
...Happy reading...
****
"Aku apa?" tanya Leon dengan tegas.
"Mau menikah," ucap Dirga dengan cepat.
"APA?"
Leon menatap sang istri setelah itu keduanya tertawa yang membuat Dirga menatap kedua orang tuanya dengan kesal.
"Hahaha... Hey boy usia kamu baru 20 tahun. Ayah dan bunda juga tidak pernah melihat kamu membawa perempuan ke rumah ini. Jangan bercanda hahaha..." ucap Leon terbahak.
"Benar kata ayahmu. Mau menikah sama siapa kamu pacar saja tidak punya? Lagian kuliah dulu terus kerja baru pikirkan pernikahan, kamu itu masih kecil," ujar Laura menimpali perkatan suaminya.
Dirga mencibikkan bibirnya dan duduk di samping ayahnya. "Aku serius dan tidak sedang bercanda. Emang salah jika aku ingin menikah muda?" ucap Dirga menatap kedua orang tuanya bergantian.
Leon menghela napasnya dengan perlahan melihat keseriusan di mata anaknya. Leon yakin saat ini Dirga tidak sedang main-main dengan perkataannya, ia seperti melihat dirinya di dalam diri Dirga ketika ingin menikahi Laura dulu. "Tidak ada yang salah dalam pernikahan muda. Tetapi kamu itu lelaki, tanggungjawab kamu itu besar menafkahi seorang istri belum lagi jika kamu nanti sudah punya anak dan sekarang kamu masih kuliah, masa depan kamu masih panjang," ucap Leon menasehati anaknya.
"Aku bisa bekerja di perusahaan ayah atau papa Zico," jawab Dirga dengan tegas.
"Dirga jangan bercanda soal pernikahan, Nak. Itu tidak mudah dijalani!" ucap Laura dengan menghela napasnya. Laura pernah gagal ketika menikah muda dan ia tidak ingin itu terjadi juga pada Dirga. Apalagi yang dinikahi Dirga juga pasti masih sangat muda.
"Kamu mau menikah dengan siapa? Teman kuliah kamu?" tanya Leon ketika melihat keterdiam Dirga setelah sang istri berbicara, Leon juga tahu ketakutan istrinya sekarang.
"Bukan!" jawab Dirga dengan tegas.
"Lalu jika bukan teman kuliah siapa? Adik tingkatmu?" tanya Laura dengan memicingkan matanya.
"Tante dari Virgo," jawab Dirga dengan santai.
"APA?" Lagi dan lagi Leon dan Laura dibuat terkejut dengan ucapan anaknya. Bagaimana bisa Dirga ingin menikah dengan tante dari temannya sendiri.
"T-tante? Astaga Dirga," ucap Laura dengan syok.
"Aku tetap akan menikahi dia jika bunda dan ayah tidak setuju. Aku akan meminta izin kepada papa Zico dan mama Intan. Dan jika mereka tidak mengizinkan juga aku tetap akan menikah," ucap Dirga dengan datar.
Leon mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu tahu tidak jika yang akan kamu nikahi itu lebih tua dari kamu. Kamu itu lelaki Dirga, seharusnya kamu mencari gadis yang umurnya di bawah kamu," ucap Leon memijat pelipisnya, ia merasa pusing sekarang.
"Dia anak bungsu di keluarganya. Umurnya baru 26 tahun, hanya beda 6 tahun denganku apa masalahnya, Yah? Usia tidak menentukan cinta kita berlabuh kepada siapa, kan?" ucap Dirga dengan tegas.
"Lalu apa yang membuatmu ingin menikahinya sekarang?" tanya Leon yang mencoba menenangkan istrinya karena masih merasa syok.
"Karena dia seorang janda yang banyak disukai lelaki. Jadi, aku ingin memilikinya dengan segera," jawab Dirga dengan sorot mata yang begitu tegas.
"Astaga Dirga. Selama ini kalian memiliki hubungan spesial?" tanya Laura yang masih merasa syok.
"Tidak. Dia hanya menganggapku sebagai keponakannnya juga. Tapi aku tidak mau, aku ingin dia menjadi wanitaku!" ujar Dirga dengan dingin.
"Astaga, Yah. Bunda pusing sekarang," ucap Laura memijat keningnya.
"Bagaimana Ayah dan Bunda setuju tidak?" tanya Dirga memastikan.
"Bunda tidak bisa memutuskan sekarang. Bunda pusing mau ke kamar dulu," ucap Laura pada akhirnya.
"Yah..."
"Ayah tunggu kamu di kantor. Kamu harus bekerja di perusahaan Ayah! Bagaimana mau menikah jika bekerja saja tidak. Lelaki itu dilihat dari tanggungjawabnya. Jika kamu bisa bekerja dengan baik maka ayah akan menyetujui kamu menikah dengannya. Ayah akan bicarakan dengan bunda serta papa dan mamamu nanti," ucap Leon dengan tegas.
