
...Hei-hei aku kembali. Setelah ini akan banyak part Dirga dulu ya baru kembali ke cerita Cut biar menyesuaikan cerita Dio yang pergi....
...Happy reading...
****
Dio melihat para suster terlihat berjalan tergesa-gesa saat dirinya memasukkan barang-barangnya ke mobil. Entah mengapa Dio menjadi sangat gelisah dan khawatir sekarang. Ia mencegah salah satu suster hingga suster tersebut menghentikan jalannya.
"Sus apa ada pasien yang gawat?" tanya Dio dengan penasaran.
"Meisya masuk ke ruang UGD, Dok. Meisya pendarahan," ucap suster tersebut dengan sopan.
Deg...
Jantung Dio berdetak tak karuan. "Suster tolong masukan barang saya ke dalam mobil ya," ucap Dio dengan panik.
"Ini kunci mobilnya. Saya akan segera kembali," ucap Dio dengan cepat dan menyerahkan barangnya kepada suster yang memang sudah sangat ia kenal.
"Baik Dok!" ucap Suster tersebut menerima barang-barang Dio yang sudah rapi di dalam kardus.
"Ada apa dengan dokter Dio?" gumam suster tersebut bingung. Tetapi ia tetap menjalankan perintah Dio dengan benar.
Sedangkan Dio diam-diam mengunjungi Cut yang masih ditangani oleh dokter spesial di dalam UGD. Dio memakai maskernya agar ia tidak ketahuan oleh Ihsan dan Laura.
"Ya Tuhan aku mohon kuatkan Cut dan janinnya," doa Dio di dalam hati. Walaupun janin yang dikandung Cut bukanlah anaknya tetapi Dio tetapi menyayangi janin tersebut sama dengan ia menyayangi Cut.
Ihsan dan Laura tampak cemas menunggu dokter keluar dari ruangan tersebut. Tangan Ihsan sangat terasa dingin tak lupa ia selalu memanjatkan doa untuk keselamatan istri dan anaknya.
"Kami tenang Ihsan. Cut pasti akan baik-baik saja," ucap Laura menenangkan Ihsan yang terlihat kalut.
"Bagaimana saya bisa tenang Tante? Istri saya berada di dalam. S-saya tidak tahu keadaan Cut dan janinnya," jawab Ihsan dengan kalut.
"Kamu tenangkan dirimu. Tante hubungi yang lain dulu," ucap Laura pelan.
Sebenarnya ia juga panik tetapi ia tak mau membuat Ihsan bertambah panik. Ihsan juga terlihat diam saat Laura ingin menghubungi keluarga yang lain yang ada di dalam pikirannya hanya keselamatan Cut dan janin yang dikandung istrinya hingga dokter keluar dari ruangan UGD.
"Suami dari Meisya?" tanya sang dokter.
"Saya Dok. Bagaimana keadaan istri saya dan juga kehamilannya?" tanya Ihsan dengan panik.
"Alhamdulillah keadaan istri anda baik-baik saja dan juga janin yang di kandung istri anda. Kram yang dirasakan Meisya tidak membuat sesuatu yang buruk kepada keduanya," ucap dokter yang membuat Ihsan lega.
"Alhamdulillah. Saya boleh melihat istri saya?" tanya Ihsan dengan lega.
"Iya, Dok. Terima kasih," ucap Ihsan dengan perasaan yang sangat lega yang membuat Laura tersenyum setelah menghubungi keluarga mereka.
Dio yang diam-diam mendengarkan pembicaraan dokter merasa sangat lega. Ia mengelus dadanya dengan senyum yang mengembang dibalik maskernya.
"Kamu kuat Cut. Dan kamu adalah wanita yang hebat, aku beruntung pernah dicintai olehmu. Suatu saat aku pasti bisa mendapatkan wanita yang sama sepertimu," gumam Dio dengan lirih.
***
Ihsan mengecup kening dan perut Cut bergantian. Cut yang melihat ketulusan Ihsan membuat ia tersenyum, ia juga sangat merasa bersalah karena telah membuat suaminya khawatir. Pasti semua keluarganya merasakan apa yang dirasakan suaminya terutama wajah Saera yang menatapnya dengan sendu.
"Aku gak apa-apa, Bang!" ucap Cut dengan lirih.
"Abang tahu. Tetapi tetap saja rasa takut itu masih ada," ucap Ihsan dengan pelan membalas ucapan sang istri.
"Jangan sakit lagi ya. Kamu harus janji sama Abang sehat sampai melahirkan anak kita," ucap Ihsan dengan sendu.
"Iya Abang. Sepertinya anak kita hanya menyapaku tadi," ucap Cut dengan sedikit bercanda tetapi tidak membuat Ihsan tertawa sama sekali ia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan istrinya, ia tahu Cut sedang membuat rasa gundahnya hilang tetapi jujur saat ini Ihsan tidak bisa tertawa dengan lebar.
"Maafkan aku yang telah membuat Abang dan yang lainnya khawatir," ucap Cut dengan lirih.
"Kamu tidak salah Sayang. Ini semua diluar kendali kita," ucap Ihsan dengan lembut.
Cut tersenyum. Ia menggenggam tangan Ihsan dengan kuat, rasa kantuk mulai menderanya kembali membuat Ihsan tersenyum paham, lebih baik istrinya tertidur saat ini untuk mengembalikan senyuman manis istrinya.
*****
Dio sudah menunggu sangat lama untuk Ihsan dan yang lainnya keluar dari ruang rawat inap Cut akhirnya kali ini dirinya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Cut setelah Ihsan dan yang lainnya keluar untuk makan siang di kantin. Awalnya Ihsan tak mau meninggalkan istrinya tetapi Cut memaksanya agar Ihsan mau makan siang bersama yang lainnya.
Dio membuka pintu kamar rawat inap Cut dengan perlahan. Ia masih memakai maskernya agar Cut tidak mengenali wajahnya.
Perlahan ia mendekat ke arah Cut tertidur di brankar. Ia tersenyum tipis memandangi wajah Cut yang terlihat sangat cantik ketika hamil.
"Hai...akhirnya aku bisa bertemu denganmu seperti ini lagi walau saat ini keadaanmu tidak sedang baik-baik saja. Cut kamu cantik sekali saat hamil seperti ini, andai waktu itu aku menerima cintamu mungkin aku sudah sangat bahagia karena setiap harinya aku bisa memandang wajah cantik kamu."
Jeda sejenak. Dio memandang dalam wajah Cut, ia ingin mengingat wajah cantik wanita yang pernah ia lukai dulu. "Aku pamit ya. Doakan aku bisa mendapatkan wanita yang sama seperti kamu nantinya," ucap Dio dengan lirih.
Tangan Dio terangkat ke atas untuk mengelus perut Cut yang sudah terlihat membuncit. Tetapi niat itu ia urungkan karena Dio tak berhak atas Cut.
"Hei jagoan atau princess yang di dalam sana. Om minta tolong jaga mama kamu dengan baik ya, jangan buat mama kamu sakit. Om minta maaf dulu pernah menyakiti mama kamu hingga Om kehilangannya sekarang. Om pamit ya sampai bertemu kembali," gumam Dio dengan lirih di dekat perut Cut.
Setelah selesai berpamitan Dio langsung keluar dari ruangan Cut. Cut yang tadinya sedang beristrihat akhirnya terganggung dengan suara-suara lirih yang berada di dekatnya, akhirnya ia berpura-pura tidur untuk mengetahui siapa yang datang dan suara itu Cut sangat mengenalinya, setelah kepergian Dio ia hanya menatap dingin ke arah pintu tanpa ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya.