Married With Single Parent

Married With Single Parent
S4~MWSP~45 (Berondong Hot)



...Mumpung hari jumat wkwk. Tahan napas untuk baca cerita ini. Jangan lupa ramein yak....


...Happy reading...


****


Vera sudah tidak berdaya di bawah kuasa seorang Dirga. Lelaki yang ia anggap sebagai adik dan keponakannya sendiri sama seperti Virgo ternyata mampu membuat seorang Vera yang notabennya adalah janda muda mendesah di bawah kuasa Dirga. Keringat masih membanjiri keduanya, entah sudah berapa kali Dirga memasuki Vera yang jelas saat ini Vera sudah sangat lemas. Vera sudah tidak ingat berapa ribu benih Dirga yang sudah di tanam di rahimnya, ia hanya merasa nikmat sampai lupa jika Dirga adalah pria muda.


"Ouh...." Vera kembali mendesah saat Dirga mencabut miliknya yang masih tertanam dengan sempurna di goa lembab milik Vera. Tulang Vera seperti jely sekarang lemas tak bertenaga. Kenapa bisa pria muda seperti Dirga mempunyai kekuatan seperti pria matang dan dewasa?


Dirga berbaring di sebelah Vera. Keduanya sudah berada di dalam kamar Vera saat Dirga terus memasuki Vera dengan berbagai gaya. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Dirga!" panggil Vera dengan napas yang masih terengah-engah.


Dirga memiringkan tubuhnya menjadi menghadap ke arah Vera. Ia menyeka keringat di dahi Vera dan mengusap bibir bengkak Vera dengan lembut. Dirga sepertinya mewarisi sikap mesum kedua ayahnya yaitu Leon dan Zico.


"Iya, kenapa hmm?" tanya Dirga dengan tersenyum. Sungguh melihat Vera yang seperti ini membuat Dirga ingin melahab Vera lagi.


"Kenapa bisa kamu seperti ini? Aku benar-benar lemas Dirga. Aku yakin tidak bisa berjalan sekarang," ucap Vera dengan lirih.


"Apa yang kita lakukan salah," gumam Vera mengeratkan selimutnya. Entah mengapa sekarang Vera diliputi rasa bersalah karena Dirga adalah pria muda yang masa depannya masih panjang, tidak seperti dirinya janda muda yang tidak memiliki anak. Vera adalah wanita cacat bahkan dirinya diceraikan oleh suaminya karena dua tahun pernikahan mereka Vera tak kunjung hamil.


"Tidak ada yang salah ketika aku ingin memilikimu Vera! Jangan pikirkan statusmu karena aku sama sekali tak mempermasalahkan itu!" ucap Dirga dengan tegas.


Mata Vera berkaca-kaca, ia bisa melihat ketulusan Dirga kepadanya. Tetapi Vera masih merasa tak pantas untuk Dirga, lelaki muda itu terlalu sempurna untuknya.


"Sssttt...jangan menangis. Aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi," gumam Dirga menyeka air mata Vera dengan ibu jarinya.


Dirga mengangkat kepala Vera perlahan dan meletakkan kepala Vera di lengannya. Mereka berpelukan dengan tubuh yang masih sama-sama polos, hanya selimut yang menutupi tubuh keduanya.


Cup....


Dirga mencium kening Vera dengan lembut. Pesona Vera mampu membuat dinding es dinginnya runtuh begitu saja.


"A-aku takut hiks..." ucap Vera dengan lirih.


"Apa yang kamu takutkan hmm?" tanya Dirga mengelus rambut Vera dengan lembut.


"Aku takut kamu akan meninggalkanku begitu saja setelah mendapatkan apa yang kamu mau. Aku takut kembali terjatuh," jawab Vera dengan lirih.


"Lihat mata aku, Sayang. Apa aku terlihat seperti pria bajingan di luar sana?" tanya Dirga dengan tegas.


Vera menggelengkan kepalanya. Ia tahu Dirga seperti apa dari Virgo. Dirga adalah lelaki dingin yang tak pernah tersentuh dengan gadis manapun walau banyak yang mendekatinya. Dan entah mengapa Dirga memilihnya padahal ia bukan wanita yang sempurna.