"Baik akan aku buktikan nanti!" tantang Dirga.
"Ya sudah Ayah mau susul Bunda kamu. Bunda pasti sangat syok sekarang," ucap Leon meninggalkan Dirga sendirian.
"Bagaimana pun aku harus bisa memilikinya!" ucap Dirga penuh tekad. Lalu dirinya juga beranjak pergi keluar dari rumahnya untuk menemui wanita pujaan hatinya.
****
Gerimis mulai turun di sertai angin kencang yang membuat suasana hari ini terasa sangat dingin bagi wanita muda yang sedang menonton TV sendirian. Sejak bercerai dengan suaminya setahun yang lalu karena dirinya tak kunjung hamil membuat Vera memutuskan hidup mandiri tanpa kedua orang tuanya yang sudah tua. Bagaimana tidak, ia lahir ketika para kakaknya sudah dewasa, dengan kakak terakhirnya saja Vera berbeda 20 tahun. Sungguh menjadi anak bungsu di saat para saudaranya sudah dewasa ada rasa senang dan pahit yang juga Vera alami. Bagaimana tidak, Vera seakan dituntut untuk menjadi wanita yang mandiri dan tidak tergantung kepada keluarga walau sebenarnya mereka masih memanjakannya. Namun, keadaanlah yang mengubah sosok Vera menjadi wanita yang mandiri walau sikap manja di diri Vera tidak bisa dihilangkan begitu saja karena sudah mendarah daging di tubuhnya.
Tokk...tokk...
Suara ketukan pintu membuat Vera berdecak kesal. Padahal ia ingin segera memejamkan mata tanpa tidur di kamarnya, ia sudah terlanjur nyaman di ruang TV.
"Sebentar!" teriak Vera. Ia sedikit berlari untuk membukakan pintu pada tamu yang terdengar tidak sabaran karena terus mengetuk pintu rumahnya.
"Sia....Dirga! Kamu kenapa sore-sore begini ada di rumah Kakak? Dimana Virgo?" tanya Vera dengan mata yang mencari keberadaan keponakannya. Kenapa Vera menyebut dirinya kakak di depan Dirga karena Vera tidak ingin Dirga memanggilnya dengan sebutan tante, cukup para keponakannya saja ia terlihat tua tidak dengan orang lain walau ia juga menganggap Dirga adalah keponakannya juga karena Virgo sering bersama dengan Dirga. Nasib anak bungsu yang terlahir lama ya begini jadinya, terlihat tua walau masih sangat muda.
"Aku datang sendirian," jawab Dirga dengan dingin.
"Kakak kira kamu bersama dengan Virgo. Kenapa kamu datang ke sini? Hujan lagi, lihat pakaian kamu jadi basah. Ya sudah masuk dulu kamu bisa memakai pakaian Virgo," ucap Vera dengan ramah membuat Dirga tersenyum, inilah yang Dirga suka dari Vera.
"Terima kasih," ucap Dirga yang membuat Vera tersenyum.
"Tidak masalah. Kamu juga sudah seperti keponakan kakak sendiri. Sekarang ganti pakaian kamu di kamar Virgo, Kakak akan buatkan teh hangat sebentar," ucap Vera berlalu ke dapur sedangkan Dirga menatap datar ke arah punggung Vera yang berlalu.
"Aku tidak ingin dianggap keponakan olehmu!" gumam Dirga dengan tak suka. Tetapi walaupun begitu ia menuruti perkataan Vera untuk segera berganti pakaian di kamar Virgo yang memang sudah Vera persiapkan ketika keponakannya itu menginap.
****
Vera dan Dirga sudah berada di ruang TV. Dirga meminum teh yang dibuatkan oleh Vera, sedangkan wanita itu sibuk dengan acara televisi.
"Ooo iya kamu belum menjawab pertanyaan Kakak tadi. Kamu datang ke sini mau ngapain sih?" tanya Vera mengalihkan tatapannya dari TV kepada Dirga.
"Bertemu denganmu," jawab Dirga dengan tegas. Ia menatap Vera begitu intens sekarang karena pakaian Vera yang bisa mengundang sesuatu di bawah sana.
"B-bertemu denganku? Untuk apa? Kakak rasa kita tidak punya kepentingan apapun," ucap Vera dan entah mengapa ia menjadi gugup karena tatapan Dirga sekarang.
"Ada! Dan ini sesuatu yang sangat penting!" jawab Dirga dengan cepat.
"Bukan!"
"Lalu!"
"Aku tertarik kepadamu!" jawab Dirga dengan tegas.
Hening.
Tak ada jawaban dari Vera. Sepertinya otak wanita itu masih berpikir keras sekarang.
"M-maksudmu?" tanya Vera pada akhirnya.
"Menikahlah denganku!" ucap Dirga dengan sungguh-sungguh.
