Married With Single Parent

Married With Single Parent
S3~MWSP~75 (Bentuk Pertanggungjawaban)



...Happy reading...


****


Awan tampak menghitam mengiringi tangisan seorang gadis pada makam yang masih tampak basah. Tak henti-hentinya gadis itu menangis sambil memeluk kedua nisan orang yamg ia sayang. Kenapa ini cepat terjadi di hidupnya? Bahkan malam itu ia baru saja tertawa dengan kedua orang tuanya, lalu kedua orang tua yang sangat ia sayang berpamitan untuk keluar sebentar menaiki motor kesayangan mereka. Sang anak hanya bisa menunggu kedua orang tuanya pulang, hingga kabar menyakitkan sangat menusuk hatinya.


"Ibu, Bapak, jangan tinggalkan aku! Hiks...hiks... Aku tidak punya siapa-siapa lagi!" ucap sang gadis menangis pilu membuat siapa saja yang melihatnya akan ikut meneteskan air mata.


"Kenapa kalian tidak membawa aku juga!" teriaknya dengan napas yang tersengal-sengal bahkan dadanya cukup sesak untuk mengirup udara yang berada di sekitarnya.


Tidak ada lagi yang akan menyayanginya di dunia ini setelah kepergian kedua orang tuanya! gadis itu hanya memiliki orang tuanya yang selalu menyayanginya. Lalu bagaimana ia menjalani kehidupan tanpa kedua orang tuanya. Bahkan, sang kakak angkat tidak bisa membujuknya untuk pulang.


"Intan..."


"Aku gak mau pulang, Kak! Aku mau nemenin ibu dan bapak di sini. Mereka pasti kedinginan!" ucap Intan dengan sesugukan.


Laura menatap sang suami dengan lelehan air mata yang ikut membanjiri kedua pipinya. Mendapat kabar jika kedua orang tua Intan meninggal dalam kecelakaan membuat wanita hamil itu sangat terpukul. Bahkan ia juga menangis sama seperti Intan.


"Mereka sudah tenang di surga. Sekarang ayo kita pulang, sebentar lagi akan hujan!" ucap Leon berusaha membujuk Intan yang sejak tadi duduk terpaku di kedua makam kedua orang tuanya dengan menangis. Gadis berusia 21 tahun itu tampak sangat terpukul sekali, selain menangis tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.


"Aku gak mau pulang! Di rumah juga aku bakal sendiri," ucap Intan dengan datar.


"Mas bujuk Intan sekali lagi," ucap Laura dengan lirih.


"Kamu sayang kan sama kedua orang tua kamu?" tanya Leon dengan hati-hati


"Sayang! Sayang banget! Sampai aku ingin ikut mereka saja!" ucap Intan dengan lemah.


"Sekarang kita pulang ya! Kakak akan selalu ada buat Intan. Ada Dirga juga," ucap Laura dengan lembut.


Intan hanya terdiam dengan pandangan kosong menatap makan kedua orang tuanya. Lagi dan lagi ia tidak bisa membendung air matanya, seakan hari ini air mata itu tidak ada habis-habisnya walau Intan sudah lelah menangis.


Tanpa disadari ketiganya. Zico datang dengan dibantu oleh kedua orang tuanya. Kepala pria tampam itu di perban, wajahnya masih tampak pucat tetapi tak membuat Zico lemah, ia ingin meminta maaf pada gadis kecil yang duduk di sebelah makan kedua orang tuanya dengan menangis.


Leon dan Laura tersentak dengan kedatangan ketiga orang tersebut. Tetapi saat ini Leon tidak ingin mencari ribut terhadap Zico karena ia bisa mengetahui dari mata saingannya itu ada penyesalan yang sangat mendalam karena telah menghilangkan dua nyawa sekaligus.


Intan masih tidak sadar dengan kedatangan mereka atau lebih tepatnya berpura-pura tidak mengetahui kedatangan pria yang Laura benci dan sekarang mungkin ia akan benci juga.


"M-maafkan saya," ucap Zico dengan lirih menatap Intan yang masih mununduk.


"Saya tidak apa-apa!" jawab Intan dengan dingin.


Bukan jawaban ini yang ingin Zico dengar. jawaban Intan lebih menyakitkan dari apapun, lebih baik Zico dihajar, dimaki oleh gadis itu dari pada harus mengatakan 'saya tidak apa-apa!' karena jawaban itu sangat berbanding terbalik dengan keadaan gadis itu saat ini.


"Saya akan bertanggungjawab," ucap Zico dengan lemah.


"Caranya? Apa bisa om mengembalikan nyawa kedua orang tua saya?" tanya Intan dengan tajam.


