Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~34 (Keluarga Leon)



...Happy reading...


*****


Laura menatap dirinya di cermin dengan balutan gaun pesta yang sangat cantik berwarna maroon, gaun pemberian Leon saat lelaki itu meminta lebih tepatnya menyuruhnya untuk menemani pria itu di pernikahan keponakannya yang Laura tidak tahu namanya. Saat ini Laura masih sangat kesal dengan Leon karena kejadian di mana Leon membawa seorang gadis tomboy namun cantik itu ke restoran. Bahkan, Leon menemani gadis itu makan dengan tenang. Laura mencibikkan bibirnya dengan kesal, ia merasa malas untuk ikut bersama dengan Leon, rasanya tidak ada gunanya ia bersama dengan Leon dan berada di pesta yang sama sekali ia tidak kenal orangnya. Laura hanya mengenal Leon dan pasti di sana dirinya akan sangat merasa bosan.


Laura tersentak saat ada yang memeluknya dari belakang, wangi maskulin yang sangat ia kenal, siapa lagi kalau bukan lelaki yang akhir-akhir sangat membuatnya kesal.


"Sudah siap?" tanya Leon dengan tenang, ia memandang Laura dari cermin yang berada di depannya. Gaun yamg ia pilihkan untuk Laura tampak sangat cocok di tubuh mungil Laura.


"Sudah!" jawab Laura dengan ketus membuat Leon menaikkan satu alisnya bingung menatap ke arah wajah tak bersahabat Laura kepadanya.


"Kenapa hmm? Kamu marah sama saya karena seminggu ini saya tidak bertemu denganmu? Jika karena itu saya minta maaf karena kesibukkan saya yang membuat saya tidak bisa memghabiskan waktu bersama kamu agar bisa libur dan menghadiri pesta pernikahan keponakan saya bersama kamu...." tutur Leon dengan tenang. Namun, Laura tidak bergeming membuat Leon menghela nafasnya dengan berat. Kenapa sangat sulit sekali memahami wanita? Sebisa mungkin Leon sabar tetapi Laura tetap saja merasa tidak suka dengannya. Ini sungguh membuat kepala Leon pusing, menghadapi wanita sama saja menghadapi masalah perusahaan yang sangat berat, bedanya masalah perusahaan bisa diselidiki penyebabnya sedangkan Laura, ia tidak paham mengapa wanita itu terus bersikap dingin kepadanya akhir-akhir ini?


"Kamu tahu? Hari ini kamu sangat cantik," bisik Leon.


Blush...


Kedua pipi Laura bersemu merah, tetapi Laura berusaha menetralkan raut wajahnya menjadi datar kembali membuat Leon melepas pelukannya dari tubuh Laura. "Ayo berangkat! Dirga sudah saya titipkan dengan Intan," ucap Leon dengan datar. Kesal tentu saja Leon rasakan saat ini, jika tidak menghadiri pernikahan Elang, Leon pastikan sudah membuat Laura tidak berdaya di bawah kukungannya.


"iya," jawab Laura dengan kesal membuat Leon menggertakkan giginya. Saat ini, ia harus sabar tetapi nanti dirinya tidak akan melepaskan Laura begitu saja.


*****


Leon dan Laura sudah sampai di pernikahan Elang. keduanya menjadi pusat perhatian karena Leon menggandeng seorang gadis muda yang sangat cantik. Saera tampak antuasias melihat Leon mendekat ke arahnya.


"Bunda!" panggil Leon dengan lembut. Dengan senyum yang sangat hangat Saera menyambut anaknya.


"Ini siapa, Nak?" tanya Saera dengan lembut menatap Laura yang sangat tampak canggung sekali.


"S-saya Laura, Tante," jawab Laura dengan sopan.


"Kamu cantik sekali, Nak. Kalian sangat serasi sekali dengan pakaian yang berwarna senada seperti ini," ucap Saera dengan antusias membuat Laura tersenyum canggung menatap ke arah Leon yang terlihat biasa saja.


"Laura calon istri Leon, Bun!" jawab Leon dengan tenang membuat semua keluarga yang mendengarnya sungguh terkejut. Pasalnya Leon tidak pernah dekat dengan wanita manapun dan sekali dekat Leon langsung memperkenalkan wanita yang ada di sampingnya sebagai calon istrinya.


Bagaimana dengan reaksi Laura? Wanita itu tentu saja sangat syok dengan ucapan Leon yang terkesan tegas dan tenang, jantungnya berdetak sangat kencang saat Leon menatapnya dengan dalam, dapat ia lihat tidak ada keraguan di hatinya dengan apa yang ia ucapkan pada seluruh keluarganya. Dari kejauhan Laura melihat seseorang gadis yang Leon bawa ke restoran mendekat ke arahnya membuat Laura kembali kesal karenanya. Leon mengikuti arah pandang Laura dan ia mulai mengerti mengapa Laura kesal dengannya akhir-akhir ini.


"Oma!" panggil Jihan kepada Saera. Jihan memeluk Saera dari samping karena merasa pusing dengan keramaian yang tercipta sekarang. Ingin dengan kedua orang tuanya tetapi keduanya masih sangat sibuk menerima tamu.