"Kamu yakin memilihku?" tanya Vera dengan lirih.


"Sangat yakin bahkan aku sudah meminta restu kepada kedua orang tuaku. Ralat ke empat orang tuaku," ucap Dirga memeluk Vera dengan erat.


"A-apa? K-kamu...." Vera tidak bisa berkata-kata, ia sangat terenyuh dengan keseriusan Dirga kepadanya.


"Ya aku sangat yakin kepadamu Vera walau kamu lebih tua dariku! Tapi wajah kamu masih sangat cantik Sayang," gumam Dirga dengan tulus yang membuat Vera kembali menangis tanpa suara.


"Jangan tinggalkan aku Dirga!" pinta Vera dengan lirih.


"Tidak akan pernah Sayang!" jawab Dirga dengan mantap.


"Aku tahu Sayang. Aku hanya haus beri aku dua benda ini sebentar," ucap Dirga yang sudah menyusupkan wajah tampannya di sana.


"Ahhh..." Vera kembali mendesah saat bibir Dirga bermain di sana. Ia mengelus kepada Dirga membiarkan lelaki itu menyusu kepadanya.


"Aku akan menginap di sini!" ucap Dirga yang membuat Vera tersenyum. Setidaknya ia tak lagi kesepian sekarang karena pasti Dirga akan menemaninya.


"Terima kasih Dirga," gumam Vera dengan tulus.


"Untuk?"


"Untuk rasa cinta kepada janda tak sempurna sepertiku," jawab Vera dengan lirih.


"Berani bertaruh kepadaku tidak?" tantang Dirga dengan serius.


"Bertaruh apa?" tanya Vera dengan penasaran.


"Aku akan memastikan benihku akan tumbuh di rahimmu dalam waktu kurang lebih tiga bulan," ucap Dirga dengan serius.


"M-mana mungkin Dirga. Rahimku bermasalah," ucap Vera dengan sendu.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Kamu tinggal menikmati saja sentuhanku. Bukankah aku berondong hot hmm? Lihat kamu saja sampai lemas seperti ini,'" ucap Dirga dengan yakin.


"Sangat hot!" jawab Vera dengan tersenyum. Sebenarnya ia ragu apa mungkin ia bisa memiliki anak? Tetapi Vera tidak mau berlarut-larut dalam sebuah harapan yang mungkin tidak akan sama sekali terwujud.


*****


Cut bergerak di atas Ihsan. Hormon ibu hamilnya selalu ingin bersama Ihsan, lelaki yang menjadi suaminya merasa menang saat ini. Tanpa Ihsan minta pun Cut sudah memintanya duluan.


"Ahhhh... Abang!" teriak Cut saat ia mendapatkan pelepasannya. Tubuhnya bergetar dengan hebat yang membuat Ihsan tidak tega. Ia mengubah posisinya agar dirinya kembali yang memimpin permainan.


Ihsan memyembunyikan wajahnya di ceruk leher Cut dengan dirinya yang terus bergerak perlahan agar tidak menyakiti anak mereka di dalam sana.


"Kamu selalu menjadi canduku Sayang!" ucap Ihsan dengan serak.


"Uhhh....iya Abang," ucap Cut memejamkan matanya saat ia kembali mendapatkan pelepasan yang entah keberapa kalinya sedangkan Ihsan baru pertama kalinya.


Ihsan mengecup bibir Cut dengan lembut. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. "Tidurlah Sayang," ucap Ihsan dengan lembut.


"Aku belum puas Abang," rengek Cut yang membuat Ihsan terkejut.


"Sayang ingat anak kita juga butuh istirahat. Aku juga menginginkanmu kembali tapi aku takut menyakiti anak kita," ujar Ihsan dengan lembut.


"Iya deh," ucap Cut dengan lesu.


"Besok lagi ya. Kita harus menjaga anak kita," ucap Ihsan dengan lembut.


"Janji?" tanya Cut dengan penuh minat.


"Janji!" jawab Ihsan dengan tersenyum.


"Ya Tuhan...hormon ibu hamil sangat menguntungkan juniorku tetapi aku tidak ingin menyakiti kandungannya. Aku bukan suami yang egois," gumam Ihsan di dalam hati.