"Hahaha...kamu itu lucu sekali," ucap Vera dengan tertawa. Bagaimana bisa ia diajak menikah dengan seorang pria seumuran dengan keponakannya sendiri.
"Aku tidak sedang melucu Vera!" ucap Dirga tegas.
"Bagaimana bisa kamu..."
Cup....
Vera melototkan matanya saat Dirga tiba-tiba menciumnya kata-kata yang ingin terlontar dari mulutnya hilang begitu saja digantikan dengan rasa syok sekarang karena perbuatan Dirga.
Dirga ******* bibir Vera dengan rakus dan membawa tubuh Vera ke dalam pangkuannya. Vera yang masih syok tidak tahu jika sekarang dirinya sudah berada di dalam pangkuan Dirga.
"D-dirga ini salah!' ucap Vera setelah berhasil melepaskan ciuman Dirga.
"Tidak ada yang salah! Aku mencintaimu dan ingin menjadikan kamu istriku!" ucap Dirga dengan tegas.
"Kita berbeda! Kamu sudah aku anggap sebagai keponakanku sendiri," ucap Vera dengan tak kalah tegasnya.
"Aku tidak mau Vera! Bagiku kamu adalah wanitaku!" ucap Dirga dengan dingin.
"T-tapi...."
Cup...
Dirga kembali membungkan mulut Vera dengan ciumannya. Ia tidak mau Vera semakin menolaknya. Lama-lama Vera juga terbuai dengan ciuman Dirga karena sudah lama ia tidak merasakan sentuhan lelaki.
"Ahhhh...." Vera mendesah kalah Dirga mencium lehernya.
"D-dirga ini salah! Kita tidak boleh seperti ini! Ahh...." Vera menjambak rambut Dirga kala tangan Dirga menyusup masuk ke bajunya.
"U-sia kita berbeda Dirga!" ucap Vera dengan lirih.
"Uhhh..." Vera memejamkan matanya kala Dirga berhasil mengobrak-abrik sesuatu di bawah sana.
"Dia sudah basah hmmm," gumam Dirga dengan terkekeh.
"D-dirga jangan!" cegah Vera saat Dirga semakin aktif memainkan jarinya di dalam miliknya.
"Ahhh..." Tubuh Vera bergetar dengan hebat saat ia mendapatkan pelepasan pertamanya.
Vera sudah sangat pasrah saat Dirga merebahkan dirinya di karpet berbulu miliknya. Lelaki itu melepaskan baju dan celananya begitu saja dan menindih tubuh Vera yang sudah lemas karena ulahnya. Tak lupa juga Dirga membuang semua pakaian yang melekat pada tubuh Vera.
"Dirga ini salah. Tolong stop semua ini," ucap Vera dengan lirih.
Glukk...
Vera menelan ludahnya dengan kasar saat melihat milik Dirga yang ternyata sangat besar terpampang di depan matanya.
"Aku tidak akan berhenti Vera. Karena dengan cara ini aku bisa memilikimu dan kamu tidak bisa lagi menolakku!" ucap Dirga dengan gilanya.
"Dirga aku mohon! Aku bukan wanita yang sempurna, suamiku saja menceraikan aku karena aku tak kunjung hamil," ucap Vera dengan lirih.
"Aku tidak peduli. Tanpa anak pun kita masih bisa hidup bahagia bersama!" ucap Dirga dengan tegas.
Dirga membuka paha Vera dengan lebar, ia memposisikan dirinya dengan nyaman. Dirga berusaha memasuki Vera.
"Jangan Dirga!"
"Ahhhh....." Vera dan Dirga mendesah bersama saat keduanya sudah menyatu. Vera meneteskan air matanya kala Dirga mengecup keningnya dengan lembut.
"Kamu milikku sekarang Vera!" ucap Dirga dengan tegas.
Vera memeluk Dirga saat lelaki itu bergerak di atasnya. "Jangan tinggalkan aku!" ucap Vera pada akhirnya karena dia masih memiliki ketakutan yang sama yaitu takut ditinggalkan setelah mencintai dengan dalam.
"Tidak akan Sayang!" jawab Dirga dengan tersenyum.
"Kamu nikmat sekali. Kenapa tidak dari dulu aku memaksamu begini," racau Dirga yang terus bergerak memasuki Vera.
Suasana yang tadinya dingin kini terasa panas bagi keduanya. "Ahhhh..Dirga pelan-pelan!" ucap Vera memejamkan matanya menikmati hujaman Dirga pada miliknya.
Dirga meremas dua benda kenyal yang saat ini menggoda imannya. Ia melahabnya dengan rakus dan lagi-lagi membuat Vera pasrah. Ia berusaha menyeimbangi permainan Dirga seperti lelaki yang sudah profesional saja.
"VERA AKU MENCINTAIMU!"
****
...Mau tanya gimana nih dengan kisah Dira (Dirga Vera)?...
...Masih mau kelanjutannya?...
...Jangan lupa ramein ya....