"Kenapa, Sayang?" tanya Saera dengan lembut karena ia tahu sang cuci tidak suka dengan keramaian. "Jihan kamu sudah mengenal calon tantemu?" tanya Saera sekali lagi.


"Jihan pusing, Oma..."


"Calon tante?" tanya Jihan dengan penasaran. Jihan tersenyum ke arah Laura, ia sudah tahu Laura adalah calon istri dari Leon saat sering melihat Laura di restoran yang selalu diperlakukan istimewa.


"Hai Tante..." ucap Jihan tersenyum canggung. Menciptakan senyuman di wajahnya untuk orang asing memang sangat sulit tetapi Jihan harus bisa melakukannya.


Laura tak menyangka jika Jihan adalah keponakan dari Leon. Kenapa sering sekali ia salahpaham kepada Leon? Kemarin-kemarin ia mengira Ika adalah calon istri Leon dan Sekarang ia mengira keponakan Leon juga kekasih dari Leon. Adaapa dengan dirinya? Jika Leon tahu pasti ia akan sangat malu sekali. Kenapa Laura menjadi wanita yang sangat bodoh sekali?


Selamat atas pernikahannya," ucap Laura yang di sebelah Leon dengan ramah dan memberikan kado kepada Mentari.


"Terima kasih," ucap Mentari dengan ramah juga.


"Om Leon ini siapa?" tanya Elang dengan penasaran.


Leon melirik ke arah perempuan yang di sampingnya. "Calon istri Om!" ucap Leon dengan tegas dan terkesan datar. Elang tak menyangka jika sang om yang terlihat sangat dingin kepada wanita sekarang di pernikahannya membawa seorang gadis yang sangat cantik sekali.


"Namanya Laura," ucap Leon dengan singkat tanpa banyak berbicara karena itu sudah sifat yang menurun dari ayahnya.


"Hai.. Nama saya Laura," ucap Laura dengan tersenyum canggung.


"Hai kak," sapa Mentari dengan ramah sedangkan Elang hanya tersenyum tipis.


Sedangkan Laura yang berada di samping Leon terdengar tidak suka dengan ucapan Leon kepada Elang. Tetapi ia tidak bisa protes sekarang karena banyak tamu undangannya yang sudah mengantri di belakang seperti halnya tadi saat Leon memperkenalkan dirinya pada seluruh keluarganya.


"Apa maksud Bapak mengatakan kepada keponakan dan seluruh keluarga Bapak jika saya adalah calon istri Bapak? Bapak hanya menyuruh saya untuk menemani Bapak saja jika tahu seperti ini lebih baik saya tidak ikut," ucap Laura berbisik di telinga Leon dengan dingin.


"Karena kamu memang calon istri saya!" desis Leon dengan tajam. Perkataan mereka sama sekali tidak didengar oleh Elang dan Mentari yang mereka pikir dan lihat Leon dan Laura terlihat sangat mesra sekali.


Laura menatap Leon dengan kesal. Selalu saja perkataan Leon tidak bisa terbantahkan. "Saya tahu kamu cemburu dengan Jihan. Tetapi dia adalah keponakan saya, adik dari Elang. Kamu tidak perlu cemburu lagi karena saya hanya mencintai kamu," ucap Leon ketika mereka sudah turun dari pelaminan setelah berpamitan dengan Elang dan Mentari.


"Saya tidak cemburu!" ucap Laura dengan ketus.


"Ikut saya!" ucap Leon menarik Laura. Ia sepertinya harus membuat Laura bungkam dengan sentuhannya.


Kini, keduanya sudah berada di dalam mobil. Acara Elang memang tidak berlangsung dengan lama karena kesehatan Ulan yang belum membaik sepenuhnya tetapi Leon sudah merasa tidak kuat dengan sikap dingin dan cuek Laura kepadanya saat ini.


"Kenapa mobilnya cuma di masukkan ke garasi? Bukannya kita mau pulang?" tanya Laura dengan heran.


"Kita tidak akan pulang terlebih dahulu, sebelum..." Leon menarik Laura ke atas pangkuannya, wanita itu memekik karena merasa terkejut dengan tindakan Leon kepadanya.


"Seperti kamu marah karena mereka rindu dengan sentuhan saya," ucap Leon dengan lirih.


"Jangan gila, Pak!" ucap Laura tertahan saat Leon menyentuh dadanya dengan lembut.


"Kita main cepat," ucap Leon dengan lirih. Leon berpindah ke kursi belakang bersama dengan Laura. Laura ingin memberontak namun sentuhan Leon benar-benar membuatnya tidak berdaya. Mereka benar-benar melakukannya di mobil, gaun yang Laura pakai sudah berantakan karena ulah Leon. Lagi dan lagi mereka melakukannya, berharap kali ini Laura akan hamil agar wanita itu tidak ada alasan untuk selalu menolaknya.


****


Cie yang udah dikenalin di keluarga Leon.


Gimana dengan part ini?


Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya!