang sakit, berulang kali ia mengecek ponselnya tetapi sepertinya Leon sudah tidak aktif. Laura mendesah frustasi melihat ke arah sang anak yang sangat mirip dengan Leon. Kenapa Dirga bisa sangat mirip dengan Leon dan bukan Zico?
Laura mengusap wajah dengan kasar. "Astaga Pak Leon. Kenapa saya jadi gelisah seperti ini," pekik Laura dengan frustasi.
****
Om Leon sakitnya beda ya 🙈🙈🙈
Gimana dengan part ini?
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!