"Jika itu permintaan kamu saya tidak bisa mengabulkannya," jawab Zico dengan lemah.


"Lalu?" tanya Intan dengan dingin.


"Di makam kedua orang tua kamu. Saya hanya ingin mengatakan ingin bertanggungjawab penuh atas anak gadis yang mereka tinggalkan," ucap Zico dengan tegas.


"Maksudnya?" tanya Intan tak mengerti.


"Menikahlah dengan saya!"


*****


Ika tampak tersenyum memandangi restoran kakaknya yang sangat nyaman. Restoran ini berlantai dua dan di lantai atas bertema garden. Lantai dipasang rumput sintesis hijau dengan meja-meja yang di atur rapih, dinding kaca yang memperlihatkan rumah-rumah warga dan langit membuat suasana sangat tenang, Ika tak menyesal datang ke sini dan mungkin ia akan sangat betah sekali.


Sudah dua hari Ika berada di Medan dan ia masih hanya mengetahui jalan ke rumahnya dan restoran saja. "Ibu, gak pulang?" tanya wanita yang berusia 35 tahun itu.


"Eh, Bu Ranti. Saya masih menikmati pemandangan dari sini," ucap Ika dengan tersenyum.


"Sebaiknya Ibu pulang dan beristirahat. Tuan Leon sudah mengatakan kepada saya jika Ibu..."


"Jangan dengarkan kakak saya karena saya baik-baik saja," ucap Ika dengan tegas.


"Sepertinya besok saja saya akan jalan-jalan menikmati suasana kota Medan. Baiklah saya akan pulang lebih cepat," ucap Ika memutusakan.


"Baiklah. Besok saya akan menemani Ibu kemanapun," ucap Ranti dengan tersenyum


Ika tampak senang dengan jawaban asistennya tersebut. Besok ia akan menyusuri kota Medan sebelum disibukkan dengan pekerjaan restoran.


Satu jam kemudian...


Ika sudah merebahkan tubuhnya di kasur. Rumah minimalis yang Leon berikan kepadanya sangat membuatnya nyaman. Perumahan yang sangat indah menurut Ika, tetangga-tetangganya pun cukup ramah membuat Ika sedikit tidak merasa asing. Bagaimana tidak saat kedatangannya banyak tetangga yang memberikan makanan membuat Ika senang dan berterima kasih. Tetapi telinganya mendengar suara tangisan anak kecil yang tak kunjung berhenti membuat Ika yang tadinya hendak terlelap menjadi terganggu.


"Anak siapa itu sih?" tanya Ika kepada dirinya dengan kesal.


Ika yang tadinya mengantuk lebih memilih keluar dan duduk di teras rumahnya melihat anak-anak tetangganya yang sedang bermain.


"Ibu hiks..hiks..."


"Eh."


"Cut, tunggu Papa!"


Ika terkejut dengan seorang anak perempuan yang langsung memeluk dirinya saat gadis itu berlari ke arah terasnya rumahnya.


"Kakak tolong cut, cut gak mau mandi!" ucap anak tersebut dengan memelas dan hidung memerah.


Ika menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat lelaki tinggi, kulit putih, dada bidangnya yang tercetak jelas di kaos ketatnya menghampiri dirinya, eh maksudnya mengampiri anak yang memeluk dirinya.


"Kak, maaf itu anak saya langsung meluk kamu," ucap lelaki itu merasa bersalah.


"Kak, kak, emang gue kakak lo!"


"Eh, iya Pak," jawab Ika dengan canggung.


"Cut, gak mau mandi!" teriak anak itu dengan keras.


Lelaki itu tampak sangat frustasi mengatasi anaknya. "Cut sayang papa gak?" tanya pria itu dengan lembut.


"Sayang," jawab anak itu dengan polos.


"Kalau sayang. Cut mandi sekarang ya," ucap pria itu membujuk sang anak.


"Berasa nonton ftv gue. Nih orang kok kayak orang India-Arab sih tapi kulitnya kayak orang cina, putih mulus."


"Cut gak mau mandi! Kemarin Papa udah paksa cut mandi!"


"Astaghfirullah Sayang!"


"Pak, eh Mas, eh Kak. Anu..." Ika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menjadi sulit berbicara saat ini.


"Panggil saya abang saja," potong lelaki tampan tersebut.


"Abang apa? Abang sayur?" tanya Ika dengan polos membuat pria tersebut mendelik sebal.


"Teuku Sultan Rahardian. Panggil abang Sultan saja!" Putusnya.


"Cut mau mandi kalau sama kakak cantik ini!" putus anak perempuan tersebut.


"APA?"


******


Gimana dengan part ini?


Ramein gak nih?


Ramein dengan like, vote, dan coment yang banyak ya