
...SESUAI JANJI AKU UP LAGI SIANG YA. TAPI AKU GAK JANJI UNTUK UPDATE LAGI MALAM INI KARENA KEADAAN AKU YANG KURANG SEHAT. PART YANG AKU UP INI EMANG UDAH ADA DI DRAF SEJAK KEMARIN-KEMARIN. DOAKAN SEHAT BIAR UPDATE LAGI YA. JIKA TIDAK MEMUNGKINKAN DIGANTI HARI BERIKUTNYA YA🤗🤗🤗...
...Happy reading...
***
Cut benar-benar membuktikan ucapannya. Ia akan mengejar cinta dalam 100 hari ke depan, jika dalam waktu 100 hari tersebut Dio tidak juga mencintainya maka Cut akan benar-benar melupakannya cintanya walau itu terdengar sangat sulit baginya, tetapi perlahan pasti rasa cinta itu akan hilang dengan sendirinya, dalam hatinya Cut berharap jika Dio akan membalas cintanya. Tetapi kembali lagi pada takdir yang akan ditentukan oleh Sang Maha Kuasa.
Dengan tersenyum riang sebelum berangkat ke kampus Cut sudah berada di rumah sakit, ka ingin menemui Dio bukan untuk membahas pekerjaan tetapi untuk mengejar cintanya. Di tangannya sudah ada bekal nasi goreng dengan hiasan telur mata sapi di atas nasinya, ini adalah nasi goreng buatannya sendiri dan untuk pertama kalinya juga ia memberikan nasi goreng tersebut kepada Dio, lelaki yang amat ia cintai itu.
"Bang Dio!" teriak Cut dengan gembira saat orang yang ia cari ternyata sedang berjalan tak jauh darinya.
Dio berdecak kesal saat melihat Cut menghampirinya. Sehari saja ia tidak bertemu dengan Cut bisa tidak sih? Dio merasa kesal dengan Cut apalagi perkataan gadis itu kemarin yang akan membuatnya jatuh cinta. Jangan mimpi itu akan terjadi pada dirinya karena Dio hanya mencintai satu orang saja yaitu Ratu.
"Jadwal kamu ke rumah sakit bukan pagi!" ucap Dio dengan sarkas.
"Emang! Aku ke sini bukan karena suatu pekerjaan tetapi aku ingin memberikan ini kepada Abang!" ucap Cut dengan tenang. "Dimakan ya! Aku sudah susah payah membuatnya agar terlihat enak di mata Abang," lanjut Cut dengan senyuman.
"Makan saja sendiri!" ucap Dio dengan dingin.
"Aku tidak terima penolakan calon suami! Aku tahu Abang belum sarapan karena terlalu terburu-buru mengantar Ratu ke tempat pacarnya. Kasihan sekali calon suamiku ini! Makanlah dengan baik! Seorang Dokter harus sehat makan dengan teratur," ucap Cuf dengan tersenyum.
Dio ternganga mendengar ucapan Cut yang menyebutkan dirinya adalah calon suami dari Cut. Sungguh Cut benar-benar membuat Dio tak habis pikir. Kenapa Cut semakin berani kepadanya?
"Aku ke kampus dulu Bang! Jangan lupa di makan ya!" ucap Cut dengan pelan. Lalu ia langsung berbalik dan meninggalkan Dio yang masih terdiam karena ucapannya yang sangat berani itu.
Jika kalian bertanya jika Cut mengapa bisa seberani itu? Jawabannya karena Cut mempunyai tekad yang kuat untuk membuat Dio mencintainya walau sebenarnya ia sangat deg-degan sekali menyebut Dio calon suaminya.
Selepas kepergian Cut. Dio membawa bekal yang diberikan Cut ke ruangannya, entah mengapa ia merasa penasaran dengan nasi goreng buatan Cut. Setelah sampai di ruangannya, Dio membuka paper bag tersebut, ia mengeryit heran ketika ada kertas di atas tupperware lucu berwarna hitam kesukaannya.
Tanpa sadar Dio tersenyum tipis, ia merasa lucu dengan kartu ucapan yang Cut berikan kepadanya. Dio mengambil sendok yang sudah disediakan oleh Cut dan membuka tutup tupperwere itu dengan tak sabaran. Dio menelan ludahnya saat melihat nasi goreng di hadapannya terlihat sangat lezat.
"Enak!" gumam Dio di dalam hati saat baru pertama kali merasakan masakan Cut yang dibuat secara spesial untuknya.
"Jangan terbuai dengan pemberiannya Dio!" peringat Dio dengan cepat. Tetapi tangannya tetap menyendok nasi goreng tersebut dan memakannya dengan lahab, sepertinya hati dan pikirannya tidak sejalan kali ini.
****
Cut merasa risih dengan tatapan dosen baru bernama Ihsan tersebut. Dosen yang berasal dari Medan itu baru saja pindah ke universitasnya kemarin dan baru kali ini dosen tersebut masuk ke kelasnya. Tetapi entah mengapa Cut sangat familiar dengan wajah dosen bernama Muhammad Ihsan Al-Ghazali tersebut.
"Perkuliahan hari ini sampai di sini. Minggu depan kita langsung ujian praktek! persiapkan semua karena saya tidak menerima nilai tidak memuaskan dari kalian," ucap Ihsan dengan tegas tetapi tatapannya tidak lepas dari Cut.
Kepindahannya ke Jakarta karena memang ia ingin dekat dengan Cut sesuai yang dibicarakan calon mertuanya tersebut mendekati Cut secara langsung dengan mengajar di kelasnya.
"Baik, Pak!" ucap Mahasiswa yang berada di kelas dengan serempak termasuk Cut.
Setelah mahasiswanya satu persatu keluar Ihsan memberanikan diri menyapa Cut yang masih berada di dalam kelas.
"Selamat berjumpa kembali Cut Meisya Rahardian," sapanya dengan lembut membuat Cut tersentak dan menatap dosennya dengan bingung.
"Maaf, Pak! Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
****
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyak nya ya!